
"Apa?" Tanya Bastio Santai dan tenang, pura-pura tidak paham dengan maksud istrinya.
"Apa yang barusan kau bicarakan?" Desaknya, dengan wajah kesalnya.
"Apa yang aku bicarakan? aku tidak bicara apa-apa." Jawabnya santai dengan mengembangkan senyuman jailnya, kemudian berlalu meninggalkan Santi seorang diri di dalam kamar mandi.
"Huuuh, menyebalkan. apa kau pikir aku tidak dengar ha.. menyebalkan, menyebalkan." Teriak Santi dengan penuh emosi kepada suaminya.
Bastio sedang menunggu Santi di parkiran di dalam mobilnya. sebenarnya Bastio ingin langsung mengajak Santi keluar dan pulang bersamanya. tetapi, karena Ia harus bisa menahan diri supaya tidak terlalu mencolok dari pandangan publik, yang mengingat setatus mereka saat ini, Ia menjadi ragu dan mengurungkan niatnya dalam hal ini. untuk menghindari nya akhirnya dia memilih pergi meninggalkan Santi di dalam kamar mandi dan berniat untuk menunggu istrinya keluar di restoran dengan sendirinya. selain itu, dia juga yakin sudah pasti istrinya akan menolak keinginannya itu.
Bastio juga menyuruh Lani untuk segera kembali ke kantor. awalnya Lani menolak, tetapi karena Ia bersikeras dan beralasan masih ada urusan penting dengan Rangga dan tidak tahu kapan selesai nya. Ia juga membohongi Lani akan menunggu Rangga di parkiran. karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Lani menyetujui nya walau dengan perasaan terpaksa. dan menuruti permintaan bosnya untuk pulang ke kantor sendirian dengan menggunakan taksi yang memang sudah di pesankan oleh bosnya tersebut.
Di dalam mobil, Bastio terlihat sangat bahagia. sedari tadi ia tampak sedang tersenyum-senyum sendiri seraya menyentuh hidung dan bibirnya. Ia terus saja terbayang-bayang dengan kejadian yang barusan Ia alami bersama dengan istrinya.
"Ternyata dia sangat menarik. sepertinya dia juga menghawatirkan ku. aku semakin penasaran dengan nya, sepertinya dia juga tidak marah ketika aku berusaha mendekati nya tadi. Hmmmmm," Ucapnya dengan lirih sambil tersenyum dan terus berfikir.
Hampir satu jam Bastio menunggu istrinya. namun Ia tidak merasakan istrinya melintasi mobilnya. berkali-kali Bastio melihat arloji yang berada di pergelangan tangannya. Ia merasa sangat kesal. karena,orang yang di tunggunya tidak kunjung terlihat juga.
"Kenapa lama sekali? apa mereka sedang bermesraan?" Gerutu nya sambil mengacak-acak rambutnya.
"Apa mereka sering bertemu tanpa sepengetahuan ku? Aah tidak mungkin. Santi kan tidak pernah Kemana-mana, selain kontrol ke rumah sakit." Sambil berfikir keras.
__ADS_1
"Apa mungkin mereka sering menelpon?" Decaknya sambil membuka pintu mobil dan bergegas menuju restoran tersebut.
Akhirnya Bastio tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Bastio memberanikan dirinya untuk masuk di gedung restoran dengan langkah kaki yang tergesa-gesa dan penuh emosi.
Setelah sampai di ruangan di mana Ia melihat istrinya dan Rangga. Ia tidak menemukan siapapun di sana. hanya beberapa pengunjung yang sedang duduk santai sambil menikmati hidangan nya masing-masing. Bastio memperhatikan di seluruh setiap sudut ruangan tersebut.namun Ia tetap tidak menemukan nya.
Karena tidak menemukan orang yang di carinya, Bastio kemudian bertanya kepada beberapa pengunjung yang ada di sana. mengenai keberadaan wanita yang tadinya duduk di tempat Santi dan Rangga. namun Bastio tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan yang dia inginkan. semua pengunjung tidak ada yang tau keberadaan orang yang dicari oleh Bastio.
Tidak merasa puas, Ia pun mendatangi meja kasir. dan menanyakan keberadaan orang yang dicarinya dengan menyebutkan ciri-ciri pakaian, poster tubuh, ciri-ciri rambutnya serta menunjukkan tempat yang di gunakan oleh istrinya dan Rangga yang telah mereka pesan tadi. namun, Lagi-lagi sang kasir pun tidak mengetahui nya. hanya saja tadi ada seorang lelaki tampan yang membayar makanan di meja yang di maksud oleh Bastio.
Mendapat keterangan dari kasir restoran, Bastio terlihat sangat kesal dan dengan segera Ia meninggalkan meja kasir dengan perasaan kecewa. sesampai di mobil, Bastio segera memasuki mobilnya dan menutup pintu mobilnya dengan sangat keras, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. hingga membutuhkan beberapa menit saja ia sudah sampai di rumah.
***
"Tring-tring,..." Kenapa tidak di angkat sih? ada apa dengan anak satu ini." Gerutu Mita, karena panggilan telepon nya tidak mendapat respon dari seseorang yang di hubungi nya.
"Apa dia marah? tidak mungkin." Ucapnya menerka-nerka.
"Hmmmmm, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan anak satu ini! sudahlah mungkin dia masih belum mau berbicara denganku." Ucapnya lesu sambil membanting kan tubuhnya di ranjang milik nya.
***
__ADS_1
Di rumah Bastio
Santi sedang merendamkan dirinya di bathtub kamar mandi nya sambil memejamkan matanya di sana. Ia merasa sangat kepanasan dan kelelahan hari ini. Ia merendamkan dirinya hingga beberapa menit di sana. Ia masih tidak percaya dengan kehadiran Rangga di hadapannya yang secara tiba-tiba hari ini.
" Kenapa dia ada di kota ini? jangan-jangan, dia memang sudah lama tinggal di sini." Ucapnya prustasi.
"Bagaimana caranya menjelaskan kepada Bastio? Aaah. kenapa dengan ku? apa urusannya dengan Bastio? tidak mungkin dia cemburu. memangnya aku siapa? ingat Santi kamu itu bukan siapa-siapanya Bastio. dia itu cuma menginginkan anakmu bukan dirimu. jadi jangan konyol. mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin, Cicih." Ucapnya kesal, mengingat setatus nya saat ini.
"Tapiiiiii...?" Ucapnya kemudian membayangkan kejadian barusan dengan Bastio hari ini di kamar mandi restoran sambil tersenyum-senyum sendiri kemudian memegangi hidung dan pipinya.
"Aaaaaa, apa yang barusan aku pikirkan? kamu tidak boleh seperti ini Santi, jangan bermimpi dan jangan berharap kalau tidak ingin kecewa." Ucapnya menguatkan dirinya sendiri.
" Mita?...ah, bahkan aku belum menghubunginya? pasti dia mencariku. ehmm, tapi biar saja, salah siapa tidak memberi tahuku tentang Rangga." Ucapnya merasa sangat kesal kepada sahabatnya itu.
Setelah puas berendam, Santi kembali kekamarnya hendak memakai pakaian nya. karena merasa tidak ada orang, Ia merasa Santai dan berjalan-jalan dan berputar-putar di depan cermin sambil memegangi perutnya.
"Sudah mulai membesar, Hmmm." Ucapnya sambil tersenyum.
"Sayang, Mama sudah tidak sabar ingin melihat mu? meskipun Mama hanya sebentar saja mendampingimu, tapi Mama yakin, suatu saat nanti kita pasti akan bertemu. Mama juga..." Ucapnya belum selesai dan kemudian di potong oleh Bastio.
"Apa yang kau katakan kepada anakku, haa? apa seperti itu cara berkomunikasi dengan bayi yang masih dalam kandungan? jika hal itu terus kau ucapkan kepadanya? sudah pasti dia takut untuk lahir ke dunia. dan tentu saja ia lebih memilih untuk bertahan di dalam perutmu." Ucapnya dingin kemudian berjalan mendekati istrinya setelah sampai di depannya Ia lalu berjongkok tepat di perut istrinya tersebut. sementara Santi terkejut melihat suaminya yang tidak Ia sadari tiba-tiba berada di kamar bersama nya.
__ADS_1