
Setelah mendengar cerita dari Bu Lastri, kini pandangan Arvin ke Nara sedikit berubah, sekarang ia mulai memiliki rasa empati kepada wanita tersebut.
Arvin yang hendak duduk dan menulis lagi, ia sejenak melirik ke arah keranjang baju kotor miliknya, hanya ada satu stel pakaian kotor di sana, sebab Arvin juga termasuk orang yang cukup rajin mencuci baju, karena ia tidak suka ada pakaian kotor yang menumpuk di dalam kamarnya.
Arvin seperti terpikirkan sesuatu, lalu kemudian tiba-tiba saja ia menarik sprei tidurnya, beserta sarung bantal dan gulingnya juga, lalu kemudian ia masukkannya ke dalam keranjang baju kotor miliknya.
"Eh, aku ngapain jadi memaksakan diri untuk membantunya, bukankah seharusnya aku tetap berlaku sewajarnya saja," gerundel Arvin. Yang dimaksud Arvin, kenapa ia bersikeras ingin cepat-cepat membantu Nara? Padahal dia bisa menunggu pakaian kotornya menumpuk dulu, dan tidak harus mencari sesuatu yang kotor untuk dicuci, padahal sprei itu kan baru digantinya dua hari yang lalu.
"Tapi, sudah terlanjur ikut kotor juga. Iya sudahlah, berikan saja padanya." Arvin akhirnya memilih keputusan yang tidak memusingkan kepalanya, sebab ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya.
Apalagi saat ini Arvin juga sudah menyandang status barunya yang sebagai seorang editor, di salah satu platform novel online yang baru saja berkembang di negaranya.
Masih banyak naskah dari penulis yang sedang mengajukan kontrak dan harus segera Arvin review, ia bahkan juga mendapat target, bahwa harus mereview minimal lima belas buku dalam sehari, belum juga ia harus membuat analisanya juga. Jadi, Arvin bukanlah orang yang menganggur, seperti yang dipikirkan banyak orang diluaran sana.
Karena tidak ingin mengulur waktu lagi, maka Arvin cepat-cepat memasukkan baju dan sprei kotor itu ke dalam kantong kresek, lalu kemudian ia menulis sesuatu di atas secarik kertas dan langsung memasukkannya bersama pakaian kotornya tersebut.
[Baju milik orang yang ada di depan rumahmu. Harap dikembalikan dalam keadaan bersih, wangi, dan rapi. Kalau sudah, mengembalikannya cukup digantung di handle pintu saja.]
Arvin juga memasukkan selembar uang kertas berwarna merah, ia tidak tahu akan mengeluarkan biaya berapa. Namun, Arvin yakin jika uangnya akan sisa.
__ADS_1
Setelah selesai, Arvin pun langsung pergi menuju kontrakannya Nara. Tanpa perlu mengetuk pintu, Arvin langsung menggantung kantong keresek tersebut di handle pintu rumahnya Nara.
Namun, saat Arvin hendak pergi, ia mendengar suara Nara sedang menelpon seseorang di dalam sana.
"Apa? Nanti malam, Mas lembur lagi? Mas, kenapa sih, sekarang Mas setiap hari jadi selalu lembur?" tanya Nara penasaran, sebab setiap hari Gavin selalu pulang malam dengan alasan lembur, bahkan ia juga pernah tidak pulang sama sekali, alasannya karena menginap di rumah teman, sebab saking jauhnya rumah nasabah yang harus ditagihnya, jadi ia lelah dan kemalaman kalau harus pulang ke rumah.
"Sudahlah, Mas itu lembur, cari uang, juga untuk kebutuhan kita. Seharusnya kamu itu bersyukur kalau suami lembur, berarti uang bulanan kamu, jadi Mas tambahin kan?" sahut Gavin yang sudah mulai kesal, sebab sekarang semenjak Nara sudah menjadi seorang Ibu, istrinya itu jadi semakin bawel.
"Bersyukur? Kamu bilang, uang yang hanya ditambahin dua puluh ribu saja, harus disyukuri?" batin Nara yang merasa miris.
Bukannya Nara tidak mau bersyukur dan berterima kasih, karena Gavin sudah memberikan uang bulanan lebih dari yang seharusnya. Tapi, ini hanya dua puluh ribu, sangat tidak logis untuk Gavin yang setiap hari lembur? Memangnya, Gavin hanya mendapat uang lembur tujuh ratusan perak setiap harinya?
Karena tidak ingin memancing pertengkaran, Nara hanya mengatakan, "Iya, baiklah." Sebab, mengalah adalah juga termasuk salah satu kunci sukses berumah tangga.
Sedangkan Nara yang melihat sekelebat bayangan orang di luar, ia pun buru-buru membuka pintu dan mengecek siapa yang sudah datang ke rumahnya.
Nara tersentak ketika mendengar suara pintu yang tertutup cukup keras di rumah depan. "Itu orang kenapa?" gumam Nara bingung. "Apa orang itu yang tadi datang ke sini? Tapi, untuk apa?"
Di saat sedang memikirkan hal tersebut, pandangan Nara tidak sengaja jatuh ke handle pintunya. Ada sesuatu yang tergantung di sana.
__ADS_1
"Baju?" Nara mengernyitkan dahi, lalu kemudian ia segera memeriksa bungkusan kresek tersebut.
Setelah membaca tulisan yang tertera di kertas yang berada di dalamnya, Nara tertawa di dalam hati.
"Ini orang, padahal tanpa memberitahuku, aku sendiri sudah mengerti bagaimana seharusnya hasil pekerjaanku. Dan lagi pula, selama ini pelanggan juga banyak yang sudah memuji hasil kerjaku. Memang hanya dianya saja yang tidak pernah mencuci pakaian di sini," gerundel Nara sinis.
Apa yang dikatakan Nara memang benar, bahwa semua pelanggannya kompak mengatakan, bahwa mencuci baju di laundry milik Nara, memang hasilnya sangat bersih, wangi ,dan rapi, sangat berbeda dengan laundry-laundry di tempat lainnya. Maka dari itu laundry Nara semakin hari semakin laris.
Namun, meskipun bisnisnya terbilang lancar, penghasilan Nara tetap tidak bisa terkumpul, sebab selain ia harus membeli sendiri kebutuhan anaknya, dan juga mengirimkan uang kepada keluarganya, Nara juga harus membayar sendiri biaya listrik ataupun keperluan lain dari bisnis laundry nya itu.
Sebab, Gavin benar-benar tidak mau ikut campur, ia hanya perlu memberikan uang untuk makan saja. Sedangkan untuk skincare? Nara bahkan kesulitan untuk memakai bedak, apalagi membelinya? Ia hanya fokus mengurus anaknya, rumah, dan pekerjaannya saja. Oleh sebab itu kulit Nara menjadi kusam dan tidak terawat.
Ketika memikirkan Gavin yang jadi sering lembur, dan juga melihat penampilannya sendiri yang sekarang jauh dari kata cantik. Nara jadi berpikir, bahwa inilah yang membuat Gavin jadi tidak betah di rumah.
Namun, bukankah semua ini tergantung dari laki-lakinya? Nara pun sebenarnya bisa terlihat cantik dan menarik, kalau ia selalu memegang uang, dan tidak dibuat stress oleh masalah yang selalu menghampirinya. Nara bahkan bisa lebih cantik dari seorang model, kalau saja Gavin menyuruhnya merawat diri, dan memberikan uang untuk pergi ke salon kecantikan.
"Kalau begitu, apakah ini masih kesalahanku? Jika Mas Gavin jadi malas pulang?" gumam Nara seraya mematut dirinya di depan cermin.
Sedangkan di tempat lain, hari masih siang. Namun, ada dua orang yang sudah berada di atas ranjang, seraya bergelung di dalam selimut yang sama.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya seorang wanita dengan suaranya yang manja.
"Sudah beres, pokoknya kamu tidak usah khawatir, sebab hari ini kita bisa bersenang-senang dengan sepuasnya," sahutnya yang kemudian kembali mencium bibir wanita tersebut. Lalu kemudian mereka berdua saling 'beradu' lagi, untuk menambah suasana panas, di dalam cuaca yang sebenarnya sudah sangat panas.