TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
37. Diusir!


__ADS_3

Nara yang sedang berada di dapur, tersentak ketika melihat Siti yang baru saja datang, tiba-tiba saja membanting belanjaan ke lantai, yaitu sayuran yang baru saja ia beli dari warung sebelah.


"Nara, ini semua gara-gara kamu! Sekarang semua orang lagi ngomongin keluarga kita, bahkan mereka juga mulai waspada denganmu. Mereka mengira kamu akan menjadi janda gatel, karena kamu dulu pernah hamil di luar nikah!" raung Siti murka.


Nara yang mendengar ini, hanya bisa beristighfar di dalam hati, untung saja ia sudah menyiapkan mental untuk menghadapi masalah seperti ini.


"Sekarang Ibu nggak mau tahu. Pokoknya sekarang juga, kamu harus pergi dari rumah ini!" usir Siti.


Mendengar teriakan Siti, adik-adik Nara yang belum berangkat sekolah, mereka langsung menghampiri kedua orang itu. Namun, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membujuk Siti, sebab mereka juga merasa takut dengan Siti.


"Bu--" Naufal yang hendak bicara, namun Siti langsung memotongnya.


"Diam saja kamu, Naufal! Lebih baik kamu segera berangkat, sekolamu kan paling jauh dari sini." Siti tidak membiarkan anaknya yang lain, untuk membantu membela Nara, sebab Nara, memang semestinya harus mengerti akan kewajiban dan tanggung jawabnya sendiri.


Naufal hendak berbicara lagi, namun Nara langsung memberi kode agar Naufal diam. Naufal yang sebenarnya merasa tidak tega, ia terpaksa menuruti kemauan kakak sulungnya itu.


Lalu tidak lama kemudian, Nadia yang sudah terlihat cantik, dan hendak pergi ke kampus, ia mendatangi Siti.


"Bu, aku minta uangnya." Nadia mengulurkan sebelah tangannya untuk meminta uang kepada Siti, sedangkan Siti langsung merubah raut wajah kesalnya, dengan senyuman yang manis, seraya memberikan apa yang dipinta Nadia.


"Ini, hati-hati ya di jalan," ujar Siti lembut, sangat berbeda ketika ia sedang berbicara dengan Nara.


Setelah mendapatkan selembar uang berwarna merah, Nadia pun langsung pamit kepada Siti, tanpa perlu menyapa Nara, Nadia juga bahkan mengacuhkan Nara yang sedang dimarahi Ibunya, tanpa ingin berniat membantu Nara, seperti adik-adiknya yang lain.


Setelah kepergian Nadia, Siti kembali memandang anak-anaknya yang lain. "Kalian masih menunggu apa lagi? Ayo, cepat berangkat sekolah!" perintah Siti.

__ADS_1


Melihat anak-anaknya yang lain pergi dengan patuh, kini giliran Siti kembali membahas masalahnya Nara.


"Sesuai dengan yang sudah kamu katakan kemarin, sekarang sudah waktunya kamu pergi dari rumah, dan jangan lupakan janjimu juga." Siti tanpa malu masih mengingatkan Nara, untuk memberinya kiriman uang, padahal ia dengan tega, telah mengusir Nara.


Nara tersenyum getir. "Baik, Ibu tidak perlu khawatir, karena Nara akan pergi sekarang juga." Setelah mengatakan itu, Nara langsung pergi dan masuk ke dalam kamarnya sendiri, ia langsung memasukkan baju-bajunya lagi ke dalam tas.


Meski telah diusir oleh orang tuanya sendiri, sebelum pergi, Nara tetap meminta restu. Sedangkan saat ini, Siti sudah bersedia bersalaman dengan Nara, sangat berbeda dengan di saat Nara datang kemarin. Namun, tidak ada kata 'hati-hati' dari Siti, seperti yang diucapkan Siti kepada Nadia tadi.


"Aku tidak boleh sedih, apapun yang sudah mereka lakukan kepadaku, mereka tetaplah kedua orang tuaku," batin Nara, yang sedang menguatkan dirinya sendiri, untuk tidak membenci kedua orang tuanya sendiri.


Karena pangkalan ojek berada di samping gapura desa ini, jadi Nara hanya bisa berjalan kaki hingga sampai ke gapura yang ada di ujung jalan sana. Dan, selama Nara berjalan, di situlah para tetangga langsung berbisik-bisik melihat kepergian Nara.


Semua tetangga Nara, tampak terlihat ramah dengan Nara, mereka masih mau menyapa dan tersenyum kepada Nara. Namun, dalam hati, mereka merasa senang bukan main, sebab kegelisahan di hati mereka, tidak akan pernah terjadi, karena Nara tidak akan tinggal di desa ini.


Nara yang tidak memiliki tujuan, ia hanya bisa kembali ke rumahnya Imel, dan sesuai dengan rencananya di malam itu, Nara akan mengambil mesin cuci yang masih berada di kontrakannya Bu Lastri, dan untungnya saja mesin cuci itu dulunya dibeli menggunakan uangnya Nara sendiri, jadi Nara merasa berhak mengambil mesin cuci tersebut, dan tidak perlu khawatir akan diminta Gavin.


Sedangkan untuk urusan perceraiannya dengan Gavin, Gavin sudah mendaftarkan perceraian mereka, kini mereka berdua hanya tinggal menunggu surat perceraian mereka saja, karena Gavin sudah memasrahkan urusan perceraian tersebut dan tinggal terima beresnya saja.


Belum ada komunikasi lagi di antara Gavin dengan Nara, karena mereka berdua sama-sama sedang sibuk menghadapi pasca kejadian malam yang buruk itu.


Sedangkan di tempat lain. Arvin yang sedari tadi duduk di ruang tamu, dan hanya sibuk memandang layar laptopnya, ia terkejut dan buru-buru berdiri, ketika melihat ada mobil pick up yang berhenti di depan kontrakannya Nara dulu.


"Apakah lelaki itu mau mengambil barang-barangnya?" gumam Arvin yang sedang mengintip lewat jendela kaca rumahnya.


Lalu tidak lama kemudian, Bu Lastri terlihat keluar seraya membawa kunci pintu rumah tersebut.

__ADS_1


Arvin yang masih menanti, kira-kira barang apa yang akan dibawa oleh mobil pick up tersebut, ia melongo ketika melihat mereka hanya membawa satu mesin cuci saja.


"Kenapa hanya mesin cuci saja?" batin Arvin. Karena merasa heran, Arvin tanpa sadar sampai berjalan keluar dari rumahnya, dan kemudian ia berdiri di teras, seraya melihat mobil pick up itu yang sudah mulai melaju.


"Eh, Mas Arvin, mau ke mana?" tanya Bu Lastri yang baru saja keluar dari kontrakannya Nara, ia bertanya seperti itu, karena biasanya Arvin akan keluar di saat akan pergi saja.


Arvin cengengesan. "Enggak, Bu. Lagi cari udara segar saja," kilah Arvin yang merasa malu. Namun, Arvin yang masih penasaran tentang mesin cuci itu, ia lantas bertanya kepada Bu Lastri.


"Oh iya, Bu. Itu mesin cuci tadi, mau di bawa ke mana?" tanya Arvin dengan nada acuh tak acuh, padahal ia sudah begitu sangat penasaran.


"Oh itu, Nara akan buka usaha laundry nya lagi, tapi di rumah temannya," sahut Bu Lastri. "Oh ya, saya permisi dulu, Mas Arvin. Mau berangkat pengajian dulu," pamit Bu Lastri yang terlihat terburu-buru, karena ia sudah hampir terlambat.


"Oh, silakan, Bu," sahut Arvin seraya tersenyum.


Setelah melihat kepergian Bu Lastri, Arvin langsung kembali masuk ke dalam rumahnya, lalu setelah menutup pintu rumahnya, ia langsung terpikirkan dengan perkataan Bu Lastri tadi.


"Jadi, cewek itu mau buka laundry lagi ... Tck, karena sudah terbiasa laundry di tempatnya dia, sekarang kenapa aku jadi malas cuci baju sendiri ya?" gerutu Arvin, yang saat ini merasa bingung dengan kemalasannya mencuci baju sendiri.


Lalu kemudian, jari jemarinya sibuk mengetikkan nama Nara, di mesin pencarian, di salah satu media sosial yang biasa dipakai Nara untuk promosi usaha laundry nya.


Untungnya saja Arvin masih ingat nama akun FB nya Nara, lalu kemudian ia mulai mengamati alamat yang baru saja diposting Nara, yaitu termasuk alamat tempat tinggal Nara saat ini.


Di postingan tersebut, juga terdapat foto pick up yang sedang mengantarkan mesin cuci tadi.


"Owalah, ternyata dia pindah ke desa sebelah tow ... Iya sudah, kalau begitu aku akan mengantarkan pakaian kotorku ke sana, lagi pula hasil cuciannya beneran bersih, rapi, dan wangi. Jadi, nggak masalah lah, kalau tetap dibuat langganan," gumam Arvin yang masih mengamati akun media sosialnya Nara. Tapi, saat ini ia sudah beralih mengamati foto-foto Nara yang dulu, yaitu di saat Nara masih gadis dulu.

__ADS_1


"Ternyata lumayan juga ini cewek, pantas saja Alvin suka dengannya. Eh! Aku bicara apa sih ...." Arvin langsung menggelengkan kepalanya, yang dinilai otaknya sudah mulai tidak beres, gara-gara janda baru itu.


__ADS_2