
Santi kembali berjalan mendekati suaminya yang sedang terbaring terlelap dan tidak berdaya di atas ranjang nya.
Semalaman Santi menjaga Bastio dengan baik. hingga saat Bastio terbangun Ia mendapati Santi yang sedang ketiduran di kursi dan menghadapnya. Ia tertidur dengan posisi kepala berada di lengan Bastio sebagai bantalan nya, dan wajah menghap ke arah Bastio.
Bastio yang merasakan kebas pada lengan tangan kanannya, berniat untuk mengangkat dan menggeserkan lengannya. Namun, begitu melihat pemandangan pagi yang belum pernah Ia lihat sebelumnya, menjadikannya untuk mengurungkan niatnya tersebut. Ia melihat Santi yang sedang terlelap tidur dengan wajah yang begitu dekat dengan wajahnya yang membuatnya menjadi tersenyum.
Bastio kemudian memberanikan diri untuk mengangkat tangan kirinya dan hendak memegang kepala Santi.
"Kenapa kau ini bodoh sekali, kesehatan mu lebih penting dari pada mengurusku." Bisik Bastio kepada Santi yang sedang tertidur dengan tangan kirinya mengelus-elus kepala Santi.
"Apa kau tau? ternyata aku benar-benar bodoh karena telah mengabaikan mu dan selama ini aku tidak pernah menyadari kalau kau ternyata begitu sangat cantik. meskipun, kau sedang tertidur." Ucapnya lagi namun kali ini jarinya menyelusuri wajah Santi.
"Ck, apa yang aku bicarakan?" Berdecak kesal.
__ADS_1
Bastio menarik tangan kanannya dengan sangat hati-hati, agar tidak membangunkan Santi. setelah itu ia bangun dan turun dari ranjangnya berniat untuk memindahkan Santi. berlahan Ia mengangkat tubuh Santi dan memindahkan nya di atas ranjang. setelah selesai Ia tutupi tubuh Santi dengan selimut sampai ke dadanya.
Bastio duduk di sofa menggantikan posisi yang tadinya di gunakan Santi untuk menjaganya semalaman. Ia perhatikan wajah Santi sejenak. Setelah puas Bastio memegang perut Santi yang sudah mulai membuncit.
"Sayang, ini papa lagi. ingat kamu jangan berisik ya? nanti Mamamu bangun dan kita ketahuan, terus kita gak jadi ngobrol. ok!" Ucap Bastio yang berbicara sangat pelan dan mendekatkan wajahnya ke perut Santi.
"Kau sedang apa? jangan nakal ya, cepatlah keluar. apa kau tau Papa sudah tidak sabar menunggumu untuk memeluk dan menciumi mu. papa janji akan sering-sering di rumah dan bermain bersamamu, jika perlu akan papa tinggalkan semua pekerjaan papa demi bisa bersamamu."
"Sayang, papa boleh tidak meminta sesuatu kepadamu? tolong jaga Mama mu untuk Papamu? terus kau juga harus bantu papa supaya Mamamu tidak pergi meninggalkanmu. papa mau anak papa ini di urus dan di besarkan oleh Mamanya sendiri. Papa juga ingin kita bisa bersama-sama selamanya." Ucapnya lagi namun kali ini, ucapannya mendapatkan respon melalui pergerakan dari dalam perut Santi. dan tentu saja membuat Bastio menjadi senang.
"Ummh." Santi menggerakkan tubuhnya, kemudian menggenggam erat tangan Bastio yang berada di perutnya itu, sehingga membuat Bastio kaget.
"Jangan pergi? aku mohon jangan tinggalkan aku? percayalah aku tidak pernah mengkhianati cinta kita.hiks...hiks... kembalilah, aku mohon. Deni itu bukan selingkuhan ku Rangga? tolong percayalah padaku. hiks... hiks..." Santi berbicara dan menangis sambil tertidur, namun kali ini memegang tangan Bastio dengan cukup erat sehingga menarik tubuh Bastio menjadi semakin mendekat dengan Santi. dan tentu saja membuat jantung Bastio semakin berdegup kencang.
__ADS_1
" Hmmm, lagi-lagi mengigau." Decak Bastio kesal. namun juga bahagia karena kali ini Ia mendapat rezeki nomplok, mendapat pelukan hangat dari Santi.
Bastio yang mendengar igauan Santi tidak merasa heran. karena memang setiap tengah malam Santi selalu mengucapkan kalimat dan kata-kata itu dalam igauan nya. dan itulah sebabnya Bastio tidak berani berharap lebih atau menunjukkan sikap baiknya kepada Santi.
Memang tidak bisa di pungkiri, lambat laun Bastio memang sudah mulai jatuh cinta kepada Santi. apalagi saat ini mereka telah hidup bersama bukan dengan kurun waktu yang sebentar. mengingat sikap peduli nya Santi selama ini kepada Bastio. bagaimana Ia mengurus Bastio dengan sangat baik. ya meskipun mereka tidak pernah berkomunikasi Namun, Santi cukup peka terhadap kebutuhan Bastio. baik dari menyiapkan air mandi, pakaian, perlengkapan kerja dan menghidangkan makanannya. juga terkadang Ia sering menemani Bastio lembur dengan cara menonton TV di kamarnya dan Bastio di ruangan kerjanya. bahkan tidak jarang Santi sering ketiduran di sofa dengan TV yang masih menyala. kemudian setelah Bastio selesai bekerja Ia selalu memindahkan tubuh Santi di atas ranjang.dan Bastio kembali memilih untuk tidur di sofa. begitulah yang terjadi di antara mereka berdua saat ini.
Setiap hari Bastio selalu menghindar dari Santi. itu sebabnya ia selalu menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan nya. meskipun sekarang ia sudah berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol dan tidak ingin keluar malam, namun Ia tetap saja mengajak Diki sahabat nya untuk berlemur- lemburan di kantor. meskipun sudah tidak ada pekerjaan kantor namun tetap saja mengajak Diki sekedar bercerita, dan biasanya mereka akan pulang jika sudah pukul sembilan malam.
Apalagi setelah Bastio menyetujui persyaratan yang di minta oleh Santi. Santi meminta kepada Bastio untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing. untuk tidak saling mengganggu dan mengurusi urusan pribadi mereka masing-masing. apapun yang dilakukan oleh Santi saat ini hanyalah sebagai pengabdiannya layaknya majikan dan pembantunya saja. mereka memang saat ini sudah menjadi suami istri, namun, Santi juga tidak bisa menjalankan kewajiban nya sebagai istri, karena Ia tidak bisa melakukannya. ya kedengarannya itu memang konyol, namun itulah kenyataannya. Bastio terpaksa menyetujuinya saja, karena jika tidak, Santi akan mengancamnya untuk pergi dari rumah Bastio dan berjanji tidak akan mempertemukan anaknya dengan dirinya.
Semenjak dari itu Bastio menjadi sangat dingin dan seolah tidak peduli jika di hadapan Santi. walaupun di belakangnya berbeda dengan yang di depannya. Bastio juga sering mengajak berkomunikasi dengan banyi yang berada dalam kandungan Santi, meskipun tengah malam, saat Santi sedang benar-benar terlelap.
Sebenarnya Diki sudah merasa curiga dengan Bastio. tentang pernikahan nya itu. Ia penasaran kenapa Bastio selalu mengajaknya untuk lembur di setiap harinya, Ia juga sempat, menanyakan perihal pernikahan nya itu, namun ketika ia menanyakannya, seperti biasanya Bastio selalu menolaknya untuk memberikan penjelasan kepadanya dan selalu beralasan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kantor.jadi tidak perlu untuk di bahas. dan Ia juga meminta kepada Diki untuk tidak mengurusi dan mencampuri urusan pribadi nya itu. karena menurutnya tidak perlu ada orang lain yang tau tentang urusan pribadi nya. jika sahabatnya sudah bilang begitu, Diki bisa apa?
__ADS_1
Diki hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja tanda tidak mengerti. namun sebagai sahabat, tentunya Ia tetap berharap agar sahabatnya itu baik-baik saja dan tidak ada masalah dalam rumah tangganya itu.