
Keesokan harinya.
Nara pagi-pagi sekali sudah tiba di rumah kedua orang tuanya. Jangan dibayangkan bahwa Nara akan mendapatkan sambutan hangat dari kedua orang tuanya, sebab mereka malah langsung membuang muka ketika melihat kedatangan putri sulungnya.
"Kenapa kamu malah pulang!" Siti yang sedang duduk di teras, ia tidak mau menyambut uluran tangan Nara yang ingin bersalaman dengannya, namun dia malah beranjak dan masuk ke dalam rumahnya.
Nara hanya bisa menghela napas melihat perilaku ibunya, lalu kemudian ia beralih mengulurkan tangan untuk mencium tangan bapaknya.
Parman sebenarnya juga malas. Namun, mengingat selama ini Nara sudah membantu perekonomian keluarga, maka ia mau menyambut uluran tangan itu.
"Cepatlah masuk, sebelum tetangga melihat kamu sudah pulang ke sini," ujar Parman acuh tak acuh, sebab ia juga ikut kesal dengan berita tentang anak dan mantan menantunya itu.
Nara yang menyadari bahwa orang tuanya marah karena viral nya video Gavin, hal itu tentu membuat kedua orang tuanya merasa sangat malu dengan tetangga mereka, sebab Nara memiliki suami bejat seperti Gavin.
"Baik, Pak," sahut Nara dengan kepala yang tertunduk, dengan lunglai ia berjalan masuk ke dalam rumahnya, seraya membawa tas jinjing yang berukuran besar dan berisi semua pakaiannya.
Baru saja Nara meletakkan tasnya di dalam kamarnya, namun dari dapur, sudah terdengar suara wajan dan panci yang saling beradu.
"Nara, kamu itu memang anak yang tidak berguna! Bisanya cuma bikin malu keluarga, bikin susaaahh saja!" teriak Siti seraya mencuci peralatan masak yang baru ia gunakan tadi.
"Baru saja menikah, belum ada dua tahun, tapi sudah cerai. Mana lakinya selingkuh lagi, kamu itu benar-benar cuma malu-maluin keluarga!"
Kamar Nara yang berada di paling belakang, di dekat dapur, ia tentu bisa mendengar semua omelan Siti dengan sangat jelas.
"Seharusnya kamu itu kayak Eni. Lihatlah, meski dia nikah muda, tapi dia pintar cari suami, nggak kayak kamu!"
__ADS_1
Siti malah membandingkan Nara dengan anak tetangga mereka, yang termasuk teman sekolahnya Nara dulu.
"Eni bahkan sampai bisa memberangkatkan haji kedua orang tuanya. Sedangkan kamu, kamu bisanya hanya bikin malu. Dan, untungnya saja dulu nggak ada orang yang tahu, kalau kamu waktu itu hamil di luar nikah, andaikan sampai ada yang tahu, bisa-bisa ---"
"Hah! Apa? Nara dulu hamil di luar nikah?"
Tiba-tiba saja di ambang pintu dapur, sudah ada Bu Retno yang termasuk istri dari ketua RT, mendengar berita ini.
"Jadi, jadi anakmu dulu hamil di luar nikah? Owalah ... pantesan suaminya bisa selingkuh, jadi dari dulu emang sudah bejat tow? Tapi, saya juga nggak nyangka, kalau Nara bisa terlibat dengan lelaki brengsek seperti itu," cibir Bu Retno.
"Eh, Bu Retno. Sejak kapan Anda di sini?" tanya Siti gugup, sebab ia bisa menebak, setelah ini aib Nara pasti akan tersebar, karena Retno adalah ratu gosip di kampung ini.
"Belum lama, karena aku dengar ada yang melihat Nara pulang, jadi aku ingin mengetahui kabar tentang video yang lagi viral itu," sahut Retno dengan senyuman penuh arti.
Sedangkan Nara yang mendengar itu, ia langsung keluar dari kamar, karena mau bagaimanapun juga, kebenaran pasti akan terungkap. Ibarat kata, sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga, termasuk aibnya Nara.
"Eh, Nara. Bagaimana kabarmu? Aduh, kamu makin kurusan, kalau begitu kamu lebih baik istirahat saja, pasti masih capek kan, baru pulang? Kalau begitu saya permisi dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Nara dan Siti, Retno langsung berlalu seraya tersenyum mencurigakan.
Siti yang bisa menebak, Retno segera kabur, karena ingin segera menyebarkan berita tersebut, ia berdecak. "Aduh, pasti sebentar lagi Retno akan koar-koar ke tetangga. Kamu sih, bikin masalah saja, kalau seperti ini, kamu makin nyusahin keluarga saja!" kesal Siti.
"Astaghfirullah ... Bu, segitunya ya, Ibu sama Nara, sebenarnya Nara ini siapa sih di mata Ibu? Kenapa Ibu selalu menyudutkan Nara? Tanpa melihat dulu, apa yang sebenarnya terjadi. Kalau bisa, Nara juga tidak mau, Bu. Menjalani hidup seperti ini," sahut Nara seraya meneteskan air matanya.
Padahal saat ini Nara sangat membutuhkan pelukan dan dukungan dari keluarganya. Namun, jangankan mendapatkan hal itu, justru Ibunya malah membuatnya semakin terperosok dalam kehancuran.
Selama ini Nara selalu diam saja atas perlakuan kedua orang tuanya, ia bahkan tidak pernah mengeluh atau menuntut kasih sayang mereka, yang terlihat membeda-bedakan antara dirinya dan adik-adiknya. Namun, di saat Nara sudah jatuh seperti ini, kedua orang tuanya masih menyalahkannya dan mendorongnya menjauh, dan bahkan sekarang, ibunya sendiri lah yang sudah membuka aib Nara, hingga akhirnya sampai terdengar oleh Retno.
__ADS_1
Siti berdecak. "Sudahlah, pokoknya kalau tetangga sampai mengatakan kamu yang macem-macem, lebih baik kamu pergi dari rumah ini!" usir Siti.
"Nara! Kamu sudah tahu sendiri, bahwa hidup kami sudah kesusahan, dan kamu malah menambahkan beban kepada kami, dengan masalahmu itu! Memangnya kamu ingin membuat keluarga ini semakin terperosok ke dalam hinaan?" Lanjut Siti seraya menuding kening Nara menggunakan spatula yang masih penuh busa sabun.
Nara yang mendengarkan semua kalimat menyakitkan itu, ia sejenak menghela napas panjang. "Baiklah, maafkan Nara, karena Nara sudah menjadi anak yang tidak berguna untuk kalian. Dan, jika sampai para tetangga di sini, mengatakan hal buruk tentang keluarga ini, Nara siap kok, pergi dari sini," sahut Nara seraya menahan Isak tangisnya.
"Baguslah kalau kamu mengerti. Tapi, jika kamu sudah punya pekerjaan nanti, jangan sampai lupa dengan tanggung jawabmu lho ya? Ingat, adik-adikmu itu juga tanggung jawabmu!"
Nara tersenyum getir mendengar ini. "Ibu tenang saja, dan nggak usah khawatir, karena Nara sangat tahu, bagaimana caranya berterima kasih." Setelah mengatakan itu, Nara langsung kembali ke kamar, sebab ia sudah tidak kuat lagi menahan isakan tangisnya.
Sedangkan Siti yang mendengar jawaban Nara, ia merasa lega, sebab Nara tahu maksud yang ia katakan.
Sebagai seorang anak, Nara memang pantas berterima kasih, karena Siti sudah mengandung dan merawat Nara hingga sebesar sekarang, jadi tidak ada salahnya jika Nara membayar rasa terima kasihnya, dengan terus mengirimkan uang kepadanya, dan Nara juga tidak pantas mendapatkan ucapan terima kasih, atau kasih sayang yang lebih lagi dari mereka. Itulah yang ada di pikiran Siti.
Lebih tepatnya, ini memang sudah menjadi kewajiban Nara, sebagai seorang anak pertama mereka.
Sedangkan di luar sana, sesuai dengan dugaan Siti, Retno saat ini sedang mampir ke warung penjual sayuran yang masih ramai pembeli.
"Eh, Ibu-ibu, udah tahu belum, kalau Nara sudah pulang?" tanya Retno dengan gaya khasnya sebagai ratu gosip.
"Iya sudah, saya tadi sempat melihatnya, memangnya kenapa?" sahut satu persatu ibu-ibu yang tadi juga melihat kedatangan Nara.
Lalu kemudian Retno mulai menceritakan apa yang sudah ia dengar tadi, bahkan ia juga menambahkan bumbu-bumbu gosip dengan persepsinya sendiri.
Padahal, tadi sebenarnya Nara hendak menjelaskan semuanya, agar tidak terjadi hal seperti ini. Namun, Retno sendirilah yang menolaknya. Jadilah sekarang, bukan hanya Gavin saja yang dicap buruk, namun Nara juga. Kini Nara juga dicap sebagai wanita yang tidak baik, bahkan ibu-ibu juga sudah siap menyematkan sebutan 'janda gatal', jika sampai Nara masih tinggal di desa ini.
__ADS_1
Sebab, Nara masih muda, dan masih terlihat cantik, meski dia tidak semenyegarkan dulu. Jadi, para Ibu-ibu mulai merasa resah, jika status Nara yang sekarang, bisa membuat suami mereka, jadi kepincut dengan janda baru, yaitu Nara.