TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
7. Rencana Kevin dan Alvin


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Meski komunikasi di antara Nara dan Alvin terbilang lancar, namun Nara juga belum bisa move on dari Kevin. Bagi Nara, sosok Kevin sudah seperti hantu yang selalu menerornya setiap hari, apalagi dengan kenangan indah yang pernah mereka lewati bersama, rasanya ingin sekali Nara mengalami amnesia sekarang juga untuk melupakan hal itu semua.


[Nara, Minggu depan kamu bisa libur nggak?]


Nara sejenak berpikir, sebelum akhirnya ia membalas pesan dari Alvin yang baru saja ia baca.


[Maaf Mas, nggak bisa. Soalnya sudah ada tiga temenku yang sudah meminta izin libur di hari itu.]


[Oh ya sudah, kalau begitu lain kali saja. Tapi, kabarin aku ya kalau sudah bisa.]


[Ok Mas]


Pesan baru saja terkirim, namun tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Nara sedikit ragu untuk menjawabnya, namun ia takut jika itu ternyata adalah telepon penting, jadi akhirnya Nara pun mengangkat panggilan tersebut.


"Halo--" Belum selesai Nara menyapa orang yang berada di seberang sana, namun orang tersebut langsung menyelanya.


"Hai, Nara. Apa kabar?"


Nara sontak membelalakkan matanya, ketika ia mendengar suara laki-laki yang sangat dikenalnya. Nara hampir saja langsung mengakhiri sambungan telepon tersebut, namun suara di seberang sana mencegahnya.


"Kumohon jangan dimatikan, aku sangat merindukanmu, Nara," ujar Kevin dengan suara memelas.


Nara mendengus. "Nggak usah bicara yang aneh-aneh, cepat katakan apa maumu?" tanyanya dengan nada ketus.


"Nara, kenapa sekarang kamu berubah? Di mana Nara ku yang lemah lembut itu?" balas Kevin dengan sedikit menggoda.

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi denganmu, lebih baik aku tutup teleponnya."


"Jangan, jangan!! Iya, kali ini aku akan bicara serius. Nara, Minggu depan kita ketemuan ya? Aku ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Bicara sekarang saja," sahut Nara acuh tak acuh.


"Tidak bisa kalau lewat telepon, aku ingin bertatap muka langsung denganmu. Kumohon ...."


"Minggu depan aku tidak bisa libur." Suara Nara masih terdengar belum melunak sama sekali, namun Kevin tidak mempersalahkan hal itu.


"Kalau begitu aku samperin kamu di tempat kerjamu. Eits ... jangan menolak, aku tidak akan berbicara banyak, hanya beberapa kata saja. Jadi, aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu.


"Heemm," sahut Nara singkat, lalu kemudian ia langsung mengakhiri sambungan telepon tersebut.


Di seberang sana, Kevin senyum-senyum sendiri setelah mendengar jawaban dari Nara. Baginya tidak masalah jika Nara masih marah atau membencinya. Namun, Kevin harus tetap memperjuangkan kembali cintanya kepada Nara.


Kevin juga sudah memperingatkan Diana, untuk tidak menggangu masalah pribadinya lagi. Diana yang sudah meminta maaf, ia pun berjanji tidak akan mengganggu hubungan Kevin dengan kekasihnya lagi. Namun, isi hati orang, tidak ada manusia yang bisa mengetahuinya.


Setelah memberi pengertian kepada sepupunya itu, Kevin langsung memikirkan cara agar bagaimana ia bisa balikan lagi dengan Nara. Namun, Nara tidak pernah meresponnya sama sekali.


Kevin sudah beberapa kali mencoba menghubungi Nara, mengiriminya pesan. Namun, Nara tidak pernah membalasnya sama sekali, padahal nomor Kevin tidak diblokir oleh Nara, dan hal itu tentu saja membuat Kevin menjadi bingung sendiri.


Hingga akhirnya Kevin mempunyai ide untuk membuat Nara cemburu, yaitu dengan memposting foto-fotonya dengan beberapa teman wanita di sekolahnya dulu. Dan, Kevin berharap dengan postingannya itu, Nara mau memberi sedikit respon kepadanya.


Namun, apa yang diharapkan Kevin tidak terwujud. Jangankan memberi komentar marah-marah karena cemburu, Nara malah terlihat seperti tidak pernah melihat postingannya itu.


Sampai akhirnya, beberapa hari yang lalu Kevin melihat Nara sedang bersama seorang laki-laki. Lebih tepatnya lelaki yang dilihat Kevin itu adalah Alvin, saat itu Alvin sedang tidak sengaja lewat di depan tempat kerjanya Nara, lalu kemudian mereka berdua mengobrol sejenak.

__ADS_1


Namun, di mata Kevin, mereka berdua tampak terlihat sangat akrab, dan hal itulah yang membuat Kevin merasa cemburu, hingga akhirnya sejak hari itu, Kevin mulai bertekad untuk mendapatkan Nara kembali.


Sedangkan di tempat lain. Alvin mendesah ketika membaca ulang balasan pesan Nara, rasanya saat ini seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Arvin tanpa menoleh, sejak tadi ia masih sibuk menatap layar laptopnya, begitu juga dengan jari-jarinya yang tengah sibuk mengetik sesuatu.


"Ini, Nara nggak bisa aku ajak ketemuan Minggu depan, padahal keesokan harinya kan aku sudah pulang kampung," sahut Alvin lemah.


"Iya kalau begitu undur saja kepulanganmu itu," jawab Arvin enteng.


"Iya nggak bisa, aku sudah kangen banget sama rumah, jadi nggak bisa diundur lagi, dan lagi pula, aku juga sudah pesan tiket keretanya," jelas Alvin seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Iya kalau begitu, kamu nembaknya setelah pulang kampung saja. Gitu aja kok pusing." Merenggangkan otot kedua tangannya, akhirnya pekerjaannya selesai juga.


"Entahlah, aku merasa ada yang kurang jika aku menembaknya tidak sebelum aku pulang kampung." Alvin mempunyai rencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nara, sebelum ia pulang ke kampung halamannya. Dan, rencana ini sudah dipikirkannya sejak jauh-jauh hari. Jadi, Alvin pasti merasa ada yang kurang, jika apa yang jadi keinginannya belum terpenuhi.


"Kalau begitu, bagaimana jika aku menghampirinya di tempat kerjanya? Aku mau nembak dia di sana saja." Tiba-tiba saja Alvin kepikiran ide itu.


"Hei, jangan aneh-aneh kamu! Kalau kamu nanti ditolak, bagaimana? Apa tidak malu? Bukannya kamu pernah bilang, jika dia masih belum bisa move on dari mantannya, jadi kemungkinan kamu diterima sangat sedikit. Jadi, jangan pernah ambil risiko yang membuatmu malu sendiri!" tegas Arvin.


"Halah, ditolak pun aku nggak apa-apa kok, yang penting aku sudah mengutarakan perasaanku padanya." Alvin sudah sangat optimis untuk menjalankan rencananya.


"Iya sudah, terserah kamu kalau begitu. Tapi, yang jelas aku nggak mau anterin kamu ke sana, mau taruh di mana muka aku nanti, jika aku nganterin orang yang ditolak cintanya?" Setelah mengatakan itu, Arvin langsung bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, perutnya sudah keroncongan minta untuk diisi.


Aldi sontak tertawa mendengar perkataan temannya itu, ia tahu jika Arvin tidak berniat meledeknya atau benar-benar merasa malu, kalau sampai cintanya benar-benar ditolak oleh Nara.


Akan tetapi, Arvin hanya tidak tega saja jika dia sampai melihat Alvin benar-benar ditolak oleh Nara. Dan, yang lebih parahnya lagi, Arvin pasti tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak memaki Nara, karena Nara sudah menolak temannya. Itulah kebenaran yang dipikirkan Alvin, dan yang pasti akan benar-benar terjadi.

__ADS_1


"Terima kasih, Arvin. Karena kamu sudah mau menjadi teman baikku selama ini. Dan, kamu Nara, aku akan tetap mencoba mendapatkan kamu, sampai aku merasa tidak sanggup lagi," batin Alvin seraya tersenyum.


__ADS_2