
"Iiiiiish, amit-amit deh, bukan gitu maksudnya, ya udah sebentar lagi Aldo sampai rumah ni, kakak tunggu aja, nanti Aldo ceritakan semua sama kakak. ok!" Ucap Aldo mengakhiri panggilan telepon nya.
"Oke deh, kakak tunggu. cepetan jangan lama-lama!" Jawab Icha dengan suara manjanya.
"Iya iya kakak cantik, Aldo tau kalo sebenarnya kakak itu takut kan sendiri di rumah?" Jawab Aldo menggoda kakaknya.
"Sudah tau tayak, Uda cepetan. nanti kalau kakakmu yang cantik ini di bawa sama keong gimana?" Gerutu Icha kepada adiknya.
"Tut... Tut... Tut," Panggilan terputus.
Beberapa menit kemudian Aldo akhirnya sampai juga di rumah. sesampainya di rumah itu, Bastio segera turun dari mobil dan bergegas hendak masuk kedalam rumah. Namun Aldo mencegahnya.
"Eits, kakak ipar mau kemana?" Tanya Aldo kebingungan.
"Ya masuk lah, istrirahat. memangnya mau kemana lagi?" Jawab Bastio enteng.
"Eeh, terus bagaimana mana dengan Fila kakak ipar yang sudah kakak sewa?" Tanya Aldo lagi.
"Memangnya kenapa? Sudahlah aku sudah capek, " Jawab Bastio yang segera berlalu pergi masuk kedalam rumah meninggalkan Aldo setelah melihat pintu rumah sudah di buka oleh pemiliknya.
Sementara itu Icha yang kebingungan karena melihat orang yang siang tadi membopong kakaknya dan membawanya ke rumah sakit itu muncul lagi bersama Aldo tanpa ada rasa segan atau basa-basi sedikit pun melewati nya yang sedang terbengong di pinggir pintu dengan memasang wajah yang sulit di artikan.
__ADS_1
Bastio sudah masuk kedalam rumah kecil dan sederhana tersebut. Ia kemudian membuka jas dan meletakkan di sandaran kursi setengah sofa dan merebahkan punggungnya dengan kondisi mata terpejam.
Aldo masuk dengan Mang Dudung. Aldo menunjukkan kamar Aldo kepada Mang Dudung untuk bergabung dan berbagai kamar malam ini dengan nya karena di rumah nya memang tidak ada kamar tamu. setelah itu ia hendak mendatangi Bastio untuk pindah ke kamar kakaknya Santi. Namun baru beberapa langkah Ia di kejutkan kakaknya Icha yang menarik kerah baju belakang nya dan membawanya ke dapur.
"Mau kemana kamu haa?... apa kamu lupa hutang penjelasan kepada kakakmu ini? jangan sampai kakakmu ini mati penasaran ya?" Tanya Icha kepada Aldo, dengan rasa penasaran nya.
"duuuh Kaka, sudah jangan bawel deh, mendingan kakak tolong buatkan wedang jahe hangat deh buat kakak ipar kita, kasian noh, pasti dia lelah banget. Tengok tu mukanya dah macam pantat ayam, kusu."
"Udah ya, besok saja cerita nya. Aldo mau menunjukkan kamar kak Santi dulu. kasian, daaah! o iya jangan lama-lama buat wedang jahe nya!" Ucap Aldo kemudian yang membuat Icha semakin penasaran dibuat nya.
""Hiiis, dasar kuyuk. Eeh tapi kenapa pria tampan itu di sebut-sebut sebagai kakak ipar Sama Aldo? apa benar kalau pria itu kakak ipar yang di maksud nya?"
Icha lalu menuruti permintaan Aldo membuatkan wedang jahe untuk pria tampan, lelaki paruh baya atau Mang Dudung dan untuk adiknya Aldo. setelah selesai, Icha lalu menghidangkan wedang jahe tersebut di atas meja kecil yang berada di ruangan santai milik keluarga nya di mana tempat mereka bertiga sedang berkumpul dan saling mengobrol. Dan mempersilahkan untuk segera meminumnya selagi masih hangat.
"Kakak ipar yakin mau menginap di sini? Apa kakak ipar bisa tidur nyenyak di gubuk kami ini?" Tanya Aldo cemas kepada Bastio.
"Apa yang kamu bicarakan? rumah senyaman ini kamu bilang gubuk." Jawab Bastio santai.
"Memangnya kenapa?" Tanya Bastio berbalik bertanya dengan singkatnya.
"Ya kakak ipar kan sepertinya tidak pernah dan terbiasa tinggal di tempat seperti ini?" Jawab Aldo ragu.
__ADS_1
"Terus apa masalahnya? ya kalo kakak mu Santi saja, bisa tinggal di sini, kenapa aku tidak?" Jawab Bastio enteng.
"Tapi kak, di sini tidak ada AC yang ada cuma kipas angin. yakin kakak ipar bisa?" Tanya Aldo lagi karena belum yakin.
"Aah sudahlah, ayo habiskan wedang jahe nya , lalu istirahat. bukanya besok kamu harus sekolah?" Jawab Bastio santai.
"Baiklah." Jawab Aldo yang masih kurang puas dengan jawaban Bastio.
Mereka segera menghabiskan wedang jahe nya. setelah itu mereka menuju kamar mereka masing-masing. Bastio memasuki kamar Santi, sesampainya Ia terkejut. apa yang di katakan Aldo benar adanya. di kamar Santi cukup sempit, tidak ada kamar mandi di di dalam ruangan kamar tersebut. ukuran nya saja dua kali lipat untuk kamar tamu yang berada di rumah Bastio.
Tapi meskipun sempit, kamar itu terlihat tersusun sangat rapi. dengan meja rias kecil dan lemari pakaian yang terbuat dari bahan plastik kemudian dinding yang di hiasi dengan tempelan foto-foto Santi dan keluarganya dari semasa Santi banyi sampai Ia beranjak dewasa, sungguh menggambarkan keutuhan keluarga yang bahagia dan harmonis.
Bastio merasa sangat tersentuh melihat foto-foto tersebut. meskipun mereka keluarga kecil dan serba kekurangan, Namun mereka jauh terlihat sangat bahagia. berbeda dengan dirinya, yang terbilang kehidupan nya bergelimang harta. Namun keutuhan dan kebahagiaan seperti kehidupan Santi Ia tidak pernah mendapatkan nya, hingga kedua orang tuanya pergi untuk selama-lamanya.
Sebenarnya keluarga Bastio sangat menyayangi dan memanjakan nya. apapun yang ia inginkan dan Ia butuhkan selalu di dapatkan dengan mudah. Namun, kedua orangtuanya memanglah tidak bisa mendampingi nya setiap saat. karena mereka sangat sibuk harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang akan menjadi tujuannya. Itulah sebabnya Bastio lebih dekat dengan Mbok Minah pembantunya dari pada dengan kedua orang tuanya. Selain itu, Mbok Minah juga telah memberikan kasih sayang yang tulus yang tidak dia dapatkan dari kedua orang tuanya tersebut.
Namun, siapa sangka? kebahagiaan sejati di dalam keluarga, ternyata bukan terletak kepada banyaknya harta benda seseorang. Namun kebersamaan dalam setiap suka maupun dukalah yang akan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bastio menyalahkan kipas angin yang berada di dalam kamar Santi. kemudian Bastio melangkah ke lemari pakaian plastik Santi, dan membukanya. Ia tidak menemukan jenis pakaian yang berkelas atau pakaian yang mengikuti trend masa kini. Ia hanya menemukan kaus oblong dan beberapa lembar kemeja di sana. yang lebih banyak di sana adalah kaos oblong dan celana jeans saja. untuk rok itupun hanya beberapa lembar saja, untuk gamis hanya dua potong saja.
Bastio kemudian menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar mengagumi kepribadian Santi yang sosoknya sederhana dan tidak neko-neko itu. Selama ini Bastio berfikir dengan penampilan Santi yang lugu dan polos itu hanyalah akal-akalan dia saja, supaya mendapat perhatian khusus dan akhirnya di kasihani oleh majikannya. setelah itu ia akan memanfaatkan dan memproloti majikannnya.
__ADS_1