TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
45. Sabar ... Sabar ... Sabar....


__ADS_3

Nara memarkirkan motornya tepat di depan rumahnya Arvin, lalu dengan ragu ia berjalan menghampiri Arvin.


"Aduh, gimana ini? Halah, nanti aku langsung kabur saja," batin Nara yang berniat langsung pergi setelah menyerahkan pakaian miliknya Arvin yang sudah bersih.


Nara benar-benar sudah tidak memikirkan uangnya, yang penting ia bisa kabur, kabur, dan kabur.


"Mas, ini cuciannya." Menyodorkan bungkusan plastik tersebut. Namun, Arvin tidak segera menerimanya, ia malah memperhatikan Nara yang tampak gugup, hingga membuat Arvin jadi merasa curiga.


"Mas, ...." Menggoyangkan bungkusan tersebut, lalu akhirnya Arvin mau menerimanya.


"Kalau begitu saya permisi." Nara langsung berbalik dan hendak melangkah. Namun, Arvin langsung mencegahnya.


"Hei, tunggu dulu! Memangnya kamu nggak mau uang?" Arvin sejenak melihat nota yang tertempel dalam bungkusan plastik tersebut. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan harga yang dipatok Nara untuk selembar pakaian dalam miliknya. Namun, sepertinya ada yang kurang dari jumlah pakaian dalam tersebut.


"Hei, bukannya jumlah celana dalamku ada delapan ya? Ini kenapa cuma ada tujuh?" Melihat wajah Nara yang semakin panik, Arvin menyembunyikan senyumnya. Sebenarnya ia tidak masalah jika Nara sampai menghilangkannya, atau malah menyimpannya. Namun, Arvin hanya ingin menggoda Nara saja.


"Hah, masa sih? Bukannya ada tujuh ya? Eh, berarti kalau Mas nya tahu jumlahnya ada delapan, berarti waktu itu Mas nya memang udah sengaja ya?" Nara yang awalnya merasa panik, ia jadi merasa kesal karena Arvin memang sengaja menyuruhnya mencuci pakaian dalamnya.


"Eh, emm--" Arvin yang merasa ketahuan, ia segera mencari alasan. "Udah aku bilangin itu nggak sengaja, aku kan bisa tahu karena menghitung sisanya yang ada yang ada di rumah," lanjutnya.


Nara yang awalnya merasa marah, ia jadi gugup lagi ketika mendengar jawaban bohongnya Arvin.


"Sial! Hampir saja ketahuan," batin Arvin yang kembali ingin tersenyum ketika melihat Nara tampak takut lagi.


"I-itu ...." Nara bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada Arvin bahwa pakaian dalamnya itu kelunturan.


"Kenapa, kamu menghilangkannya ya?" tuduh Arvin dengan memasang wajah masam.


"Bu-bukan, Mas. Tapi, maaf itu tidak sengaja kelunturan, dan barangnya juga ada di dalam kok."

__ADS_1


"Apa?" Arvin yang terkejut, ia langsung merobek plastik laundry tersebut. Setelah mencoba mencarinya, ia akhirnya melihat ****** ***** favoritnya berubah warna menjadi tidak karuan.


"Astaga! Kamu apakan celana dalamku?" Setengah mati Arvin menahan tawanya, namun ia juga harus memperlihatkan ekspresi kesalnya.


"Maaf, Mas. Aku nggak sengaja nyuci barang itu bersamaan dengan celana dan pakaian berwarna hitam. Dan, kemarin memang ada satu celana jeans hitam yang masih baru, jadi barang itu kelunturan deh," jelas Nara yang merasa tidak enak.


"Huh, dasar ceroboh! Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus ganti ini," ujar Arvin pura-pura marah.


"Baik-baik, aku akan menggantinya," sahut Nara pasrah. "Berapa? Sepuluh ribu, atau dua puluh ribu?"


"Apa? Kamu kira harga barang ini cuma segitu ya? Penghinaan sekali! Mana ini masih baru, dan belum pernah aku pakai sama sekali."


"Lha, memangnya harganya berapa?"


"Ini satu harganya lima ratus ribu."


"Ye ... lihat dulu nih merek nya, ini yang Ori ya, bukan yang KW. terus coba kamu cek harganya di Google."


Nara sebenarnya masih tidak percaya, ia menganggap bahwa Arvin hanya sedang bercanda saja. Namun, ketika melihat wajah Arvin yang sangat serius, Nara buru-buru melihat merek pakaian dalam tersebut dengan seksama.


"Astaga!!!" Nara terkejut ketika sudah mengecek harga pakaian dalam tersebut, dan ternyata memang benar satu pcs pakaian dalam itu dibandrol dengan harga yang disebutkan Arvin tadi.


Sedangkan untuk masalah ORI atau KW, Nara tentu percaya dengan Arvin, karena bahan kain tersebut kualitasnya memang sangat berbeda dari bahan kain pakaian dalam pria yang pernah dijual di Moreta Fashion dulu.


"Baiklah, aku akan menggantinya," ujar Nara yang sebenarnya merasa keberatan, sebab mengumpulkan uang lima ratus ribu tidaklah mudah, dan Nara harus mengeluarkan uang tersebut hanya untuk ganti rugi pakaian dalam yang kelunturan saja.


"Makanya lain kali kalau kerja yang ikhlas dong, meski ini cuma ****** *****, tapi tetap saja dari mencuci barang ini kamu tetap bisa menghasilkan uang," ujar Arvin sinis.


Sedangkan Nara hanya mengangguk saja, lalu kemudian ia langsung membuka dompetnya.

__ADS_1


Nara bolak-balik menghitung uang yang berada di dalam dompetnya, namun sayangnya uangnya tetap tidak cukup.


"Hehe ... Mas, sisanya besok ya?" ujar Nara seraya menyodorkan beberapa pecahan uang yang jumlahnya hanya empat ratus ribu, dan Arvin tentu saja langsung menepisnya.


"Tidak mau, aku maunya sekarang!"


"Baiklah kalau begitu begitu aku ambil uangnya dulu di rumah."


"Tidak mau, kelamaan! Tck, gini aja deh. Mulai sekarang kamu harus mencuci celana dalamku, dan itu gratis. Jadi, hitung-hitung sebagai biaya ganti rugi ini, bagaimana?"


"Emmm, bagaimana kalau aku pinjamkan dulu ke Bu Lastri, jadi sama aj--" Nara yang ingin menolak ide itu, namun Arvin sudah memotong perkataannya sebelum ia selesai berbicara.


"Tidak! Kamu yang berbuat kesalahan, tapi masih ingin ngrepotin orang. Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus setuju, jika tidak motormu itu aku ambil."


"Hah, apa? Jangan gitu dong!" Nara sontak melirik motor bututnya, sebuah motor bekas yang ia beli cuma dengan harga satu juta. Meskipun motor itu jelek, tapi itu hasil dari jerih payah Nara sendiri, apalagi motor itu juga berguna untuk mengantarkan laundry an seperti ini.


"Iya sudah, kalau begitu kamu harus mencuci celana dalamku secara gratis, lagi pula aku juga tidak menyuruhmu mencucinya setiap hari. Jadi, jangan lebay!"


"Apa?" Emosi Nara tiba-tiba saja melonjak, lagi-lagi ia dibilang lebay. Bahkan Nara juga harus mencuci pakaian dalam Arvin secara gratis, memangnya dirinya ini istrinya apa?


Namun, Nara yang juga menyadari ini semua sebab kecerobohannya sendiri, maka Nara hanya bisa menjawab, "Baiklah, tapi paling lama dua bulan ya?"


"Nggak! Satu tahun, titik. Dan, nggak ada koma." Arvin menggelengkan telunjuknya saat Nara hendak protes.


Nara hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal. Lalu kemudian ia langsung pamit pergi.


Sedangkan Arvin yang berada di balik punggung Nara, ia sedang tersenyum senang.


"Baiklah, menghadapi manusia paling menyebalkan di dunia ini, aku hanya bisa bersabar. Sabar ... sabar ... sabar, dan terus bersabar. Nara, kamu pasti bisa," gumam Nara untuk menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2