
"Katakanlah, aku ingin mendengarnya. bukankah aku keluargamu? aku harus tau masalah nya." Paksa Bastio kepada Aldo untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya terjadi.aldo masih terdiam tanpa menoleh Bastio.
"Apa benar yang di katakan kak Doni?" Tanya Aldo kepada Bastio dengan wajah datarnya.
"Memangnya apa yang di katakan oleh Doni?" Ucapnya Balik bertanya.
"Tentang pernikahan kalian." Jawabnya datar.
"Apapun yang dikatakan oleh nya tentangku dan hubungan dengan kakakmu, tidak semuanya benar." Jawabnya santai.
"Apa kau mencintai kakakku?" Tanyanya kembali.
"Ck, Pertanyaan macam apa itu? sungguh hanya omong kosong?" Jawabnya sambil tersenyum sinis dan memalingkan wajahnya dari wajah Aldo. sementara Aldo selalu memperhatikan kakak ipar nya tersebut.
Sejenak mereka terdiam, seketika seakan ada jarak diantara mereka. jauh berbeda dengan hubungan mereka sebelumnya. sekejap mereka terlihat sangat dekat satu sama lain, meskipun sebelumnya mereka tidak saling mengenal. tetapi entah apa yang tengah terjadi di antara mereka di pertemuan nya kali ini.
Santi masih terhayut dalam kesedihan. hari ini berjalan seakan terlalu cepat, namun banyak sekali kejadian yang terjadi dan tidak dapat di hindari. hingga pagi menyongsong, mereka masih dalam keadaan berkalut yang menyelimuti nya.
Ayah Santi sudah sadar, dan Ia sudah di perbolehkan untuk pulang dan mengikuti upacara pemakaman istrinya.sikap ayah Santi menunjukkan jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya dan tidak menunjukkan sikap ramahnya seperti beberapa hari terakhir saat saling berkomunikasi lewat telepon selulernya.
Santi tidak dapat menahan tangisnya. Mita dan Icha memeluk Santi mencoba untuk menenangkan Santi yang terus menerus menangis dan bersimpuh di gundukan tanah tempat peristirahatan terakhir ibunya. ayah Santi yang berada di seberang depan Santi dengan pandangan kosong tanpa bersuara mengusap Nissan milik istrinya dengan meneteskan air matanya.
Pemakaman telah usai. semua pelayat sudah mulai meninggalkan tempat peristirahatan terakhir ibunya Santi. tinggal menyisakan keluarganya sendiri di sana. mereka tetap di sana hingga beberapa menit di sana sebelum memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.
Mita dan Dimas memutuskan untuk kembali ke rumah terlebih dahulu, bersama Icha dan Aldo juga ayah Santi. sementara Santi masih belum ingin pulang dan suaminya juga dengan sabar menunggu di sisinya. sementara Diki memutuskan untuk menunggu kedua Tuan dan Nyonya nya di dalam mobil, agar tidak menggangu kenyamanan keduanya. Santi masih terlihat sedih, namun sudah tidak terlihat menangis lagi.
__ADS_1
Bastio memegang pundak istrinya sebelum berjongkok di samping istrinya. setelah jongkok di samping istrinya, lalu Ia meraih bahu istrinya dan mengecup keningnya.
"Ibu pasti tidak senang jika melihat mu terus seperti ini." Ujarnya dengan nada lembut.
"Kita harus kuat!" Ujarnya lagi sambil tersenyum dan meraih dagu istrinya untuk berhadapan dengannya.
"Kau benar. kau bahkan pernah mengalami nya sebelum aku. kau terlihat sangat hancur waktu itu." Jawabnya sambil terpaksa
membalas senyuman suaminya.
"Kau benar. aku tidak ingin kau terlalu terhanyut dalam kesedihan mu terlalu lama. kau jangan takut, aku akan terus bersamamu dan tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepadamu." Merapikan rambut istrinya yang tampak keluar dari kerudungnya, kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
Santi mencoba untuk tersenyum seraya meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangannya.
"Apa yang kau lakukan, kau tidak perlu berterima kasih kepadaku. aku ini suamimu, sudah pasti aku akan melakukannya untukmu." Jawabnya sambil berbalik mencium punggung tangan istrinya.
"Ibu? beristirahatlah dengan tenang! jangan kwhatirkan kami. aku pasti akan menjaga Putri dan cucu-cucu ibu. berikan Restu ibu untuk kami! karena aku ingin Putri ibu menemaniku sepanjang hidupku apapun yang terjadi." Ujarnya sambil tangan kanannya meraih Nissan mertuanya dan tangan kirinya merangkul pundak istrinya. Santi terseyum mendapat perlakuan baik dari suaminya, kemudian Ia memandangi wajah samping suaminya yang sedang menaburi sisa-sisa bunga di atas gundukan kuburan Ibunya.
Ada rasa lega dan bahagia terpancar dari wajah Santi. selama ini dia tidak pernah memiliki rasa serakah untuk memiliki suaminya seutuhnya. mengingat kondisi dan setatus mereka yang berbeda. juga pernikahan mereka yang hanya terjadi karena adanya keterpaksaan dari sebuah kesalahan. Ia tidak berani mengharapkan lebih dari pernikahannya itu.
Santi hanya mengikuti arus dan membiarkan semua berjalan seperti semestinya saja. dia juga harus rela dan siap jika sewaktu-waktu suaminya mencampakkannya.
Tetapi setelah suaminya mengucapkan hal itu di depan gundukan kuburan Ibunya, Ia semakin yakin, bahwa suaminya mengucapkannya karena dia benar-benar mencintainya dari hati bukan karena rasa bersalah dan sekedar ingin bertanggung jawab terhadapnya saja.
Bastio beranjak, dan mengajak sekaligus kepada istrinya untuk menyudahi kesedihannya itu. mereka berdua memutuskan untuk kembali menyusul yang lainnya kerumah.
__ADS_1
Setelah Sampai di rumah, Bastio turun bersama dengan istrinya. Bastio dengan setia berada di sisi istrinya dan tidak berniat untuk meninggalkannya sedetik pun.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah dan melanjutkan untuk langsung kekamarnya. namun ketika mereka melewati ruangan santai, mereka menemukan ayah Santi sedang melamun di sebuah kursi dengan tatapan kosong. Santi menyuruh Bastio untuk langsung ke kamar, sementara dia akan menemui ayahnya dan menyusulnya nanti. Bastio yang memahami istrinya pun mengangguk tanda mengerti. dan berlalu meninggalkan istrinya di sana.
"Ayah..." Ujarnya sambil duduk di lantai dan menyandarkan kepalanya di paha ayahnya yang sedang memandang ke sembarang arah dengan tatapan yang masih kosong.
"Sampai kapan kalian akan terus membohongi diri kalian sendiri, juga keluarga mu?" Tanya ayah Santi dengan nada datarnya.
"Maksud Ayah?" Terkejut mendengar ucapan ayahnya sambil mengangkat kepalanya untuk menatap wajah ayahnya.
"Tidak usah pura-pura tidak tahu, kapan kalian akan mengakhiri pernikahan kalian?" Pertanyaan ayahnya kali ini di pertegas.
"Sia... siapa yang akan mengakhiri pernikahan ayah?" Tanya Santi kebingungan. dia tidak mengerti mengapa ayahnya bisa tau tentang kehidupan pribadinya.
***
Diki sedang duduk di teras depan rumah Santi. Diki memperhatikan di sekitar sekeliling pekarangan rumah tersebut. Ia menarik nafas dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya perlahan. sungguh aroma menyejukkan khas pedesaan yang masih alami.
"Gadis yang cukup manis, tapi terlihat rapuh. sungguh malang jika... aaaark. apa yang aku pikirkan." Kesalnya menyadari dirinya sendiri ketika tidak sengaja matanya memperhatikan Icha yang duduk melamun dengan tatapan kosong di ayunan yang berada di taman samping rumah mertua bosnya itu.
Icha yang tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sedari tadi pun tanpa ragu menangis seorang diri di sana. ketika dia menangis, tiba-tiba saja seseorang menyodorkan sapu tangannya di hadapannya.
"Jika kau lemah seperti ini. bagaimana kau bisa menjalani kehidupanmu kedepan?"
"Sia.. siapa kau? kenapa kau berada di sini?" Tanya Icha gugub. setelah menyadari ada seseorang mendatanginya.
__ADS_1