
Santi kembali ke kamarnya dan berniat untuk tidur kembali. karena merasa lelah seharian menunggu Bastio, akhirnya Ia pun bisa tertidur dengan nyenyak juga. sementara Bastio masih tetap sibuk dengan pekerjaan nya yang sempat tertunda selama beberapa hari terakhir.
Hari berganti hari, seminggu sudah usia perkawinan Bastio sudah di lalui. Namun, mereka belum pernah sekalipun terlihat tidur dalam satu ranjang. setiap hari Bastio selalu pulang larut, kemudian Ia menyibukkan diri di ruangan kerjanya dan tidak jarang pula sering Ia ketiduran di sana.
Mereka berdua sangat jarang berkomunikasi, bahkan terlihat tidak pernah sama sekali. mungkin karena tekanan dari pekerjaan yang di hadapi oleh Bastio atau ada hal lainnya. tapi dengan kondisi seperti ini, Santi merasa sangat senang, karena inilah yang sebenarnya Ia inginkan, karena Ia belum siap seutuhnya menjalankan kewajiban nya sebagai seorang istri.jadi Ia tidak perlu meminta kepada Bastio untuk memberikan alasan kenapa Ia tidak ingin menjalankan kewajiban nya sebagai istri itu.
Di tambah lagi suatu ketika Santi membahas tentang pernikahan seperti yang Ia mau. mereka berdua telah sepakat dan setuju dengan syarat yang di minta oleh Santi.
Detik demi detik, hari demi hari, Minggu demi Minggu, dan bulan demi bulan hubungan mereka tetap sama tidak ada perkembangan sama sekali. Bastio selalu menyibukkan dirinya dengan berbagai aktivitas nya. meskipun demikian, ternyata Bastio sangat memperdulikan dan memperhatikan istrinya. Ia selalu mengingatkan istrinya tentang kesehatannya, meskipun tidak keluar dari mulutnya sendiri. Ia selalu berpesan kepada seluruh pembantunya selain untuk menjaganya dengan ekstra, juga memprioritaskan makanan sehat dan bergizi untuk istrinya tersebut, meskipun hal seperti ini sudah pasti tanpa sepengetahuan Santi tentunya.
***
Lima bulan kemudian.
Perubahan perut Santi yang semula datar, kini semakin hari semakin membesar saja.
Hari ini adalah jadwal kontrol kandungan Santi, seperti biasanya Ia selalu di antar oleh pak supir pribadinya dan di temani oleh Mbok Minah. tidak ada yang perlu di khawatirkan dari perkembangan kandungan Santi.
saran demi saran yang baik bagi ibu hamil sudah Ia dengarkan dari dokter kandungan.
Kontrol Pagi ini berjalan sangat lancar seperti sebelum-sebelumnya. karena sudah selesai akhirnya Santi dan Mbok Minah kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Santi sampai di rumah sekitar pukul dua siang. Ia kemudian berpamitan kepada Mbok Minah, untuk langsung bergegas menuju kamarnya. karena Ia merasa sangat lelah pagi ini dan ingin sekali meluruskan punggungnya di sana.
"cekreeek." pintu kamar terbuka oleh Santi. ia kemudian segera masuk ke dalam. Ia merasa sangat rindu dengan ranjang nya dan ingin segera merebahkan tubuhnya di atas sana.
Namun, setelah ia sampai, Ia malah berdiri dan terdiam di depan pintu tidak berani melakukan nya karena ternyata ada Bastio yang sedang tertidur di sana dengan masih menggenakan pakaian lengkap kerjanya. posisi tidurnya juga sangat berantakan dengan asalnya setengah badannya di atas ranjang kaki menempel di lantai masih dalam posisi sepatu masih terpasang.
"Kenapa dia ada di sini?.. bukanya dia sedang kerja? cepat sekali pulangnya, tidak seperti biasanya, ummmh... apa dia sedang sakit?" Santi bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya keheranan sambil memandangi Bastio dan belum beranjak dari tempatnya Ia berdiri.
Santi berjalan berlahan mendekati suaminya tersebut. sesampainya, Ia mengulurkan tangannya dan menempelkan nya di keningnya Bastio.
"Panas sekali, pantas saja tengah hari begini sudah pulang." Gumamnya dalam hati.
Santi lalu membenarkan posisi tidurnya Bastio. membantunya membukakan sepatunya dan menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang. kemudian Ia lanjutkan dengan membantunya membukakan kemeja dan dasinya dengan sangat hati-hati.
"Kenapa kau baik sekali? tolong jangan lakukan, aku takut jatuh cinta padamu?" Gumam Bastio dalam hati sambil memperhatikan Santi dengan tatapan mata yang sayu dan memelas yang sedang merawatnya dengan baik.
Setelah Santi selesai membantu suaminya Ia langsung menyelimutinya dan segera bergegas keluar kamar menuju dapur mencari baskom dan kemudian Ia isi dengan air es. lalu Ia bawa kembali masuk ke dalam kamarnya dan segera mengompres suaminya dengan hati-hati dan penuh kelembutan. dan yang paling uniknya, Santi melakukannya tanpa sepatah kata pun yang keluarkan dari mulutnya tersebut.
Saat ini Santi terlihat begitu sangat kwatir dan panik melihat kondisi Bastio yang seperti ini, sampai-samai Ia lupa akan lelah yang Ia rasakan pada hari ini.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Santi berlari kecil buru-buru untuk membukanya. setelah pintu terbuka, ternyata Mbok Minah dan dokter Rio, dokter pribadi rumah Bastio Sudah berada di depan pintu.
__ADS_1
"Hallo." Sapa dokter Rio kepada Santi.
"Uhmmm, halo." Jawabnya dengan tersenyum ramah.
"Maaf Den ayu, dokter Rio mau memeriksa keadaan Den Tio sebentar." Ucap Mbok Minah kepada Santi yang berada di depannya itu.
"Ba.. baiklah, mari silahkan masuk dokter, tap..tapi maaf saya bawa Mbok Minah nya sebentar." Jawabnya gugub.
"Iya, terimakasih dan silahkan!" Ucap dokter Rio ramah kepada Santi.
Santi mengajak Mbok Minah keluar kamar. Ia penasaran dan heran kenapa Mbok Minah bisa tau dan bisa datang bersama dengan dokter Rio.
"Mbok, dari mana Mbok bisa tau kalo Bastio sedang sakit?… seharian kita kan bersama. apa jangan-jangan Mbok sudah tau tapi tidak memberitahu kan kepada saya?" Ucap Santi seraya menceberutkan mulutnya itu.
"Tidak, Mbok juga baru tau ketika dokter Rio datang ke mari Den ayu, kalau Den Tio sedang sakit. awalnya malah saya kira Den ayu yang kenapa-kenapa, karena kita kan habis bepergian tadi. rupanya Nak Diki yang menelfon dokter Rio supaya kemari, karena tau kalo Den Tio sedang sakit." Jawabnya menjelaskan.
"Oooo, begitu rupanya? maaf deh Mbok, saya sudah berprasangka Sama Mbok. ayo kita masuk." Seraya menggandeng lengan Mbok Minah masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak masalah, cuma demam biasa karena kelelahan dan kurang istirahat saja.minum obatnya dan biarkan dia istrirahat yang cukup juga nanti langsung sembuh." Ucap dokter Rio kepada Mbok Minah dan Santi yang terlihat kwatir. dan tentunya segera di anggukan kepala oleh Santi.
"Baiklah, terimakasih. mari saya antar keluar." Ucap Mbok Minah ramah kepada dokter Rio.
__ADS_1
"Baiklah. mari." Jawab dokter Rio sambil berlalu berjalan keluar kamar Bastio dan berpamitan kepada Santi. karena Bastio saat ini sedang tertidur karena efek obat yang di berikan kepada dokter Rio.
Santi menganggukkan kepalanya kembali sambil berjalan mengikuti langkah Mbok Minah dan dokter Rio sampai di depan pintu kamarnya. setelah dua orang itu berlalu meninggalkan kamar Santi menutup kamarnya kembali.