TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Istri Simpanan


__ADS_3

Di dalam bis perjalanan pulang kampung, Santi masih terbayang bayang dengan apa yang di sampaikan oleh Mbok Minah tersebut. Santi masih belum yakin dengan apa yang tengah terjadi.


" Benarkah apa yang di katakan oleh Mbok Minah?" Santi bergumam dalam hatinya.


"Lalu untuk apa den Tio datang ke kamarku? kalau dia memang berniat ingin berbuat jahat sama aku, lalu kenapa aku masih hidup sampai sekarang? daaaan, kalau dia ingin.... tidak mungkin, buktinya aku tidak merasa kenapa-kenapa?"


"Hmmmmm aku benar-benar pusing di buatnya. mungkin saja Dia merasa bersalah, itulah sebabnya Ia begitu." Lagi-lagi Santi hanya bisa menerka-nerka saja.


*Di Bastio*


"Huuuh akhirnya selesai juga, dan aku bisa langsung cek out dan segera pulang kerumah. aku benar-benar sudah tidak sabar ingin pulang.hmmmm,"


"Tapi kenapa ya sampai hari ini aku kok masih merasa tidak nyaman."


Selama Bastio meninggalkan rumah tiga hari, Bastio merasakan ada sesuatu yang tidak benar. Bastio bingung apakah ia grogi karena baru pertamanya menghendel perusahaan nya atau memang sedang terjadi masalah dengan orang-orang yang telah dia tinggalkan di tanah negerinya tersebut.


sementara itu Bastio juga belum bisa menghubungi Mbok Minah karena saking sibuknya dan kerja kerasnya agar Ia bisa pulang lebih awal dari perkiraan yang telah di tentukan tersebut.


Setelah Bastio kehilangan kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kini Mbok Minah dan Santi menjadi orang yang sangat penting dalam kehidupan nya.


Entah sejak kapan Santi juga termasuk kedalam orang yang sangat penting dalam kehidupannya Bastio, karena semenjak kejadian malam itu, Bastio berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjaga dan melindungi Santi seperti keluarga nya sendiri.


Bahkan jika ada orang yang berani dengan Santi dia akan berada paling depan untuk membelanya, tidak terkecuali siapapun itu orangnya.


*Santi*


"Neng, neng! sudah sampai, bangunlah ayo kita turun." seorang wanita paruh baya yang sama-sama menjadi penumpang bis x bersama Santi membangunkannya dari tidurnya sambil mengelus rambut Santi.


"Uammm" Santi mengerakkan kedua tangannya sambil mencoba membuka matanya berlahan-lahan.


Santi tersebut kepada seorang ibu yang telah berada didepan nya yang berusaha membangunkan nya tadi.

__ADS_1


"Terimakasih Bu?" ucap Santi dengan masih memasang senyuman yang manis.


"Sama-sama, ayo kita turun kita sudah sampai. bis nya juga akan segera melanjutkan perjalanan nya lagi." Jawab ibu paruh baya tersebut dengan mambalas senyuman lembut.


Santi dan penumpang ibu paruh baya tersebut pun akhirnya turut bersamaan.


"Ibu tinggalnya di mana?" Tanya Santi mengawali perbincangan mereka.


"Ibu tinggal di jalan kartoyo. kamu sendiri tinggal di mana?" ucap ibu tersebut.


"Saya tinggal di gang sebelah sana bu. jika ibu berkenan, mari ibu mampir ke rumah saya?" jawab Santi sambil menunjuk arah gang yang berada di sebelah kanannya tersebut.


"Terimakasih, kamu baik sekali nak, lain kali saja ya? lbu sudah di jemput anak ibu. itu yang pakai motor itu anak ibu." ibu paruh baya tersebut menolak ajakan Santi dengan halus sambil menunjuk ke seorang pemuda yang mengendarai motor gede tersebut.


"OOO baiklah, sekali lagi terimakasih dan sampai berjumpa kembali ibu?" ucap Santi.


"Sama-sama nak. mari ibu pamit pulang dulu?"


"Mari silahkan" Santi mempersilahkan ibu tersebut.


Ayah Santi adalah orang yang sangat protektif. sudah pasti ia akan dihujani pertanyaan yang akan membuatnya kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan tepat, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Apalagi Santi pulang di pertengahan bulan secara tiba-tiba saja.


Santi perlahan menarik nafas dalam-dalam dan kemudian membuangnya secara perlahan.


"Bismillahirrahmanirrahim. Hmmmmm."


"Assalamualaikum? ayah, ibu? Santi pulang."


"yah,...ibu...?" Santi kembali memanggil-manggil ayah dan ibunya.


Berkali-kali Santi memanggil-manggil kedua orang tuanya, namun tidak ada sautan dari dalam rumah tersebut.

__ADS_1


kemudian Santi meletakkan tasnya dan berjalan keluar pagar yang terbuat dari bahan bambu, namun dengan miniatur yang rapi dengan ukuran satu meter menambahkan kesan manis. meskipun keadaan rumah yang kecil dan bersih memberikan nilai plus tersendiri dan di tambah dengan tanaman beraneka jenis bunga yang tersusun rapi di dalam pagar tersebut.


Santi berjalan menuju perumahan tetangga berniat untuk menanyakan keberadaan keluarga nya tersebut.


"Assalamualaikum ibu? maaf boleh saya bertanya?" Santi bertanya kepada satu tetangganya yang ke kebetulan sedang berada di teras yang sedang bersantai.


"Eh nak Santi ya? kapan pulang nya katanya sedang bekerja di kota? " ucap tetangganya tersebut.


"hmm iya Bu, ini saya Santi. barusan saya sampai."


"saya dari tadi memanggil-manggil ayah dan ibu saya kok tidak ada sautan dari dalam ya Bu, padahal hari sudah sore, kenapa ayah sama ibu belum berada di rumah? apakah masih kerja sampai sesore ini bu?"


" lalu di mana tempat kerjanya bu?". tambah Santi dengan rasa kwatir ddan penasarannya.


"Oooo, memang nya kamu belum tahu ya kalau ayah sama ibumu itu bekerja sama juragan Yoko? "


"Dan di jam segini memang biasanya ayah sama ibu kamu belum pulang. karena mereka harus menjaga Empang dan sekaligus membersihkan empang-empang nya itu." tambah tentangganya memberikan penjelasan.


"Oo gitu ya Bu? kalau begitu terimakasih atas informasinya? kalau adik-adik saya Kemana ya Bu?" Tambah Santi lagi.


"Kalau adik-adik kamu ibu tidak tahu persis kegiatan nya setiap hari seperti apa, tetapi setau ibu, biasanya sepulang sekolah mereka juga langsung pergi. kemudian sebentar lagi sudah pulang." timpal tentangganya tersebut.


Oo baiklah Bu, sekali lagi terimakasih?" Santi menjawab sambil tersenyum getir.


"Oo iya Santi, apakah kamu juga tau kalau ayah ibumu terutang uang banyak sama juragan Yoko itu? ibu sarankan berhati-hati lah nak, apalagi kalau sampai juragan Yoko tau ayah ibumu punya putri secantik kamu?" tambah tetangganya dan lalu memotong kalimat nya tersebut dengan rasa ragu.


"Memangnya kenapa ya Bu?" ucap Santi yang semakin penasaran nya.


"Hmmmmm gimana ya, Ibu ko malah jadi ngeri ya Santi, semoga saja firasat ibu salah ya Santi?" lagi-lagi tetangganya tersebut menggantung kalimat nya sehingga membuat Santi semakin penasaran di buatnya.


"Salah apanya bu? memangnya ada yang salah ya dengan saya?" ucap Santi kemudian.

__ADS_1


"Tidak nak, kamu tidak salah. tapi,... hmm biasanya siapapun yang berhubungan atau berhutang sama juragan Yoko tersebut, jika tidak segera dilunasi atau tidak bisa melunasinya, maka biasanya kalau orang tersebut punya anak perempuan maka harus bersedia memberikan anaknya untuk di jadikan istri simpanan. ups maaf ibu keceplosan."


"Apa?" Santi terbelalak tidak yakin dengan apa yang di dengarkan nya barusan.


__ADS_2