
Gavin terbangun ketika ia mendengar suara tangisan Nara, yang sedang menangis sesegukan. Ada perasaan bersalah yang merayap di hati Gavin, namun ia langsung menepis perasaan tersebut, sebab Gavin memang tidak mempunyai cara lain lagi. Gavin hanya ingin Nara agar cepat menjadi istrinya.
"Nara ...." Gavin memanggil Nara dengan pelan, ia pun juga memasang wajah pura-pura kebingungan.
"Apa yang sudah terjadi dengan kita? Kenapa--" Perkataan Gavin terhenti ketika ia melihat Nara membalikkan tubuhnya untuk menghadapnya. Kedua mata Nara yang biasanya terlihat cerah, kini berwarna merah dan tersirat penuh luka.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa ... kenapa kita melakukan perbuatan dosa ini?" Nara tidak bisa mengingat lagi apa yang selanjutnya terjadi kepadanya, setelah ia merasa tubuhnya kepanasan. Ia begitu terkejut ketika bangun tadi, bahwa ia sudah tidak memakai pakaian sehelai pun.
Rasa marah, sedih, dan kecewa, kini bergelung menjadi satu untuk merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya ia melakukan hubungan suami istri, di saat dirinya belum menikah. Nara merasa saat ini dirinya begitu sangat kotor dan hina.
"A-aku juga tidak tahu, dan maaf karena sudah menyentuhmu dalam keadaan tidak sadar. Aku benar-benar tidak ingat apa yang telah terjadi kemarin, aku hanya merasa tubuhku aneh setelah minum minuman itu." Menunjuk sebotol minuman yang isinya sudah tumpah ke lantai, yaitu karena akibat perbuatan panas mereka kemarin, hingga akhirnya botol itu terguling.
Nara yang mengikuti arah pandang Gavin, ia pun samar-samar mengingat kejadian tersebut. Nara memang merasa kepanasan, setelah ia minum soda tersebut.
"Tapi, bagaimana mungkin itu bisa terjadi?" tanya Nara bingung, sebab ia juga pernah minum soda seperti itu, tapi setelahnya tidak pernah terjadi apa-apa pada tubuhnya, tidak seperti kemarin.
"Sial! Minuman itu pasti dikasih obat. Dan, itu pasti perbuatan anak kos di sini, biasalah mereka suka iseng, sebab hanya aku sendiri yang nggak pernah bawa cewek ke sini. Sepertinya aku akan dijebak oleh mereka, tapi ternyata cewek yang aku rusak malah kamu," sahut Gavin yang beralasan dengan tanpa daya di wajahnya.
Sedangkan Nara merasa merinding mendengar perkataan Gavin, cara bercanda para cowok sangat keterlaluan. Masa obat perangsang dipakai untuk mengerjai temannya? Namun, Nara percaya saja dengan perkataan Gavin, sebab kemarin ia juga melihat Gavin minum soda tersebut, walaupun ingatannya sangatlah samar.
__ADS_1
Melihat Nara yang sepertinya percaya dengan bualannya, Gavin langsung memegang kedua sisi lengan Nara.
"Nara, aku benar-benar minta maaf. Dan, aku juga akan bertanggung jawab kepadamu, aku juga siap jika kita harus menikah. Kamu tinggal katakan saja, kapan aku bisa menemui kedua orang tuamu."
"Benarkah?" tanya Nara memastikan, ada sedikit perasaan lega karena Gavin mau bertanggung jawab padanya.
"Tentu, kalaupun kamu mau aku ke rumahmu sekarang untuk meminta izin kepada kedua orang tuamu, aku akan melakukannya. Aku akan meminta izin kepada orang tuamu untuk menikahimu."
Nara jauh merasa lebih lega lagi, ketika ia bisa melihat keseriusan atas perkataan Gavin, lewat sorot mata Gavin. Tapi, apakah mungkin kedua orang tuanya akan memberi restu? Sedangkan ia masih memiliki tanggungan untuk membantu biaya sekolah adik-adiknya.
"Tapi--"
"Ada apa, Mas?" Nara bingung ketika Gavin tiba-tiba saja melirik ke arah perutnya.
"Itu ... apakah kamu tidak khawatir? Jika kamu akan hamil dan perutmu akan membesar, kalau kita tidak segera menikah." Dalam kata lain, jangan sampai ada orang yang tahu, jika mereka sudah melakukan hubungan suami istri di luar nikah, jadi sebelum Nara hamil, lebih baik mereka segera menikah, yaitu untuk menutupi aib mereka sendiri.
Mendengar perkataan Gavin, rasa was-was langsung menyelimuti hati Nara, ia juga takut, jika ia sampai menjadi bahan gunjingan orang sekampung. Tahu sendiri kan mulut tetangga lebih tajam dari pisau, apalagi kedua orang tuanya Nara juga tidak benar-benar menyayanginya, jadi sudah pasti Nara akan diusir dari desa itu, tanpa pembelaan sedikit pun.
"Baiklah, kalau begitu setelah ini kita pulang ke rumahku. Tapi, jika misalkan nanti kedua orang tuaku tidak setuju, kita harus mengaku kepada mereka, tentang apa yang sudah terjadi di antara kita. Sebab, kemungkinan kecil kedua orang tuaku tidak akan mengizinkan aku menikah dalam waktu dekat ini, karena aku masih mempunyai tanggungan untuk membantu biaya sekolah adik-adikku!" jelas Nara.
__ADS_1
"Tidak masalah, karena mungkin kita juga akan mengaku di depan ibuku juga. Tapi, apapun yang terjadi nanti, aku akan tetap menikahimu, walaupun mereka bersikeras menentang pernikahan kita."
Melihat tekad Gavin yang benar-benar ingin bertanggung jawab kepadanya, Nara pun jadi semakin tersentuh atas ketulusan Gavin. Nara pun menjadi semakin yakin, bahwa ia tidak akan salah membuka hati untuk Gavin.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang itu, akhirnya mereka berdua langsung pergi ke rumahnya Nara. Di dalam perjalanan, Gavin juga bercerita kepada Nara, bahwa semalam dia sudah memberi kabar ke Mbak Retta dan Bunga, jika Nara izin pulang.
Melihat Nara yang kelelahan dan tertidur pulas, Gavin tidak tega membangunkannya, jadi Gavin berinisiatif untuk mengirim pesan kepada Retta dan Bunga melalui ponsel Nara. Dan, Nara pun juga menerima saja penjelasan tersebut, ia justru malah berterima kasih, sebab Gavin mempunyai inisiatif seperti itu, jadi dia tidak akan membuat bosnya dan Bunga khawatir kepadanya.
Sesampainya di rumah Nara, sesuai dengan perkiraan Nara, orang tua Nara tentu menolak permohonan mereka untuk menikah dalam waktu dekat ini.
Namun, setelah Nara dan Gavin menceritakan apa yang sudah terjadi di antara mereka, kedua orang tuanya pun terpaksa menyetujui pernikahan mereka. Walaupun Nara juga harus menerima drama kekerasan, sebab ibunya langsung menampar dan menjambak rambut Nara, ketika ia mendengar putrinya sudah melakukan perbuatan zina. Ibunya Nara benar-benar malu memiliki anak seperti Nara.
Beruntung saja Gavin ada di sana, jadi ia dengan sigap langsung melindungi Nara. Jadi, Nara tidak sampai dipukul hingga babak belur oleh ibunya sendiri. Sedangkan ayahnya Nara, ia hanya diam saja, ia tentu kecewa dengan Nara, namun dia juga tidak bisa merubah takdir yang sudah terjadi, jadi ayahnya Nara pun terpaksa memberikan restu kepada mereka.
Hal yang sama pun tejadi di rumahnya Gavin, namun tidak sampai ada kekerasan, sebab hanya ada ibunya Gavin dan adik perempuan Gavin saja, karena ayahnya Gavin sudah meninggal cukup lama.
Ibunya Gavin tentu tidak setuju, jika putranya menikahi Nara yang hanya lulusan SMP, dan bekerja sebagai karyawan toko biasa saja. Seharusnya Gavin itu mendapat gadis yang minimal lulusannya sederajat dengan Gavin, yaitu SMA. Tapi, ketika mendengar bahwa mereka sudah melakukan perbuatan dosa, maka ibunya Gavin pun terpaksa setuju dengan pernikahan mereka.
Selanjutnya pembahasan pernikahan di antara Nara dan Gavin hanya melalui sambungan telepon saja, sebab kedua belah pihak keluarga juga enggan saling bertemu, sebab mereka sama-sama terpaksa menyetujui pernikahan tersebut.
__ADS_1
Hingga akhirnya keputusan untuk acara pernikahan tersebut, akan dilaksanakan dalam waktu satu bulan lagi, karena mereka tentu harus mengurus berkas-berkas pernikahan dan juga acara tasyakuran, sebelum ijab qobul dikumandangkan.