
Keesokan harinya, Nara, Imel, Rio, dan Arvin tengah menikmati sarapan di resto hotel tempat mereka menginap.
"Setelah ini kalian mau ke mana?" tanya Rio setelah menelan makanan di mulutnya.
"Bioskop XXY. Yank, kamu ikutlah ...." rengek Imel yang meminta Rio agar mau ikut dengan mereka.
"Oke. Kamu juga ikut kan, Bos?" sahut Rio yang kemudian langsung bertanya kepada Arvin.
Arvin mengangguk, namun ekspresinya seperti tidak berminat ikut dengan mereka.
"Rio, kalau dia tidak mau jangan ditawari, daripada nantinya malah bikin susah," sarkas Nara yang masih kesal dengan Arvin, sebab semalam bukannya berhenti, akan tetapi Arvin malah justru membrondongi Nara dengan puluhan pesan, yang intinya mengolok-olok Nara sebagai janda kurang kasih sayang.
Emangnya dikira dirinya itu wanita apaan? Pikir Nara yang kembali kesal ketika mengingat semua isi pesan Arvin yang dibacanya tadi pagi ,dan untungnya saja semalam Nara langsung tidur, jika saja Nara membacanya semalam, Nara pasti akan langsung bikin perhitungan dengan Arvin, di malam itu juga.
"Apa maksudmu?" sahut Arvin yang menatap Nara dengan penuh permusuhan, Arvin pun juga sedang kesal sebab semalam Nara tidak membalas pesannya sama sekali, padahal Nara sedang online.
Nara mengendikkan bahunya, lalu kemudian ia malah melanjutkan menikmati sarapannya.
Sedangkan di kursi samping, Imel menyenggol kaki Rio yang sedang duduk di hadapannya, seraya memberi kode, bahwa sahabat mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Sepertinya si Bos kebanyakan makan 'cuka' nih," seloroh Rio seraya tertawa.
Sedangkan yang dikatai tidak terima, Arvin sontak melirik Rio dengan tatapan sinis. Sebab Arvin sangat mengerti makna cuka yang dikatakan Rio, yaitu yang berarti sedang cemburu.
"Sudahlah Yank, jangan ganggu mereka. Nanti kalau terjadi apa-apa, yang nyesel kan bukan kita," timpal Imel yang jadi ikutan menyinggung masalah hubungan Arvin dan Nara. Sebab Imel sendiri sudah gemas dengan Arvin yang tidak segera menyatakan cintanya kepada sahabatnya itu.
Padahal kalau sampai Arvin didahului orang lain, bukankah yang rugi Arvin sendiri? Oleh sebab itu Imel jadi ikutan menyindir Arvin.
Di tengah suasana yang mulai memanas, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang memanggil Nara.
__ADS_1
"Nara, apakah kamu sudah siap?"
Nara sontak menoleh, lalu kemudian ia segera berdiri. "Eh, Mas Wahyu. Sudah kok, tapi kenapa Mas Wahyu bisa ada di sini?" tanya Nara seraya tersenyum manis, namun itu di mata Arvin. Padahal senyuman Nara sama saja seperti biasanya.
"Huh, lihat dia. Tebar pesona seperti itu bukankah dia memang seorang janda yang kurang kasih sayang? Tapi, dikatain seperti itu marah," batin Arvin seraya menggoyangkan bajunya seperti orang kepanasan.
Sedangkan Rio dan Imel sontak menahan tawa ketika melihat kejadian itu. Salah sendiri lebih mengutamakan gengsi, pikir mereka berdua kompak.
"Iya, tadi kebetulan lewat sini. Kerena kamu bilang belum berangkat, jadi aku sekalian mampir. Kalau begitu ayo, kita berangkat sekarang."
Nara mengangguk. "Eh, tapi ... ada dua teman ku lagi yang ingin ikut," sahut Nara seraya menunjuk keberadaan Rio dan Arvin.
"Oh, nggak apa-apa. Makin ramai, makin seru kan?"
Mendengar perkataan Wahyu, Arvin sontak melengos. Arvin mengira bahwa Wahyu sedang pura-pura baik di hadapan Nara, untuk mengambil hati Nara. Padahal kenyataannya Wahyu memanglah orang yang baik.
Di dalam mobil, hanya Wahyu dan Nara yang terus bersuara, mereka berdua sedang membahas kota-kota mana saja yang akan mereka kunjungi setelah ini. Sedangkan di kursi belakang, lagi-lagi Arvin hanya bisa menahan rasa cemburunya.
Sampai kemudian, Imel tidak sengaja membaca berita online tentang Gavin dan Kevin.
"Nara, mantan pacarmu dan mantan suamimu berkelahi di depan Pasar Wage. Gila! Mereka berdua sampai bonyok seperti itu," ujar Imel seraya menunjukkan ponselnya kepada Nara.
"Astaghfirullah, kenapa Gavin memberi pernyataan seperti ini? Memangnya siapa yang mau rujuk dengan dia?" gumam Nara ketika membaca artikel bahwa Gavin dan Nara akan rujuk, dan karena pernyataan Gavin itulah yang membuat Kevin tidak terima dan akhirnya mereka berdua berkelahi.
Jangankan meminta rujuk, mereka berdua saja tidak pernah berkomunikasi. Lebih tepatnya Nara memang terus mengabaikan pesan dan telepon dari Gavin, termasuk Kevin.
"Gila! Mantan suamimu benar-benar sudah gila," komentar Rio yang tidak habis pikir dengan keberanian Gavin yang sudah membohongi publik.
"Lalu ini bagaimana? Sedangkan aku sudah terlanjur membuat jadwal dengan awak media untuk melakukan konferensi pers masalahmu ini sesuai dengan keinginanmu. Jadi, apakah aku harus memajukan jadwalnya?"
__ADS_1
"Tidak perlu!" Bukan Nara yang menjawab, namun Arvin langsung menjawab dengan cepat.
"Kalau kamu melakukan pengajuan jadwal, percuma. Sebab, paling cepat juga besok lusa." Lanjut Arvin dengan gaya tengilnya. "Biar aku yang mengurus ini, sekarang kalian cukup fokus saja dengan acara pagi ini."
Nara yang masih terkejut dengan kehebohan berita yang diciptakan Gavin, kini ia semakin terkejut dengan perkataan Arvin. Memangnya Arvin bisa melakukan apa? Pikir Nara yang bingung dengan perkataan Arvin. Karena Arvin hanyalah seorang editor novel online, dan tidak berhubungan sama sekali dengan dunia pertelevisian.
"Perkataanmu memang benar sih, tapi memangnya kamu bisa membuat acara konferensi pers dadakan?" Sebab jika bukan orang yang berpengaruh, terkadang beberapa pihak stasiun televisi akan menomor duakan permintaan tersebut. Itulah yang pernah dialami Wahyu, apalagi untuk orang biasa seperti Arvin.
Dan sekarang, posisi Nara sudah semakin terpojok, maka ia harus mengadakan konferensi pers secepatnya untuk mengklarifikasi berita palsu tersebut.
Perkataan Wahyu tentu menjadi wakil dari ketiga orang lainnya, sedangkan Arvin sendiri memilih tidak menjawab, ia malah asyik dengan ponselnya sendiri.
"Tck, itu orang bisanya memang cuma bikin kesal saja," batin Nara yang semakin merasa kesal dengan tingkah Arvin. Sebab Arvin seperti tidak serius sama sekali, padahal suasana hati Nara saat ini sudah sangat kacau.
Memangnya siapa yang tidak kacau mendapat berita seperti ini, karena Nara sendiri sudah sangat muak dengan mantan suaminya itu.
Imel yang melihat suasana di dalam mobil yang sudah mulai tidak kondusif, ia segera membacakan komentar-komentar netizen untuk mengalihkan suasana tersebut.
"Wuih, sahabatku satu ini memang beda. Coba lihat deh, Yank. Pesona janda memang tidak bisa diragukan lagi. Lihat, banyak banget cowok yang langsung menyerang Gavin dan mengatakan ia sudah gila." Lalu kemudian Imel mulai membacakan satu persatu komentar para fans cowok yang mengharapkan Nara sebagai istrinya.
"Nara, akun yang bernama @rendy13 ini ganteng juga, wuih badannya juga bikin mleyot. Mending kamu terima saja lamarannya dia. Lumayan dapat perjaka. Kamu lihat saja, Bunga saja juga setuju," ujar Imel seraya tertawa. Sedangkan Wahyu dan Rio juga ikut tertawa dengan perkataan Imel.
Perkataan Imel bukannya memperbaiki suasana, akan tetapi semakin menambah bara api cemburu Arvin.
Arvin yang sedang sibuk mengirim pesan, ia sontak langsung berhenti mengetik.
"Kurang ajar! Otak kedua sahabatnya Nara ini memang tidak ada yang waras. Bisa-bisanya mereka selalu menjodohkan Nara dengan lelaki tidak jelas seperti itu," batin Arvin kesal. Bahkan Bunga yang jauh dari mereka, juga ikut mendapat makian dari Arvin.
*Semoga saja tidak tersedak ya, Bungaš¤
__ADS_1