
Bastio masuk dengan Paksa dan mencari istrinya di setiap sudut ruangan tersebut. setelah menemukan istrinya yang sedang kacau Ia langsung berlari menghampiri istrinya dengan membuka jasnya untuk menutupi tubuh istrinya dengan pakaian yang hampir seluruhnya terbuka karena koyakan paksa dari Doni saat terjadi kejar-kejaran tadi.
Bastio memeluk istrinya yang ketakutan dengan erat. istrinya juga membalas pelukan suaminya dengan sangat erat sambil menangis dengan tubuh yang sudah gemetaran. Saking ketakutannya, Santi tidak ingin melepaskan pelukannya dari suaminya.
Sementara Diki, langsung menyerang Doni yang sedang lengah karena terkejut dan menghentikan aksinya melempari barang yang berada di ruangan itu setelah melihat Bastio tiba-tiba muncul dan mendobrak pintu masuk tersebut.
Dengan rasa geram bercampur dengan amarah yang berapi-api tak tertahankan, karena ada yang mengusik dan mengganggu kesenangannya. Doni dengan mudah menaklukkan Diki yang bukan tandingan nya.
Doni kemudian mengeluarkan senjata tajam dari pinggang nya yang hendak menyerang Bastio. dengan kondisi Bastio yang tidak menghiraukan Doni yang menurutnya sudah di tangani oleh Diki dan lebih memperhatikan dan menghawatirkan istrinya dengan posisi membelakangi Doni dan Diki, Bastio tidak mengira kalau nyawanya sedang dalam terancam.
Doni dengan tatapan ganasnya yang seakan sedang menemukan mangsa yang sesungguhnya pun hendak menghabisi nyawa Bastio. ketika Doni sudah benar-benar siap dan berlari ke arah Bastio dengan memegang untuk menghujamkan pisau ke arah punggung Bastio kurang lebih dua langkah lagi, tiba-tiba Rangga datang dan menerobos masuk menghalangi Doni yang hendak menyerang Bastio.
Doni yang sudah seperti kerasukan setan, tidak menghiraukan siapa yang berada di depannya pun lantas berkali-kali menusuk Rangga dengan ganasnya sehingga terkulai lesu dan hendak terjatuh. beruntung Bastio yang menyadarinya langsung menangkap tubuh Rangga yang sudah bercucuran darah.
Dan di waktu yang bersamaan, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dari polisi yang juga tiba-tiba muncul mengenai tangan Doni yang memenggang pisau dan kemudian berganti ke kaki kirinya sehingga membuatnya terduduk di lantai. Santi menjerit melihat kejadian tersebut. polisi langsung membekuk Doni hendak membawanya ke kantor polisi, dan kemudian salah satu dari posisi itu memanggil ambulans.
Rangga berada di pangkuan Bastio dengan bersimbah darah akibat tusukan dari Doni. darah keluar dari tubuh dan mulut Rangga. sementara itu Ia masih bisa tersenyum setelah melihat Santi merangkak histeris kearahnya.
__ADS_1
"Hei gadis kecil? jangan menangis. aku tidak apa-apa, percayalah." Ucap Rangga terbata-bata kepada Santi dan berniat meraih tangan Santi. Santi yang mengetahuinya pun langsung memberikan tangannya kepada Rangga dan tidak memperdulikan suaminya yang sedang memangku Rangga. Santi menggenggam tangan Rangga dengan erat sambil terus menangis.
Bastio memalingkan wajahnya melihat tangan Santi menggenggam tangan Rangga, tetapi sebenarnya bukan karena cemburu, melainkan Ia tidak sanggup melihat luka Rangga yang seharusnya luka itu di tujukan Doni untuknya. Ia berfikir keras sedari tadi, kenapa Rangga bisa melakukan hal seperti ini kepadanya, sementara setahunya, Rangga adalah musuh bisnisnya dan juga saingan berat dalam hal cinta. sewaktu-waktu Ia bisa saja dengan mudah mengambil istrinya.
"Berjanjilah, kau akan menjaga gadis kecilku? tugasku untuk menjaga hubungan kalian sepertinya juga cukup sampai di sini." Ucap Rangga meraih tangan Bastio dan menyatukan dengan tangan Santi. Bastio terbengong mendengar ucapan Rangga barusan. iya tidak paham dengan apa yang barusan Ia dengarkan. namun Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menggenggam tangan istrinya. sementara itu, Santi semakin histeris mendengar ucapan Rangga.
"Apa yang kau katakan? kau harus sembuh dan kita akan menjalani kehidupan yang baik kedepannya." Santi terisak histeris.
"Tidak, kau sudah menemukan lelaki yang tepat untuk mu. dan aku sudah lega melihatnya, aku akan tenang meninggalkan mu dengan nya. aku sangat mengenal suamimu. berjanjilah kau akan menjaga keluarga mu." Jawab Rangga memberi semangat kepada Santi dan Santi menggelengkan kepalanya.
"Tidak, apa yang kau katakan? bertahanlah, aku mohon." Teriak Santi.
"Ayolah! Aku. ingin melihat gadis kecilku yang kuat dan periang." Pintanya sambil tersenyum dan di anggukkan kepala oleh Santi tanda setuju.Santi kemudian menghapus air matanya dan berusaha tegar di depan Rangga.
"Berjanjilah kalian, akan terus bersama hingga maut memisahkan kalian berdua." Ucap Rangga setelah melihat Santi sudah merasa tenang.
"Satu lagi aku mohon, tolong selamatkan Doni. sebenarnya dia adalah pria yang baik. hanya saja di dia tidak seberuntung kita." Menggenggam tangan Bastio.
__ADS_1
"Aku yakin kau pasti bisa menyelamatkan Doni. Hanya kau satu-satunya harapan ku. aku yakin, Dia juga akan menerima kenyataan bahwa kalian saling mencintai. dan aku yakin, lambat laun, dia pasti akan melupakan istrimu." Tambahnya lagi.
"Sudahlah, kau sudah terlalu banyak berbicara. makanya ucapanmu semakin kacau. tenang dan tunggulah sebentar lagi, ambulans akan datang." Ucap Bastio mencoba menghentikan ocehan Rangga. yang menurutnya hanya omong kosong.
"Percuma saja." Ucap Rangga sambil mencoba tersenyum.
"Apa yang kau katakan? kau harus hidup, bukankah kita masih harus bertarung? masih banyak lagi yang harus kita perebutkan bukan?" Jawab Bastio.
"Percuma. tetap saja aku akan kalah dengan mu." Jawabnya mengejek dirinya sendiri.
"Itu tidak benar. kau harus lebih gigih dan terus berusaha untuk memenangkan nya." Jawab Bastio kembali.
"Apa kita terlihat begitu dekat dan akrab sebelumnya? kenapa hal seindah ini harus terjadi di saat seperti ini? kenapa aku tidak mengenalmu lebih awal? agar tidak terjadi permusuhan antara kita." Ucap Rangga mengalihkan perbincangannya. seakan, menyesali pertemuan nya kali ini. sementara Bastio juga membenarkan ucapan Rangga dan sedang memikirkan hal yang sama di dalam hatinya.
Doni sudah di bawa oleh polisi. Diki sudah mulai bergerak dan menyusul Bastio dan istrinya yang sedang memangku Rangga. sementara Mita dan Dimas akhirnya sampai juga. Mita langsung menerobos beberapa polisi yang berpatroli di luar. setelah sampai di dalam rumah. Ia sudah tidak dapat berbicara apa-apa melihat Rangga yang sudah mulai pucat karena kehabisan darah.
Beberapa menit kemudian, akhirnya ambulans sampai juga. begitulah mendengar suara sirine ambulan, Bastio langsung bergegas mengangkat tubuh Rangga dan di bawanya masuk ke dalam mobil ambulance tersebut. Santi yang tidak ingin ketinggalan juga langsung mengikuti langkah kaki suaminya yang sedang membopong tubuh Rangga.
__ADS_1
Mereka berdua masuk dan naik ke dalam ambulans menemani Rangga. Rangga tidak sedetik pun melepaskan genggaman tangan Bastio. meskipun mereka sudah berada di dalam ambulans.