
Beberapa menit sebelum Gavin kembali ke kosannya.
Tempat kos teman Gavin begitu dekat, jaraknya hanya kurang dari lima puluh meter, jadi ia tidak memerlukan motor untuk pergi ke sana, namun hal itu tetap sedikit menyita waktu Gavin untuk segera kembali, karena ia harus berjalan kaki ke kosan temannya tersebut.
Setelah sampai di tempat kos temanya, Rio tampak sedang menikmati game di ponselnya. Rio tidak pergi bekerja karena ia mendapat shift malam.
"Lho, sudah kamu antar? Berarti sekarang dia sudah ada di kosanmu dong?" Orang yang dimaksud Rio tentu saja Nara, Rio tahu sebab ia juga terlibat dengan rencana Gavin hari ini.
Gavin mengangguk seraya menaruh charger yang sebenarnya miliknya sendiri ke atas mejanya Rio. Gavin menjalankan rencana yang sudah ia rancang sendiri dengan sebaik mungkin.
"Sialan! Ternyata aku benar-benar punya teman brengsek sepertimu!" cibir Rio seraya menggelengkan kepalanya.
Rio mengolok Gavin, namun Rio juga tidak dapat memungkiri, bahwa Rio juga ikut andil dalam masalah penjebakan Nara, sebab Rio lah yang membelikan obat perangsang itu. Jadi, Rio pun juga merasa bersalah kepada Nara.
"Terserah kamu mau bilang apa, yang penting setelah ini Nara akan jadi milikku." Jejak kelicikan langsung melintas di mata Gavin.
Tidak ada orang yang tahu, bagaimana dulu Gavin sangat mendambakan Nara untuk jadi miliknya, namun Gavin berusaha mati-matian untuk tidak merusak Nara, sebab ia benar-benar mencintai Nara dengan tulus.
Sangat berbeda ketika Gavin tertarik dengan gadis yang ia kencani sebelumnya, karena Gavin hanya berniat main-main saja dengan mereka. Dan, oleh sebab itu, Gavin dulu tidak pernah mau menyatakan cintanya kepada Nara, sebab ia tidak ingin merusak kepolosan Nara. Gavin rela hanya berteman saja dengan Nara, sebab ia ingin menjaga kesucian cintanya untuk Nara seorang. Namun, yang terjadi sekarang...
__ADS_1
"Ya itu namanya kamu tetep brengsek, sebab cinta suci dulu yang sering kamu bicarakan, semuanya tetep bulshit, karena kamu ujung-ujungnya juga tetap merusak dia, bahkan lebih parah!" geram Rio kesal, namun Gavin tidak tersinggung dengan perkataan temannya tersebut, justru ia malah cengengesan.
"Kamu nggak tahu aja, gimana perasaanku ketika kembali bertemu dengannya? Saking gilanya, hari itu ingin rasanya aku menikahinya detik itu juga. Namun, itu tidak mungkin bukan? Apalagi ketika aku tahu dia belum move on dari mantannya, dan kalau Nara sampai tahu bahwa mantannya itu belum nikah, dan dia ternyata hanya salah paham saja. Kemungkinan besar mereka akan balikan bukan? Dan, aku tidak mau hal itu terjadi, oleh sebab itu aku terpaksa melakukan cara seperti ini." Gavin pun sudah mengetahui tentang Kevin, jadi ia tidak ingin memberikan celah untuk Kevin.
'Sedia payung sebelum hujan'. Mungkin kata-kata itu cocok untuk menjadi gambaran apa yang dilakukan Gavin saat ini. Namun, apakah ini bisa dibilang cocok? Karena yang akan terjadi malah seperti memaksakan takdir, sebab Gavin bersikeras membuat Nara harus menjadi miliknya.
"Lagipula sekarang aku juga masih perjaka, jadi itu nanti sama-sama pengalaman pertama kami. Jadi, bisa dibilang brengsekku juga tidak keterlaluan bukan?"
Gavin yang merasa, jika dirinya bukanlah seorang playboy brengsek seperti pada umumnya, sebab ia mampu menahan diri hanya untuk menyentuh wanita yang ia cintai saja, Gavin jadi merasa ia masih cukup pantas dengan Nara, terlepas dengan pemikiran buruk atas rencananya ini, sebab Gavin murni hanya ingin menjadikan Nara sebagai istrinya. Dan, agar Nara tidak menolaknya, maka inilah satu-satunya cara agar Nara bersedia menjadi istrinya secepat mungkin, yaitu sebelum Kevin berniat mengejar Nara lagi.
"Terserah. Tapi, awas saja setelah ini kamu kembali jadi playboy lagi dan sampai mengkhianati Nara, maka detik itu juga, pertemanan kita juga berakhir!" tegas Rio. Meskipun Rio tidak mengenal Nara, namun Rio merasa kasihan jika gadis sepolos Nara disakiti oleh lelaki brengsek seperti temannya itu.
"Kamu tenang saja, perasaanku kepada Nara tidak main-main, aku benar-benar jatuh cinta padanya, bahkan dari dulu hingga sampai saat ini!" jelas Gavin jujur.
"Ok, aku balik sekarang. Dan, thanks udah beliin obat itu." Gavin langsung pergi setelah mengatakan itu.
Seperti apa yang dikatakan Rio, obat itu benar-benar sudah bekerja ketika Gavin sudah sampai di kos-kosannya.
Gavin sejenak terpaku, ketika ia membuka pintu dan langsung disuguhkan dengan pemandangan indah di depan matanya.
__ADS_1
Sedangkan Nara yang terkejut ketika melihat Gavin sudah pulang, ia yang masih setengah sadar, langsung buru-buru menyatukan kemejanya yang dua kancingnya yang sudah terbuka, lalu kemudian menggenggamnya erat, ia benar-benar malu dengan apa yang sudah dilakukannya. Nara takut, jika Gavin berpikiran bahwa ia ingin menggodanya. Namun, rasa panas ini benar-benar menyiksanya saat ini.
"Mas Gavin," ujar Nara gugup. Sedangkan Gavin berpura-pura biasa saja, namun dalam hati ia senang bukan kepalang melihat Nara seperti ini.
Gavin melangkahkan kakinya mendekati Nara, lalu kemudian ia juga pura-pura minum soda tersebut seraya duduk di samping Nara.
Setelah meletakkan gelasnya, Gavin mengusap peluh di kening Nara. "Nara, kenapa kamu berkeringat, apakah di sini sangat panas?" ujar Gavin lembut.
Hanya mendengar suara Gavin saja yang sedikit serak, rasa aneh bergejolak hebat dalam benak Nara, apalagi saat tangan Gavin mengusap keringatnya, peluh yang lain pun mengalir semakin deras membasahi punggung Nara, ia benar-benar merasa terbakar, di dalam suhu ruangan yang sebenarnya sangat normal.
"Mas Ga-vin ...." Suara Nara semakin terbata, ia semakin kebingungan untuk mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak menerkam Gavin saat ini. Namun, perkataan Gavin selanjutnya, semakin meningkatkan birahinya.
"Nara, bolehkah aku menciummu?" Gavin meminta izin, namun belum sempat Nara menjawabnya, Gavin langsung mencium rakus bibir Nara, Gavin bahkan tidak rela untuk melepaskan bibir Nara itu sedetik saja.
Tangan Gavin pun tidak mau tinggal diam, ia sengaja mengusap punggung Nara selembut mungkin, hingga ke bagian tubuh Nara yang lain, agar Nara semakin terpancing untuk ia sentuh lebih dalam lagi. Dan, akhirnya apa yang diinginkan Gavin pun tercapai, hari ini ia bisa meneguk manisnya madu yang ia dambakan dari tubuh Nara.
Entah sudah ke berapa kalinya Gavin melepaskan 'kepuasaannya', bahkan ia sampai membuat Nara kelelahan dan tertidur lelap. Gavin pun yang merasa lelah, ia segera berbaring di samping Nara seraya masih memeluknya, bibirnya tersenyum ketika melihat wanita yang ia cintai, kelelahan akibat perbuatannya.
Senja telah tiba, namun Gavin tidak berniat membangunkan Nara. Gavin ingin malam ini Nara menginap di sini, jadi Gavin mengirimkan pesan ke Bunga dan Bosnya Nara, bahwa Nara izin pulang ke rumah, agar mereka tidak mengkhawatirkan Nara.
__ADS_1
Beruntung kos-kosan Gavin tidak ketat, bahkan di sini memang terkenal kos-kosan nakal, sebab para penghuninya yang semuanya laki-laki, sebagian besar dari mereka memang sudah terbiasa mengajak cewek mereka datang ke tempat ini. Jadi, tidak ada satu orang pun yang akan kepo, sebab Gavin yang tumben tidak terlihat keluar dari kamarnya sama sekali.
Sedangkan Gavin yang masih memandang wajah cantik Nara, ia kemudian mencium kening Nara. "Nara, maaf karena sudah melakukan ini kepadamu. Tapi, ini semua aku lakukan karena agar aku bisa memilikimu, karena aku sangat mencintaimu, Nara. Aku tidak rela jika ada laki-laki lain yang bisa mendapatkanmu, kamu hanya boleh menjadi istriku," gumam Gavin.