
Pagi harinya...
Langit masih gelap, namun Marni dan Dinda sudah sampai di puskesmas, di tempat Nara melahirkan. Karena sebentar lagi pihak puskesmas akan mengirimkan anaknya Nara dan Gavin ke rumah sakit yang ada di kota, maka Marni dan Dinda terlebih dahulu menengok cucunya yang baru lahir itu.
"Ya Allah, Bu ... Anaknya Mas Gavin kok kecil sekali?" bisik Dinda yang terkejut ketika melihat keponakannya memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari bayi dengan kelahiran normal pada umumnya.
"Namanya juga prematur, ya wajar kalau berat badannya segitu. Tapi, ini semua juga gara-gara istrinya Mas mu yang nggak bisa jaga kandungannya dengan baik. Apalagi dia juga yang ngeyel minta pindah saat sedang hamil, ya jadi beginilah akhirnya ...." Marni begitu seenaknya bicara, seperti hal yang sudah terjadi ini, memang benar-benar kesalahannya Nara.
Sedangkan Dinda hanya mengangguk saja, sebab ia juga tidak mengerti tentang masalah seperti ini.
Lalu tidak lama kemudian, seorang perawat datang dan memberitahukan bahwa bayinya akan segera diantar ke rumah sakit sekarang. Dan, karena Nara tidak dianjurkan ikut, maka Nara diperbolehkan pulang ke rumah terlebih dahulu.
Beruntung Pak Tejo dan Bu Lastri semalam tidak pulang, jadi sekarang Nara bisa pulang ke kontrakannya bersama Marni. Sedangkan Gavin dan Dinda, mereka berdua mengikuti mobil ambulans yang membawa bayinya ke rumah sakit.
Saat di dalam mobil, perasaan Nara jadi semakin tidak tenang, apalagi masalahnya jika bukan karena Marni yang ikut pulang dengannya, sebab Nara yakin, bahwa setelah ini, Marni pasti akan menceramahinya habis-habisan.
Sesampainya di rumah, Bu Lastri masih ikut masuk ke dalam, seraya membawakan tas berisi perlengkapan Nara ketika bersalin. Namun, setelah itu ia langsung berpamitan pulang, karena tubuhnya terasa lelah dan ingin beristirahat.
Setelah kepergian Bu Lastri, benar dengan apa yang sudah dipikirkan Nara tadi. Saat ini, Marni langsung berdiri seraya memelototinya, dan juga berkacak pinggang di hadapannya.
"Ini nih, akibat dari ngelawan perkataan orang tua. Sudah dibilangin jangan pindah rumah dulu kalau sedang hamil. Dan, sekarang lihat apa yang sudah terjadi, kamu lahiran prematur kan?" geram Marni.
Sedangkan Nara yang merasa ibu mertuanya tidak pernah membicarakan hal ini, ia hanya bisa tertunduk lesu, dan mengucapkan kata-kata sabar hingga berulang kali.
"Kamu ingin cepat pindah karena ingin menguasai Gavin sendirian bukan? Agar Gavin mau menuruti semua keiginanmu. Huh, jangan mimpi! Karena sampai kapan pun, Gavin hanya menuruti kata-kata ku!"
Sudah tidak terhitung lagi, berapa banyak tetesan air mata yang ditumpahkan Nara. Saat ini Nara sudah lelah fisik dan mental, sebab pasca melahirkan prematur, apalagi saat ini Nara juga harus terpisah dengan anaknya. Dan, saat ini bisa-bisanya mertuanya mengatakan hal-hal yang menyakitkan seperti ini.
Nara bahkan dicecar dengan perkataan, yang sebenarnya tanpa mertuanya mengatakan, Nara sudah sadar atas kesalahannya sendiri.
__ADS_1
Dia memang bodoh! Dia tidak bisa menjaga kandungannya sendiri hingga ia kelelahan, dan akhirnya ia harus melahirkan sebelum tanggal perkiraananya melahirkan. Nara sangat menyadari kebodohannya itu.
Namun, haruskah Nara dimarahi saat dirinya masih dalam kondisi seperti ini? Padahal saat ini, Nara sangat mendambakan sebuah pelukan hangat dari keluarganya, dan juga kata-kata penyemangat untuk melewati semua cobaan yang sedang ia jalani. Akan tetapi, yang terjadi saat ini....
"Hei, Nara! Kamu itu hanya beban untuk keluarga kami. Beban! Ingat, hanya beban!" raung Marni hingga hatinya merasa puas. Waktu itu ketika Nara dan Gavin pindah, Marni masih bisa menahannya untuk tidak berkata buruk kepada menantunya itu, dan sekarang adalah kesempatannya untuk mengeluarkan semua unek-unek yang sudah lama dipendamnya itu.
"Coba kamu lihat! Jika kamu memang bukan beban, lantas keluargamu kenapa tidak datang? Aku bahkan curiga jika kamu bukanlah anak kandung mereka!"
Air mata Nara jatuh semakin deras ketika mendengar kata-kata ini. Iya, memang keluarganya Nara sudah mengatakan tidak mau datang, karena mereka tidak mau repot-repot, dan jauh-jauh datang kemari, walau hanya untuk menjenguk Nara, ataupun anaknya yang baru lahir.
Entahlah apa yang dipikirkan kedua orang tuanya Nara, yang jelas mereka tidak mau rugi untuk membuang ongkos perjalanan mereka ke sini. Dan, bukankah melihat foto anaknya Nara, hanya lewat ponsel saja sudah cukup? Jadi, untuk apa repot-repot datang ke sini.
"Bu, maaf. Nara tahu jika Nara salah. Tapi, bisakah Ibu mengizinkan Nara istirahat dulu, kepala Nara sangat pusing," sahut Nara yang akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, sebab kepalanya benar-benar terasa pusing.
Semalam setelah melahirkan, Nara tidak bisa tidur sama sekali, bahkan tadi pagi ia nyaris pingsan saat mandi, karena tekanan darahnya sangat rendah. Namun, saat ini sepertinya Marni belum berniat melepaskannya.
"Enak saja! Mertua sudah datang ke sini, tapi tidak disuguhi minuman, dan sekarang kamu malah ingin tidur. Dasar, kamu itu memang menantu bodoh dan tidak pengertian!" hardik Marni yang semakin murka.
Lalu tidak lama kemudian, Nara segera kembali ke ruang tamu, dan menyuguhkan teh tersebut ke hadapan Marni.
Namun, Marni juga tidak langsung membiarkan Nara istirahat. Marni masih asyik mengoceh, yang intinya mengomentari isi rumah kontrakan Nara, yang dinilai kurang rapi, lalu inilah dan itulah, yang semuanya hanya untuk menjelek-jelekkan Nara.
Sedangkan Nara yang tidak bisa langsung pergi ke kamarnya, ia hanya bisa duduk bersandar di sofa tersebut. Nara benar-benar merasa lelah, ia sudah memejamkan kedua matanya, namun bukan karena tertidur, melainkan pingsan.
Tidak tahu sudah berapa lama Nara pingsan, yang jelas di luar langit sudah gelap, dan dirinya sudah dipindahkan ke kamar.
Kamar?
Siapa yang membawanya ke kamar? Tidak mungkin Marni menggotongnya sendirian bukan? Dan, di luar juga tidak ada tanda-tanda suaminya sudah datang.
__ADS_1
Nara seketika langsung duduk ketika memikirkan ini. Namun, ia langsung menghembuskan napas lega, ketika kemudian Bu Lastri masuk ke dalam kamarnya seraya membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air putih.
"Nara, kamu sudah sadar? Syukurlah ...." ujar Bu Lastri yang tampak senang, tadi ia benar-benar khawatir ketika menemukan Nara pingsan.
"Iya, Bu. Oh iya, Ibu mertua saya di mana?" tanya Nara yang mempertanyakan keberadaan Marni, sebab di sini terlihat sepi, seperti hanya ada dirinya dan Bu Lastri saja.
Bu Lastri berdecak sebelum menjawab, lalu kemudian raut wajahnya langsung berubah serius. "Nara, sebelumnya Ibu minta maaf ya? Tapi, mungkinkah Ibu mertuamu itu sudah gila?" Bu Lastri sejenak tertawa dengan pemikirannya sendiri, namun ia juga merasa kasihan dengan Nara.
"Ibu ini bicara apa?" sahut Nara kikuk.
"Gini ya, Nara. Kalau saja mertuamu itu waras, seharusnya ketika melihatmu pingsan, dia teriak-teriak kek, minta tolong gitu ke tetangga. Lah ini, malah ditinggal pulang, tadi dia juga membiarkanmu pingsan sendirian di kursi." Bu Lastri mendengus.
"Untung saja Ibu berinisiatif melihatmu, sebab Ibu tadi juga mendengar suara mertuamu ketika marah-marah, ya walaupun tidak jelas. Tapi, itu sungguh keterlaluan, masa orang baru melahirkan, diteriaki seperti itu. Lalu setelah suaranya sudah berhenti, dan Ibu juga khawatir denganmu, makanya Ibu cepat-cepat datang ke sini. Tapi, tadi pintu rumahmu ditutup, dan ketika Ibu ketuk-ketuk, tidak ada yang buka, jadilah Ibu masuk tanpa permisi. Eh, nggak taunya kamu sudah pingsan, jadi Ibu minta tolong orang lain untuk memindahkanmu ke kamar," jelas Bu Lastri.
Lastri yang merasa tidak tega ketika Nara sedang dimarahi mertuanya, ia hanya menahan diri untuk tidak langsung mendatangi Nara, karena bagaimanapun juga ini adalah privasi. Dan, maka dari itu Lastri baru berani mendatangi Nara ketika suasana di dalam rumah Nara sudah tenang.
"Kalau begitu terima kasih banyak, Bu. Karena Ibu dan Pak Tejo sudah membantu Nara banyak sekali, dan juga terima kasih sudah memindahkan Nara ke kamar."
"Iya, nggak apa-apa," sahut Lastri seraya tersenyum aneh, Nara bahkan sempat mengernyitkan dahi ketika melihat senyumannya Bu Lastri.
"Ada apa, Bu?" tanya Nara yang tiba-tiba merasa tidak enak.
"Hehe ... Nara, sebenarnya tadi yang pindahin kamu ke kamar bukan Ibu dan Pak Tejo," sahut Bu Lastri yang juga merasa canggung.
"Hah, lalu siapa, Bu?" Nara tentu terkejut ketika mendengar ini, jadi siapa yang sudah menggendongnya ke kamar?
"Emm ... itu-" Bu Lastri semakin bingung untuk mengatakannya. Namun, akhirnya ia tetap memberitahukannya kepada Nara. "Itu lho, penghuni kontrakan yang ada di depan. Masnya yang ganteng, dan juga masih lajang. Mas Arvin, namanya."
"Hah, apa?"
__ADS_1
Bolehkah Nara pingsan lagi sekarang? Bagaimana bisa ada laki-laki lajang yang menggendongnya. Memang sih, niatnya menolong. Tapi, tetap saja Nara jadi malu sendiri, apalagi saat ini dia dalam keadaan nifas.
Aaaa ... Tidak!!!