TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Nyata atau khayalan?


__ADS_3

Bastio terlihat sangat kesal, namun Ia tetap menuruti permintaan Santi. akhirnya Bastio turun kebawah kemudian Ia mengambil bantal dan guling. Lalu Ia meletakkan bantal dan guling Nya di lantai. di saat Bastio mulai merebahkan tubuhnya Santi mencegahnya dan beranjak menuruni ranjangnya.


"Tunggu," Ucap Santi kepada Bastio.


"Apalagi? Aku sudah sangat capek." Jawab Bastio lemas.


"Pakailah ini!" Ucap Santi sambil membawa tikar dan membentangkan nya di lantai serta merapikan bantal dan guling Nya Bastio, kemudian Ia mengambil selimut di lemari dan memberikan kepada Bastio.


"Pakailah ini!" Ucap Santi kepada Bastio kembali sambil menyodorkan selimut yang Ia ambil dari lemarinya.


"Hmmmmm," Respon Bastio kepada Santi.


Malam ini Bastio dan Santi tidur di dalam satu kamar hingga pagi hari. Namun, tidak satu ranjang. Santi sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan berkali-kali Ia terjaga dari tidurnya, entah karena takut atau memang tidak bisa tidur. Sementara Bastio, mungkin karena kelelahan sehingga membutuhkan beberapa menit saja Ia langsung tertidur dengan pulas nya.


Karena tidak bisa tidur akhirnya, Pagi-pagi sekali Santi sudah mempersiapkan sarapan pagi. Santi juga tidak lupa menyiapkan air hangat untuk mandi Bastio. karena memang seperti itulah biasanya Ia melayani Tuan Mudanya selama ini.


Semua pekerjaan sudah beres, Santi kembali kekamarnya berniat untuk membangunkan Bastio. sesampainya Ia tidak mendapatkan Bastio berada di lantai, Namun Bastio sudah berada di ranjang tempat tidur Santi.


"Tuan, ayo bangun! ini sudah pagi, Saya juga sudah menyiapkan air mandi untuk Tuan." Ucap Santi sambil menggoyang kan tubuh Bastio.


"Hmmmmm, lima menit lagi," Bastio mengangkat tangannya dan menunjukkan kelima jarinya dengan mata masih tertutup.

__ADS_1


"Isss, kamu ini!" Gerutu Santi sambil berlalu meninggalkan Bastio yang tidak tega untuk membangunkan nya karena kelihatan nya memang Bastio sangat kelelahan sekali.


Karena tidak berhasil membangunkan Bastio, Santi keluar mencari udara pagi, dan memutuskan untuk berkeliling di sekitar perumahan sebentar.


Udara pagi memang sangat baik untuk kesehatan juga sangatlah segar. Santi menyusuri pematang persawahan sambil membentangkan tangannya menarik dan membuang nafas dalam-dalam, sambil menunggu sunset di sana.


Dengan cuaca pagi yang cukup mendukung, angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat rambut panjangnya Santi yang terurai dan rok mengembang dengan panjang seperempat seakan menari-nari mengikuti alunan hembusan angin. Santi sangatlah menikmatinya, sambil tersenyum Ia mencoba melepaskan beban hidupnya walau hanya sesaat. Dari raut wajahnya juga tergambarkan rasa kerinduan yang teramat dalam akan kampung halaman, di mana Ia di lahirkan dan di besarkan oleh kedua orang tuanya.


Setelah puas Santi kembali pulang kerumah. ternyata cukup lama juga Santi berdiri dan menikmati pemandangan sawah di pagi ini, sehingga keluarga nya sengaja meninggalkan nya untuk sarapan bersama dengan nya. sesampai di dalam kamar nya.


"Sudah pulang?" Tanya Bastio yang berdiri di depan pintu keluar kamarnya sambil memegang teleponnya.


"Hmmm," Jawab Santi singkat dan berlalu tanpa memperdulikan nya kemudian Ia merapikan tempat tidurnya yang belum sempat Ia bersihkan ketika Ia tinggalkan tadi, karena Bastio masih menggunakan nya.


"Memangnya siapa yang akan pulang bersamamu? dan siapa yang menyetujui nya?" Jawab Santi yang menghentikan kegiatannya setelah mendengar ucapan Bastio, kemudian berbalik menatapnya dengan intens.


"Tidak peduli kamu setuju atau tidak, yang jelas semua orang di rumah ini taunya kamu itu istriku. jadi jika aku pulang hari ini, kamu juga akan pulang hari ini bersamaku." Jawab Bastio Santai dengan melipatkan kedua tangannya di atas perut.


"Sejak kapan kamu memutuskan segala sesuatu tentang ku sesuai dengan kehendak mu itu?" Protes Santi tidak terima.


"Sejak kamu masuk ke dalam kehidupan ku." Balas Bastio tenang, kemudian berjalan keluar kamar. Namun setelah sampai di depan pintu Ia menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Cepatlah bersiap-siap saja! karena tidak ada waktu untuk bermusyawarah lagi di sini." Ucap Bastio dingin tanpa menoleh atau menatapnya sama sekali.


"Satu lagi, kamu tidak perlu membawa semua pakaianmu, karena semua pakaianmu itu tidak akan terpakai lagi di sana mengingat perutmu yang semakin hari akan semakin membesar.lagian semua pakaianmu ku lihat berjenis kaus dan kemeja semua juga sudah ketat-ketat semuanya."


"Hei, apa kamu membuka lemari pakaianku? siapa yang memberimu izin?" Celetuk Santi kesal.


"Kau ini.. benar-benar keterlaluan." Gerutunya sembari mengerucutkan bibirnya.


Sementara Bastio sama sekali tidak menghiraukan nya dan meninggalkan nya di sana.


Santi benar-benar kesal dibuatnya. Ia tidak menyangka, ternyata apa yang di katakan ketika di rumah sakit semalam tidak lah bercanda saja. Santi tidak bisa menolak keinginan Bastio ini, karena memang apa yang di katakan oleh nya benar adanya, bahwa saat ini keluarga Santi mengira bahwa Bastio adalah benar-benar suaminya.


Bastio sudah menunggu Santi di teras rumahnya dengan keluarganya, begitu Santi keluar rumah Bastio segera berpamitan kepada keluarga Santi. Santi bingung, kenapa tidak ada yang mempersoalkan masalah kepulangan nya yang secara tiba-tiba ini. Rupanya Bastio sudah membahasnya ketika mereka sedang sarapan tanpanya pagi tadi.


Bastio juga berjanji akan sering mengunjungi ayah dan ibunya Santi jika ada waktu luang nantinya.


"Ayah Tio pamit pulang dulu, ini ada kunci rumah dan sertifikat tanah rumah itu." Bastio menyerahkan kunci dan sertifikat tanah kepada ayah Santi sambil jarinya menunjuk rumah besar yang telah lama kosong tak berpenghuni itu.


"Tolong jaga rumah itu, dan jalankan bisnis pembibitan tanaman yang sudah saya siapkan di sana. di belakang rumah itu ada juga kolam yang sudah saya isi dengan benih-benih ikan, tolong di rawat supaya nantinya bisa ayah jual. pekarangan kosong di samping nya juga saya beli, jadi ayah sama ibu bisa menanam palawija dan hasilnya juga bisa kalian jual di pasar." Sambung Bastio menjelaskan panjang lebar.


Sementara itu, ayah Santi hanya terbengong saja mendengar ucapan Bastio. Ia tidak bisa menerima juga tidak bisa menolak, ayah Santi terlihat kikuk di buatnya. begitu pula dengan yang lainnya, mereka belum yakin dengan kenyataannya. ibu Santi terkejut sampai tidak bisa bereaksi. Begitu juga dengan Santi yang tidak kalah kagetnya.Namun, berbeda dengan Aldo seperti biasanya dia yang selalu heboh duluan.

__ADS_1


"Kakak? apa ini benar? apa aku sedang tidak bermimpi? apa aku tidak sedang berhalusinasi? kakak, coba cubit tanganku?" Seraya menyodorkan tangannya kepada kakaknya Icha yang berada di sebelah nya tersebut.


"Ia benar, kakak juga tidak tau, ini benar atau tidak, ini nyata atau khayalan, rupanya kamu juga merasakannya?"


__ADS_2