
Beberapa hari kemudian...
Setelah kejadian hari itu, Kevin hanya mengirim pesan berisi permintaan maaf saja, lalu setelah itu ia tidak berani menghubungi Nara lagi, sebab ia takut jika Nara akan semakin marah padanya.
Sedangkan Nara sendiri, ia merasa bersyukur karena Kevin tidak lagi mengganggunya, berarti sekarang ia bisa belajar melupakan Kevin dengan tenang, ya walaupun setiap hari Nara harus menahan rasa sakitnya karena merindu.
Malam ini seperti malam biasanya, semua karyawati tampak santai dengan hiburannya masing-masing. Ada yang menonton televisi, dan ada juga yang sibuk dengan ponselnya sendiri.
Sedangkan Bunga yang awalnya fokus dengan ponselnya, kini pandangannya beralih menatap benda mungil yang berada di atas meja, lebih tepatnya di samping rak TV.
"Beberapa hari ini HP mu sepi banget, memangnya Alvin nggak pernah hubungi kamu lagi?" tanya Bunga yang memperhatikan ponsel Nara yang tampak tenang di atas meja.
Sedangkan Nara yang sedang asyik menonton televisi, ia sejenak melirik ponselnya sendiri. "Nggak, sejak hari dia ngajak ketemuan dan aku jawab nggak bisa, dia nggak pernah chat aku lagi. Ya mungkin saja dia marah, lalu nggak mau hubungi aku lagi," sahut Nara santai.
Nara memang tidak pernah memusingkan jika ada laki-laki yang berkenalan dengan dirinya, namun setelah beberapa hari mengenal, dan kemudian merasa tidak cocok, lalu kemudian laki-laki itu tiba-tiba seperti menghilang dan tidak ada kabar sama sekali, Nara merasa itu sangat wajar, sebab dirinya pun biasanya seperti itu.
"Lho memangnya kamu nggak chat dia duluan apa? Ya seenggaknya tanya kabar gitu?"
"Nggak lah, buat apa? Aku nggak suka basa-basi, apalagi harus chat duluan ke cowok--"
"Ya kecuali sama Kevin," potong Bunga cepat. "Hanya Kevin yang mampu buat Nara yang introvert ini jadi bucin," lanjut Bunga menyindir Nara.
__ADS_1
Nara hanya mengendikkan bahunya, ia tidak bisa membalas perkataan Bunga, sebab apa yang dikatakan Bunga memang benar. Entahlah, pelet apa yang digunakan Kevin, hingga Nara sampai tergila-gila padanya. Namun, untungnya Nara masih bisa mempertahankan gengsinya setelah ia putus dengan Kevin.
Sekarang bagi Nara, saat ini ia hanya perlu fokus dengan pekerjaannya saja, ia harus menjalani lembaran baru dan melupakan Kevin.
Sedangkan di tempat lain, Arvin baru saja membantu sopir taksi memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi. Hari ini Arvin akan pindah dari kos-kosannya ini. Sebuah kos-kosan yang terlalu banyak menyimpan kenangan tentang Alvin.
Bukannya Arvin takut untuk tetap tinggal di sini, namun Arvin sudah tidak kuat lagi, jika setiap hari harus teringat dengan bayangan Alvin, sebab rasa ingin menghancurkan Nara akan semakin tidak terbendung lagi, jika Alvin tidak segera pindah dari sini.
Meski tetap tinggal di kota yang sama, namun Arvin memilih tinggal di daerah yang lebih jauh dari pasar Wage, lebih tepatnya ia memilih akan tinggal di area pinggiran kota tersebut.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit, Arvin akhirnya sampai di tempat yang ia tuju, yaitu di sebuah rumah kontrakan sederhana yang ia sewa hingga tiga tahun lamanya.
Rumah yang ditempati Alvin terbilang kecil, karena hanya memiliki dua kamar, ruang tamu, serta satu kamar mandi yang terletak di bagian dapur. Meskipun sangat sederhana, namun ini sudah sangat cukup untuk Arvin tinggal sendirian.
"Selamat malam, Mas Arvin," sapa laki-laki itu ramah.
"Selamat malam, Pak Tejo, Bu Lastri," balas Arvin tak kalah ramah.
Mereka berdua ini adalah sepasang suami istri yang memiliki kontrakan tersebut, mereka berdua tinggal di seberang rumah yang dikontrak Arvin, lebih tepatnya di sebelah timurnya. Sedangkan tepat di depan tempat tinggalnya Arvin, juga rumah milik Pak Tejo, namun dikontrakkan ke orang lain juga.
"Barang-barangnya Mas Arvin tadi sudah datang semua, Mas. Dan, kami juga sudah membantu membereskannya," ujar Pak Tejo sopan.
__ADS_1
Arvin memang meminta tolong kepada Pak Tejo untuk mengatur perabotan dan juga barang-barang pecah belah yang ia beli tadi pagi, sebab Arvin tadi memang sedang memiliki urusan penting yang tidak bisa ia tinggal, jadilah ia meminta tolong kepada Pak Tejo beserta istrinya untuk membantu mengatur barang-barang tersebut dan membersihkan kontrakan tersebut, sehingga Arvin hanya tinggal menempatinya saja.
"Kalau begitu terima kasih banyak ya, Pak. Dan, maaf sudah merepotkan." Arvin menjabat tangan Pak Tejo seraya memberikan sebuah amplop yang cukup tebal isinya, sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantunya.
"Iya, Mas. Nggak merepotkan sama sekali kok, dan kalau Mas Arvin meminta bantuan lagi, tinggal katakan saja. Insya Allah kami berdua siap membantu," sahut Pak Tejo seraya tersenyum senang, apalagi ketika ia mendapat amplop setebal ini, dia tentu tidak keberatan untuk membantu Arvin.
Bu Lastri pun juga mengatakan kata yang hampir sama, lalu setelah itu mereka berdua pamit pulang. Kini tinggallah Arvin yang tengah berdiri seraya menatap tempat tinggalnya yang baru.
Sejenak Arvin teringat kata-kata Ayahnya tadi, tadi siang beliau datang ke cabang perusahaannya yang berada di kota ini.
Ayahnya Arvin tahu, jika Arvin telah kehilangan teman dekatnya, lalu kemudian anak semata wayangnya ini kini memilih tempat tinggal baru untuk ia tempati. Namun, namanya orang tua, tetap saja mau mencoba membujuk anaknya, agar anaknya mau berubah pikiran dan mau tinggal dengan mereka lagi.
"Vin, kenapa kamu tidak memilih tinggal dengan Ayah dan Ibu saja? Rumah kita itu besar lho, dan kamarmu juga sayang kalau ditinggal terlalu lama. Apa kamu nggak kasihan sama Bik Sumi yang hanya membersihkan kamarmu, tapi tidak pernah kamu tempati? Padahal, Ibu dan Ayah juga tidak pernah melarang hobimu itu, kamu tetap bisa menulis cerita-cerita fiksi mu itu walau tinggal bersama kami."
Arvin hanya tersenyum saja mendengar perkataan ayahnya, dia sudah kebal dengan segala bujuk rayu kedua orang tuanya untuk menyuruhnya pulang. Jadi perkataan seperti ini, tentu tidak akan bisa menggoyahkan prinsipnya yang ingin hidup mandiri, sebab Arvin ingin orang-orang bisa melihat, bahwa dia bisa sukses walaupun tanpa bayang-bayang nama besar keluarganya.
"Tck, dan juga, kenapa kamu malah meninggalkan ibukota dan malah memilih tinggal di kota kecil seperti ini? Lagi pula, Ayahmu ini juga sudah cukup umur untuk pensiun, bukankah sekarang seharusnya kamu sudah menggantikan Ayah untuk memimpin perusahaan?" Lanjutnya ketika ia hanya melihat Arvin hanya tersenyum santai.
"Ayah ini bicara apa? Umur Ayah baru memasuki lima puluh tahunan, mana ada pensiun di umur segitu? Sudahlah, pokoknya Ayah dan Ibu cukup menunggu Arvin sukses, lalu Arvin akan pulang sekalian membawa menantu untuk kalian, dan setelah itu menggantikan Ayah untuk memimpin perusahaan." Toh, usaha yang dijalankan Arvin sudah berjalan setengahnya lebih, jadi rencana untuk kembali ke rumahnya juga tidak akan lama lagi, kecuali bertemu dengan jodohnya yang ternyata diperlambat. Mungkin Arvin akan menunda kepulangannya lagi.
Setelah mendengar jawaban Arvin, ayahnya hanya mengangguk saja, lagi pula percuma saja terus membujuk, sebab anaknya itu lebih keras kepala dari dirinya.
__ADS_1
Arvin tersenyum mengingat kejadian tadi, lalu ingatannya kini beralih ke almarhum teman dekatnya.
"Alvin, sekarang aku tinggal di sini. Dan, maaf karena aku terlalu pengecut untuk menerima kenyataan bahwa kamu sudah pergi meninggalkan temanmu ini untuk selamanya," gumam Arvin pelan, lalu kemudian ia segera masuk ke dalam rumah tersebut. Arvin harus membuka lembaran baru hidupnya tanpa Alvin teman dekatnya.