TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
34. Talak


__ADS_3

Waktu sebelum kedatangannya Nara.


Suara ******* saling bersahutan memenuhi kamarnya Nara dan Gavin. Namun kedua orang yang berada di atas ranjang, bukanlah pasangan sah suami istri tersebut.


Wanita berwajah biasa, namun memiliki bentuk tubuh seksi yang berada di bawah kungkungan tubuh Gavin, bukanlah Nara, istrinya. Tapi, dia adalah Indah, pacar gelapnya Gavin.


Mereka berdua terlalu asyik menikmati hangatnya malam itu, di dalam suhu udara yang mulai dingin.


Sedangkan di luar sana, Pak Tejo yang baru membuka dan melihat pesan video dari Arvin, ia langsung membagikan video tersebut ke dalam grup chat laki-laki yang berada di daerah tersebut. Lalu dengan kompak, mereka semua secara diam-diam mulai mendatangi halaman rumahnya Gavin.


Karena Pak Tejo masih memiliki kunci cadangan rumah kontrakan miliknya tersebut, ia bisa membuka pintu tersebut dengan hati-hati, jadi para warga tidak perlu mendobrak pintu rumah tersebut.


Lalu tanpa mengulur waktu lagi, seseorang warga langsung menendang pintu kamar yang hanya tertutup rapat saja. Akan tetapi, hal itu sontak membuat kedua orang yang berada di dalam kamar tersebut, terkejut bukan main.


"Astaga!!!" teriak Gavin dan Indah kompak. Gavin langsung beranjak duduk di sampingnya Indah, dan kemudian ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.


Sedangkan Pak Tejo yang berada di samping laki-laki yang menendang pintu tadi, ia segera berteriak, "Hei, apa yang sedang kalian berdua lakukan! Dasar manusia biadab, bisa-bisanya kalian berbuat zina di sini!"


Sedangkan Bu Lastri yang juga ikut masuk, ia langsung mengambil dua setel pakaian yang teronggok di samping pintu. Lebih tepatnya menahannya di lantai dengan menggunakan gagang sapu. "Lebih baik kalian berdua terus seperti itu sampai Nara datang, biar dia tahu kebejatan kalian berdua!" Bu Lastri tidak membiarkan mereka berpakaian terlebih dahulu, biarkan saja mereka merasa malu atas perbuatan mereka sendiri.


Para warga yang berada di belakang pun juga ikut memaki perbuatan Gavin dan Indah, sedangkan di luar juga ada beberapa pemuda, salah satunya Arvin, mereka hanya bisa menunggu di luar, karena rumah kontrakan ini tidak cukup untuk menampung masuk semua orang yang ada di sini.


Lalu tidak lama kemudian, Nara dan Imel datang, suasana di dalam makin ribut. Namun, Arvin tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


Selang beberapa menit kemudian, Arvin juga melihat, Ibu dan adiknya Gavin datang, sepertinya Pak RT meminta kedua belah pihak keluarga untuk datang. Sedangkan untuk keluarganya Nara, jangan ditanyakan lagi, sebab mereka tentu tidak akan mau datang.


Beberapa orang yang tidak berkepentingan disuruh keluar, mereka hanya boleh menyaksikan sidang dari luar.

__ADS_1


"Mas, kira-kira hukuman apa yang akan diberikan untuk orang yang berzina di desa sini?" tanya Arvin kepada pemuda yang duduk di sebelahnya, sebab ia tidak bisa mendengar suara yang ada di dalam ruangan.


"Biasanya sih diarak keliling kampung, biar pelakunya jera, lalu kemudian diusir."


Arvin hanya manggut-manggut, lalu kemudian ia sedikit bergeser ke samping, agar bisa melihat situasi di dalam.


"Saya selaku ketua RT di sini, sudah memutuskan bahwa, kalian boleh tetap tinggal di sini. Tapi, Mas Gavin dan Mbak nya ini harus menikah. Lalu, apakah Mbak Nara bersedia untuk menerima Mbak nya ini? Kalau misalkan tidak mau, ya sudah, maka Mas Gavin harus meninggalkan desa ini, karena kami warga di sini, tidak ingin tinggal bersama orang yang suka berbuat zina."


Sebab, tidak ada yang bisa menjamin, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, jika sang pelaku masih tetap tinggal di desa mereka. Lalu, misalkan ini terjadi lagi, bukankah nama desa ini akan tercemar oleh perbuatan orang yang tidak bermoral seperti Gavin? Dan, untuk itu para warga desa ini, membuat aturan seperti itu, yaitu untuk menghindari hal-hal yang lebih buruk lagi di masa depan.


"Saya tidak mau," sahut Nara lirih. "Saya tidak bersedia untuk dimadu!" Lanjutnya tegas.


"Nara!" Gavin yang tidak menyangka, bahwa Nara akan menolak untuk dimadu, tanpa sadar ia merasa marah.


Bisa-bisanya istrinya itu sok-sokan menolak, padahal tanpa dirinya, Nara tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya disayangi, sebab keluarganya Nara telah memperlakukan Nara lebih buruk darinya. Ingat, Nara itu sudah seperti putri yang tidak diinginkan keluarganya.


Mendengar jawaban Nara, Gavin bukannya menyesal, namun ia semakin marah, karena Nara, bisa-bisanya mengatakan dengan gamblang, bahwa dia tidak pernah mencintainya.


Sedangkan Marni yang tidak terima, karena Nara sudah mempermalukan anaknya, ia segera menjambak rambut Nara.


"Dasar wanita sialan! Bisa-bisanya kamu mengatakan seperti itu? Jika saja kamu dulu tidak menggoda anakku. Kamu pikir, Gavin mau sama kamu?!" teriak Marni seraya menjambak rambut Nara dengan kuat.


Imel dan Bu Lastri yang berada di samping Nara, mereka berdua sontak membantu melepaskan rambutnya Nara dari tangannya Marni. Sedangkan beberapa orang yang ada di belakang Marni, mereka juga membantu menarik tubuh Marni mundur.


"Hei lepaskan!" teriak beberapa orang kompak.


"Hei, sudah-sudah berhenti! Jangan melakukan kekerasan di sini!" teriak Pak RT. "Jika Ibu semakin menambah masalah, saya akan memanggil polisi untuk menertibkan masalah ini." Lanjut Pak RT serius.

__ADS_1


Marni yang takut, ia langsung melepaskan rambut Nara seraya mendengus.


"Dasar orang tua gila! Nara, pokoknya kamu harus cerai dari dia!" Imel yang tidak terima melihat Nara disakiti, ia tidak bisa menjaga mulutnya untuk tetap bersikap sopan kepada Ibunya Gavin.


"Eh ... mulutmu itu lho, berani ya sama orang tua!" Marni yang dikatai gila, ia tentu merasa kesal dengan bocah ingusan yang ada di hadapannya ini.


"Sudah-sudah, kamu tenang saja, aku juga sudah membuat keputusan," bisik Nara yang mencoba menenangkan temannya ini. Lalu kemudian, Nara beralih menatap Gavin.


"Mas Gavin, aku ingin minta cerai," ujar Nara tanpa ragu sedikit pun.


Sedangkan Gavin yang otaknya sudah terasa panas, ia juga sudah tidak bisa berpikir dengan tenang. "Cerai ya cerai. Tapi, awas saja kalau ke depannya kamu merasa menyesal, sebab aku tidak akan mau menerimamu lagi!"


Nara tersenyum sinis. "Kamu tenang saja, karena hal itu tidak akan pernah terjadi," sahut Nara yakin.


"Baiklah, kalau begitu ... Anarawati, aku talak kamu dengan talak tiga, dan mulai sekarang, kita bukan suami istri lagi."


Langit bergemuruh, petir pun menyambar, seolah-olah semesta pun ikut bersaksi melihat perpisahan pasangan suami istri ini.


"Baik, karena jalan ini yang sudah diambil, maka Mas Gavin dan Mbak nya ini tinggal menjalani hukuman yang sudah ditetapkan oleh warga desa ini. Kalau begitu mari, silakan ikut kami keluar."


"Lho, tapi Pak, ini kan sudah mau hujan, kan kasihan anak saya kalau sampai kehujanan," ujar Marni yang merasa khawatir.


Sedangkan di luar, tetesan air hujan mulai berjatuhan.


"Karena sudah mulai gerimis, semua warga yang ikut mengarak, dipersilahkan membawa payung atau jas hujan. Sedangkan untuk pelaku tidak, karena ini sudah menjadi risiko kalian!" tegas Pak RT.


Jadi, meski cuaca sedang tidak bagus sekalipun, hukuman akan tetap berjalan, dan para warga pun juga masih banyak yang ikut mengarak Gavin dan Indah keliling desa.

__ADS_1


__ADS_2