
Keesokan harinya.
Para pelanggan Nara yang biasanya mencuci baju di tempatnya Nara, mereka sudah mengantarkan cucian kotor mereka sejak pagi buta. Nara yang sedang memasak, ia sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan mereka, justru Nara malah senang, karena ia bisa langsung mencuci pakaian mereka, setelah ia selesai memasak.
Dua jam telah berlalu, pekerjaan mencuci baju sudah selesai, sembari menunggu cucian tadi kering, Nara bersih-bersih rumah, ia memulainya dari membersihkan kaca jendela rumahnya terlebih dahulu.
Kaca jendela milik Nara sama seperti miliknya Arvin, dan saat ini Nara sedang mengelap kaca jendelanya yang bagian dalam. Saat tatapan mata Nara lulus ke depan, tanpa sengaja ia melihat Arvin yang keluar rumah, dan kemudian berjalan menuju rumahnya, seraya membawa satu kantong kresek berwarna hitam dan berukuran besar.
"Itu orang seperti orang mau pindahan, tumben cuciannya banyak," cibir Nara seraya tertawa kecil.
Arvin yang biasanya mencuci baju hanya dua setel, kini terlihat sedikit aneh dengan membawa cucian kotor yang lumayan banyak. Jadi, tidak heran jika Nara mencibirnya.
Arvin hendak menggantungkan kantong kresek tersebut seperti biasanya, namun Nara lebih dulu membuka pintunya.
"Pagi, Mas. Nganterin cucian ya?" sapa Nara ramah. Nara sebenarnya tidak memiliki maksud apa-apa, ia hanya sekedar ingin menyapa tetangganya yang aneh ini saja.
Namun, Arvin yang dibuat terkejut oleh Nara, kini ia merasa semakin kesal.
"Huh! Mbaknya ngagetin saya saja!" ketus Arvin.
"Hehe ... maaf, Mas. Oh ya, uangnya, Mas bawa saja dulu, lagian itu sepertinya kebanyakan," ujar Nara seraya melirik jumlah uang yang berada di dalam kantong keresek tersebut. "Nanti kalau misalkan saya mengembalikan cuciannya Mas, dan masnya sedang tidak ada, Masnya bisa bayar besoknya lagi kok." Lanjut Nara.
Terdengar Arvin menyahut dengan gumaman yang kurang jelas, namun intinya mengejek Nara yang tidak tahu terima kasih.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Masnya bicara apa ya? Saya soalnya tidak terlalu dengar, karena Masnya pakai masker."
Nara memang tidak bisa mendengar dengan jelas perkataannya Arvin. Akan tetapi, maksud perkataan Nara bukan itu saja, sebab selama ini, Nara curiga jika Bu Lastri mengatakan bahwa Arvin tampan, tapi siapa yang tahu, jika ternyata Arvin memiliki bekas luka yang mengerikan, hingga membuat Arvin selalu memakai masker ketika di luar rumah. Dan, Bu Lastri mengatakan tampan, itu ternyata malah sebuah 'antonim' saja.
"Bukan apa-apa!" sahut Arvin ketus. Lalu kemudian Arvin hendak membalikkan tubuhnya, namun Nara lebih dulu mencegahnya.
"Oh iya, Mas. Bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Nara yang sedikit ragu, sebab ia takut, jika pertanyaannya akan membuat Arvin tersinggung. Namun, Nara sudah sangat penasaran, jadi ia tidak bisa lagi menahannya untuk segera bertanya kepada Arvin.
"Apa? Cepetan!"
Meski Nara menjadi semakin ragu, namun Nara akhirnya mengatakan, "Sebelumnya saya minta maaf, Mas. Jika pertanyaannya saya membuat Mas marah. Tapi, saya sudah sangat penasaran, memangnya kenapa ya, Mas selalu memakai masker ketika keluar rumah? Apakah, Mas memiliki bekas luka di wajah?" Wajah Nara yang tampak polos ketika bertanya, membuat Arvin sejenak terdiam.
"Semoga saja dia beneran bukan dari komplotan *******. Sebab, kalau dia benar-benar dari kelompok kriminal seperti itu, bisa-bisa rumah ini nanti dilempar bom karena aku sudah membuatnya marah," batin Nara merinding.
"Bukan urusanmu! Cukup cuci saja bajuku sampai bersih, rapi, dan wangi!" Setelah mengatakan itu, Arvin langsung berbalik dan meninggalkan rumahnya Nara.
"Aduh, itu orang benar-benar marah, ini bahaya! Eh tapi, masa iya, dia beneran berani melempar bom ke sini? Tidak mungkin juga bukan?" gumam Nara yang mencoba tetap berpikiran positif, sebab jika Arvin sampai benar-benar berani melempar bom ke sini, itu sama saja dengan Arvin ingin cepat masuk penjara.
Sedangkan Arvin yang sudah masuk ke dalam rumahnya, ia langsung menutup pintu rumahnya seraya mendengus
"Sialan! Dia benar-benar mengira wajahku jelek!" kesal Arvin tidak terima, meskipun tadi ia mendengar Nara bertanya dengan cukup sopan, namun tetap saja bagi Arvin, Nara bermaksud mengejek wajahnya, dan soal menanyakan tentang adanya bekas luka, itu hanya sebagai menutupi perkataan yang sebenarnya saja, yaitu karena Arvin berwajah jelek.
"Huh! Kayak dia yang cantik saja, padahal coba lihat, setirus apa pipinya itu. Padahal masih muda, tapi sudah kayak nenek-nenek saja." Lanjut Arvin yang masih tidak terima.
__ADS_1
Karena merasa kesal, Arvin memilih keluar rumah untuk meredakan emosinya itu, sebab jangan sampai rasa kesalnya kepada Nara, membuat pikirannya semakin kacau, hingga membuatnya tidak bisa konsentrasi menulis.
Arvin yang juga belum sarapan, ia memilih tempat makan untuk mengisi perutnya. Dan, akhirnya pilihannya jatuh ke warung pecel yang berada di kota.
Ini dulunya termasuk warung makan favoritnya Arvin, namun karena dia sudah pindah di Wonoasri, Arvin jadi tidak pernah makan ke tempat ini lagi.
Di saat Arvin tengah menikmati sarapannya, tiba-tiba saja tanpa sengaja, Arvin mendengar perkataan ibu-ibu yang duduk di meja belakangnya.
"Eh, itu kan si Indah, dia jalan lagi sama debt colector yang itu. Hiii ... jijik aku sama Indah, soalnya hampir semua debt colector diembat sama dia."
"Eh iya-iya, itu Indah. Ya gimana nggak diembat semua, lah utangnya saja memang banyak, jadi dia harus pandai merayu semua debt colector itu, biar bisa bayarin semua utangnya."
"Tapi, kali ini lelaki yang ini sudah kelewatan, masa anaknya baru meninggal, eh istrinya ditinggal selingkuh dengan Indah. Nggak punya perasaan sama sekali."
"Yee ... namanya juga lelaki yang suka begituan, apa masih ada yang punya otak untuk berpikir? Taunya mereka mah, urusan yang di bawah perut saja," sahut Ibu-ibu itu lirih seraya tertawa, sedangkan yang satunya lagi juga ikut tertawa.
Arvin yang sedari tadi mengabaikan perkataan ibu-ibu tadi, tiba-tiba saja ada perasaan tergelitik, untuk melihat siapa orang yang dimaksud mereka?
Lelaki itu baru kehilangan anak?
Tiba-tiba saja pikiran Arvin langsung mengarah ke suaminya Nara. Dan, benar saja, ketika Arvin mendongakkan kepalanya, di depan sana ada Gavin dan juga wanita yang sama dengan yang pernah dilihat oleh Kevin waktu itu. Mereka berdua sedang duduk bersama menikmati pecel dengan mesra.
"Ini orang benar-benar brengsek! Sial banget hidupnya cewek itu, baru tertimpa musibah. Eh ... suaminya juga beneran selingkuh," batin Arvin.
__ADS_1
"Tapi, kalau dia cewek yang pintar, seharusnya sudah lama dia cerai dengan lelaki itu. Masa punya mertua toxic, tetap mau bertahan? Padahal daripada jadi gila sendiri, seharusnya kan lebih baik berpisah. Dasar dianya saja memang wanita yang paling bodoh di dunia ini." Lanjut Arvin berkomentar dalam hatinya.