
Tiga tahun kemudian...
Kilatan cahaya kamera tidak berhenti berkedip saat Nara dan sebagian para kru film, serta para pemain 'Istri Yang Dirindukan Surga' tengah dalam sesi pengambilan gambar setelah acara meet and greet tersebut.
Di sekitar sana masih ramai suara teriakan antusias para pengunjung yang masih setia menunggu tanda tangan para pemain, dan juga Nara yang selaku penulis novel tersebut.
Ini adalah novel ketiga Nara yang telah berhasil dijadikan film dan diterima dengan baik oleh masyarakat di hampir semua kalangan. Dan, Nara tentu tidak mudah untuk mencapai titik ini.
Setelah acara tanda tangan selesai, sebagian orang kembali ke ruang istirahat, termasuk Nara, dan beberapa lainnya lagi memilih untuk langsung pulang.
"Kenapa nangis? Kamu kelelahan ya?" seloroh Wahyu selaku produser film tersebut. Wahyu bukan hanya seorang produser biasa, namun ia adalah seorang produser termuda dan tertampan di negeri ini.
Statusnya yang masih lajang tentu semakin menambah daftar panjang wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Namun, semenjak munculnya nama Nara dan terkaitnya kerja sama diantara mereka, entah siapa yang membuat rumor dan mengatakan bahwa mereka telah bersama, dan hal itu tentu saja membuat seseorang cemburu di kejauhan sana.
Nara sontak mengusap air matanya seraya tertawa. "Nggak, Mas. Aku hanya sedang terharu saja, dan aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku bisa sampai pada titik ini."
Perjuangan Nara untuk mencapai titik ini memang tidaklah mudah, selain ia harus berjuang mencari pembaca setia. Nara juga kerap mendapatkan hujatan dan komentar-komentar buruk dari para haters nya. Bahkan ia pernah dituduh plagiat oleh beberapa penulis yang iri dengannya.
Bagaimana tidak, Setiap Nara mengikuti lomba menulis di berbagai platform, ia akan selalu menjadi salah satu pemenang, entah itu menjadi juara satu atau ketiga, nama pena Violet terus melejit karena prestasinya. Dan, hal itu tentu saja memancing rasa iri penulis lain yang tidak memiliki hati dan pikiran yang lapang.
Padahal Nara sampai sering jatuh sakit, dan bahkan sampai dirawat ke rumah sakit karena sering bergadang demi membuat novel yang terbaik untuk para pembacanya.
Namun, untungnya masalah-masalah itu tidak berlarut-larut, dan sebuah kebenaran selalu cepat datang dan berpihak padanya. Hingga akhirnya kini Nara mendapatkan julukan sebagai ratu penulis novel online.
Wahyu tersenyum. "Kalau begitu selamat ya, dan kamu juga harus menikmati hasil jerih payahmu selama ini."
Nara mengangguk. "Terima kasih, Mas."
__ADS_1
"Oh ya, apakah kamu ingin kembali ke hotel sekarang? Kebetulan aku akan melewati hotelmu, kalau kamu mau aku bisa kasih tumpangan," tawar Wahyu ramah.
Wahyu memanglah orang yang baik, sampai-sampai, Wahyu melarang Nara memanggilnya dengan sebutan Pak, ia benar-benar orang yang humble.
"Terima kasih. Tapi, apakah tidak merepotkan, Mas Wahyu?" Nara tentu tidak bisa menerima kebaikan Wahyu begitu saja, sebab gosip yang tersebar membuat Nara takut jika Wahyu akan semakin terganggu nantinya.
Wahyu tersenyum. "Maksudmu tentang gosip kita? Sudahlah jangan dipikirkan, anggap saja itung-itung kita lagi kasih kerjaan orang infotainment."
"Hah, sesantai itu? Memangnya dia tidak takut, kalau gebetannya akan kabur karena gosip ini," batin Nara merasa heran. Namun, akhirnya Nara bersedia diantar oleh Wahyu.
Saat di perjalanan, Wahyu yang penasaran dengan cerita masa lalu Nara, ia tidak bisa menahannya lagi untuk segera bertanya kepada Nara.
"Oh ya, di medsos lagi heboh ada orang yang mengaku sebagai mantan suamimu. Bahkan dia sempat ada perdebatan dengan mantan pacarmu juga. Memangnya kamu nggak ingin klarifikasi berita ini semua?"
Sebenarnya kemunculan Gavin dan Kevin sudah ada sejak novelnya Nara diangkat menjadi film untuk pertama kalinya. Namun, beritanya tidak se viral saat ini.
Berbeda dengan Kevin yang memang berpihak kepada Nara, ia selalu membela Nara dan mengatakan kebenarannya bahwa Nara telah menjadi korban perselingkuhan. Kevin tentu melakukan ini karena ia memang masih mengharapkan Nara.
Sontak hal itu membuat geger dunia maya, dan para netizen juga bisa menebak jika Kevin masih mencintai Nara. Dan, hal itulah yang membuat Wahyu tertarik untuk mendengarkan cerita yang sebenarnya.
Nara kemudian akhirnya menceritakan semuanya kepada Wahyu, dan ia berniat akan memberi klarifikasi setelah kegiatan promosi film ini sudah usai. Nara juga tidak akan ambil pusing dengan apa yang dipikirkan orang-orang tentang dirinya saat ini.
"Oh, jadi begitu ceritanya. Baiklah, kalau kamu ingin mengadakan konferensi pers untuk masalah ini, kamu tinggal katakan saja. Aku bisa bantu kamu untuk menyiapkannya."
"Hah, ini apakah tidak merepotkan?"
Wahyu menggeleng, lalu ia tersenyum dan mengangguk ketika Nara mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Sesampainya di depan hotel, Nara segera turun. Tidak lupa ia juga mengatakan terima kasih, lalu kemudian mobilnya Wahyu langsung meninggalkan Nara.
"Ciee ... diantar pulang siapa itu?" goda Imel seraya merangkul pundak Nara. Dari dulu Imel memang selalu menemani Nara pergi ke berbagai kota yang dikunjungi Nara untuk keperluan promosi film. Namun, malam ini ia tidak ikut acara meet and greet, sebab Imel sedang sakit perut.
"Mas Wahyu," sahut Nara datar. "Lha kamu kenapa keluar? Katanya sakit?"
"Hehehe .... udah sembuh dong, kan udah dijenguk Ayank."
"Ayank? Maksudmu, Rio datang ke sini?" Nara tentu terkejut, sebab bisa-bisanya Rio menyusul mereka ke ibukota.
"Iya, sama editor menyebalkan juga. Tuh, mereka ada di belakang."
Mendengar Arvin juga ikut datang, Nara sontak menoleh ke arah lobby. Di dalam sana, berdiri dua orang laki-laki yang memiliki tinggi yang sama. Namun, bedanya satunya berwajah ramah, dan satunya lagi berwajah masam.
Rio melambaikan tangan, yang langsung dibalas Nara dengan lambaian tangan dan senyuman juga. Lalu kemudian Nara dan Imel menghampiri mereka berdua.
"Wuih, sang Ratu penulis novel online sibuk banget. Sampai jam segini baru pulang, mana diantar Pak produser lagi," seloroh Rio yang selalu jadi kompor di antara Nara dan Arvin.
"Tck, apaan sih. Itu tadi dianya kebetulan lewat jalan ini, terus ditawarin. Lha namanya rezeki masa ditolak, yah itung-itung buat ngirit ongkos lah," sahut Nara yang kemudian berjalan terlebih dahulu, sebab jika dia tidak cepat-cepat pergi dari sini, si mulut lemes Rio akan membangunkan singa tidur yang berada di sampingnya.
Hubungan Nara dan Arvin memang belum sampai tahap pacaran. Namun, semua orang yang dekat dengan mereka bisa tahu jika mereka berdua memang saling ada rasa.
Namun, sikap Arvin yang cuek dan dingin, tentu membuat Nara tidak berani untuk menafsirkan hal yang sama dengan tafsiran semua orang. Sebab Arvin memang sekedar hanya suka membuatnya kesal saja. Bahkan sampai detik ini.
"Dasar janda! Gayanya aja terlihat kalem, padahal aslinya emang nggak bisa lihat yang bening dikit," cibir Arvin yang terdengar jelas di telinga Nara.
Sedangkan Nara hanya bisa menghela napas panjang. Hari ini ia sudah lelah dengan rangkaian acara untuk promosi film, jadi ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk membalas perkataan Arvin. Lebih tepatnya, ia sedang menahan diri.
__ADS_1
"Huh, baiklah. Terserah kamu mau bilang apa, kamu tunggu saja pembalasanku besok," batin Nara kesal.