
Dear : Bastio
Ketika anda membaca pesan saya ini, mungkin saya sudah tidak berada di rumah anda dan tidak akan pernah terfikir untuk kembali lagi.
Terimakasih untuk luka yang telah anda berikan kepada saya.
Mungkin, berat untuk saya bisa melupakan nya. atau malah mungkin saya tidak akan pernah bisa melupakannya sampai sampai akhir hidupku***.
Andai waktu bisa berputar kembali,
Tetapi apalah dayaku, semua sudah terjadi dan tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.
Satu harapan saya, semoga kita tidak akan pernah berjumpa lagi. dan jika memang takdir mempertemukan kita kembali, anggap saja kita tidak saling kenal dan tidak pernah bertemu sebelumnya.
Santi.
**
"Apa apaan ini? sebegitu besar kah kau membenciku Santi, tidak bisa dibiarkan."
Bastio tidak menyangka kalau akhirnya Santi membuat keputusan seperti itu. Ia lalu meremas kertas surat pemberian Santi dan melemparkannya ke sembarang arah di lantai.
Kemudian Bastio mengambil ponsel, jaket dan kunci mobil nya. Bastio keluar kamar dan menuruni tangga dengan terburu-buru. Ia lalu masuk ke kamar Santi mencari tahu apakah ada titik terang untuk menemukan nya. Sesampainya di kamar Santi Ia lalu mencari-cari barang yang kiranya dapat membantunya. Namun tidak ada sama sekali.""
Bastio mengobrak Abrik kamar Santi, lemari pakaian, meja, bantal dan kasur yang biasanya di gunakan Santi beristirahat yang semula rapih kini sudah hancur berantakan.
Mbok Minah yang mendengar keributan dari dalam kamar Santi pun terpaksa bangun dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
sesampainya di kamar Santi Mbok Minah kaget dan terbelalak melihat kondisi kamar yang hancur dan tingkah tuan mudanya yang menurutnya aneh tidak seperti biasanya tersebut.
"Astagfirullah?, Ada apa ini?. kenapa bisa begini? Aden mencari apa di sini?" Teriak Mbok Minah dengan nada gemetar.
Bastio yang kaget mendengar teriakkan Mbok Minah kemudian menghentikan aksinya dan memilih melangkah gontai menuju ranjang Santi. memilih untuk duduk diam sambil menenggelamkan kepalanya di atas bahunya.
__ADS_1
Mbok Minah berjalan perlahan mendekati majikan mudanya tersebut. kemudian Ia mengelus punggung Bastio dengan lembut.
"Ada apa? Ceritakan apa yang terjadi?" Tanya Mbok Minah lembut kepada Bastio, lalu Ia duduk di sebelah tuannya itu.
Bastio mengangkat kepalanya mengarahkan nya ke Mbok Minah dengan wajah memerah menahan rasa antara marah dan sedih.
"Ayolah?" Bujuk Mbok Minah tersenyum lembut untuk menenangkan majikan mudanya agar mau membagi rasa yang telah mampu membuat nya secara tiba-tiba seperti orang yang sedang kesetanan itu.
"Mbok? apa Simbok tau dimana Santi tinggal?"
"Memangnya kenapa?" Tanya Mbok Minah.
"Apa gara-gara Santi Aden menghancurkan kamar ini?" Timpal Mbok Minah lagi.
Bastio terdiam dan Sama sekali tidak ingin merespon pertanyaan Mbok Minah dengan terus menatap sayu kepada Mbok Minah tersebut.
"Hmmmmm, baiklah kalau tidak salah Santi pernah bilang sama Simbok kalau dia tinggal di kampung kecil bahkan kampung pelosok, kalau tidak salah nama kampung nya kampung (katakan saja) Bambu kuning, di kecamatan Belitong (Samaran)." Jawab Mbok Minah Sambil mengingat-ingat kembali obrolan Santi dengannya waktu itu.
Seketika Bastio terlihat lebih sedikit tenang mendengarnya. Ia kemudian sedikit memaksa untuk bisa tersenyum kepada Mbok Minah. sementara itu Mbok Minah malah menjadi bingung melihat kondisi majikan mudanya tersebut.
"Sudah pasti, karena tidak ada manusia yang sempurna." Jawab Mbok Minah.
"Benarkah? Lalu kenapa orang-orang itu terlihat seperti tidak punya masalah?"
"Karena mereka pandai menyembunyikan masalahnya."
"bagaimana cara orang menebus kesalahannya?" Tanya Bastio lagi.
"Tergantung dari jenis kesalahan nya."
Bastio kemudian menceritakan semua kejadian tentang malam itu bersama Santi. Ia menceritakan dari awal kejadian yang sebenarnya tanpa di tambah atau di kurang-kurang ngi sedikit pun. Sebenarnya Ia tidak menghendaki sama sekali, semua terjadi begitu saja karena pengaruh minuman yang memabukkan itu. sampi akhirnya Bastio benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa.
Mbok Minah yang mendengar pengakuan majikan mudanya terkejut luar biasa. Ia membelalakkan matanya dengan mulut terbuka lebar, masih tetap belum yakin dan percaya, kalau orang yang telah Ia besarkan malakukan hal seperti itu. Namun, kemudian Mbok Minah memakluminya karena majikan yang sudah di anggap sebagai putra nya tersebut tidak lah melakukan hal tersebut dalam kondisi akal sehatnya.
__ADS_1
Yang lebih terkejutnya lagi, Mbok Minah baru mengetahui kalau Santi telah sengaja untuk menghindari nya dan memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya melalui surat yang di berikan oleh Bastio.
"Menurut Simbok Tio harus bagaimana?" Tanya Bastio kepada Mbok Minah.
"Lalu bagaimana dengan perasaan Aden?
Apakah Aden menyukai nya?.. Apakah Aden sudah punya kekasih?" Ucap Mbok Minah berbalik tanya kepada Bastio.
"Tio sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Tio kepada Santi Mbok,"
"Kalau masalah pacar. Hmmmmm, kalau Tio punya kekasih pasti Simbok orang pertama yang akan tau siapa kekasih Tio Mbok.
"Lalu, setelah Santi memutuskan untuk pergi dan tidak ingin bekerja di sini, bagaimana perasaan Aden?"
"Tio bingung Mbok, soalnya setelah Tio tau bagaimana hancurnya Santi, di saat itulah Tio berjanji kepada diri Tio sendiri untuk melindungi Nya, tidak perduli apapun yang akan terjadi. Karena bagi Tio selain Simbok sekarang juga ada Santi yang akan Tio perioritas kan." Jawab Bastio menjelaskan.
"Kalau begitu cari dan jemput Santi sekarang, saran Simbok, jadi laki-laki itu harus bertanggung jawab. Jangan menjadi lelaki pengecut. Nikahi gadis itu, karena cinta bisa datang kapan saja. Perbuatan yang kamu lakukan tidak akan pernah bisa termaafkan oleh gadis baik seperti Santi. karena selain baik Dia juga gadis yang sangat mempertahankan kehormatannya."
"Bagaimana kalau Santi menolak?" Tanya Bastio lagi.
"Wanita itu rapuh, dan sangat lemah hatinya, itu sebabnya mengapa wanita lebih suka menangis ketika ia tersakiti. Namun ketahuilah wanita akan luluh ketika melihat lelaki yang tulus kepadanya. Simbok harap kamu bisa memahaminya."
"Tapi, bagaimana jika setelah menikah justru Tio tidak bisa mencintainya? Tio takut malah akan tambah menyakitinya?"
"Rasa ketakutan untuk menyakiti nya itulah yang justru akan mengantarkan cinta kepadanya. percayalah." Ucap Mbok Minah menyakinkan majikan mudanya sambil melebarkan senyumannya.
"Apa Tio harus menjemput nya sekarang?" Tanya Bastio.
"Ya, bagaimana jika akhirnya Santi hamil? dia pasti akan membutuhkan mu. Karena biar bagaimanapun anak yang di kandung nya adalah darah daging mu sendiri."
"Apa kamu mau, tidak akan pernah bertemu bahkan mengenal darah daging mu sendiri itu?"
Setiap kalimat yang di ucapkan oleh Mbok Minah kepada tuannya tersebut menjadikan tamparan keras untuk Bastio. Namun kalimat itu cukup memberikan keyakinan dan kekuatan untuk Bastio.
__ADS_1
'"Baiklah Tio akan berusaha." Ucap Bastio menyemangati dirinya sendiri.