TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
59. Risau


__ADS_3

Arvin yang mengira Nara akan semakin menyukainya setelah identitasnya terungkap. Namun, ternyata dugaan itu salah. Sebab justru sebaliknya, kini Nara malah semakin menjauh darinya.


"Ahhh sial! Apa sih maunya cewek ini," gerutu Arvin ketika melihat pesannya tidak dibalas satu pun oleh Nara.


Padahal sejak kemarin Arvin mengirim pesan kepada Nara, namun sampai hari berganti siang lagi, Nara tetap tidak mau membalas pesannya.


Beberapa makian pun ikut terlontar dalam pesan Arvin untuk Nara, sebab Arvin juga terbawa rasa cemburu ketika ia melihat Nara masih sempat membalas komentar para fans-fans nya, terutama dari fanboy nya. Namun, Nara malah mengabaikan pesan darinya.


"Arvin, ada apa lagi sih, Nak. Kenapa dari kemarin kamu uring-uringan terus?" tanya Lita, ibunya Arvin.


Lita yang baru merasa senang karena Arvin mau pulang ke rumah, ia jadi khawatir lagi ketika anaknya hanya uring-uringan di rumah. Mungkinkah karena Arvin memang tidak betah tinggal bersama mereka?


"Ini, Bu. Arvin sedang mendekati cewek. Namun, dia sangat bodoh, hingga dia tidak sadar kalau Arvin mencintai nya," sahut Arvin yang tidak ingin menutupi keberadaan Nara di dalam hatinya, dari kedua orang tuanya.


Arvin yang begitu serius ingin menjadikan Nara miliknya, ia memang bisa mengatakan secara terang-terangan kepada orang tuanya. Namun, kepada orangnya sendiri, Arvin tetap saja menjadi sosok yang menyebalkan bagi Nara.


"Apa? Jadi kamu sudah menyukai seseorang? Kenapa tidak pernah cerita? Lalu siapa dia?"


"Seorang janda," sahut Arvin datar, lebih tepatnya ia juga tidak akan peduli bagaimana pendapat kedua orang tuanya.


Lita terkejut ketika mendengar anaknya menyukai seorang janda. Astaga! Sehebat apa sih sosok wanita ini, bisa-bisanya dia berhasil memikat hati anaknya, yang dari dulu selalu dingin dengan perempuan.


Dan, ini jugalah yang menjadi alasan kenapa Arvin selalu jomblo. Bahkan diusianya yang sudah tidak remaja lagi, Arvin bahkan sama sekali belum pernah pacaran.


Bahkan Lita sendiri sampai curiga kalau Arvin itu tidaklah normal. Namun, untungnya saja tidak. Buktinya sekarang Arvin ternyata bisa menyukai perempuan.

__ADS_1


"Apa? Janda?" Erlangga yang baru saja datang dari kantor, ia juga terkejut ketika mendengar anaknya menyukai seorang janda.


"Iya, dan aku ingin menikah dengannya. Dan juga, kepulanganku ini juga berniat meminta restu kepada kalian, sekalian meminta tolong kepada Ibu dan Ayah, untuk melamar dia untukku."


"Apa? Kamu sudah seserius ini, tapi kamu baru bicara dengan kami? Lalu seperti apa dia, kenapa kamu tidak mengenalkan langsung kepada kami?"


"Halah, dia itu ribet, Yah. Bahkan saking bodohnya, dia pasti akan menolak lamaranku."


Erlangga dan Lita sontak tertawa mendengar ini, mereka berdua yang sangat mengenal anaknya, mereka tahu kalau Arvin antara gengsi atau takut ditolak, itu sebabnya Arvin tidak berani bicara langsung dengan wanita itu.


"Maka dari itu aku berniat meminta kepada orang tuanya secara diam-diam. Lalu setelah itu, aku baru kasih dia kejutan pesta pernikahan kami," jelas Arvin.


"Baik-baik, kami akan menuruti semua keinginanmu. Tapi, kasih tahu dulu kami, siapa wanita itu?


"Dia penulis novel. Anarawati namanya, nama pena nya Violet."


Lita sangat ngefans dengan Nara, ia bahkan ingin meminta tanda tangan Nara. Namun, ternyata anaknya yang gengsian ini malah berniat ingin menjadikannya istri. Jadi, kenapa nggak dari dulu saja?


"Ibu, apaan sih. Kenapa memukuliku? Lagi pula, awalnya aku juga takut jika kalian tidak setuju."


Arvin yang awalnya takut jika kedua orang tuanya tidak menyetujui ia bersama Nara, maka ia hanya bisa menunda pembicaraan ini entah sampai kapan. Namun, ketika melihat laki-laki yang ingin mendekati Nara jadi bertambah banyak, Arvin jadi tidak bisa menahannya lagi, ia pun jadi bertambah nekat untuk berbicara dengan kedua orang tuanya hari ini.


Bahkan, misalkan kedua orang tuanya tidak setuju, Arvin tetap akan menikahi Nara, dia pun juga tidak peduli jika harus dicoret dari daftar nama keluarga.


Sedangkan untuk urusan Nara, entah dia setuju atau tidak, tapi asalkan selama semua persyaratan pernikahan sudah dipenuhi, dan Arvin juga bisa membawa Nara ke tempat ijab kabul, maka Nara pun tetap bisa menjadi istrinya. Senekat itulah Arvin yang ingin memperistri Nara.

__ADS_1


Dan, kenyataan yang terjadi ternyata di luar prediksinya, bahkan ibunya saja sudah ngefans dengan Nara. Kini Arvin jadi ikut menyesal kenapa tidak mengutarakan niat ini dari lama.


"Aduh, kenapa kamu baru bilang? Padahal Ibu sangat senang sekali kalau Nara bisa jadi menantu Ibu sejak lama. Ibu suka baca-baca novelnya, apalagi yang dijadikan film saat ini. Uhhh ... Ibu jadi nggak sabar ingin bertemu dengannya," ujar Lita yang masih menyayangkan tindakan Arvin yang dinilai terlalu lambat.


"Iya, Arvin tahu. Tapi, masalahnya dia sekarang malah semakin menjauh dari Arvin, dan sepertinya ini terjadi semenjak dia tahu identitas Arvin."


"Kalau begitu mungkin dia minder," sahut Erlangga yang juga disetujui oleh Lita.


Lagi pula, siapa juga yang tidak minder, mencintai laki-laki anak orang kaya, sedangkan status wanita nya hanyalah seorang janda dengan kehidupan yang pas-pasan.


Padahal kedua orang tuanya Arvin tidak pernah mempedulikan status, bahkan mereka juga tidak memiliki kriteria khusus wanita seperti apa yang layak untuk jadi menantu mereka.


Sebab bagi kedua orang tuanya Arvin, yang terpenting calon menantu mereka adalah wanita yang baik dan juga tulus mencintai anaknya, hanya cukup dua syarat itu saja.


"Baiklah, kalau begitu itu berarti bukanlah masalah, sebab yang terpenting Ibu dan Ayah sudah setuju, dan itu berarti besok kita harus segera berangkat ke Blitar, karena aku nggak mau melihat dia didekati laki-laki lain seperti ini."


Erlangga dan Lita hanya tersenyum seraya mengangguk. Lalu kemudian Arvin juga menceritakan bagaimana sosok kedua orang tuanya Nara, termasuk tentang mereka yang tidak peduli dengan hidupnya Nara. Namun, hanya peduli dengan uangnya Nara saja.


Sedangkan di tempat lain. Nara sedang memandangi aplikasi chat miliknya. Di sana terdapat puluhan pesan dari Arvin yang belum ia buka.


Sebenarnya Nara sangat ingin membuka pesan-pesan tersebut, namun berkali-kali ia harus menahan dirinya sendiri, dan agar bisa memutus hubungannya dengan Arvin. Sebab Nara takut dengan bayang-bayang yang ada di pikirannya sendiri.


"Sabar Nara, tinggal tiga hari lagi tour ini akan berakhir, setelah itu semua akan kembali seperti semula. Kamu akan sibuk dengan laundry dan juga novel-novel mu yang lain. Semangat Nara!" ujar Nara pada dirinya sendiri.


Acara gala premiere akan segera berakhir, Nara pun sebentar lagi akan kembali melewati hari-harinya dengan tenang di kota kelahirannya sendiri. Dan, soal Arvin, Nara mengira kepulangan Arvin ke Jakarta, karena Arvin akan pulang seterusnya ke Jakarta, dan Arvin juga pasti akan sibuk dengan pekerjaan aslinya.

__ADS_1


Jadi ini jugalah yang membuat Nara yakin akan bisa melupakan sosok Arvin.


"Ya Allah, jika dia memang bukan jodohku, tolong hapuskan perasaan ini, dan tolong jodohkanlah dia dengan wanita yang baik-baik." Hanya doa itu yang berani Nara panjatkan, Nara benar-benar tidak berani mengharapkan Arvin sebagai jodohnya.


__ADS_2