
Nara hampir pingsan lagi, ketika ia bangun tiba-tiba saja wajahnya sudah dipenuhi make up.
Bukannya tidak cantik, Nara justru semakin cantik. Namun, masalahnya apakah dia benar-benar akan menikah hari ini?
Lalu siapa pengantin prianya?
"E, eh ... Nara, kamu nggak boleh pingsan lagi. Itu penghulunya sudah datang, sekarang sudah waktunya akad nikah," ujar Bunga seraya memegangi tubuh Nara agar tidak ambruk kembali.
"Aduh ... kalian ini tega banget deh, ini namanya pemaksaan, aku nggak mau nikah," sahut Nara yang hampir menangis.
"Udah jangan lebay, tinggal nikah doang," timpal Nadia dengan nada kesal, sebab ia iri karena kakaknya mendapatkan suami yang tampan dan kaya raya.
Meskipun Nadia tidak tahu orang seperti apa calon kakak iparnya, namun melihat dekorasi pernikahan yang dipersiapkan mempelai pria dengan sangat mewah, tentu saja membuat Nadia iri.
"Bahkan pesta pernikahan ku tidak ada separuhnya dari sekarang," batin Nadia yang ingin sekali mengacak-acak dekorasi yang ada di depan matanya.
Karena semakin kesal, Nadia memilih mendekat ke arah ibunya berada, lalu kemudian ia mengutarakan protesnya.
"Bu, kanapa pesta pernikahan Kak Nara bisa semewah ini? Padahal dia hanya seorang janda."
"Hus! Hati-hati kalau bicara! Jika sampai Kakak Ipar mu mendengar, bisa habis kita nanti."
"Lho, memangnya kenapa, Bu?"
__ADS_1
"Nak Arvin sangat mencintai Nara, tentu saja ia tidak terima jika ada orang yang menyinggungnya, termasuk kita. Bahkan hari ini kita harus bersikap seperti boneka, yaitu hanya bisa tersenyum dan tanpa bicara sama sekali."
Arvin memang sengaja membuat pesta di rumah kedua orang tuanya Nara, sebelum ia mengadakan pesta di ibukota. Namun, Arvin mengeluarkan banyak syarat, agar kedua orang tuanya Nara tetap mendapatkan uang setelah Arvin dan Nara menikah, salah satunya ya ini, keluarganya Nara harus mengikuti instruksi asisten nya Arvin.
Kedua orang tuanya Nara hanya bisa tersenyum seraya menyambut kedatangan para tamu dengan wajar. Namun, mereka harus tutup mulut jika pembicaraannya menyinggung soal Nara. Karena yang Arvin tahu, kedua orang tuanya Nara hanya bisa menjelek-jelekan Nara saja. Jadi, mereka tentu harus diam.
Lalu akad nikah pun siap dimulai, dan Pak penghulu menyuruh pengantin wanita keluar.
Nara hampir tidak bisa menopang berat tubuhnya, ketika Imel dan Bunga membantunya berjalan menuju tempat akad yang sudah dipersiapkan.
Berulang kali Nara merapalkan doa, agar ia diberi kesabaran atas pernikahan yang tidak diinginkannya ini.
Namun, Nara sontak terkejut ketika melihat siapa yang akan menjadi calon suaminya.
"Ciiiee ... baru tahu ya, kalo calon suaminya Pak editor sultan," goda Bunga.
"Hei, jangan bilang kalau kalian memang sudah merencanakan ini!" bisik Nara kesal.
"Hehehe ... kita bahas saja nanti, yang penting kamu harus nikah sekarang."
Imel membantu Nara duduk, lalu setelah itu Imel dan Bunga langsung duduk di tempat mereka sendiri.
Prosesi pernikahan berjalan dengan khidmat dan lancar, namun Nara tidak bisa fokus dengan pernikahannya sendiri.
__ADS_1
Nara masih sangat syok, sebab bisa-bisanya teman-temannya itu menjebak Nara, termasuk orang yang di samping nya saat ini. Nara benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan menjadi istrinya Arvin.
"Lalu, bagaimana dengan orang tuanya Arvin? Bukankah mereka orang kaya? Terus nanti bisa-bisa aku hanya dimaki dan jadi bahan hinaan saja," batin Nara yang sangat khawatir. Bayangan drama rumah tangga di novel yang biasanya ia tulis, kini telah menghantui pikirannya sendiri.
"Huh, kalau saja nanti mereka menindasku, lebih baik aku kabur. Lagi pula, salah sendiri memaksa orang menikah seperti ini." Lanjut batin Nara seraya melirik Arvin dengan kesal.
Sedangkan Arvin yang baru saja mengucapkan ijab kabul, ia juga melihat ke arah Nara, lalu kemudian ia tersenyum senang. Sebuah senyuman yang belum pernah Nara lihat sebelumnya.
"Astaga, jantungku! Senyumannya membuat jantung tidak aman. Eh, kenapa aku jadi lebay gini. Ish, ini pasti gara-gara aku sering buat novel, aku jadi kebiasaan melebih-lebihkan seperti karakter yang kubuat sendiri." Pikir Nara.
Melihat wajah Nara yang antara kesal dan linglung, membuat Arvin gemas dan ingin segera mencium Nara. Namun, ia harus bersabar terlebih dahulu, sebab sekarang mereka harus berdoa dulu.
Setelah doa selesai dipanjatkan, kini sudah waktunya mereka bersalaman, Nara yang setengah kesal, ia meremas tangan Arvin ketika tangan mereka bersentuhan.
Sedangkan Arvin yang sudah tidak tahan lagi, ia segera mencium dahi dan bibir Nara, ketika Nara selesai mencium tangannya.
Teriakan histeris para tamu sontak memenuhi tenda pernikahan tersebut, di saat Arvin mencium bibir Nara seperti ala-ala drama Korea.
Sedangkan Nara yang sangat terkejut, ia hampir memukul kepala Arvin. Namun, ia harus menahannya sekuat tenaga, sebab bisa-bisa nanti ia dianggap sedang melakukan KDRT, padahal mereka baru saja menikah.
"Huh, sabar Nara, kamu harus sabar dulu. Setelah acara ini selesai, baru nanti kamu boleh menghajar orang di hadapanmu ini habis-habisan," batin Nara seraya tersenyum kaku, hari ini ia benar-benar menahan banyak kekesalan.
Sedangkan Arvin yang baru merasakan ciuman pertamanya, ia tentu sangat senang, apalagi ini yang sudah diidamkannya sejak lama dari Nara. Dan, Arvin tentu jadi tidak sabar lagi untuk melakukan hal yang lebih dari ini.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sekarang sedang sangat kesal padaku. Namun, kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang dalam pergulatan kita nanti malam," batin Arvin seraya tersenyum menyebalkan, tentunya hanya di mata Nara saja.