TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
58. Editor Sultan


__ADS_3

"Oh ya, ngomong-ngomong untuk merayakan acara hari ini, bagaimana kalau kita ngopi dulu?" tawar Wahyu yang berada di urutan paling belakang sendiri.


Nara yang berjalan di urutan paling depan, ia sontak menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh. "Setuju, bagaimana kalau kita pergi ke cafe Bulan. Nanti biar aku yang traktir deh," sahut Nara antusias.


Hari ini Nara begitu senang karena acara premier film nya lancar, dan juga ia sudah mengeluarkan banyak beban yang sebelumnya sudah menumpuk cukup lama di hatinya. Jadi, tidak ada salahnya bukan, jika ia membagi kebahagiaan ini dengan mentraktir teman-temannya ini.


Sedangkan Wahyu sendiri, ia merasa lega, sebab tujuan utamanya adalah ingin berbicara dengan Arvin. Wahyu benar-benar dibuat penasaran dengan sosok Arvin.


Lalu tanpa mengulur waktu lagi, mereka semua pun langsung berangkat ke Cafe Bulan.


Suasana cafe cukup lenggang, karena ini masih di jam kerja, hanya ada beberapa mahasiswa, itupun mereka datang seraya membawa tugas.


Wahyu terlihat bingung harus mulai bertanya dari mana, namun untungnya saja Imel membuka pembicaraan terlebih dahulu, dan menyinggung topik yang ingin ia tanyakan.


"Eh, Vin. Para wartawan tadi, itu kamu kan yang mendatangkan mereka?"


Arvin yang memang tidak berniat mengelak, ia pun langsung mengangguk mengiyakan.


"Emmm ... Kok bisa ya, Mas? Kalau boleh tahu, Mas nya ini dapat koneksi dari siapa?" tanya Wahyu pelan.


"Bokap," sahutnya acuh tak acuh. Sedangkan Wahyu malah semakin penasaran.


"Emmm ... Kalau boleh tahu, siapa nama Ayah nya, Mas?"


"Erlangga Kusuma."


Wahyu yang sedang menyeruput minumannya, ia sontak tersedak ketika mendengar nama itu disebut.


"Uhuk!!!"


"Apa? Apakah maksudnya Pak Erlangga, Pak Erlangga Kusuma, yang memiliki perusahaan Kusuma Group itu?"


Lagi-lagi Arvin hanya mengangguk, Arvin bahkan tidak melihat kalau Wahyu hampir saja menjatuhkan sendoknya ketika melihat anggukan kepala Arvin.


"Erlangga Kusuma, memangnya siapa dia?" tanya Nara bingung, begitu juga dengan Rio dan juga Imel. Mereka bertiga yang bukan dari kalangan pebisnis, memang akan asing ketika mendengar nama itu disebut.

__ADS_1


"Be-berarti ... Anda adalah Arvin Wijaya Kusuma."


Kali ini Arvin tidak perlu mengangguk, ia hanya mengangkat sebelah alisnya. Namun, dengan tampang menyebalkan. Jika saja Arvin mau bicara, ia pasti sedang mengatakan, "Sudah tahu kan siapa aku yang sebenarnya? Jadi, jangan coba-coba ganggu wanitaku!"


"Kalau begitu, ma-maaf kalau sebelumnya ada tingkah laku saya yang kurang berkenan di hati Anda. Tapi, jujur saja, saya sangat mengagumi Anda."


Seorang pewaris tunggal Kusuma Group yang begitu low profile, namun ia telah berhasil membangun kerajaan bisnisnya sendiri tanpa menggunakan nama besar ayahnya, tentu saja hal itu menjadi daya tarik para pebisnis muda lainnya, salah satunya seperti Wahyu.


Bahkan selama ini Wahyu dan para pebisnis muda lainnya tengah mencari keberadaan Arvin, sebab mereka ingin membangun lingkup pertemanan dengan orang seperti Arvin.


Namun, sayangnya Arvin bukanlah orang yang mudah dicari.


Sedangkan Nara yang mendengar Wahyu merubah gaya bahasanya menjadi formal, ia tentu semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya, yang sedang terjadi saat ini.


"Mas Wahyu, memangnya kenapa dengan Ayahnya Arvin?"


Wahyu tersenyum canggung, bagaimana cara menjelaskannya kepada mereka, ya? Soalnya anaknya sendiri malah tidak mau repot-repot menjelaskan kepada teman-temannya. "Emm, Pak Erlangga ini adalah pemilik stasiun TV EnG, yang termasuk pemilik mall yang baru kita datangi tadi. Dan, tidak hanya itu saja, masih banyak bisnis-bisnis milik beliau juga. Pokoknya bisa dibilang beliau adalah rajanya pebisnis."


"Nah, sedangkan Pak Arvin, ...."


Sedangkan Wahyu yang mengira ada yang salah dengan kata-katanya, hingga membuat Arvin ingin menghindar, maka ia pun bergegas menyusul Arvin ke toilet.


"Eh, sebentar ya. Aku juga ingin ke toilet dulu."


Nara dan Imel yang melihat kelakuan Wahyu, mereka berdua sontak mengernyitkan dahi.


"Yank, kamu nggak ingin pergi ke toilet juga?" seloroh Imel seraya tertawa.


"Ish, apaan sih. Aku kan nggak seheboh Wahyu."


"Rio, berarti apa jangan-jangan kamu juga sudah mengetahui kalau editor kita bukanlah editor biasa?" tanya Nara yang curiga bahwa Rio sudah menyimpan kenyataan ini dari lama.


"Nggak, aku juga baru tahu siapa Pak Bos sebenarnya. Namun, dari dulu aku memang sudah menduga kalau dia adalah sultan."


"Jadi, intinya Arvin ini adalah editor sultan? Wuih, aku nggak nyangka jika selama ini ternyata aku punya kenalan anak sultan," timpal Imel.

__ADS_1


Sedangkan pemikiran Nara, malah berbeda dengan apa yang dipikirkan Imel. Ada perasaan minder setelah Nara mengetahui Arvin bukanlah orang biasa. Bahkan Nara pun juga berniat menghapus perasaannya sebelum nantinya ia merasakan sakit akibat cinta berbeda kasta ini.


Dari awal Nara sudah sadar dengan perbedaan status di antara mereka berdua, dan kini ia semakin ditampar kenyataan, dengan perbedaan kasta.


"Dari awal kita memang sudah tidak cocok. Apalagi saat ini aku juga sudah mengetahui kenyataan ini, dan itu berarti kita memang tidak pernah ada harapan," batin Nara.


Sedangkan di lorong toilet. Wahyu sedang menunggu Arvin keluar dari bilik toilet.


"Eh, Pak Arvin. Maaf ya, kalau tadi ada kata-kata saya yang kurang berkenan di hati Bapak."


"Hah? Apaan sih kamu, biasa aja kali, dan jangan pakai bahasa formal seperti itu."


"Oh, baik."


Arvin sudah akan berlalu setelah mendengar jawaban Wahyu. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Oh ya, aku mau tanya sama kamu. Kamu ... apakah kamu menyukai Nara?"


"Nara?" Wahyu sempat bingung ketika mendapatkan pertanyaan seperti ini, namun otaknya dengan cepat mengetahui maksud Arvin.


"Oh, tidak. Mas Arvin salah paham, saya tidak menyukai Nara, kita hanya berteman saja. Lagi pula, sebenarnya umur saya lebih muda dari Mbak Nara, jadi mana mungkin saya menyukai Mbak Nara," sahut Wahyu yang tidak sepenuhnya berbohong.


Untuk soal umur, Wahyu memang tidak berbohong, ia memang lebih muda dari Nara, dan Nara sendiri memanggil dengan sebutan Mas, hanya untuk sopan santun saja.


Sedangkan untuk masalah perasaan, Wahyu sebenarnya memang menyukai Nara. Namun, setelah melihat siapa saingannya, Wahyu lebih memilih mundur, bahkan sebelum perang dimulai.


"Baguslah kalau begitu," sahut Arvin seraya tersenyum. Lalu kemudian ia kembali berjalan menuju meja mereka tadi dengan tenang.


Sedangkan Wahyu yang masih berada di tempatnya, ia menghela napas panjang. "Huh! Hampir saja, dan untungnya otakku tadi nggak lemot. Padahal kalau saja aku tadi mengakuinya, pasti proposal pengajuan kerjasama ku di perusahaan A&N akan ditolak mentah-mentah," gumam Wahyu.


Perusahaan A&N adalah perusahaan milik Arvin sendiri, yang bergerak di bidang properti.


Sedangkan Wahyu yang baru bergabung dalam bidang ini, ia tentu tidak boleh menyinggung Arvin, bahkan dalam masalah sekecil apapun itu. Apalagi ini? Yaitu mengenai seseorang yang ada di dalam hatinya Arvin.


Namun, Wahyu juga merasa lega. Ia dengan tulus ikut berbahagia, jika sampai Nara dan Arvin bisa hidup bersama sebagai pasangan suami istri.

__ADS_1


"Nara, jika Arvin memanglah takdirmu, maka kamu harus bahagia. Sebab Arvin lah orang yang akan menghapus semua luka masa lalu mu itu," batin Wahyu seraya tersenyum senang.


__ADS_2