
Malam itu berlalu begitu cepat. mereka berdua tampak begitu bercengkrama bersama. jauh berbeda dengan sebelumnya, mereka tampak begitu akrab dan berbagi cerita satu sama lainnya. Bastio dan Santi sudah cukup puas untuk menikmati pemandangan danau di malam ini. mereka berdua pun berniat untuk pulang.
Mereka berdua pulang dengan berjalan kaki kembali. karena sudah terlalu malam,sebenarnya Bastio sudah membujuk istrinya untuk naik taksi. namun istrinya menolak. katanya lebih seru berjalan kaki daripada menggunakan kendaraan.
"Baiklah kalau kau memaksa, jika lelah bilang saja!" Perintah Bastio kepada istrinya. dan di anggukkan oleh istrinya dengan memasang wajah cute nya. dan karena saking gemasnya melihat tingkah istrinya, Bastio mengacak-acak rambut istrinya dengan lembut.
Di pertengahan perjalanan, Santi terlihat kedinginan, namun tidak berani memberi tahukan kepada suaminya. Bastio yang menyadarinya, kemudian membuka jaketnya dan menempelkan jaket nya di bagian punggung istrinya dan kemudian Bastio merangkul pundak istrinya sambil terus berjalan beriringan. karena tidak mendapat penolakan dari istrinya, Bastio semakin mengeratkan rangkulannya. mendapat perhatian dari suaminya, Santi merasa sangat senang sambil terus berjalan dan terlihat tersenyum malu-malu. secara diam-diam mereka berdua mencuri-curi pandang, jika sesekali pandangan mereka berdua bertemu, mereka lalu tersenyum. dan Santi juga sudah mulai mau mencubit perut suaminya.
"AU.. sakit." Teriak Bastio kesakitan, saat mendapat cubitan dari istrinya di bagian perutnya.
"Suruh siapa memandangi ku terus." Jawabnya cemberut sambil tersenyum, mendengar teriakkan suaminya.
"Bagaimana aku tidak memandang mu? kau terlihat sangat cantik." Jawabnya sambil meringis kesakitan.
"Dasar gombal." Celetuk Santi sambil memalingkan wajahnya dari suaminya.
"Tidaaaak, kau benar-benar cantik." Ujarnya tenang dan santai sambil memegang dagu istrinya menarik untuk berhadapan dengan nya. ketika suaminya menarik dagunya, Santi juga tidak menolaknya dan menuruti kemauan suaminya. karena tidak ada penolakan. Bastio menghentikan langkahnya dan istrinya. akhirnya Bastio mencoba mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya. setelah bibir mereka berdua mulai beradu, Santi malah memejamkan matanya, sehingga membuat Bastio seakan mendapat sinyal dari istrinya, Daan akhirnya bibir mereka benar-benar sudah menempel. Bastio mencoba sedikit ******* bibir istrinya, namun tiba-tiba istrinya tersadar. kemudian Santi menarik wajahnya Secara kasar dan sedikit menjauh dari suaminya.Bastio yang memahami istrinya, menjadi salah tingkah.
"Maaf, maaf, bukan maksudku..." Ujarnya, namun di potong oleh istrinya.
"Sudah malam. cuacanya juga semakin dingin. sepertinya juga akan turun hujan. cepatlah sedikit!" Potong istrinya sambil berlalu berjalan duluan meninggalkan Bastio yang masih terlihat salah tingkah.
"Sial, kenapa aku tidak bisa menahannya? lihatlah! sekarang dia marah. sekarang apa yang akan kau lakukan?" Gerutunya menyalahkan diri sendiri sambil memegang bibirnya.
"Huuum, padahal sedikit lagi tadi." Sesalnya dalam hati sambil mengikuti langkah kaki istrinya yang berada di depan agak jauh darinya.
__ADS_1
"Tunggulah?" Teriaknya sambil berlari mengejar istrinya karena jarak mereka berdua sekarang cukup jauh.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka berdua sampai di apartemen nya. Bastio berlari mendahului istrinya dan segera membukakan pintu pagar dan di lanjutkan lagi dengan membuka pintu apartemen nya.
Mereka telah sampai di dalam kamar. Santi beranjak ke kamar mandi hendak mengambil air wudhu untuk melaksanakan Sholat isya.
Setelah selesai, Santi hendak mengganti pakaian dengan pakaian piyamanya ke ruangan gantinya. sementara Bastio asyik dengan teleponnya. panggilan telepon Bastio berbunyi Ia keluar kamar untuk mengangkat telepon nya tersebut.
***
Di tempat lain.
"tring-tring,(suara panggilan telepon) kau berani menghubungiku, apa kau sudah menemukan nya?" Tanya Rangga kepada seseorang yang menelponnya.
"Sudah bos, nanti akan aku kirimkan alamatnya." Jawab seseorang dari seberang telepon nya.
"Santai bos? alamat nya ada dua. tidak mungkin kan aku bilang langsung." Jawab nya lagi.
"Ok, baik. cepatlah!" Ujarnya hendak memutuskan sambungan teleponnya.
" Tunggu, bos. ada informasi penting selain alamat rumah nya."
"Informasi, cepat katakan." Bentaknya dari ujung telepon nya.
Seseorang yang menghubungi Rangga, kemudian menceritakan semua informasi yang mereka dapatkan secara detail. karena susuai perjanjian jika mereka bisa menemukan informasi mengenai seseorang yang di carinya, maka akan di beri bonus tambahan.
__ADS_1
"Apa?... kurang ajar. kenapa bisa kebetulan seperti ini. aku tidak akan tinggal diam." Geramnya sambil mematikan sambungan teleponnya dan membantingnya ke sofa di dekat Rangga berdiri. Entah informasi apa yang di berikan oleh seseorang yang menghubungi nya itu, hingga membuat nya begitu sangat marah.
Setelah Rangga meredakan emosi nya, lalu Ia menghubungi Mita.
"Ada apa? apa kau tidak tau malam? kau sangat menggangu istirahat ku." Gerutu Mita kepada Rangga setelah mengangkat telepon dari teman lamanya itu.
"Kau sungguh berisik sekali. ku tunggu kau di tempat biasa. jika telat kau akan tanggung akibatnya." Ucap Rangga kepada Mita sambil memutuskan panggilan telepon nya.
"Hei..hei.., siapa kau rupanya? bahkan aku belum menyetujuinya kau sudah main memutuskan panggilan mu. dasar orang gila." Teriaknya dengan kesal.
Mita bergegas menjumpai Rangga di tempat biasa. sesampainya, Rangga sudah menunggunya. setelah Mita datang mereka langsung membicarakan sesuatu dengan serius.
"Apa? benarkah?" Teriak Mita sambil terbelalak tidak percaya mendengar cerita Rangga.
"Hmm," Jawabannya singkat.
"Pantas saja, aku sudah curiga dari awal." Gerutunya dalam hati.
"Ada tugas untuk mu. cari kebenarannya! karena menurut informasi yang ku terima, sepertinya ada yang tidak beres. nanti aku kirimkan alamatnya ke ponselmu." Perintah Rangga kepada Mita.
"Ok." Jawabnya singkat.
"Apa imbalannya kali ini?" Tanyanya antusias.
"Jika kau menemukan kebenaran yang akurat, kupastian imbalanmu sesuai dengan kinerja mu." Jawabnya sambil berlalu meninggalkan Mita di dalam kafe.
__ADS_1
Mita dulunya adalah orang baik. tetapi semenjak Ia tinggal di kota untuk melanjutkan pendidikan sarjananya. tiba-tiba keadaan ekonomi keluarganya sedang menurun membuat nya harus bisa berjuang sendiri di kota besar yang di tempatinya. selain Ia membutuhkan biaya untuk pendidikan nya Ia juga membutuhkan biaya untuk kebutuhannya sehari-hari. Ia tidak tahu harus bekerja apa di kota besar tanpa ijazah yang memadai. akhirnya suatu hari dia bertemu dengan seorang teman wanitanya dan mengajak untuk bergabung dengannya. namun alangkah sialnya, dia malah di jual oleh temannya di club' malam.
Sejak itulah Mita terjerumus ke dunia malam. hingga suatu ketika Ia di beli oleh seorang lelaki yang ternyata adalah Rangga. temannya waktu SMP hingga SMA. selain itu juga Setau Mita dulunya Rangga adalah kekasih dari sahabatnya Santi. dari pertemuan itu, akhirnya Mita memohon kepada Rangga untuk membebaskannya agar Ia tidak perlu lagi bekerja di dunia malam. Rangga menyetujuinya namun ada syaratnya. Mita harus bekerja dengannya menjadi mata-mata pribadinya.