
"Apa yang kau katakan, jika itu kau lakukan. aku tidak akan pernah memaafkanmu." Ujarnya seraya bangkit dari tempat duduknya dan berniat untuk menghindari Doni.
"Apa kau pikir aku peduli? aku sama sekali tidak perduli dengan semua itu. jika kau bersamaku, aku yakin kau pasti tidak akan membenciku. karena aku akan memberikan semua yang kau inginkan dan tidak akan pernah bisa di berikan oleh lelaki manapun termasuk Rangga dan suamimu. aku akan melenyapkan siapapun yang berani mendekati dan mengganggumu." Dengan mata yang berapi-api Doni menyakinkan Santi. namun, bukanya Santi merasa senang, malah membuatnya semakin bergidik dan ketakutan terhadap Doni.
Santi berlari menjauhi Doni yang hendak menangkapnya. dan terus berlari sambil berteriak-teriak meminta tolong kepada siapapun yang mendengarnya. namun, karena suasana yang sepi seakan sudah di atur oleh Doni, sehingga tidak seorang pun yang datang dan mendengar teriakannya tersebut.
Doni semakin menggila ketika melihat Santi berlari ketakutan olehnya. Doni seakan sedang mendapatkan mainan baru dan sedang asyik bermain-main dengan mainan barunya itu.
Untuk menghindari Doni bukanlah hal yang mudah, karena ruangan rumah yang sangat sempit dan di tambah dengan tataan taburan bunga dan lilin menyala yang sengaja di siapkan oleh Doni untuk Santi membuatnya memakan tempat dan harus menghindar dari beberapa benda tersebut. beruntung lilin di lantai sudah mulai habis dan mati satu persatu. jadi memudahkan Santi untuk menghindar dari kejaran Doni. tetapi karena langkah Doni yang lebar membuatnya harus benar-benar tepat sasaran agar tidak bisa tertangkap oleh Doni. meskipun demikian, pakaian Santi sudah mulai banyak yang robek akibat ulah Doni.
***
Di tempat lain.
Semampainya di rumah Santi, Tanpa pikir panjang Bastio langsung turun dari mobilnya dan berlari ke rumah orang tua Santi yang pernah Ia berikan kepada orang tuanya waktu itu.
Karena posisi rumah saat itu tidak terkunci membuatnya untuk langsung menerabas masuk kedalam rumah tersebut.
Dengan memanggil semua nama keluarganya, satu persatu ia berlari kesana-kemari mencari keberadaan istrinya dan keluarga yang lainnya. Bastio sudah berkeliling rumah dengan di bantu oleh Diki yang kemudian menyusulnya juga. tetapi sepertinya rumah itu sedang tidak berpenghuni.
Namun ada yang mengganjal di hatinya, di lantai ruangan dapur terdapat bercak darah dan beberapa tali yang sepertinya di gunakan untuk menyandra beberapa orang di sana. di sana juga terdapat beberapa kursi makan yang berserakan.
***
"Sial, kenapa pakai kehabisan bensin sih? apa kau tidak mengeceknya sebelum bepergian?" Umpat Mita emosi kepada Dimas.
__ADS_1
"Ya maaf aku kan tidak tau kalau kita akan melakukan perjalanan jauh seperti ini." Jawab Dimas lesu, karena merasa bersalah.
"Kau itu, huuuh. benar-benar menyebalkan. awas saja jika nanti kita terlambat, kau harus tanggung jawab dan kau akan menanggung akibatnya." Dengus Mita kembali.
"Pakai acara antrian sepanjang ini pula." Lagi-lagi gerutu Mita.
"Baru kali ini, gue di marahi sama perempuan. biasanya, mereka selalu klepek-klepek jika berdekatan denganku. jangankan marah-marah, kegenitan minta di jadikan pacarku ya iya. Hmmm." Ucap Dimas di dalam hatinya sambil tersenyum dan menatap wajah Mita yang suntuk.
"Kenapa kau malah tersenyum?... apa kau Sedang gila?" Tanya Mita membuyarkan lamunannya.
"Ti.. tidak, aku hanya sedang berfikir, sebenarnya ada masalah apa dengan si itu? emh maksudnya sahabatmu Santi." Jawabnya gugub dan asal menjawab karena kedapatan Mita sedang memperhatikannya.
"Iiisss, dasar aneh...(memicingkan matanya). masak iya sedang berfikir kok tersenyum-senyum begitu." Ujarnya dalam hati.
"Syukurlah, akhirnya selesai juga." Ucap Dimas setelah melakukan transaksi pembayaran dengan petugas SPBU.
***
Tubuh Santi kian melemas, Ia sudah tidak sanggup untuk berlari menghindari Doni. dan akhirnya, Doni dengan mudah bisa menangkap Santi.
"Hahaha, mau lari kemana lagi?" Ujarnya tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
"Tidak, apa yang kau inginkan sebenarnya?.." Tanya Santi ketakutan dan dengan nafas tersengal-sengal karena kelelahan.
"Aku hanya inginkan kau, sayang? jadilah wanitaku yang patuh, agar aku semakin menyayangimu. aku janji hidupmu akan terjamin bersamaku. hahaha." Jawab Doni yang sudah berada di depannya dan mengangkat dagu Santi dengan dua jari untuk menghadapnya.
__ADS_1
"Ti... tidak, aku tidak bisa menjadi wanitamu jika kau seperti ini. kau justru membuatku merasa ketakutan." Jawabnya sesenggukan karena menangis dan memberanikan dirinya untuk mengucapkan kalimatnya, berharap agar Doni bisa mengerti keadaan nya.
Doni sudah seperti kerasukan saja, Ia sudah tidak bisa berfikir jernih dan tidak bisa mencerna kalimat Santi dengan benar.
"Kenapa kau takut? bukankah suamimu juga memperlakukan mu seperti ini? bukankah suamimu juga merenggutnya dengan cara keji seperti ini? bukankah dia pria brengsek yang harus aku lenyapkan, agar tidak mengganggumu? ha....?" Bentak Doni penuh emosi kepada Santi.
"Plak...(Santi menampar keras wajah Doni). kau lah yang keji! suamiku, Bastio tidak seperti yang kau ucapkan barusan. dia jelas jauh berbeda dengan kau." Ujarnya berteriak dengan penuh emosi tidak terima, ketika mendengar Doni menjelek-jelekkan suaminya.
"Apa? kau menamparku? kau berani menamparku dan membela pria brengsek yang sudah merenggut kebahagiaan mu? ada apa dengan mu? apa kau sudah buta?" Teriak Doni sambil mencengkram erat kedua lengan Santi dengan penuh emosi.
"Au, lepaskan! sakit!" Teriak Santi.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu, kau harus tau, kalau aku adalah lelaki yang terbaik untuk mu. dan aku adalah lelaki yang tulus mencintaimu." Jawabnya sambil terus mencengangkan lengan Santi dengan terseyum licik.
"Tidak, kau tidak tulus mencintaiku. kau hanya terobsesi dengan ku. tolong lepaskan aku mohon?" Merintih kesakitan dan memelas.
"Lalu, apakah itu artinya kau memaafkan suamimu begitu saja? apakah itu artinya kau menerima nya dan mencintainya?" Tanya Doni protes dengan membulatkan matanya dan mendekatkan diri kepada wajah Santi dan beralih mencengkram dagu Santi.
"Ayo jawab? apa kau mencintai suamimu?" Paksa nya dengan mengeratkan cengkeraman nya.
"I...ya. a..ku, m..e..ci..n..tainya." Jawabnya hampir tidak jelas, karena cengkeraman Doni begitu kuat sehingga Ia tidak bisa berbicara dengan jelas.
"Apa? kau tidak boleh mencintai nya" Murkanya sambil melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.
Doni tidak terima dengan pengakuan Santi. karena saking marahnya, kemudian ia mengobrak abrik semua yang ada di dalam ruangan tersebut. sementara Santi, yang masih berada di sudut semakin ketakutan melihat tingkah Doni. Ia menutup kedua telinganya dan sesekali memejamkan matanya saat Doni menjatuhkan barang yang menghasilkan suara.
__ADS_1
"Braaaaaak." Suara pintu di dobrak dengan paksa dari luar. dengan sekali dobrakan pintu pun terbuka.