TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Bastio ke Singapore


__ADS_3

" Ting tong." suara bel pintu berbunyi pertanda ada tamu yang datang.


Bastio yang berada tidak jauh dari pintu tersebut segera melangkah menuju pintu keluar dan membukanya.


"Cekreeek." Pintu terbuka dan muncul Diki sahabat sekaligus sekertaris alias tangan kanannya tersebut.


"Sorry bos malam-malam begini aku bertamu? Diki menjelaskan.


"Ada apa?" Jawab Bastio singkat. dalam kondisi berdiri tepat di depan pintu. menghalangi siapapun hendak masuk kedalam.


"Serius! aku gak di persilahkan masuk dulu nih? ngomong nya harus di sini ya?" protes Diki.


"Kalau masalah kantor masuklah, tapi kalau masalah lain. saya tidak menerima tamu malam-malam begini." Jawab Bastio ketus.


"Sombong amat sih bos! kalau saya kemari ya sudah jelas mau bahas kantor lah." Balas Diki sewot.


" Kamu berani sama saya? kalau aku potong gajimu, mau?" Jawab Bastio protes.


"Hmmm mulai lagi deh." Diki berdecak kesal.


"Udah ah pegel kaki ini berdiri terus." sambil menerobos masuk Diki meninggalkan Bastio yang masih berdiri di posisinya.


Bastio menyusul Diki yang sudah menyantai di sofa ruang tengah tersebut setelah menutup pintu.


"To the poin aja?" Kata Bastio singkat.


"Santai aja lah bos. " Jawab Diki.


Bastio lalu memasang muka masam dengan mengarahkan ke Diki tanda tidak suka.


"Hmmm, ok deh ok. besok kamu harus datang sendiri ke Singapura untuk menyelesaikan berkas-berkas yang di minta oleh perusahaan K.National."


"Oooo iya mereka juga meminta supaya kamu yang datang dan memberikan laporan-laorannya sendiri, sekaligus mau kenal CEO yang baru, dari perusahaan kita." Tambah Diki menjelaskan.

__ADS_1


"Tidak masalah, kapan aku berangkat dari sini?" Tanya Bastio kembali.


"Mungkin subuh, soalnya jam kita dengan jam di sana kan berbeda. sementara bos besar K.National tersebut sudah mengatur agenda nya. sebelumnya beliau akan menjumpai mu jam 8. setelah itu kamu akan di ajak Rapat dan di ajak berkeliling memperlihatkan pabrik terbarunya karena di sana, kebetulan juga besok sekaligus peresmian cabang pabrik nya itu." Jawab Diki panjang lebar.


" Baiklah. aku akan siap-siap sekarang." Jawab Bastio kemudian.


"Kenapa kamu mempersiapkan perlengkapan sendiri? Santi di mana? Apa dia masih sakit?" Jawab Diki keheranan.


"Bukan urusan mu." jawab Bastio ketus.


"Sudah sana kamu pulang." Usir Bastio kepada sahabat nya Diki tersebut.


"Parah!" Sambil menggelengkan kepala Diki berdiri dan mengambil jaket yang di letakkan asal di atas sofa.


"Loooo mau kemana den? ini minumannya baru Mbok antarkan. kok tumben buru-buru?" Tanya Mbok Minah sambil membawa nampan di tangannya yang berisi dua jus jeruk dan satu buah toples berisi makanan ringan tersebut.


"Hehehe, iya maaf Mbok, saya harus buru-buru, soalnya sudah malam ini."


"Ya sudah saya minum ya jusnya kan sayang sudah capek-capek Mbok buatkan, nanti malah mubajir ya gak Mbok." Jawab Diki sambil menyambar minuman dan segera menenggaknya yang berada di atas nampan yang sudah di bawakan oleh Mbok Minah tersebut.


"Ok, Mbok. sudah habis saya pamit dulu ya, terimakasih minumannya, enak sekali." Dengan sekali teguk saja jus yang ambil Diki langsung habis dan meletakkan kembali gelas kosong nya di nampan yang belum berpindah dari tangan Mbok Minah tersebut.


Malam ini Bastio mempersiapkan perlengkapan yang akan di bawahnya besok pagi. Ia enggan meminta bantuan kepada Mbok Minah karena Ia tidak mau mengganggu waktu istirahat Mbok Minah tersebut.


Sebenarnya masih ada dua pembantu yang mengurus rumah nya namun mereka tidak mau tinggal di rumah Bastio, karena rumahnya yang berdekatan. mereka hanya datang di pagi hari dan pulang setelah beres semua pekerjaan rumahnya.


Sementara yang biasanya mengurus Bastio ya Santi. namun setelah kejadin malam itu, Santi tidak pernah keluar kamar sama sekali.


Bastio bisa memakluminya. mungkin semua perempuan jika berada di posisi Santi juga akan melakukan hal yang sama.


malam ini Bastio tidak bisa tidur. sementara jam sudah menunjukkan dini hari. bukan karena perihal kepergiannya atau pertemuan pertamanya dengan klayennya. namun Bastio memikirkan Santi.


Entah kenapa Bastio enggan meninggalkan Santi. Dia takut jika terjadi hal-hal yang tidak dia ketahui ketika Bastio tidak berada di rumah.

__ADS_1


Bastio turun dari ranjang dan kemudian Ia keluar mendekati kamar Santi. Ia lalu mengambil kunci ganda dan memasuki kamar Santi. memastikan kalau Santi baik-baik saja.


Bastio memandangi wajah Santi. dengan perasaan iba. kemudian Ia merapikan selimut yang berserakan arah dan menyelimutinya kembali.


Bastio menyentuh pipi Santi dengan jarinya. dengan penuh hati-hati, Dia takut kalau-kalau Santi terbangun dan berteriak.


"Manis juga." Gumam Bastio dalam hati.


"Maaf, karena aku kamu terluka."


Bastio kembali kekamarnya untuk beristirahat.


Sebenarnya Bastio adalah orang yang sangat baik dan penyayang, juga salah satu orang yang tidak membedakan status sosial seseorang.


Namun karena Dia merasa seorang lelaki yang kelak akan bertanggung jawab atas keluarga nya, itulah sebabnya Ia menjadi pria cuek, dingin terhadap semua orang. karena Ia tidak mau di pandang lemah apalagi terlihat cengeng.


Baru satu jam rasanya Bastio memejamkan matanya. tiba-tiba terdengar suara alarm arloji yang sudah Ia siapkan sebelum tidur.


Sambil mengucek-ucek mata Bastio berjalan menuju kamar mandi dan segera mebersihkan diri di sana.


setelah mandi Bastio langsung memakai setelan kemeja yang serasi dengan jas dan celana nya. Bastio memakai nya sekarang karena setelah sampai nanti dia pasti tidak akan sempat untuk berganti pakaian. setelah rapi dan wangi ia pun turun dengan membawa koper nya.


Setelah sampai di lantai bawah, Bastio melihat Mbok Minah yang sudah bersiap siap dengan peralatan dapurnya. Bastio pun menghampirinya.


"Mbok? Mbok nanti tidak usah menyiapkan makanan sarapan untuk saya ya? saya mau ke Singapore sekarang." Bastio berpesan kepada Mbok Minah.


"Eh Aden, mengagetkan Simbok saja den? kenapa tidak bilang kalau Aden mau pergi. kan bisa Simbok persiapan keperluan si Aden tadi malam den?"Jawab Mbok Minah dengan rasa kaget.


"Tidak usah Mbok, saya bisa sendiri ko. memangnya Simbok sudah lupa kalau saya sudah besar."Jawab Bastio menyakinkan Mbok Minah.


"Ya gak Den? biasanya kan kalau ada keperluan Aden kan ada Santi yang selalu membantu Aden, karena Santi sedang sakit seharusnya kan itu tanggung jawab Simbok den? Simbol jadi tidak enak den?"


"Sudahlah Mbok, Simbok tidak usah merasa tidak enak hati Mbok. karena sekarang saya cuma punya Simbok. jadi saya mohon Simbok jangan seperti ini."

__ADS_1


"Ya Allah terimakasih Den, Simbok jadi terharu mendengar nya den? sambil berkaca-kaca Mbok Minah seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan.


__ADS_2