TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Putri Kesayangan


__ADS_3

"Dan untuk perjodohan itu juga sudah saya bereskan. jadi bapak sama ibu tenang saja, tidak usah bekerja lagi." Ucap Bastio kepada ayah dan ibunya Santi.


"Kamu tau dari mana masalah ini, maksudnya, tentang pekerjaan bapak dan perjodohan ini? apa Aldo yang sudah memberi tahukan kepada mu?"


"Aku sudah menduga anak ini selalu membuat masalah." Ucap Ayah Santi berdecak kesal.


"Bapak tidak perlu tau, dari mana dan siapa yang sudah memberi tahu kan tentang hal ini kepada saya. yang jelas, yang terpenting sekarang ini, apa yang seharusnya saya lakukan sudah saya lakukan."


" Lagipula bapak dan ibu juga bukan orang lain. saya justru lebih senang jika saya tau tentang masalah yang terjadi kepada keluarga bapak kan? karena menurutku, keluarga Santi itu ya..berarti, keluarga saya juga. benar tidak?" Ucap Bastio dengan sangat hati-hati dan tenang sambil tersenyum dan sesekali melirik wajah Santi.


Ayah dan ibu Santi yang mendengar ucapan Bastio, menjadi berkaca-kaca menahan rasa haru dan juga bahagia. mereka berdua tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi. saking senangnya ayah Santi lalu memeluk Bastio tanpa mengucapkan sepatah kata pun yang berada di depannya tersebut, sementara ibu Santi juga demikian tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur sambil meneteskan air mata bahagia nya , kemudian memeluk dan menciumi Santi berulang ulang, yang membuat Santi juga tidak bisa menahan haru hingga ikut meneteskan air matanya, sambil tersenyum lega, karena tidak jadi menikah dengan orang yang tidak diinginkan.


"Tapi,... sekarang bapak sama ibu punya tugas baru dari saya." Ucap Bastio kepada ayah dan ibunya Santi.


Ayah dan ibu Santi yang mendengar tugas baru pun saling melepaskan pelukannya masing-masing. dan ingin mendengar kelanjutan apa yang akan di tugaskan untuknya mereka.


"Tu.. tugas apa?" Tanya ayah Santi penasaran.


"Apa bapak sama ibu sudah tidak sabar ingin mengetahui tugasnya?" Tanya Bastio kepada ayah dan ibunya Santi sambil bercanda agar tidak terlalu menegangkan mereka berdua. sementara ayah dan ibunya Santi pun segera mengangguk kan kepalanya bersamaan.


"Baiklah, mulai sekarang bapak sama ibu cukup menjaga Santi dan cucu kalian berdua untuk saya." Ucap Bastio kepada kedua orang tua Santi sambil tersenyum.


Mereka yang mendengar kan ucapan Bastio semakin terharu juga bahagia dan belum percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.


"Dasar anak nakal, semalaman kita berada di satu ruangan tapi tidak memberitahu kan tentang kabar yang membahagiakan ini." Ucap Ibu Santi sambil tersenyum bahagia lalu mencubit hidung Santi pelan karena geram, dan akhirnya mereka saling berpelukan kembali.

__ADS_1


"Maaf ibu," Ucap Santi sambil membalas pelukan ibunya. Namun di dalam hatinya Ia terus saja berkecamuk, "Apa yang sebenarnya Bastio rencakan, aku harus bicara kepadanya." gumam Santi dalam hatinya.


Sementara ayah Santi masih dengan ekspresi terbengong bengong belum percaya sama sekali, sambil menatap Bastio yang ada di depannya.


"Apa bapak tidak suka?" Tanya Bastio kepada ayah Santi yang ada di depannya.


"Bicara apa kamu, jelas saja bapak suka."Jawab ayah Santi terkekeh sambil memukul pundak Bastio pelan.


Semua yang ada di ruangan menjadi tertawa ringan, tanpa terkecuali.


"Tau tidak? Kalian berdua ini sungguh keterlaluan, Sudahlah menikah bapak tidak di kasih tau, punya kabar membahagiakan juga tidak di beri tahu.apa kalian tidak mengganggap kalau kalian masih punya orang tua haaa?" Ucap ayah Santi protes kepada Bastio dan putrinya tersebut.


"Ayah?...Buk.." Ucap Santi kepada ayahnya Namun belum selesai bicaranya sudah di potong oleh ayahnya.


"Aaaaah, diamlah. kamu sedari dulu memang seperti itu, tidak pernah menganggap ayahmu ini lagi." Jawab ayah Santi merajuk.


"Hmmm, sudahlah kalian ini sedari dulu selalu saja berdebat. apa tidak malu sama cucu dan anak yang ada di kandungan mu ini?" Ucap ibu Santi kepada suaminya dan putrinya tersebut sambil tersenyum dan mengelus-elus perut Santi yang masih datar.


"Terus saja kau bela itu putri kesayanganmu!" Ucap ayah Santi kepada istrinya.


"Baiklah tentang pernikahan mu yang seperti apa, itu tidak penting. sekarang karena kau adalah ayah dari cucu kesayangan ku, mulai dari sekarang kau jangan memanggilku bapak lagi. aku juga ayahmu, jadi kau panggil aku ini ayah. apa kau mengerti? ini perintah!" Ucap ayah Santi kepada Bastio.


" Hahaha, baiklah Ayah." Jawab Bastio kepada ayah Santi sambil tertawa ringan begitu juga dengan yang lainnya mendengar percakapan antara mereka berdua ikut tertawa.


"Dasar manusia licik, pintar juga kamu ya, beraninya kamu mendekati orang tuaku untuk mencapai keinginan mu. awas saja kamu," Gerutu Santi di dalam hatinya.

__ADS_1


Di ruang perawatan tersebut yang awalnya sunyi karena banyak yang terfikirkan oleh dua orang tua tersebut kini menjadi berbeda, entah mengapa keluarga Santi begitu terbuka dan dengan mudah menerima kehadiran Bastio yang sama sekali tidak mereka kenal. padahal biasanya ayah Santi yang terlalu protektif terhadap orang baru kini sungguh jauh di luar perkiraan.


Setelah mereka puas bercanda dan mengobrol bersama sambil memakan makanan yang sengaja di bawakan oleh Bastio, ayah dan ibu Santi pun berniat berpamitan untuk pulang beristirahat sebentar di rumah.


Bastio mempersilahkan kepada kedua orangtuanya Santi untuk pulang di antar oleh Mang Dudung supir Bastio. Bastio juga berpesan kepada ayah dan ibunya Santi untuk beristirahat dengan baik di rumah dan jangan memikirkan macam-macam. Bastio juga memintanya kepada Icha untuk menyusulnya ke rumah sakit dengan Mang Dudung.


"Apa yang sebenarnya Anda inginkan?" Tanya Santi kepada Bastio ketus.


"Tidak ada?" Jawab Bastio santai.


"Lalu kenapa anda melakukan hal ini kepada kuargaku?" Tanya Santi kembali kepada Bastio.


"Melakukan apa, haa?"


"Apapun yang aku lakukan bukanlah apa-apa," Jawab Bastio yang masih dengan nada tenang dan singkat sambil memencet tombol remote control TV hendak mencari siaran yang dicarinya, dan tanpa melihat Santi sedikitpun.


"Apa karena kami orang miskin lalu anda bisa seenaknya melakukan sesuka anda?" Tanya Santi prustasi sambil meneteskan air matanya.


"Apa yang kamu bicarakan? sungguh itu tidak benar."


"Apa aku salah membahagiakan kakek dan nenek dari anakku? jangan berlebihan." Jawab Bastio yang mulai tersulut emosi karena Santi menyebutkan kata miskin dan di tambah melihat Santi yang mulai menangis.


"Aku tidak percaya? pasti ada imbalan nya kan?..Lalu apa yang harus aku lakukan? dan untuk melunasi semua hutang-hutang keluarga ku?" Tanya Santi emosi.


"Terserah mau kamu seperti apa, yang jelas aku disini tidak membahas masalah hutang."Jawab Bastio emosi dan keluar ruangan perawatan Santi untuk menahan emosinya.

__ADS_1


Sesampainya di luar, Bastio mengepalkan tangannya dan meninjukannya di dinding.


__ADS_2