TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
52. Obrolan Di Grup WA


__ADS_3

Pagi yang selalu ramai dengan obrolan penghuni grup para penulis Sky Blue.


[Hei, Violet. Kamu ke mana?]


[Ada gosip baru nih, dari author pemes pf sebelah.]


[Iya, buruan nimbrung. Nanti chat nya keburu ketimbun.]


[Hei, kalian ini apa-apaan sih, pagi-pagi udah berisik. Percuma juga kalian tag @ Violet. Palingan dia masih nyuci/nyetrika.]


Rio yang lumayan tahu kebiasaan Nara dari Imel, ia lantas menanggapi pesan-pesan tersebut.


[Yah ... Sayang sekali, padahal berita ini lagi booming.]


[Iya, btw nggak nyangka ya ternyata othor yang itu kayak gitu.]


Sedangkan di sisi lain, Arvin yang sedang membuka grup WA tersebut, ia berdecak. Lalu ia pun segera ikut nimbrung dalam obrolan tersebut.


[Heh, kalian ini. Pagi-pagi sudah gosip. Lebih baik nulis sana! Tuh, pembaca kalian lagi pada nunggu update terbaru kalian.]


[Yah, Pak Bos! Nulisnya nanti aja dulu, lagi tanggung nih bahas ratu pf sebelah. Aku kira cerita dia benar-benar bagus, eh ternyata dia plagiat. Cuih!!!]


Setelah kejadian Nara yang mengira editor mereka perempuan, maka penghuni satu grup telah memutuskan memanggil Arvin dengan sebutan Pak Bos, bukan lagi dengan sebutan Kak, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.


[Hah, yang benar?]


Nama Nara yang sejak tadi di tag, kini ia sudah muncul dan siap ikut bergosip.

__ADS_1


[Iya, dan sekarang di pf sebelah sedang ribut besar. Banyak para penulis yang protes dan meminta pihak pf untuk menuntut orang itu agar mengembalikan royalti yang dia dapat.]


[Wuih ... Pasti bakal nangis darah dia, apalagi pendapatannya sudah bukan ratusan dollar, tapi ribuan.] Balas Nara yang ikut berapi-api.


[Makanya kalian di sini juga jangan coba-coba plagiat, soalnya selain nggak berkah, bakal banyak pihak yang merasa dirugikan, termasuk plagiatornya juga pasti akan dapat ganjaran. Dan kalau sudah dituntut kayak begitu, dia tidak hanya akan rugi finansial, tapi mental juga.] Timpal Arvin.


Setelah membaca pesan Arvin, semua orang sontak membalas 'siap Pak Bos' atau 'baik'.


Namun, hanya Nara saja yang tampak mengacuhkan keberadaan Arvin. Hal ini terlihat begitu kentara, sebab Nara masih mau menanggapi pesan orang lain, sedangkan pesannya Arvin selalu ia abaikan, bahkan saat Arvin sedang bertanya kepada Nara.


[Hei, @ Violet. Punyamu sudah ada kemajuan step belum? Kenapa belum ada laporan seperti yang lain? Dan ini sudah lewat tanggal sepuluh!]


Arvin yang memang sudah memberi peraturan kepada para penulisnya, untuk melaporkan kemajuan step pengajuan kontrak di tanggal sepuluh. Namun, hanya Nara saja yang tidak mengisinya.


Sedangkan Nara sendiri, ia bukannya segera membalas pesan Arvin, ia justru malah tetap asyik membahas soal plagiator tadi. Nara melakukan ini karena ia kesal dengan Arvin atas kejadian kemarin.


Arvin yang sejak tadi pesannya diabaikan Nara, ia pun jadi ikut kesal.


[Hei, Janda! Mata kamu bermasalah ya! Dari tadi mengabaikan pesan penting dariku, tapi masih bisa membalas pesan orang lain.]


Nara yang sedang membaca pesan tersebut, ia menggeram di tempatnya.


Sedangkan di ujung lain, Rio yang bisa membaca situasi panas dalam obrolan grup tersebut, ia sontak malah menjadi kompor.


[Waduh, Pak Bos. Santai dulu, jangan marah dulu. Namanya juga cewek, pasti Nara lebih mengedepankan gosip dulu.]


[Iya nih, Pak Bos. Mungkin chat nya Bapak tenggelam di HP nya Nara, jadi jangan emosi dulu. Sampai bawa-bawa status segala, kan kasihan Nara nya. 🤭 ] Timpal penulis lain.

__ADS_1


[Udah lah biarin aja, dia mah orangnya memang begitu. Lagi pula aku juga nggak akan tersinggung dipanggil Janda, memang aku seorang Janda.]


[Huh! Kalau kamu sampai tersinggung berarti kamu bodoh, soalnya kamu sendiri yang memilih napen Violet, itu kan artinya warna ungu, yang berarti janda. Jadi tidak salah bulan, kalau aku manggil kamu janda.]


[Iya, ya ya! Saya sangat mengerti Pak Bos terhormat, dan saya tekankan lagi bahwa saya tidak tersinggung. Btw saya juga sudah mengisi laporannya. Apakah sekarang Anda sudah puas?]


Tidak ada respon dari Arvin, sehingga membuat Nara semakin emosi.


Namun, di detik berikutnya, Arvin membalas pesan dengan pembahasan yang lain.


[@ violet. Hei, pakaianku sudah selesai belum, sekarang aku mau mengambilnya.]


Nara yang membaca pesan tersebut, ia sontak membelalakkan matanya. "Astaghfirullah!!! Aku lupa belum menyetrikanya. Waduh, gawat! Ini orang pasti bakalan ngamuk di ruko."


Lalu tanpa pikir panjang lagi, Nara pun segera melemparkan ponselnya ke atas ranjang, dan ia pun bergegas pergi ke lantai bawah untuk segera menyetrika pakaian Arvin kemarin.


"Dasar manusia paling nyebelin! Ini kan masih jam enam pagi, tapi dia sudah mau mengambil laundry an nya! Bener-bener nih orang memang sengaja bikin aku darah tinggi!" gerutu Nara kesal seraya mulai menyetrika pakaiannya Arvin.


Sedangkan di atas ranjang, ponsel Nara masih terus bergetar, seraya menampilkan obrolan grup WA tadi.


[Astaga! Pakaian? Jangan bilang kalau Pak Bos nglaundry di tempatnya Nara?]


[Waahh ... Berita baru ini, jadi tempat tinggal kalian berdua dekat. Btw kenapa tiba-tiba aku jadi mencium aroma-aroma aneh gitu.]


[Iya, pantesan saja Pak Bos selalu ikut nimbrung kalau ada yang memanggil Nara. Sepertinya kalian berdua ini ada apa-apanya nih?]


[Waduh, kalian ini kalau bikin gosip memang suka bener.] Bukannya membantu Nara mengklarifikasi pemikiran penulis lain, Rio malah justru seperti mengiyakan pemikiran mereka.

__ADS_1


Sedangkan Arvin sendiri, ia juga sudah tidak memperhatikan obrolan di grup lagi, sebab sekarang ia sudah berada di dalam perjalanan menuju ke rukonya Nara.


Padahal rukonya Nara belum waktunya buka. Namun, orang yang paling menyebalkan ini, begitu semangat datang di hari yang masih begitu pagi.


__ADS_2