
Sambil terus berjalan Bastio mengamati di setiap sudut ruangan rumahnya dengan perasaan tak percaya tetapi juga penasaran.
"Apa aku sedang bermimpi? kenapa rumah ku bisa sebersih ini, Huuuum, bau aroma masakan, siapa yang memasak di rumahku? perasaan tidak ada orang yang tau apartemen ku selain orang-orang terdekatku." Ucapnya sambil terus berjalan menuju dapur. dengan menikmati aroma masakan.
"Hmmmmm, kenapa dengan isi kepalaku? bahkan otakku penuh dengan Santi." Gumannya dalam hati Seraya memandangi punggung Santi yang sedang memasak. tetapi ia tidak menyadari kalau itu benar-benar Santi yang asli.
Bastio tersenyum lebar. meskipun Ia mengira di depannya adalah hanya bayangan Santi. Santi memang sengaja sedang memasak untuk makan malam mereka berdua.
Bastio benar-benar tidak menyadari kalau di depannya adalah istrinya. bahkan ia bisa-bisanya menghayal, sedang berjalan berlahan dengan tersenyum dan mengendurkan dasinya mendekati istrinya kemudian memeluknya dari belakang dan mencium tenggukya di sana. Santi yang menyadari mendapat pelukan dan kecupan dari suaminya pun tersenyum dan menoleh ke belakang memandangi wajah suaminya dengan terus tersenyum ceria. kemudian Santi memukul tangan suaminya pelan agar suaminya melepaskan pelukannya, karena pelukan suaminya tentu saja mengganggu kegiatan nya yang sedang memasak. mendapat pukulan kecil dari istrinya bukanya melepaskan pelukannya Malah semakin di pelukannya dengan erat dan melancarkan serangan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah dan tenggukya, dan tentu saja membuat Santi merasa geli dan membuat mereka berdua tertawa renyah di sana. karena akhirnya Santi selesai memasak Ia pun lantas mematikan kompornya dan kemudian mengambil garpu dan menusuk kan garpu tersebut ke salah satu makanan yang barusan matang ia masak. dan memberikan kepada suaminya untuk di cicipi rasanya. Santi menghembus makanan yang berada di garpu yang Ia pegang dan menyuapkannya kepada suaminya dengan posisi masih dalam berpelukan. sungguh suasana yang sangat romantis bukan? dan bahkan setiap insan yang berumah tangga pasti meng idam-idamkan hal seperti ini.
"Ck, cuma menghayal." Decaknya Seraya memutarkan tubuhnya hendak menuju ke kamarnya.
"Sudah pulang? kenapa tidak memberitahu ku?" Tanya Santi yang selesai memasak dan hendak meletakkan makanan nya di meja makan.
Bastio yang mendengar pertanyaan Santi, seketika menghentikan langkahnya dan berniat untuk membalikkan tubuhnya kembali. namun Ia Tahan sejenak karena ragu.
"Apa aku sedang bermimpi? barusan aku membayangkan nya, sekarang kenapa muncul suaranya?" Gumamnya dalam hati dengan terus berfikir.
"Kenapa tidak menjawab ku, apa kau masih marah?" Tanyanya lagi sambil berjalan melewati Bastio yang masih berdiri di posisinya karena ragu. dengan membawa hidangan makanan dan meletakkan nya di meja makan.
__ADS_1
"Tidak mungkin jika bermimpi atau menghayal bisa mencium aroma tubuhnya juga aroma masakannya." Ucapnya lagi dengan masih tetap terbengong dan memperhatikan istrinya dengan pandangan kosong.
Makanan yang di bawa Santi barusan adalah masakan terakhirnya. Setelah Santi menyiapkan beberapa makanan di meja makan, Santi mendekati suaminya, kemudian seperti biasanya Ia melakukan pekerjaannya yaitu meraih tas yang berada di tangan suaminya dan membantunya membukakan jas suaminya. dari sinilah Bastio baru menyadari bahwa wanita di depannya adalah benar-benar istrinya bukan hanya sekedar mimpi atau hayalan saja.
"Aku mandi sebentar?" Ucapnya sambil berlalu meninggalkan suaminya yang masih terbengong karenanya dengan membawa tas dan jas suaminya menuju ke kamarnya.
"Ck, dasar wanita. kalian memang sangat pandai dalam merayu lawanmu. lihatlah sekarang, kau datang sendiri mencariku setelah kau ucapkan tidak ingin aku mengganggu mu. bahkan kau juga lupa kalau kau ingin sendiri." Ucapnya lirih sambil tersenyum mengejek.
"Tetapi aku gayamu."
"Hmmm, kalau seperti ini terus-menerus aku semakin tidak bisa jauh darimu. apa yang harus aku lakukan?" Ucapnya bingung sambil berfikir keras dan berjalan-jalan di ruang sekitar makan tersebut.
Bastio yang melihat istrinya dengan penampilan barunya menjadi terbelalak melihat aura kecantikan istrinya terpancar begitu sempurnanya. bagaimana tidak, Santi mengenakan pakaian yang berwarna serasi dengan kulitnya, sedikit seksi bagian atasnya hingga terlihat jelas belahan dadanya dengan sempurna namun punya ruang di bagian perutnya, dan panjang menutupi lututnya. sungguh baju yang sangat serasi untuk kebribadian Santi. bahkan jiwa tomboynya seakan hilang begitu saja berkat baju tersebut. sepertinya baju ini memang sengaja di desain khusus untuk ibu hamil selain bermodif juga sangat elegan. sungguh tidak percaya jika kenyataan nya Santi berasal dari desa dari keluarga sederhana. sungguh penampilannya kali ini mampu menghipnotis setiap mata yang memandangnya dan merubah jati dirinya menjadi konglomerat dalam sekejap. dengan penampilan nya itu, sungguh dia cocok menjadi pendamping seorang pengusaha muda pewaris tunggal keluarga nya Bastio.
"Kau sungguh cantik sekali." Ucapnya sambil terus memandangi istrinya tanpa berkedip sekalipun.
"Benarkah?" Tanya Santi malu-malu.
"Iya." Jawabnya spontan sambil berjalan mendekati istrinya dan memberikan tangan kanannya kepada Santi, kemudian Santi menyambutnya dan mereka berdua berjalan bersama menuju meja makan dengan tersenyum malu-malu. karena ini adalah hari pertama kalinya mereka terlihat begitu akur dan berdamai dengan hatinya masing-masing seakan mereka telah membuka hati mereka berdua tanpa campur tangan orang lain.
__ADS_1
Setelah sampai dan duduk di meja makan. mereka menjadi canggung. mereka berdua menjadi terdiam dan tidak tau harus berbuat apa, dan berbicara apa. Bastio terus saja memandangi wajah istrinya. membuat Santi terlihat malu dan menundukkan kepalanya, mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.
Biasanya mereka memang saling terdiam, namun dengan kondisi yang berada. biasanya mereka terdiam acuh tidak perduli. namun kali ini mereka terdiam karena malu.
"Apa semua ini kau yang memasaknya?" Tanya Bastio mencairkan suasana mengurangi kegugupan dan perasaan malu istrinya.
"I... iya. semua masakanku adalah makanan kesukaan mu." Jawabnya gugub sambil tersipu malu.
"Oo iya? bagaimana dengan rasanya?" Seraya meraih sendok untuk mencicipi satu persatu masakan istrinya untuknya.
"Bagaimana?" Tanya Santi antusias.
"Semuanya sempurna. ternyata kau pandai memasak juga? kalau seperti ini, aku ingin setiap hari kau yang memasak untukku dan untuk anak-anak ku kelak." Jawabnya sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.
Mendengar ucapan Bastio, membuat Santi terdiam dan menundukkan kepalanya sambil meremas tangannya di bawah sana.
"Maaf,..ak..." Jawabnya, kemudian terpotong.
"Tidak apa-apa. sudah ayo kita makan." Potongnya sambil mengambilkan makanan untuk suaminya.
__ADS_1