
"Tidak, kenapa harus cemburu kepada menantu sendiri." Jawab ayah Santi mengelak.
"Lalu apa?" Tanya ibunya Santi kembali.
Semua terkekeh melihat pertengkaran kecil suami istri tersebut.
"Sudahlah Bu, ayo kita makan, saya sudah sangat lapaaar. " Ucap Bastio kepada ibunya Santi sambil memegang perutnya.
"Iya.. iya, ayo kita makan. ayolah.." Jawab ibunya Santi sambil melirik suaminya tanda tidak senang.
" Wooo, enak sekali Bu, benar kata ibu. makanan ibu sangat lezat." Ucap Bastio kepada ibu Santi, sambil terus mengunyah makanannya.
"Benarkah?..ayo tambah lagi, yang mana yang kamu suka, yang ini? yang ini? atau yang ini?" Jawab ibu Santi bersemangat karena mendapat pujian dari Bastio sambil menunjukkan makanan nya satu persatu kepada Bastio.
"Tidak, nanti saja saya ambil sendiri."Jawab Bastio menolak dengan sopan kepada ibunya Santi.
"Hei kakak ipar? kau sungguh beruntung sekali mendapatkan perlakukan yang sangat baik dari ibu kami, biasanya ibu itu sangat galak kalau sama orang baru. pacarnya kak Icha kemari saja, di lempar pakai sapu lalu di usirnya, hahaha..."ucap Aldo kepada Bastio sambil tertawa geli mengingat kejadian waktu pacar kakaknya Icha datang berkunjung. bukanya di sambut atau di tegur ramah di perlakuan baik malah justru mendapat perlakuan yang sebaliknya.
"Benarkah?" Tanya Bastio
"Hei, Apa yang kamu katakan kepada kakak ipar mu itu, haa? jelas saja ibu mengusirnya, kakakmu Icha sewaktu itu kan masih kecil, masih SMA, belum menyelesaikan sekolahnya lagi, masak iya mau pacaran. jelas sekali ibu melarangya."
"Apa kau tidak tahu zaman sekarang, anak-anak zaman sekarang itu pacaran nya sungguh di luar batas. tidak sedikit muda mudi sekarang baru pacaran sudah main menghamili anak orang saja. iya kalau dinikahi, kalau di tinggal kabur, gimana?...
kalau pun dinikahi apa ya bisa kasih makan anak orang." jawab ibu Santi geram mengingat kejadian itu.
"Uhuk...uhuk," Sontak saja mendengar pembicaraan ibunya, Santi langsung terbatuk-batuk di buatnya.
"Pelan-pelan sayang, ayo minumlah." Ucap Bastio sigab menggambil air minum dan memberikan kepada Santi lalu meminumkannya, dan Santi hanya bisa pasrah dengan perlakuan Bastio kepadanya.
Semua orang yang berada di sana tersenyum lega melihat perlakuan Bastio kepada Santi. berbeda dengan Mang Dudung dan Icha, Icha menjadi malu dan tidak berani menunjukkan wajahnya ke depan sementara Mang Dudung hanya bisa tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
" Bagus, sigap juga anda ya Tuan," Gumam Mang Dudung di dalam hatinya.
__ADS_1
"Lihatlah, kalau mencari pasangan itu yang seperti kakakmu, suaminya begitu peduli terhadap kakakmu." ucap ibu Santi kepada anak-anak nya sambil tersenyum lega. sementara Bastio dan Santi Hanya bisa saling menatap dan kemudian tersenyum.
Acara makan malam sudah usai. Bastio keluar dan duduk di kursi panjang di depan rumah sambil memandang jalanan. sementara para wanita sedang membereskan bekas makan malamnya. Aldo langsung masuk kekamarnya untuk belajar karena besok masih ada ujian Nasional. ayah Santi seperti biasanya setelah makan malam Ia selalu menonton televisi. sementara Mang Dudung sedang membersihkan mobil.
Setelah pekerjaan Santi selesai, Ia lalu menyusul Bastio yang berada di teras depan rumah. Ia mengambil kursi plastik dan duduk agak berjauhan dengan Bastio.
"Mau sampai kapan anda disini?" Tanya Santi kepada Bastio.
"Sampai kamu mau pulang ke kota bersamaku." Jawab Bastio santai.
"Sudah aku bilang, aku tidak mau." Jawab Santi bersikeras.
"Kalau begitu aku akan memaksamu." Timpal Bastio.
Tiba-tiba Aldo muncul dari balik pintu masuk. sambil membawa buku paket sekolah nya.
"Ngapain kamu bawa ke luar?" Tanya Santi kepada adiknya Aldo.
"Belajar lah, egak mungkin kan aku bawa terus mau nonton TV." Jawab Aldo ketus.
"Lihatlah kakak ipar, kakakku itu tidak ada manis-manis nya sama sekali, malahan seperti Mak Lampir. yakin kakak ipar betah sama dia."Ucap Aldo memprovokatori Bastio sambil jarinya menunjuk ke arah kakaknya Santi.
"Sudah sana, kamu masuk!" Hardik Santi kepada Aldo.
" Ogah, bosan belajar sendirian di kamar. mending di sini ada temannya." Jawab Aldo mengelak.
"Sudahlah, biarkan saja dia belajar di sini." Ucap Bastio kepada Santi.
"Huuuh, mengganggu saja. awas kamu ya?" Gerutu Santi kepada Aldo yang hendak beranjak berdiri akan meninggalkan mereka berdua. namun kemudian ia berbalik dan bertanya kepada adiknya Aldo.
"Rumah di seberang itu apa sudah ada yang membeli? kok sepertinya lampunya menyala dan lebih terlihat bersih juga banyak sekali tanaman-tanaman baru." Tanya Santi kepada Aldo sambil jarinya menunjuk ke rumah besar dan mewah namun tidak sudah lama tidak berpenghuni, hingga di beri papan pengumuman yang berbunyi "di jual" karena penghuninya pindah ke kota, yang berada di seberang jalan sana.
"Tidak tau, pagi tadi belum ada tanda-tanda, tapi sepertinya benar kata kakak. lampunya menyala.
__ADS_1
"Hmmmmm," Jawab Santi karena tidak puas dengan jawaban Aldo. dan kemudian Ia pun masuk ke dalam rumah meninggalkan Aldo dan Bastio berdua di teras rumah.
"Ayah, rumah di depan itu sudah berpenghuni ya yah?" Tanya Santi kepada ayahnya yang sedang menonton televisi dengan serius.
"Iya, katanya orang dari kota."Jawab ayahnya singkat tanpa menghiraukan putrinya sambil terus fokus menonton televisi acara kesukaan nya tersebut.
"Oo, baguslah berarti ayah bakalan punya tetangga baru." Jawab Santi kepada ayahnya.
"Hmmm." Jawab ayah Santi yang pandangan matanya masih tertuju ke layar petak tersebut.
Karena merasa di cuekin akhirnya Santi masuk ke dalam kamarnya, Ia memilih memainkan telepon nya di sana hingga larut malam.
Bastio masuk ke kamar Santi, karena Santi yang sedang fokus dengan HP nya membuatnya tidak menyadari kalau Bastio sudah berada di kamarnya. Bastio duduk di tepi ranjang Santi dan menselonjorkan kakinya di sana. membuat Santi menyadari keberadaannya di sana.
"Hei...hei... ngapain kamu ada di kamarku?" Tanya Santi kepada Bastio.
"Hmmmmm, apa kamu lupa, kalau Setau keluarga mu itu kita ini suami istri?" Tanya Bastio mengingatkan kembali kepada Santi.
"Sudahlah, aku tidak akan mengganggumu. aku mau istirahat sekarang." Yang mulai merebahkan tubuhnya di samping Santi dengan mata tertutup.
"Memangnya harus ya, kamu tidurnya di di sini di sampingku?" Tanya Santi yang kemudian terduduk setelah melihat Bastio tidur di sebelnya.
"Sudahlah, jangan berisik. memangnya aku tidur di mana lagi kalau tidak di sini?" Jawab Bastio santai.
"Ya di bawah sana! Usir Santi kepada Bastio.
Bastio membuka matanya mengangkat tubuhnya dan duduk sambil menatap Santi.
"Apa kau yakin?" Tanya Bastio.
"Kenapa tidak?" Jawab Santi.
"Di lantai itu?" Tanya Bastio tidak yakin.
__ADS_1
"Sooo?" Jawab Santi.
"My God."