TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH

TERIKAT PERNIKAHAN YANG SALAH
Melahirkan


__ADS_3

Dan Santi pun mengangguk sambil tersenyum malu, kemudian memeluk suaminya dari samping kembali dan menenggelamkan kepalanya di dada suaminya. suaminya menyambut kepala istrinya dan di kecupnya berkali-kali sambil mengucapkan terima kasih. mereka berdua terlihat sangat bahagia, juga kelelahan. akhirnya mereka berdua tertidur dengan posisi berpelukan hingga sore hari.


Bastio terbangun ketika mendengar suara telepon miliknya berbunyi. kemudian meraih telepon tersebut dan mematikan nya karena dia tidak ingin mengganggu istrirahat istrinya. kemudian dia mengusap kepala istrinya dengan lembut.


"Aku ingin seperti ini selamanya, bersamamu. kau selalu ada di sisiku setiap kita akan beristirahat dan di pagi hari saat ku membuka mata."


"Aku ingin kau mendampingi dan tinggal bersamaku bersama dengan anak-anak ku hingga tua nanti."


"Aku mencintaimu." Bisiknya kepada istrinya sambil mengecup kening istrinya.


Santi sebenarnya sudah terbangun ketika mendengar suara telepon suaminya berbunyi. namun Ia masih merasa malu dengan apa yang telah mereka lakukan di siang ini. dia tersenyum lega mendengar bisikan dari suaminya. meskipun suaminya tidak mengucapkan langsung di depannya ketika Ia dalam keadaan tersadar, namun Ia cukup bahagia mendengarnya. Santi juga seakan tidak ingin melepaskan pelukannya dengan suaminya itu. Ia bertahan hingga beberapa menit. Bastio merapikan rambut istrinya, kemudian menggerayangi tengguk istrinya yang tanpa busana dan hanya di tutupi dengan selimut saja.


"Hooam." Santi pura-pura baru bangun dan menggeliat kan tubuhnya, karena merasa geli ketika suaminya menggerayangi tengguk nya.


"Baru bangun?" Tanya Bastio lembut seraya bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar pada dipan.


"Kenapa tidak membangunkan ku?" Tanyanya sambil pura-pura membuka matanya perlahan.


"Kau terlihat sangat nyenyak sekali tidurmu. aku tidak tega membangunkanmu." Jawabnya sambil meluruskan tangannya karena merasa kebas.


"Kenapa? sakit ya?" Tanya Santi kepada suaminya sambil merapikan selimutnya untuk menutupi tubuhnya.


"Tidak, hanya kram. sebentar lagi juga sembuh."

__ADS_1


"Kenapa kau tutupi semua tubuhmu? malu ya?" Ledeknya sambil terkekeh.


"Hmm," Jawabnya sambil menundukkan kepalanya dan tersenyum malu.


"Kenapa musti malu, aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu, satu inci pun tak ada yang terlewatkan." Ujarnya seraya menunjukkan jarinya untuk menghitung inci yang di maksud oleh nya sambil memeluk tubuh istrinya. karena semakin malu, istrinya pun mencubit dada suaminya.


"Au, sakit tau." Ujarnya sambil meringis kesakitan.


"Itu hukuman untuk kenakalanmu." Ujarnya sambil terkekeh.


"Apa? kau bilang aku nakal. berarti itu tandanya kau minta lagi kan?" Ujarnya sambil menarik selimut istrinya dan menggelitiki istrinya hingga keduanya tertawa terbahak-bahak.


"Ampun, cukup, perutku sakit." Ucap Santi memelas karena tidak tahan lagi di gelitiki oleh suaminya.


Bastio menghentikan aksinya dan kemudian menatap wajah istrinya dengan tatapan lembut. dan tersenyum, ada rasa bahagia terpancar jelas dari raut wajah keduanya.


Karena mendapat persetujuan dari istrinya, Bastio pun menyelesaikan tugasnya dengan semangat dan penuh gairah. hingga akhirnya mereka berdua benar-benar sangat puas dan kelelahan sehingga menghentikan olahraga panas yang kedua kalinya di hari yang sama.


"Maafkan aku, karena selama ini aku tidak pernah bersedia melayanimu sebagai istrimu?" Ucap Santi kepada Bastio di akhir olahraga panas nya.


"Apa yang kau katakan, aku lah yang seharusnya meminta maaf kepadamu. karena aku kau jadi menderita. karena aku juga kau kehilangan sesuatu yang amat berharga." Jawabnya sambil mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut.


Begitulah akhir dari kisah kerumitan dalam menyikapi rumah tangga keduanya. akhirnya Santi bisa menerima suaminya dengan ikhlas setelah apa yang telah di lakukan suaminya olehnya. semua ini berkat dari kesabaran dan ketulusan Bastio dalam menyikapi istrinya. Bastio juga tidak pernah berhenti berjuang untuk mendapatkan Maaf agar kehadirannya di terima dan di toreh oleh istrinya.

__ADS_1


Akhirnya buah kesabaran yang di petik dari Bastio tidak menghianati hasilnya. semenjak hari itu mereka berdua terlihat hidup rukun dan jauh sangat bahagia. hari-hari mereka lewati dengan suka cita bersama. Bastio juga sering mengajak istrinya ke apartemen dan sesekali Bastio juga mengajak istrinya ke makam kedua orang tuanya untuk memohon restu kepada kedua orang tuanya.


Namun, setelah ini, apakah hubungan mereka akan baik-baik saja? Ternyata ini adalah awal dari perjalanan rumah tangga yang sesungguhnya. bumbu-bumbu rumah tangga yang sebenarnya mulai muncul dari sini.


***


Satu bulan kemudian


Hari ini adalah hari jadwal di tentukannya oleh dokter pasca kelahiran putri pertamanya Bastio dan Santi. dan kebetulan Santi juga sudah merasa kan adanya tanda-tanda melahirkan. kemudian Bastio dan Mbok Minah membawanya ke rumah sakit untuk membantu peroses kelahiran putri pertamanya Bastio. Mbok Minah menemani majikannya itu, dan Mita yang mendengar kabar tentang kelahiran putri Santi pun berjanji akan menyusulnya. dan benar saja, beberapa menit kemudian, Mita sudah sampai di rumah sakit yang di kirimkan oleh Bastio lewat ponsel istrinya sesuai dengan permintaan istrinya pula. Bastio terlihat sangat gugup saat melihat istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan putrinya. sebenarnya Bastio sudah meminta kepada istrinya untuk melakukan operasi saja, tetapi Santi menolaknya. karena sebagai wanita normal dia harus merasakan bagaimana rasa sakitnya melahirkan.


"sus, bolehkah saya menemani dan memberikan semangat kepada istri saya?" Tanya Bastio gusar ketika melihat salah satu suster yang baru keluar dari ruangan Santi.


"Boleh, kebetulan sekarang sudah mulai buka empat. jadi anda boleh menemaninya." Jawab sister tersebut sambil tersenyum ramah ketika melihat kepanikan dari wajah Bastio.


"Buka empat? maksudnya apa lagi, haaa, sudahlah yang penting aku masuk dulu ke dalam." Gumam Bastio kebingungan di dalam hati.


Bastio masuk ke dalam ruangan persalinan Santi. Santi yang berjuang di sana tidak menghiraukan suaminya. Bastio yang melihat perjuangan istrinya pun segera mendekati istrinya dan menggenggam tangan istrinya dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya untuk memberikan semangat.


"Aku akan menemanimu. aku tidak akan meninggalkan mu." Ujarnya di telinga Santi dan kemudian mengecup keningnya dengan lembut dan lama sekali. dan entah mengapa, kehadiran suaminya dan kecupan suaminya memberikan semangat serta seakan memberikan energi positif kepada Santi.


"Terus, iya terus! sedikit lagi, iya bagus." Ucap dokter memberi semangat yang membantu persalinan Santi.


Bastio sungguh sudah tidak tega melihat istrinya seperti itu. Ia meringis dan memalingkan wajahnya karena sudah tidak kuasa lagi.

__ADS_1


"Baiklah, istrirahat dulu sebentar ya ibu!" Perintah dokter kepada Santi.


"Tidak apa-apa, ini hanya sebentar saja. jika anak kita sudah keluar, semua akan baik-baik saja." Ucap Santi berusaha tegar untuk menyemangati suaminya, karena Ia melihat suaminya begitu sangat kwatir kepadanya.


__ADS_2