
Setelah pulang dari taman, Nara masih kepikiran dengan cerita dari Rendi. Ia merasa kasihan dengan nasib Diana saat ini.
Karena tidak terlalu fokus, Nara akhirnya salah memasukkan pakaian, lebih tepatnya ada sehelai pakaian dalam milik Arvin yang berwarna putih, ikut masuk ke dalam mesin cuci, bercampur dengan semua pakaian dan celana jeans yang berwarna hitam.
Nara masih belum menyadarinya di saat mesin cuci itu sudah berputar, hingga waktunya semua pakaian itu dipindahkan ke mesin pengering, Nara masih tidak menyadari hal itu.
Ya Allah, ... pasti waktu itu Diana bener-bener terguncang ketika mendengar kenyataan bahwa dia adalah keponakannya Kevin.
Di saat tengah asyik memikirkan Diana, mesin pengering sudah selesai beroperasi. Namun, Nara tidak sadar kalau mesin cucinya sudah berhenti.
Bunga yang sedang mengambil minuman di dapur, ia mengerutkan keningnya ketika melihat Nara tampak melamun.
"Hei, Nara! Kamu itu ngelamunin apa sih?" tanya Bunga seraya memukul bahu Nara cukup keras. Lalu kemudian ia tertawa kencang di saat Nara langsung memelototinya.
"Kamu itu sukanya ngagetin orang saja," gerutu Nara.
"Salah sendiri bukannya kerja malah melamun. Eh, jangan-jangan kamu masih mikirin mantan pacarmu yang brengsek itu kan?" tuduh Bunga galak.
"Yee ... enggak lah, aku itu udah move on!"
"Halah, nggak percaya."
"Tck, dibilangin nggak percaya. Dengar ya Bunga ku sayang. Aku memang sudah move on, dan ini semua berkat dari setiap hari aku baca novel-novel online itu," sahut Nara jujur.
Awalnya Nara hanya merasa terhibur ketika sedang membaca novel-novel tersebut, lalu tanpa ia sadari, pelan-pelan ia bisa melupakan Kevin, bahkan juga semua rasa sakit yang ia terima selama ini. Dan, Nara akhirnya mengerti, bagaimana caranya ia bisa berdamai dengan hatinya sendiri, hingga ia bisa melupakan dan melepaskan segala kebencian dari orang-orang yang sudah menyakitinya itu.
__ADS_1
"Bunga, ternyata aku baru sadar bahwa selama ini yang kurasakan pada Kevin, hingga membuatku sulit melupakannya bukanlah karena cinta ataupun aku membencinya. Tapi, karena aku tidak bisa berdamai dengan hatiku sendiri, dan aku merasa tidak terima jika dia bisa hidup lebih bahagia ketika tanpa ada aku di sisinya."
"Benarkah? Kalau begitu sini cepat duduk! Ayo, cepat ceritakan semuanya pada kami!" Entah sejak kapan tiba-tiba saja Imel sudah duduk di meja makan, lalu kemudian Nara akhirnya meninggalkan pekerjaannya dan ikut duduk seraya menceritakan perasaannya saat ini kepada Imel dan Bunga.
Nara menyadari bahwa selama ini ia hanya belum ikhlas kalau hubungannya bersama Kevin bisa berakhir begitu saja, padahal dulu mereka memiliki angan-angan akan hidup bersama selamanya.
Namun, pada akhirnya Nara sendirilah yang mengakhiri hubungan mereka, dan selain itu semua terjadi karena masalah Diana, tapi juga karena ia mempertahankan rasa gengsinya.
Hingga akhirnya Nara kembali mendapatkan cinta yang salah, dan itu semua sebab dari karena ia belum dewasa dalam menyikapi masalah.
Padahal yang seharusnya Nara lakukan, ia hanya bersikap tenang, dan tidak perlu terburu-buru untuk menerima cintanya orang lain, sebab hatinya sendiri masih bermasalah dengan masa lalunya. Seharusnya Nara memang harus menyembuhkan lukanya dulu, baru kemudian ia menerima cinta yang lain.
Tapi, sebenarnya Nara juga tidak menyesal putus dengan Kevin, ia menyadari bahwa mereka memang sudah ditakdirkan tidak bersatu. Hanya saja, Nara menyayangkan mereka tidak bisa berpisah secara baik-baik. Termasuk dengan Gavin.
Namun, semuanya sudah terlanjur terjadi, dan waktu juga tidak bisa diulang kembali. Jadi, untuk saat ini Nara hanya bisa fokus dengan masa depannya sendiri.
Dan, Nara akhirnya juga tahu, jika melalui sebuah hobi, orang bisa merasa senang, walaupun hanya sekedar membaca. Bahkan hal itu juga sangat efektif untuk 'healing' yang terbatas biaya seperti dirinya.
"Wah, akhirnya temanku satu ini sudah bisa move on," ujar bunga seraya memeluk Nara.
"Iya, aku juga ikut senang," timpal Imel yang kemudian ikutan memeluk mereka berdua.
"Makasih ya, terutama untukmu Mel, berkat kamu hobiku membaca juga ikut kembali."
Imel mengangguk. "Oh ya, ngomong-ngomong ... Kamu nggak ingin jadi penulis novel online gitu? Soalnya dulu kan kamu pernah bikin cerpen buat Mading, dan ceritamu juga cukup bagus. Jadi, kenapa sekarang nggak nyoba jadi author aja?"
__ADS_1
Nara terhenyak ketika mendengar ini. "Iya juga ya, baiklah kapan-kapan aku mau mencobanya."
"Bagus itu, siapa tahu suatu saat nanti kamu akan jadi penulis terkenal," timpal Bunga.
Nara berdecak, lalu kemudian ia tiba-tiba teringat dengan cuciannya. "Astaga! Aku kan lagi nyuci pakaiannya orang menyebalkan itu, bisa gawat kalau besok belum selesai." Setelah mengatakan itu, Nara langsung berlari menuju mesin cucinya kembali.
Lalu dengan cepat Nara mengeluarkan beberapa pakaian dari mesin pengering. Namun, Nara terkejut ketika tangannya mengangkat sebuah ****** ***** yang tadinya berwarna putih, namun kini berubah warna menjadi tidak karuan.
"Ya Allah, .... bisa mati aku kalau dia lihat ini!" Teriak Nara dengan mimik sedih, lalu kemudian ia menunjukkan ****** ***** tersebut kepada kedua temannya.
Imel dan Bunga sontak tertawa ketika melihat itu. "Makanya kalau kerja jangan melamun. Eh, atau jangan-jangan kamu jadi ketiban sial gara-gara mikirin nasib Diana tadi," ujar Bunga seraya tertawa.
Nara hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Bodoh amat! Salah orang itu sendiri yang bersikeras menyuruhnya mencuci pakaian dalamnya, jadi kayak gini kan hasilnya. Pikir Nara.
Lalu tanpa mau repot-repot memikirkan kejadian ini, Nara langsung menjemur semua pakaian itu, sebelum kemudian ia menyetrikanya.
Keesokan harinya ....
Nara sudah memasukkan dengan rapi semua pakaian miliknya Arvin ke dalam plastik laundry, namun ia menyembunyikan ****** ***** yang kelunturan itu di antara baju yang sudah terlipat rapi.
Nara sebenarnya sudah berusaha mencoba membuat warna ****** ***** itu berubah seperti semula, tapi tetap saja tidak bisa. Alhasil daripada Nara nanti dianggap mesum karena dituduh menyimpan ****** ***** tersebut. Jadi, Nara terpaksa tetap mengembalikannya, namun dengan cara menyembunyikannya seperti itu.
"Semoga saja dia tidak menyadarinya," gumam Nara di dalam hati hingga berulang kali. Bahkan Nara terus merapalkan doa itu di sepanjang perjalanan menuju rumah Arvin.
"Apa nanti aku taruh di handle pintu saja ya," batin Nara yang sedang memikirkan bagaimana caranya ia tidak perlu menemui Arvin. Sedangkan soal uang, bodoh amat lah! Biarpun nanti Arvin tidak mau membayar, atau dia juga akan berhenti berlangganan, itu tidak masalah! Bahkan, bagi Nara itu justru lebih baik.
__ADS_1
Nara jadi tersenyum ketika memikirkan itu, namun sayangnya ... orang yang ingin dihindarinya, malah sedang duduk di teras rumah, sebab Arvin sudah menunggu kedatangannya....