
Seminggu kemudian...
Di dalam mobil, Nara tampak terlihat gugup ketika Arvin mengatakan bahwa mereka berdua hampir tiba di rumahnya.
Nara yang hanya bertemu sekali dengan kedua orang tuanya Arvin di pesta pernikahannya waktu itu, dan itupun mereka tidak bisa mengobrol lama, hal itu tentu membuat Nara masih gugup dan takut jika kedua orang tuanya Arvin tidak menyukainya.
"Jangan tegang seperti itu," ujar Arvin ketika merasakan tangan Nara terasa dingin.
Mereka berdua sudah sampai di rumah, lalu kemudian Arvin segera mengajak Nara turun dari mobil.
"Jangan takut, kedua orang tuaku nggak gigit kok." Candaan Arvin bukannya membuat Nara semakin relaks, tapi justru membuat Nara semakin tegang.
"Em ... Mas, kalau nanti misalkan orang tuamu tidak menyukaiku gimana? Kamu sih main nikahin aku aja, aku kan nggak tahu orang tuamu setuju dengan pernikahan kita apa nggak?" gerutu Nara dengan bibir yang cemberut.
"Dasar bodoh! Dari dulu kamu tetap saja bodoh. Tapi, aku suka, hahaha ...."
"Ish, aku serius!"
"Nara sayang, kamu pikir kita bisa menikah kalau kedua orang tuaku tidak setuju? Sudahlah jangan khawatir, lebih baik sekarang kita cepat masuk." Arvin menggandeng tangan Nara, lalu mereka berdua langsung berjalan masuk ke rumah.
"Assalamualaikum ...." ucap Nara dan Arvin kompak.
"Wa'alaikumsalam, eh ... anak-anak Ibu udah sampai. Kalian pasti lelah, ini kalian mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Lita seraya memeluk mereka satu persatu.
"Kita mandi dulu aja, Bu," sahut Arvin seraya merangkul pundak Nara.
"Baiklah, lalu setelah itu segera ajak Nara makan ya."
Arvin mengangguk, begitu juga dengan Nara yang langsung berpamitan naik ke atas.
Namun, waktu yang dihabiskan Nara dan Arvin tidak cukup setengah jam hanya untuk mandi, karena Arvin sangat suka mengulur waktu saat mandi bersama Nara.
__ADS_1
Hingga akhirnya dua jam kemudian mereka berdua baru turun untuk makan.
"Astaghfirullah, Arvin. Kamu keterlaluan banget sih, apa kamu nggak kasihan sama Nara, dia baru saja melakukan perjalanan jauh, dan pasti sudah lapar. Tapi, kamu malah membuatnya baru keluar kamar!" omel Lita.
Ayah Arvin berdecak. "Ibu ini kayak nggak pernah muda saja. Justru kita harus mendukung Arvin, agar kita segera memiliki cucu," timpal Ayahnya Arvin yang bermaksud bercanda.
"Nah, benar kata Ayah, aku ini sedang berjuang agar bisa cepat memberikan cucu untuk kalian." Arvin senang karena ayahnya membelanya.
"Huh, kalian ini." Ibunya Arvin menggelengkan kepala melihat kekompakan suami dan anaknya. Tidak tahukah mereka? Bahwa saat ini wajah Nara sudah memerah karena malu.
"Nara, jangan dengarkan mereka. Lebih baik kamu makan yang banyak ya, Sayang. Kamu mau ini? Atau yang ini?" Lita menawarkan berbagai macam lauk yang ada di hadapannya, Beliau juga dengan cekatan mengambilkan lauk yang diinginkan Nara.
"Nara, pokoknya di sini kamu nggak perlu sungkan, dan kalau Arvin berani macam-macam sama kamu, kasih tahu Ibu saja. Ibu pasti akan menghukumnya," ujar Lita seraya tersenyum.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak," sahut Nara seraya tersenyum, Nara bahkan menahan tangisannya karena terharu memiliki mertua sebaik kedua orang tuanya Arvin.
Setelah makan siang bersama, mereka semua lalu mengobrol di ruang keluarga. Kini Nara sudah tidak merasa canggung lagi, sebab Nara bisa merasakan bahwa dirinya diterima dengan hangat oleh keluarganya Arvin.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Nara sudah bangun, setelah menunaikan kewajibannya, ia langsung pergi ke dapur untuk membantu bibi yang sedang memasak.
"Bi, biar Nara saja yang potong sayurannya," ujar Nara meminta dengan sopan.
"Aduh, Neng Nara nggak usah, Neng Nara nggak perlu repot-repot bantuin Bibi. Lebih baik Neng Nara kembali ke kamar saja."
"Nggak apa-apa kok, Bi. Nara bosen kalau di kamar saja."
Nara yang hendak mulai memotong sayuran, tangannya menggantung ketika mendengar suara Lita.
"Aduh, Sayang. Kamu ngapain ada di sini? Biar Bibi saja yang masak, lebih baik kamu kembali ke kamar saja."
"Tapi, Bu. Nara bosen kalau hanya diam saja," sahut Nara seraya meringis. Apalagi kalau kembali ke kamar, sebab Arvin pasti tidak akan membiarkan Nara lepas dari kungkungannya. Dan mumpung saat ini Arvin masih tidur, Nara ingin melakukan aktivitas ringan, salah satunya memasak.
__ADS_1
"Owalah, kamu bosen tow. Yasudah bagaimana kalau Ibu temani kamu mengobrol, atau mungkin kamu ingin nulis. Ngomong-ngomong, Ibu lagi nungguin season duanya Rakha dan Amanda."
"Rakha dan Amanda? Ibu, jangan bilang kalau Ibu juga membaca novelku?!"
Lita mengangguk. "Ibu bahkan sudah menjadi pembaca setia sejak novel pertamamu rilis di platform SN."
"Apa?!" Nara sontak menutup mulutnya saking terkejutnya. Kini ia juga merasa malu setelah mengetahui bahwa mertuanya adalah pembaca setia novelnya.
Lalu bagaimana dengan adegan delapan belas plus yang ditulis Nara?
Aaaa ... Tidak!!! Rasanya Nara bahkan ingin menenggelamkan diri di rawa-rawa.
"Oh ya, Ibu juga sudah siapkan ruangan khusus untuk kamu nulis. Ibu nggak tahu kamu suka apa nggak? Tapi, semoga saja kamu suka. Kalau begitu ayo, coba kamu lihat sekarang." Lita kemudian langsung menggandeng tangan Nara, dan kemudian mereka berdua berjalan ke salah satu ruangan yang berada di lantai satu.
Aroma lilin terapi yang menenangkan langsung tercium saat Lita membuka pintu ruangan tersebut. Ruangan yang cukup besar dan bersih itu, sudah terisi dengan segala macam barang keperluan Nara untuk menulis, bahkan di sana juga tersedia kulkas.
Sepertinya ibu mertuanya Nara bukan hanya menyiapkan tempat yang nyaman untuk menulis, namun ia juga menyiapkan segala keperluan Nara agar bisa menulis dengan nyaman, termasuk dengan menyiapkan segala jenis camilan.
"Ini, Ibu juga sudah siapkan beberapa camilan, buah-buahan, dan minuman. Ibu nggak tahu kamu suka apa tidak, tapi Ibu sudah tanya ke anak-anak sebaya kamu kok, mana biasanya camilan yang kalian suka. Jadi--" Lita tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba saja Nara menghambur memeluknya.
"Terima kasih, terima kasih banyak, Bu. Nara sangat suka," ujar Nara seraya menangis, ia begitu terharu dengan perhatian ibu mertuanya ini.
Sebuah perhatian yang tidak pernah Nara dapatkan, baik dari sosok ibunya sendiri, ataupun dari mantan mertuanya dulu. Pokoknya Nara saat ini benar-benar merasa bersyukur dan sangat bahagia.
Lita menepuk pelan punggung Nara, ia sudah mengetahui bagaimana perlakuan keluarganya Nara padanya, jadi tidak salah bukan, jika Lita ingin menggantikan kasih sayang yang tidak pernah Nara dapatkan dari keluarganya sendiri.
"Nara sayang, jangan pernah anggap Ibu ini sebagai mertuamu, tapi anggaplah Ibu ini sebagai Ibu kandungmu sendiri ya, begitu juga dengan Ayah. Karena kami juga tidak menganggapmu sebagai menantu. Tapi, sudah seperti putri kandung kami juga. Dan Nara, di sini bukan hanya Arvin yang mencintai dan menyayangimu, tapi kami juga, semua orang yang ada di sini, dan keluarga besar kami juga sangat mencintai dan menyayangimu. Jadi, hiduplah dengan bahagia bersama kami, ya," ujar Lita tulus.
Sedangkan Nara yang mendengar perkataan Lita, ia jadi semakin menangis keras. Nara benar-benar bahagia mendapatkan keluarga baru seperti mereka.
Di saat momen haru tersebut, tiba-tiba saja ada orang membuka pintu dengan keras.
__ADS_1
"Ibu! Apa yang sudah Ibu lakukan pada istriku?!" tanya Arvin yang terlihat panik, sebab Arvin telah mendengar suara tangisan Nara dari luar.