TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Aku Takut


__ADS_3

Darah segar terus saja mengalir dari tubuh Rangga. Rangga sudah terlihat pucat dan semakin lemah, penglihatannya juga sudah mulai kabur. beberapa saat kemudian Ia tak sadarkan diri karena kekurangan darah.


Bastio berusaha menyadarkan Rangga agar tetap terjaga, namun tidak berhasil. genggaman tangan Rangga ke Bastio juga sudah mulai longgar. Santi menangis histeris sambil memanggil-manggil nama Rangga yang dulu pernah mengisi hatinya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Rangga langsung di bawa dan tangani oleh dokter. karena ketika di perjalanan sebelum mereka sampai Mita sudah menghubungi dokter di rumah sakit tersebut.


Rangga sudah berada di ruangan dan sedang mendapatkan perawatan intensif. dokter dan di bantu oleh empat suster membersihkan seluruh luka tusukan Rangga dengan cekatan. Santi yang menyaksikan Rangga dari kaca balik pintu tempat Rangga di tangani pun hanya bisa menangis sesenggukan. Bastio melihat istrinya rapuh, tidak berniat untuk meninggalkan istrinya, Ia memeluk istrinya dari belakang dan mengecup pucuk kepalanya berusaha untuk menenangkannya. namun usahanya sia-sia saja, karena Santi tetap saja menangis sambil menggenggam erat tangan Bastio yang melingkar di perut dan dadanya.


Waktu terus berjalan begitu cepat, sudah sekitar dua jam Rangga berada di ruangan tersebut. dokter dan suster sepertinya juga sudah selesai membersihkan seluruh luka Rangga. setelah itu, suster menutup tirai ruangan tersebut. entah apa yang akan di lakukan oleh dokter dan suster tapi yang jelas sepertinya mereka tidak ingin ada yang menyaksikan pekerjaannya di dalam sana. Bastio lalu duduk di kursi tunggu dan mengajak istrinya juga. namun istrinya menolak dan lebih memilih untuk menunggunya di sana sambil berdiri.


"Gantilah pakaianmu dulu, dan tolong bujuk Santi juga. aku sudah membelikannya untuk kalian. setelah itu kalian segera makan. aku dan Dimas akan menggantikan kalian untuk menjaga Rangga di sini." Ucap Mita yang baru muncul menyodorkan kantong paper bag kepada Bastio. karena Mita melihat seluruh kemeja Bastio penuh dengan darah yang mulai mengering. sementara pakaian Santi juga terlihat seperti pakaian pengemis yang koyak sana sini, beruntung ada jas Bastio yang digunakan untuk sementara menutupi tubuhnya.


Bastio menerima paper bag dari tangan Mita dan berjalan mendekati istrinya yang masih berdiri di depan pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.


"Ayo kita ganti baju dulu? kau bisa masuk angin dengan keadaan mu seperti ini." Bastio mencoba membujuk istrinya.


Santi yang melihat paper bag di tangan suaminya lalu mengangguk dan mengikuti suaminya. karena dia sadar bahwa ucapan suaminya ada benarnya juga. melihat kondisinya saat ini, dia tidak akan bertahan jika hanya mengandalkan jas suaminya saja. lagipula, pakaian yang Ia kenakan pun memang tampak tidak wajar jika Ia bersikeras. akhirnya Ia pun mengikuti kemauan suaminya.


Bastio membawa istrinya keruangan khusus yang di pesan oleh Mita untuk dapat membersihkan badannya dan mengganti bajunya serta beristirahat sebentar di sana. Mita juga sudah memesannya makanan untuk mereka berdua dan di antarkan ke ruangan tersebut.


Setelah makanan mereka sampai, Bastio lalu membukanya dan menghidangkannya di atas meja kecil yang ada di ruangan tersebut. Santi keluar dari kamar mandi dengan tatapan kosong. kemudian ia duduk di sofa sebelah suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

__ADS_1


"Aku takut." Ucapnya lirih hampir tidak terdengar.


"Apa yang kau takutkan?" Tanya Bastio kecut namun tetap mencoba menghibur istrinya. karena saat ini dia lebih takut jika istrinya akan kembali dan akan meninggalkannya demi Rangga, setelah Rangga pulih kembali.


"Bagaimana jika aku tidak sempat meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada Rangga?" Ucapnya khawatir.


"Apa yang kau katakan? Rangga pasti akan pulih. percayalah!" Jawabnya sambil mengusap puncak kepala istrinya dan mengecupnya.


"Aku tidak yakin." Timpalnya kemudian seraya meraih tangan suaminya dan memindahkannya ke bahunya lalu Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dan memejamkan matanya sesaat di sana dan suaminya pun menyambutnya dengan pelukan hangat. entah mengapa, Santi merasa nyaman jika memeluk tubuh suaminya.


"Makanlah! kau belum mengisi perutmu sepanjang hari ini." Perintah Bastio dengan sabar, seraya menyodorkan sendok yang berisi makanan dan lauknya hendak menyuapi istrinya.


"Aku tidak lapar." Ujarnya menggelengkan kepalanya seraya menggeserkan sendok agar menjauh dari mulutnya.


"Syakira?" Ucapnya tersadar, karena tragedi yang menimpanya hari ini membuatnya melupakan putrinya.


Santi menggeser tubuhnya untuk duduk sempurna. kemudian ia meraih tangan dan melihat jam tangan suaminya. jam menunjukkan pukul dua malam.


"Ck, sudah malam." Desahku kesal kepada dirinya sendiri sambil menggigit bibirnya, karena bisa-bisanya melupakan putrinya sendiri.


"Dia baik-baik saja, aku sudah menelfon rumah tadi. sekarang makanlah!" Pinta Bastio kembali menyuapi istrinya dan bergantian menyuap makanan untuk dirinya sendiri . kali ini Santi tidak menolaknya. Santi makan hingga tiga suapan saja. kemudian ia tidak mau melanjutkannya kembali.

__ADS_1


"Apa dia masih mencintai Rangga? kenapa dia terlihat sangat sedih dan kehilangan sekali." Gumam Bastio di dalam hatinya, sepertinya dia merasa cemburu kepada Rangga.


"Sampai kapan kau akan memasang wajah murung seperti itu?" Tanya Bastio dengan wajah datarnya ketika melihat istrinya mulai terlihat murung kembali.


"Apa setelah ini, kau akan kembali kepada Rangga?" Tanya Bastio kembali, karena pertanyaan pertamanya di abaikan oleh istrinya.


"Apa kau bercanda? aku sedang memikirkan Doni, kenapa dia menjadi seperti itu. aku sungguh tidak mengenalinya sekarang." Jawab Santi menjelaskan.


"Oo," Bastio merespon. Ia merasa tenang setelah istrinya sudah mulai tidak memikirkan Rangga.


"Tok-tok,(suara ketukan pintu dari luar) Santi? apa kalian sudah tidur?" Tanya seseorang dari balik pintu ruangan tersebut.


"Siapa? Belum, sebentar aku buka." Jawab Santi seraya bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke arah pintu keluar kemudian membuka pintu ruangan tersebut.


"Dan ayo ikut aku?" Begitu pintu terbuka, Mita yang terlihat panik dan gugub langsung mengajak sahabatnya itu.


"Ada apa?" Tanya Santi yang mulai gelisah melihat tingkah Mita.


"Apa yang terjadi dengan Rangga? kenapa kau meninggalkannya?" Tanya nya yang mulai curiga dan menggoyang-goyanggkan tubuh Mita yang mematung di depannya.


Bastio menghampiri mereka berdua setelah mendengar keributan di luar. Ia melihat ekspresi Mita lalu menarik tangan istrinya dan membawanya beranjak dari tempat itu. Mita yang menyadarinya kemudian mengikuti mereka berdua dari belakang. mereka bertiga menyusuri lorong-lorong di mana Rangga di rawat.

__ADS_1


"Bukan ke arah sana. ayolah ikuti aku!" Ucap Mita kepada suami istri itu. dengan tidak curiga Santi dan Bastio mengikutinya. mereka baru sadar setelah mereka telah sampai di ruang mayat.


__ADS_2