
Nara kembali masuk ke dalam rumah seraya mengomel, meski kali ini sebenarnya ia sangat keberatan mencuci pakaiannya Arvin, namun mau bagaimana lagi? Pelanggan menyebalkannya itu tetap bersikeras menyuruhnya mencuci semua pakaian tersebut, termasuk 'kain segitiga' itu.
"Hei, ngapain sih ngomel mulu?" tanya Bunga seraya menyisir rambut panjangnya. Sedangkan Nara tidak menjawab, karena ia langsung berjalan ke belakang untuk menaruh baju kotornya Arvin.
"Halah, apa lagi kalau bukan pelanggan nyebelinnya yang jadi penyebabnya," sahut Imel seraya mematut dirinya di depan cermin. Meski saat ini mereka berdua sedang berada di dalam kamar, namun mereka masih bisa mendengar suara omelan Nara.
"Maksudmu si Arvin itu? Eh tapi, setelah aku pikir-pikir, kayaknya tu orang suka deh sama Nara, soalnya dia kayak sengaja bikin Nara selalu kesal sama dia."
Bunga pernah melihat interaksi di antara Arvin dan Nara, di saat Arvin sedang mengantarkan cucian kotor waktu itu. Dan, tingkah lakunya Arvin itu hampir sama dengan bocah sekolah yang sedang kasmaran, yaitu suka gangguin gebetannya buat menarik perhatian si cewek tersebut.
"Oh, iya-ya. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang." Imel menepuk keningnya sendiri. "Apa yang kamu katakan itu sepertinya memang benar, soalnya selama ini ketika dia bertemu denganku, jangankan nyapa, eh malah sepertinya aku hanya dianggap debu olehnya," timpal Imel seraya mengingat kelakuannya Arvin, yaitu di saat Nara sedang tidak ada di rumah, dan Imel yang menerima cucian kotor miliknya Arvin.
Arvin hanya akan meletakkan kantong kresek tersebut ke atas lantai, lalu kemudian ia langsung pergi tanpa mengucapkan salam ataupun pesan, padahal Imel jelas-jelas ada di depan matanya.
"Eh, sepertinya tu cowok cocok deh buat Nara, soalnya dia dingin banget sama cewek lain. Jadi, kita ngga perlu khawatir lagi kalau Nara akan diselingkuhi."
Imel sejenak memikirkan perkataanya Bunga. "Iya sih. Tapi, dia kan selalu pakai masker, nanti kalau wajahnya benar-benar ada yang cacat gimana? Masa kamu tega Nara dapet cowok seperti itu?"
Bunga meringis. "Iya juga ya, ya sudah kalau begitu kita tunggu saja sampai kita bisa melihat wajah aslinya, lalu kalau ternyata dia tampan, baru kita jodohin mereka berdua."
"Setuju!" sahut Imel antusias.
Sedangkan Nara yang baru saja datang dari arah dapur, ia mengernyitkan dahi ketika melihat kedua temannya tampak bersemangat.
"Hei, kalian berdua mau ke mana?" tanya Nara ketika melihat kedua temannya sudah berdandan rapi.
"Ikut kamu," sahut Imel seraya tersenyum manis.
"Hah, apa?! Ngapain? Aku kan cuma mau ke pasar Wage, setelah belanja juga langsung pulang kok," sahut Nara seraya memicingkan matanya, ia jadi curiga kalau mereka berdua ikut, nanti ujung-ujungnya ia akan dijadikan obat nyamuk oleh kedua temannya itu.
__ADS_1
"Sudahlah, biarkan kami berdua ikut, lagi pula mumpung hari ini aku lagi libur. Jadi, kita jalan-jalan bersama, oke?"
Nara hendak menolak, namun ketika melihat kedua temannya itu mulai merengek, jadi ia terpaksa mengangguk.
Beberapa jam kemudian, setelah Nara selesai belanja, dan juga mengantarkan kedua temannya itu belanja, kini mereka berdua sudah berada dalam perjalanan pulang.
Namun, Nara bingung ketika Imel yang sedang memboncengnya, tiba-tiba saja mengarahkan motor yang mereka kendarai belok ke jalur lain.
"Hei, kita mau ke mana?" tanya Nara seraya menoleh ke belakang. Sedangkan di belakang, Bunga yang sedang naik motor sendirian, ia hanya cengengesan ketika melihat wajah temannya itu terlihat bingung.
"Taman," sahut Imel singkat, ia pun tidak bisa menahan tawa, ketika membayangkan wajah kesal Nara saat nanti ia dijadikan obat nyamuk oleh mereka berdua.
Nara berdecak. "Berarti benar dugaanku, kalian berdua ini memang keterlaluan ya!"
"Makanya kalau begitu setelah ini kamu harus cepat cari pasangan, biar kita nanti bisa kencan bersama. Jadi, kamu tidak perlu jadi obat nyamuk lagi. Oh ya, btw ... bukankah kamu ingin lihat seperti apa pacarnya Bunga, yang temannya si Kevin itu? Soalnya kali ini Bunga ngajak dia, dan kata kamu, kamu juga ingin berterima kasih langsung padanya, karena dia selama ini selalu memberikan informasi kepadamu tentang Kevin."
"Baiklah, aku juga ingin lihat seperti apa pacar barumu itu," sahut Nara seraya tertawa.
Lalu tidak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di area parkir taman tersebut, dan tanpa mengulur waktu lagi, mereka bertiga langsung berjalan menuju ke tempat mereka janjian.
Di salah satu bangku taman sana, sudah ada dua orang laki-laki yang sedang menunggu pacar mereka masing-masing.
Cowok yang pertama, ia memakai kemeja berwarna hitam, dia adalah Rio, pacarnya Imel, yang termasuk seorang penulis novel online. Imel bisa mengenal Rio, karena Imel termasuk jajaran penggemar novel yang ditulis Rio.
Imel dan Rio awalnya hanya berinteraksi lewat kolom komentar di novel online nya Rio. Lalu kemudian hubungan mereka semakin dekat melalui sosial media pribadi mereka, dan kemudian akhirnya satu bulan yang lalu, mereka berdua memutuskan untuk pacaran.
Sedangkan cowok yang ke dua, yaitu yang memakai kaus berwarna putih, ia adalah Rendi, pacarnya Bunga, yang termasuk temannya Kevin.
Dan, belum lama ini, Nara baru mengetahui, kalau ternyata Bunga sengaja berpacaran dengan Rendi, hanya agar Bunga bisa mendapatkan semua informasi tentang Kevin, sebab Kevin memang selalu curhat ke Rendi. Kevin selalu menceritakan semua masalahnya ke Rendi.
__ADS_1
Bunga sengaja melakukan itu, agar Nara bisa tahu semuanya tentang Kevin. Bunga yang sejak awal memang tidak setuju jika Nara bersama Kevin, ia membuka kedok Kevin dengan cara seperti ini, yaitu agar Nara tidak tertipu oleh laki-laki seperti Kevin, dan kemudian agar Nara juga mau melepaskan perasaannya itu kepada Kevin. Jadi, bisa dibilang Bunga hanya memanfaatkan Rendi saja.
Oleh sebab itu, inilah alasan mengapa Nara ingin mengucapkan terima kasih langsung kepada Rendi, sebab sebenarnya Nara merasa kasihan dengan Rendi. Jika bukan karena dirinya, mungkin Bunga tidak akan memanfaatkan Rendi, dan berpura-pura menerima cintanya.
Lalu kemudian mereka saling berkenalan secara resmi, sebab ini pertama kalinya mereka bertemu secara langsung, karena sebelumnya kedua lelaki itu hanya tahu namanya Nara saja, begitupun dengan Nara juga.
Awalnya mereka mengobrol santai, dengan saling menceritakan kisah awal berseminya perasaan masing-masing, lalu kemudian berakhir menindas Nara dengan kata-kata, sebab di sini hanya Nara sendiri yang jomblo.
"Oh ya, ngomong-ngomong aku sudah cerita apa belum ya? Tentang berita terbarunya Diana," ujar Rendi tiba-tiba, di saat mereka sedang tertawa bersama.
"Belum. Memangnya ada apa?" tanya Imel antusias, sebab ia paling semangat kalau membahas urusan Kevin dan Diana. Karena Imel juga ingin, Nara itu agar cepat move on dari Kevin, yaitu dengan cara mendengarkan berita buruk tentang Kevin.
"Apakah ada berita terbaru? Kenapa kamu nggak langsung nelvon aku," ujar Bunga seraya menyikut pelan perut Rendi. Sebab biasanya, Rendi akan langsung menghubungi Bunga, kalau Kevin habis cerita apapun kepadanya.
Termasuk ketika Kevin baru tahu kalau Diana itu keponakannya, karena tidak lama kemudian Kevin langsung cerita ke Rendi, dan baru kemudian Rendi cerita ke Bunga. Dan oleh sebab itu, Rendi selalu mendapatkan berita up-to-date dari Kevin nya sendiri.
Rendi meringis. "Maaf, Sayang. Kemarin kan aku sibuk ada acara keluarga, jadi lupa. Tapi, Kevin ceritanya masih kemarin lusa kok, jadi kan belum lama," bujuk Rendi.
"Oke ... lalu apa berita barunya?" balas Bunga jadi semakin penasaran.
"Em, ini Kevin juga baru tahu dari Ibunya. Soalnya Mbak Nila awalnya ingin merahasiakan berita ini dari keluarganya. Namun, karena didesak oleh orang tuanya, akhirnya Mbak Nila mau cerita."
Rendi sejenak memperhatikan keempat orang yang ada di hadapannya, yang tengah menyimak ceritanya dengan seksama.
"Dan katanya, satu bulan yang lalu Diana keguguran, dan setelah itu ia jadi gini." Rendi mengangkat telunjuknya dan membuat gerakan miring ke dahinya.
"Maksudmu dia gila?" tanya Imel seraya membelalakkan matanya terkejut.
Rendi mengangguk. "Iya, dan sekarang dia sedang menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa yang ada di sana."
__ADS_1