
Aldo dan Bastio masih juga bertanya-tanya sambil berbisik dan sesekali melirik Santi yang masih saja memakan cilok dengan rakusnya. berbeda dengan Icha, Icha sedari tadi hanya melongo memperhatikan keanehan kakaknya, sehingga ketika Ia ingin memakan cilok bagian nya pun Ia
pikir tidak tega, takut kalau nanti kakaknya masih merasa kurang.
Dan benar saja, setela Santi menghabiskan ciloknya, dia lalu meminta bagiannya Icha yang sedari tadi belum di sentuhnya.
"Kau tidak mau? bawa sini kakak masih kurang." Pinta Santi kepada adiknya Icha, sementara Icha hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda setuju dan langsung memberikan ciloknya kepada kakaknya Santi sambil menelan ludah nya sendiri.
"Gila, ini beneran kak Santi tidak ya? Kenapa makan nya rakus begitu, sangat berbeda dengan biasanya. apa karena sudah lama tidak makan cilok ya? apa di kota tidak ada cilok? gak mungkin kota begitu besarnya tidak ada yang menjual cilok." gumam Icha di dalam hatinya karena tidak percaya dengan kenyataan nya.
"Aaah mungkin ciloknya tidak seenak cilok langganan kami." gumam Icha kembali di dalam hatinya.
Aldo yang menyaksikan, menepuk keningnya pelan tanda belum juga yakin. sementara Bastio hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Alamak." Ucap Aldo
"Sudahlah, mungkin itu permintaan keponanmu."Jawab Bastio yang mendengar celotehan Aldo.
Beberapaeberapa menit kemudian dokter kandungan datang untuk memeriksa keadaan Santi seperti yang telah di janjikan oleh suster pagi tadi. dokter menjelaskan beberapa hal penting mengenai menjaga kandungan, makanan sehat untuk ibu hamil, pentingnya menjaga kesehatan dan olah raga ringan khusus untuk ibu hamil muda secara detail.
__ADS_1
Karena mengingat kondisi Santi yang memang sudah membaik, maka dokter memperbolehkan Santi untuk pulang. dokter juga mengingatkan untuk sering kontrol rutin setiap bulannya, sekedar untuk mengetahui perkembangan kandungannya.
Setelah melakukan pemeriksaan dokter berpamitan keluar ruangan. sementara Bastio segera menyelesaikan segala keperluan administrasi. dan untuk Aldo dan Icha sibuk membantu mengemasi dan mempersiapkan barang bawaannya. setelah semua benar-benar beres, akhirnya Santi pulang bersama dengan Bastio dengan mobil, sementara Icha memilih ikut dengan Aldo menggunakan motornya.
Bastio dan Santi duduk bersebelahan di kursi mobil di baris kedua. sementara Mang Dudung sendirian di depan kursi kemudi. Bastio sengaja memilih duduk di dekat Santi, karena nanti akan memudahkan nya apabila Santi membutuhkannya sesuatu.
Di sepanjang perjalanan, Santi terdiam dan menatap ke arah jendela. sementara Bastio juga tidak berani untuk bertanya ataupun mengawali pembicaraan. Ia kemudian memilih mendengarkan lagu dengan menggunakan handset yang terhubung di telepon nya tersebut dengan mata tertutup dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, hanya membutuhkan waktu beberapa menit akhirnya mobil sudah sampai juga di depan rumah Santi. berbeda dengan Aldo dan Icha yang memang sudah sampai berapa detik yang lalu.
Bastio membantu memegang tangan Santi dan pinggang Santi ketika hendak menuruni mobil, hingga memasuki rumah Santi, dan mendudukkan Santi di kursi tamu milik keluarga Santi. Bastio terlihat tersenyum ramah, sementara Santi, berusaha untuk dapat tersenyum sebaik mungkin. agar tidak ada yang curiga.
Sungguh pemandangan yang luar biasa dan indah di pandang mata. keromantisan itu terlihat sempurna dan alami tanpa sedikitpun terlihat di rekayasa, meskipun mereka berdua tidak pernah merencanakan sebelumnya. namun, siapa sangka, kalau kenyataan nya mereka hanya bersandiwara di depan orang tuanya. sungguh sandiwara yang sangat sukses, yang telah mereka berdua suguhkan.
Santi beristirahat sebentar di dalam kamarnya dengan di temani oleh Icha, karena permintaan Bastio. sementara Bastio tidak terlihat entah pergi kemana. Mang Dudung supirnya pun tidak mengetahui kapan dan kemana perginya tuannya tersebut.
Setelah sore sudah beranjak petang, Bastio tiba-tiba muncul di rumah Santi. dan bergabung dengan keluarganya di sana. saatnya tiba waktu makan malam. Bastio ikut bergabung dan menikmati hidangan malam di sana. sungguh kondisi dan situasi yang jauh berbeda. mereka makan bersama tanpa meja dan kursi makan mewah. mereka makan dengan suasana lesehan yang sengaja di hidangkan oleh ibu Santi yang di bantu oleh Icha.
Makanan yang dihidangkan pun terlihat berbeda, dan sangat sederhana. meskipun ternyata jika di keluarga Santi itu adalah hidangan sepesial. bagaimana tidak, ternyata makanan sepesial Santi adalah sambal terasi kukus khusus buatan ibunya, di tambah tempe mendoan, dan tumissan kangkung serta lengkap dengan lalapan rebusan daun pepaya. sehingga membuat Bastio merasa ilfil kepadanya.
__ADS_1
Sementara lauk Pauk yang lainnya memang sengaja di hidangkan untuk Bastio, ada sambal tempe kering di campur dengan ikan teri. dan ayam rica-rica, juga ada gulai ikan sale di campur dengan daun ubi. sungguh Ia tidak mengenali jenis makanan yang seperti ini kecuali lauk ayamnya saja.
Yang membuat terkejut semua orang di sana, termasuk Bastio yang di buat melongo, terkecuali ibunya Santi yang menganggapnya itu wajar. karena Ia menganggap bisa jadi itu adalah bawaan bayi yang di dalam kandungannya. begitu melihat Santi yang sangat berselera memakan dengan lahapnya yang sengaja di hidangkan untuk nya sendiri itu.
Bahkan ketika Icha yang akan menegurnya pun di beri kode oleh ibunya supaya tidak mengganggu selera makannya tersebut.
"Nak Tio? maaf ibu cuma bisa menghidangkan makanan sederhana seperti ini, semoga nak Tio menyukai nya." ucap ibu Santi kepada Bastio yang masih memperhatikan Santi. tentu saja ucapan ibu Santi membuyarkan lamunan semua orang yang berada di sana.
"Uhmmm, i.. iya Bu, tidak masalah." jawab Bastio gugub.
"Meskipun jujur saja saya belum pernah melihat ataupun memakan makanan ini, sepertinya semua makanan ini terlihat sangat lezat. dan akan saya coba semuanya." timpal Bastio kembali.
"Iya,.. coba semuanya ya, ibu yakin kamu pasti suka." jawab ibu Santi sambil mengisi piring Bastio dengan nasi dan mengisi semua lauk pauk yang di buatnya.
"Jangan banyak-banyak Bu? itu sudah cukup." pinta Bastio kepada ibunya Santi.
"Tidak, kamu harus makan yang kenyang di sini. kamu pasti lelah. biar makanan ini membantu memulihkan stamina mu." jawab ibunya Santi.
"Ehem... ehem, sepertinya kita sudah di cuekin ini sama ibu kalian. mentang-mentang sudah punya menantu. lihatlah dari sore, yang ada di pikirannya cuma menantunya saja. dan sampai sekarang juga masih menantunya yang di perhatikan." goda ayah Santi sambil tersenyum-seyum kepada istrinya tersebut yang terlihat begitu sangat bahagia nya.
__ADS_1
"Apa kau cemburu dengan menantumu sendiri?" jawab ibu Santi ketus tanda tidak terima dengan ucapan suaminya tersebut.
Semua orang yang di sana tentu tertawa senang di buatnya.