TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
8. Kamu Bukan Takdirku


__ADS_3

Hari yang ditunggu Alvin dan Kevin telah tiba. Saat ini Nara sedang merapikan penampilannya di dalam kamar pas toko. Nara sedang menyisir rambut hitam panjangnya, lalu kemudian ia menambahkan bedak tipis, dan juga mengoleskan lip tint di bibir mungilnya. Ia harus tampil lebih baik dari waktu ketika ia masih berpacaran dengan Kevin dulu.


"Hei, ingat loh ya! Pokoknya nanti kamu jangan sampai baper kalau ketemu Kevin! Awas saja kalau kamu nanti sampai mau balikan sama dia!" teriak Bunga dari luar kamar pas, entah sudah ke berapa kalinya Bunga memberi peringatan ini kepada Nara.


"Iya, iya," sahut Nara seraya keluar dari kamar pas. "Aku tidak akan memberikan dia kesempatan kedua dengan semudah itu."


Bunga mengacungkan dua jempol untuk Nara, satu untuk jawaban Nara, dan satu lagi untuk penampilan Nara yang terlihat lebih memukau dari biasanya.


"Lalu kapan kalian ketemuannya?"


"Nanti pas istirahat jam makan siang." Setelah mengatakan itu, Nara dan Bunga langsung kembali bekerja untuk melayani para pembeli.


Jam terus berputar, matahari semakin merangkak naik, begitu pula dengan toko yang semakin lama semakin ramai dikunjungi oleh pembeli.


Hingga akhirnya waktu istirahat makan siang pun tiba, beberapa karyawan akan bergantian mencari makan siang di warung makan yang berada di lantai satu pasar ini, terkadang juga ada dari mereka yang makan di rumah makan di area luar pasar.


Sedangkan Nara yang sudah memiliki janji untuk bertemu dengan Kevin, ia memilih menemui Kevin dulu sebelum makan siang.


Lokasi yang dipilih Kevin adalah area pasar bagian belakang, namun tetap berada di lantai dua, sedangkan toko Moretta Fashion juga ada di lantai yang sama, namun Moretta Fashion berada di area tengah.


Di area belakang pasar, masih banyak toko kosong yang tidak disewa oleh para pedagang, jadi tempat ini tergolong sepi, dan biasanya hanya dimanfaatkan oleh para muda-mudi sebagai tempat pacaran.


[Aku ada di stand kosong barisan pertama yang paling ujung.]

__ADS_1


"Kenapa memilih daerah ini sih? Nanti kalau ada yang melihat bagaimana?" gumam Nara setelah membaca pesan dari Kevin. Nara takut jika nantinya ada yang lewat daerah situ dan mengenalinya.


Meskipun jarang ada yang lewat di daerah ini, tapi di seberang tempat itu ada jalan menuju tangga, jadi orang yang ingin lewat bagian belakang pasar, pasti bisa melihat keberadaan Nara dan Kevin, dan Nara akan malu jika ada orang yang tidak sengaja lewat itu mengenalinya.


Ketika melihat sosok Kevin yang berdiri membelakanginya, Nara hendak protes dan mengajaknya pindah ke tempat lain, namun tiba-tiba saja Kevin membalikkan tubuhnya seraya menampilkan senyuman manisnya.


Sebuah senyuman indah yang sudah lama tidak dilihatnya, Nara tanpa sadar jadi terpana ketika melihat senyuman itu lagi.


"Apa kabar, Nara?" tanya Kevin lembut seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Namun, Nara yang sudah sadar dari rasa kagumnya, ia mengabaikan uluran tangan itu, lalu kemudian ia menjawab, "Baik, seperti yang sudah kamu lihat." Hanya itu jawaban Nara. Nara tidak berniat berbasa-basi menanyakan balik, bagaimana keadaan Kevin akhir-akhir ini?


"Nara, kenapa nada suaramu ketus seperti itu? Apakah kamu tidak pernah merindukanku?" tanya Kevin memelas. Padahal Kevin sangat merindukan Nara, namun orang yang dirindukannya malah terlihat acuh tak acuh seperti ini. Jangankan terlihat merindukan dirinya, sikap Nara malah seperti orang yang tidak kenal dengan Kevin.


Kevin sejenak menghela napas melihat respon Nara, dan karena tidak ingin membuat Nara semakin marah lagi, lalu ia mengatakan, "Nara, aku tahu kamu masih marah padaku. Tapi, kumohon tolong maafkan aku."


Kevin yang hendak memegang tangan Nara, namun tiba-tiba saja Nara langsung memundurkan langkahnya. Nara tidak ingin disentuh Kevin, karena ia tidak ingin hatinya menjadi lemah dan luluh terhadap Kevin.


Ada sorot kecewa di mata Kevin, ketika ia melihat Nara memundurkan langkahnya. Apakah Nara sebegitu marah dan benci padanya, hingga Nara juga merasa jijik dengannya?


"Aku tidak marah denganmu, dan aku juga sudah memaafkanmu. Cuma itu saja kan? Kalau begitu aku pergi sekarang." Setelah mengatakan itu, Nara hendak pergi, ia benar-benar tidak sanggup melihat wajah sedih Kevin. Rasanya ada yang meremas hatinya, ketika melihat Kevin terlihat sedih dan tak berdaya seperti ini.


"Nara, tunggu." Kevin langsung mencekal tangan Nara, lalu kemudian ia membalikkan tubuh Nara agar mau menghadapnya.

__ADS_1


Kedua tangan Kevin memegang kedua sisi lengan Nara, lalu ia mengatakan, "Nara, jika kamu memang sudah memaafkanku, kalau begitu bisakah kita balikan lagi? Aku masih sangat mencintaimu, Nara."


Nara sejenak tersenyum, namun bukan senyuman kebahagiaan yang memiliki arti ingin menerima Kevin kembali. Tapi, senyuman itu adalah senyuman sinis yang tidak pernah Kevin lihat sebelumnya.


"Sepertinya aku harus menjelaskan maksud perkataanku." Menghela napas. "Aku memang sudah memaafkanmu, tapi aku tidak lupa dengan masalah yang ada di antara kita, aku juga tidak lupa dengan sepupumu sendiri yang telah jatuh cinta kepadamu. Jadi, maaf ... Sepertinya kita tidak bisa balikan lagi."


"Tapi, Nara. Aku sudah memarahi Diana habis-habisan, dia juga sudah berjanji tidak akan seperti itu lagi. Kumohon percayalah padaku." Cengkraman tangan Kevin di lengan Nara semakin menguat, seolah-olah ini juga sebagai bentuk keseriusannya atas semua pernyataannya.


Nara sedikit mendesis sakit, ketika tangan besar Kevin meremas lengan kecilnya.


"Ma-maaf." Sesal Kevin karena ia tidak sengaja menyakiti Nara, namun ia juga tidak mau melepaskan lengan Nara, Kevin hanya sedikit mengendurkan cengkramannya.


"Mungkin kamu memang sudah memarahi sepupumu, tapi hati orang siapa yang tahu? Apakah kamu bisa menjamin, bahwa dia bisa menghilangkan perasaannya itu?" Karena hanya Tuhan yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia, dan Nara juga berpikir, bahwa Diana pun tidak akan bisa tiba-tiba menghilangkan perasaannya, hanya karena Kevin sudah memarahinya.


Kevin tampak kesulitan membalas perkataan Nara, sebab apa yang dikatakan Nara memang benar, ia tidak bisa menjamin bahwa Diana bisa menghilangkan perasaannya untuknya. Namun, Kevin juga tidak akan menyerah hanya sampai di sini saja.


Karena buntu tidak bisa menjawab, dan Kevin juga tanpa sengaja melihat sosok laki-laki yang pernah dilihatnya waktu itu, lalu tanpa berpikir panjang, tiba-tiba saja Kevin langsung mencium bibir Nara. Selain karena ia sangat merindukan Nara, Kevin juga sedang mengingatkan Nara, akan momen indah milik mereka berdua.


Sedangkan sosok laki-laki yang sedang berdiri di seberang tempat mereka berdua berada, ia sedang mengepalkan tangannya kuat-kuat ketika melihat pemandangan itu, lalu kemudian dengan perlahan ia melepaskan kepalan tangannya tersebut.


"Mungkin kamu memang bukan takdirku, Nara. Dan, semoga kamu juga selalu bahagia." Setelah mengatakan itu, Alvin membalikkan tubuhnya, lalu kemudian dengan langkah pasti, ia melangkahkan kakinya pergi menuju tempat sepeda motornya terparkir.


Alvin sudah mundur, bahkan sebelum ia memulai. Rencana yang sudah ia persiapkan untuk menyatakan cintanya kepada Nara, harus gagal. Dan, kini hanyalah tinggal sebuah angan-angan saja.

__ADS_1


__ADS_2