
Santi masih saja tidak merespon Bastio, tidak merubah posisi awalnya dan Sama sekali tidak menjawab perkataan Bastio. Santi masih terdiam. dan tidak terasa Ia mengeluarkan buliran bening di ujung kelompok matanya dan perlahan membasahi bantal dan selimutnya. seketika, membuatnya terisak di sana, sambil meremas selimutnya.
Bastio yang menyadari, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Santi. Di pertengahan perjalanan nya, Bastio menjatuhkan badannya dalam posisi berlutut menghap tempat tidur Santi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya memohon ampun kepada Santi.
"Santi jika kamu ingin menghukumku, hukumlah? aku siap menerima nya!"
"Jika hukuman itu juga belum bisa membayar kekesalahan ku, katakanlah apa yang kau inginkan dariku. supaya aku tahu bagaimana caranya aku menebusnya untukmu. tapi,.. dengarkan lah penjelasan kuterlebih dahulu."
"Santi? kesalahan yang telah aku perbuat kepadamu, memang tidak sepantasnya bisa kamu maafkan sepenuhnya. Namun, kau harus tau, aku juga tidak mengharapkan hal ini terjadi kepada kita. percayalah aku benar benar tidak sengaja dan semua itu datang dengan sendirinya tanpa bisa aku kendalikan dengan akal sehat ku. jadi tolong maafkan lah aku, aku mohon?...."
"Santi? ada satu hal yang harus kamu ketahui, entah kamu menyukai atau tidak, tapi inilah kenyataan yang harus kamu terima."
"Mungkin kabar ini, tidak pernah kamu harapkan, dan tidak pernah terfikirkan olehmu, begitu juga denganku. Tapi asal kau tau, entah kenapa aku bahagia mendengar berita ini. Tapi.... aku juga tidak berdaya"
"Hmmmmm...." Bastio menarik nafas dalam-dalam dan Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
Bastio benar-benar merasakan kalut di dalam hatinya, Ia takut jika Santi shok dan tidak mau menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi. Bastio terdiam sambil menundukkan kepalanya dengan posisi tetap masih berlutut menghap Santi.
Santi yang mendengar penjelasan Bastio yang terhenti. menjadi merasa iba dengan situasi yang sedang berlangsung. Namun di dalam relung hati nya yang paling dalam, sebenarnya Ia sangat membenci orang yang saat ini sedang memohon dan memelas kepada nya. Santi berlahan membalikkan posisi badannya. yaitu tertidur dengan posisi menghap ke arah Bastio dan menatapnya.
Ada rasa kasihan muncul di benaknya, melihat seseorang yang selama ini dia kenal sebagai lelaki yang arogan, cuek, dingin dan kaku sebagai orang yang pernah menjadi majikannya. dan juga seseorang yang telah menghancurkan harapan dan impiannya itu. hari ini berbeda dengan yang sebelumnya Ia kenal itu. Santi menyaksikan sendiri bagaimana pria itu memohon dengan rasa penyesalan yang tulus dari pria tersebut.
"Tuan, bangunlah! tidak sepantasnya anda memohon dan memelas seperti ini kepada seorang hina seperti saya ini. Dan tidak seharusnya juga anda mencariku seperti ini."
"Tuan? pulanglah, karena sebelum anda meminta maaf saya sudah memaafkan anda! daaan, Saya juga sudah melupakan kejadian yang pernah terjadi di antara kita.bukankah saya juga sudah bilang kepada anda, bahwa mulai hari itu, kita tidak pernah saling mengenal." Santi mencoba tegar untuk dapat menyelesaikan kalimat demi Kalimatnya walaupun sebenarnya hatinya saat ini seperti sedang teriris oleh pisau yang sangat tajam.
"Terimakasih karena anda sudah mencariku, dan terimakasih karena anda sudah membawaku ke mari. Tapi,...maafkan saya, Saya tidak bisa kembali bekerja dengan Tuan. Dan satu hal lagi yang harus anda ketahui, dalam dua hari ini saya akan menikah dan akan menjalani kehidupan yang baru. Saya berharap anda juga bisa menjalani kehidupan Tuan dengan baik untuk kedepannya." Ucap Santi sambil menahan Isak tangisnya dan sesekali Ia menyeka air matanya yang terus-menerus tidak dapat Ia bendung dengan sendirinya.
Bastio yang mendengar ucapan Santi yang terakhir, seketika mengangkat kepalanya mendongak ke atas melihat Santi. Entah kenapa Ia merasakan sesak di dadanya. baru kali ini dia merasa di tolak oleh seorang wanita. padahal untuk mendapatkan wanita yang seperti apapun modelnya di luar sana Ia tidak perlu mengejar atau memohon cintanya, justru para ladies-ladies lah yang selalu tergila-gila dan berusaha mengejarnya selama ini.Ia memandang kedua bola mata Santi mencari kejujuran di sana.
"Sebegitu bencinya kah kau kepadaku Santi?"
__ADS_1
"Tidak kah kau memberikan kesempatan kepada ku? lalu siapa pria yang ingin menikah dengan mu? haa?" Bentak Bastio yang mulai terpancing emosi nya, sambil berdiri mendekati Santi dan beberapa kali menggoyangkan pundak Santi dengan terus menatap wajah nya. sementara Santi berusaha untuk memalingkan wajahnya, Sambil terus terisak dalam tangisannya.
Di dalam hati Santi, sebenarnya Ia juga merasa sangat sakit, di sisi lain Ia ingin menghindari perjodohan dengan orang yang tidak Ia kenal sama sekali. dan berharap ada seseorang datang membawanya pergi. Namun apa yang Ia harapkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Ia berharap kekasih pujaan hatinya yang datang kepada nya untuk membawanya pergi.
"Santi begitu teganya kah kau kepadaku? bukankah kamu juga tau, aku tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini, aku kehilangan kedua orang tuaku, dan,... dan sekarang apa kamu juga akan memisahkan aku dengan anakku sendiri? dengan darah daging ku sendiri?"
"Barusan aku bahagia mendengar berita ini, bahwa aku akan menjadi seorang ayah dari anak yang ada di rahimmu. Tapi sekarang apa?... kau akan memisahkan aku dengan nya? Tidak, aku tidak mau Santi, aku mohon jangan pisahkan aku dengan anakku?"
Santi yang mendengar ucapan Bastio seketika menghentikan isakan tangisnya, Ia menutupi mulutnya yang menganga lebar dengan sendirinya dan kedua bola mata yang melotot tanda tidak yakin dengan apa yang barusan Ia dengarkan dari mulut seorang pria yang pernah menjadi majikannya dan merampas kesuciannya tersebut.
"Santi, aku tau cara kita untuk mendapatkan anak ini adalah dengan cara yang salah. aku sangat paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi aku mohon izinkan aku terus berada di samping ankku, aku ingin melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana janin itu tumbuh kembang bersamaku, hingga menjadi bayi mungil. dan izinkan aku terus berada dan selalu ada disamping anakku hingga tumbuh menjadi anak-anak yang lucu dan remaja hingga dewasa kelak."
"Aku mohon Santi? kau boleh membenciku seumur hidupmu, bila perlu kau mau meminta apapun dari ku yang aku punya, akan aku berikan. Tapi ku mohon jangan pisahkan aku dengan anakku?"
Bastio menangis untuk yang kedua kalinya teruntuk orang yang sangat berarti dalam kehidupannya. setelah kehilangan kedua orang tuanya, dan kali ini dia menangis untuk buah hatinya. begitu pula dengan Santi, tangisan Santi semakin pecah. Bastio yang melihatnya semakin tidak kuasa.
__ADS_1