
Berkat dukungan dari kedua temannya, akhirnya dari seminggu yang lalu, Nara mulai menulis sebuah cerita fiksi. Ia sudah mengupload novel pertamanya, di salah satu platform langganan ia membaca novel-novel online tersebut.
Nara mulai menulis hanya dengan mengandalkan sebuah tekad, dan juga ide-ide yang terkadang suka melintas di saat ia sedang asyik membaca novel milik orang lain. Terkadang ending yang tidak sesuai dengan keinginan Nara lah, yang bisa memicu keinginan Nara untuk membuat cerita dengan versinya sendiri. Dan, genre yang dipilih Nara adalah novel romantis.
"Bagaimana menurut kalian?" tanya Nara penasaran, ia sedang menyuruh kedua temannya untuk mereview novel pertamanya.
"Bagus kok," sahut Imel.
"Iya, alurnya juga cukup menarik," timpal Bunga.
"Tck, kalian jangan bohong. Kalau memang bagus, kenapa nggak ada yang baca novelku?" ujar Nara sedih.
Sebenarnya bukan tidak ada orang yang membaca novel Nara sama sekali, namun sudah ada tiga belas orang yang sudah melihat karyanya. Tapi, hanya sekedar membacanya saja, sebab mereka tidak tertarik untuk memberikan like, ataupun komentar.
Hanya ada dua manusia di depannya ini saja yang bersedia memberikan like. Namun, apakah mereka berdua bisa dimasukkan ke dalam hitungan para pembaca? Sebab mereka berdua hanya memberikan dukungan sebagai teman. Pikir Nara.
"Sudah, sabar dulu. Namanya juga baru mulai, ya kamu memang harus berjuang cari pembaca. Dulu, Rendi pun katanya juga begitu kok, ia bahkan hampir menyerah karena sebulan tetap tidak ada progres sama sekali." Imel menepuk-nepuk bahu Nara untuk memberikannya semangat.
"Iya, pokoknya kamu nggak boleh nyerah! Sebab, ceritamu ini benar-benar bagus, dan kami juga tidak bohong, sumpah!" timpal Bunga yang ikut memberikan semangat.
"Oh ya, Rendi juga pernah bilang. Biasanya kalau babnya masih sedikit, itu memang belum bisa menarik banyak pembaca. Karena kebanyakan para pembaca itu suka babnya yang sudah banyak, apalagi kalau sudah tamat. Jadi, lebih baik kamu fokus nulis saja dulu."
Nara sejenak memikirkan kata-kata Imel. "Iya juga ya, aku pun lebih suka baca novel yang sudah tamat, sebab setiap hari jadi nggak dibikin menunggu dan penasaran lagi dengan kelanjutan kisahnya."
Tiba-tiba saja secercah harapan kembali tumbuh dalam benak Nara. Lalu kemudian ia mulai mengambil ponselnya kembali.
"Kalau begitu aku mau nulis yang banyak dulu." Nara bergegas beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamar.
"Iya, yang semangat ya!" ujar Imel dan Bunga kompak. Mereka berdua langsung tersenyum ketika melihat temannya kembali bersemangat.
Setelah pembicaraan di malam itu, hari-hari Nara menjadi jauh lebih sibuk dari sebelumnya.
__ADS_1
Setiap hari, setelah ia menyelesaikan pekerjaan utamanya, maka Nara akan langsung menulis, bahkan ia juga sampai lembur hingga larut malam.
'Hasil tidak akan mengkhianati usaha' kata-kata ini memang benar, sebab sekarang akhirnya Nara bisa melihat pembacanya dikit demi sedikit mulai naik. Bahkan sudah mulai ada yang memberikan like, dan juga komentar bahwa cerita yang ditulis Nara memang cukup bagus.
Namun, hari ini mood Nara langsung dibuat rusak oleh seseorang.
Brukk ....
Nara terkejut ketika ada orang yang melemparkan bungkusan kresek pakaian kotor di hadapannya.
"Astaghfirullah!!!" Nara sontak mendongak, lalu kemudian ia mendengus setelah melihat siapa orang yang sudah melakukan hal ini terhadapnya.
"Mas, bisa tidak sih, memberikannya itu dengan cara yang sopan!" ketus Nara.
Nara sudah berulangkali banyak bersabar menghadapi pelanggannya yang satu ini. Namun, kali ini kesabaran Nara sudah mulai menipis.
"Mbaknya itu yang keasyikan main HP, sampai aku datang saja tidak sadar," balas Arvin acuh tak acuh, ia sama sekali tidak merasa bersalah setelah membuat Nara terkejut seperti itu.
"Sudah kok, kamu nya saja yang tidak dengar," sahut Arvin berbohong, sebab Arvin memang sangat suka kalau Nara lagi melamun atau sedang fokus mengerjakan sesuatu, sebab ia bisa membuatnya terkejut seperti ini.
"Memangnya kamu sedang kerja apa? Bantuin temanmu jualan online?" Arvin sebenarnya penasaran, namun nadanya terdengar acuh tak acuh.
"Bukan, lagi belajar nulis novel online," sahut Nara yang masih mengetik kelanjutan tulisannya.
Arvin sejenak memajukan kepalanya, samar-samar ia bisa melihat tulisan Nara yang masih berantakan. Melihat itu, Arvin hendak menegur Nara, namun ia mengurungkan niatnya sebab terpikirkan sesuatu.
"Memangnya kamu nulis di platform apa?" tanya Arvin dengan nada yang lebih manusiawi dari biasanya, sebab selain nada ketus, Arvin hanya bisa membuat orang jengkel hanya dengan mendengar nada bicaranya saja.
"SN. Mas tahu kan?" Tiba-tiba saja Nara baru ingat kalau lelaki di depannya ini juga penulis novel online.
"Star Novel."
__ADS_1
"Iya, Mas nya nulis di sana nggak? Terus kalau boleh, aku mau minta tolong," ujar Nara dengan mata berbinar.
"Nggak, aku sudah jadi penulis penuh waktu di platform lain."
"Oh ...." sahut Nara sekedarnya, sebab ia juga tidak mengerti apa maksud dari perkataan Arvin. Dan, tidak ingin menanyakannya lebih jelas lagi, sebab ia sudah kehilangan minat untuk meminta tolong, karena Arvin ternyata tidak menulis di platform tersebut.
"Memangnya kamu mau meminta tolong apa?" tanya Arvin dengan nada tidak ramah lagi.
"Oh, ini ... kalau misalkan Mas Arvin nulis di sana, tolong intip ceritaku. Terus sekalian minta tolong review, kira-kira ada yang kurang nggak? Kan Mas Arvin penulis senior."
Entah mengapa Nara tiba-tiba saja berani mengatakan itu. Namun, sebenarnya Nara memang ingin ceritanya itu direview oleh penulis senior, agar ia tahu kekurangannya dalam menulis novel.
Nara sebenarnya ingin meminta tolong ke pacarnya Imel. Namun, Nara harus sadar untuk membuat batasan dengan pacar temannya itu. Sebab, ia tidak ingin suatu saat nanti, akan terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti istilah 'teman makan teman'.
Meskipun Imel sangat percaya padanya, dan Nara juga tidak akan melakukan perbuatan seperti itu. Namun, mencegah terjadinya fitnah akan jauh lebih baik.
Jadi, lebih baik menghindari dari sekarang, itulah prinsip Nara. Termasuk kepada pacarnya Bunga sekalipun. Jadi, meskipun mereka sudah saling mengenal satu sama lain, tapi Nara sengaja membuat jarak sendiri kepada kedua pacar temannya itu.
Sedangkan lelaki di depannya ini, kelihatannya dia masih jomblo. Soalnya Nara tidak pernah melihatnya membonceng cewek. Itulah pemikiran Nara.
"Memangnya nama penamu apa?"
"Violet, dan judul bukuku 'Kekasih Yang Terbuang'," jelas Nara bersemangat, sebab sepertinya Arvin akan mereview karyanya.
"Huh, memang siapa yang tanya judul bukumu? Aku kan hanya tanya nama penamu saja. Lagi pula, aku juga tidak memiliki waktu luang untuk membaca cerita dari penulis baru sepertimu." Setelah mengatakan itu, dan tanpa mengatakan permisi, Arvin langsung meninggalkan Nara yang terbengong karena mendengar perkataannya.
"Apa? Sombong banget dia!" dengus Nara kesal.
Sedangkan di luar sana, Arvin tersenyum mendengar perkataan Nara.
"Oh, ternyata sekarang kamu juga jadi penulis? Baguslah kalau kita seprofesi," gumam Arvin seraya menyeringai.
__ADS_1