TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
29. Tetangga Oh ... Tetangga


__ADS_3

Rumah duka yang awalnya terdengar lantunan suara orang-orang yang sedang mengaji, sembari menunggu pemakaman selesai dipersiapkan. Tiba-tiba saja dalam sekejap langsung riuh oleh teriakan beberapa ibu-ibu yang terkejut melihat Nara tiba-tiba saja diserang oleh seorang wanita paruh baya.


"Dasar menantu pembawa sial! Tidak cukup kau merebut anakku dariku, dan sekarang kau juga membuat cucuku mati!" teriak Marni seperti orang gila, bahkan ia juga menarik jilbab Nara ke belakang, hingga membuat Nara tercekik oleh jahitan jilbab tersebut.


"Uhuk ... uhuk ...." Leher Nara tercekik, karena jilbab itu sekarang terlepas dari sebagian kepala Nara, dan Marni malah menarik jilbabnya ke belakang. Ia dengan sengaja mencekik leher Nara menggunakan jilbab tersebut.


"Astaghfirullah ... eh, Bu ... tolong lepaskan Nara, istighfar Bu, istighfar ...."


"Iya, Bu ... nyebut Bu, nyebut ... Eling ... eling ...."


Para Ibu-ibu refleks langsung menolong Nara, seraya mencoba menyadarkan Marni.


Sedangkan Bu Lastri yang berada di samping Nara, ia juga berusaha melepaskan tangan Marni dari kepala Nara, namun tangan Marni terlalu kuat, bahkan ia juga langsung memberontak saat tubuhnya ditarik paksa oleh beberapa ibu-ibu.


Hingga para laki-laki yang berada di luar rumah sontak terkejut melihat kejadian ini, termasuk Gavin yang sedang menemani pelayat laki-laki di luar, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah, setelah melihat bahwa ibunya yang menyerang Nara.


"Ibu, cukup, Bu. Sadarlah Bu, kita sedang berduka!" teriak Gavin seraya menarik tubuh ibunya dengan kuat, bersamaan dengan Bu Lastri yang berhasil melepaskan tangan Marni dari jilbabnya Nara.

__ADS_1


Marni memberontak, namun Gavin masih bisa mengendalikannya, hingga kemudian Gavin langsung membawa ibunya masuk ke dalam kamarnya, dan tidak lupa pula, Gavin memanggil Dinda untuk menemani Ibunya di dalam kamar.


"Dinda, jaga baik-baik Ibu, dan kunci kamarnya, jangan biarkan Ibu keluar!" perintah Gavin.


"Baik, Mas," sahut Dinda yang masih syok ketika melihat kejadian tadi, sebab Dinda juga tidak menyangka, bahwa ibunya akan menyerang kakak iparnya di depan umum seperti tadi.


Sesaat suasana kembali tenang, beberapa ibu-ibu pun juga terlihat langsung menghibur Nara. Gavin yang merasa bersalah, ia hendak mendekati Nara. Namun, seseorang datang dan mengatakan bahwa makam sudah siap.


Tanpa mengulur waktu lagi, semua orang segera mengantarkan jenazah Naura ke peristirahatan terakhirnya. Gavin yang menggendong putrinya untuk terakhir kalinya hingga sampai ke pemakaman, untuk sesaat terbesit ada perasaan menyesal, karena dia tidak pernah menggendong putrinya seperti ini, dan momen ini, telah menjadi pertama dan juga terakhir kalinya ia bisa menggendong anaknya sendiri.


"Maafkan Ayah, Nak. Ayah memang bukan Ayah yang baik untukmu, selamat jalan dan semoga kamu bisa tenang di alam sana," batin Gavin.


Bu Lastri sebagai orang yang mewakili tuan rumah, ia membantu Nara mengurus ini dan itu, karena Nara saat ini sedang pingsan, Nara langsung tidak sadarkan diri ketika Naura tadi diantarkan ke pemakaman.


"Kasihan sekali Nara, sudah anaknya meninggal, orang tua dan keluarganya sendiri tidak ada yang datang. Eh ... malah dianiaya lagi sama mertuanya sendiri. Ngomong-ngomong, itu Ibunya Gavin memang sudah gila kali ya, bisa-bisanya menganiaya menantunya sendiri di depan orang banyak," ujar seorang ibu-ibu seraya mengupas bawang merah.


Karena kontrakannya Nara dapurnya sangat sempit, para ibu-ibu yang sedang menyiapkan bahan makanan untuk nanti malam, mereka sedang menumpang duduk di terasnya Gavin. Sedangkan Gavin yang sedang duduk di ruang tamu, ia jadi bisa mendengar gosip tersebut.

__ADS_1


"Iya, dan juga malah nyalah-nyalahin si Nara lagi, padahal setiap hari anaknya cuma tahunya pergi saja, nggak pernah bantuin istri di rumah. Eh, saya juga jadi curiga, tuh orang kerja nggak sih, masa katanya setiap hari lembur. Tapi, Nara nya masih bekerja keras untuk beli susu, popok, untuk almarhum anak mereka, apalagi semalam dia juga gak pulang, padahal anaknya sedang sakit. Duh amit-amit pokoknya punya laki modelan kayak gitu," sahut ibu-ibu yang ada di hadapan ibu-ibu yang tadi.


"Iya, Bu. Saya juga setuju. Tapi, ngomong-ngomong saya jadi merasa bersalah sama Nara, andaikan saja kemarin saya tahu, kalau suaminya seperti itu, pasti saya juga mau bantuin Nara. Kan, awalnya saya pikir Nara nya lebay, anaknya panas gitu aja ingin pinjam motor buat pergi periksa, dan seharusnya kan dia minta antar suaminya dong ... Eh, tak taunya ... Aduh, pokoknya saya merasa bersalah banget," timpal tetangga Nara yang rumahnya paling ujung, kini ia merasa menyesal karena tidak membantu Nara dan anaknya kemarin.


"Iya, saya juga merasa bersalah," sahut ibu-ibu yang lain, yang juga ikut menyesal.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini semua hanya bisa dijadikan pelajaran, bahwa sesama manusia memang sudah seharusnya untuk saling tolong menolong. Entah itu masalah ringan ataupun berat, karena kita tidak pernah tahu rencana Tuhan ke depannya seperti apa, dan jika sudah kejadian seperti Nara, kini hanya ada rasa penyesalan yang menggerogoti hati para tetangganya.


Sedangkan orang yang berada di dalam rumah, ia sedang mengetik naskah novel di laptopnya, lalu kemudian ia menggerutu, "Dia nya saja yang kurang usaha. Kenapa kemarin tidak meminta bantuanku saja? Padahal aku juga mau kalau disuruh nganterin ke rumah bidan, apalagi kalau dia juga cuma sekedar pinjam motor. Huh! Emang dasarnya saja tuh cewek kurang pinter."


Arvin yang merasa pintu rumahnya kemarin sama sekali tidak diketuk oleh orang lain, ia jadi menyalahkan Nara yang bodoh, sebab Nara tidak mau meminta bantuannya. Padahal jelas-jelas tetangga lain menolak permintaan tolongnya, namun seharusnya Nara juga harus mencoba meminta bantuannya terlebih dahulu. Memangnya Nara kira, dirinya itu orang yang pelit? Padahal dirinya juga termasuk orang yang dermawan. Pikir Arvin.


"Tapi, kalau dipikir-pikir, kasihan banget tuh cewek. Namun, salah dia sendiri juga. Eh, atau bisa dibilang ini karma, sebab dia mengabaikan Alvin, dan dapetnya malah suami modelan begitu. Huft, asal saja tuh laki tidak selingkuh, kalau sampai dia alasan lembur, tapi malah selingkuh, bener-bener triple sial tuh hidupnya."


Arvin yang sebenarnya seorang penulis male book. Namun, dia lebih suka membaca female book, ia jadi membayangkan kehidupan Nara seperti tokoh pemeran utama wanita yang hidup menderita seperti cerita-cerita di novel.


Bukannya melanjutkan menulis. Tapi, Arvin malah memperkirakan ending kisah rumah tangganya Nara.

__ADS_1


"Tck, kalau kutebak, pasti habis ini mereka cerai. Udahlah tebakanku pasti banyak benernya, soalnya kehidupan di novel sama dunia nyata itu hampir sama, bedanya cuma sebelas dua belas," gumam Arvin yakin.


Dan, andaikan saja Nara mendengar kata-kata ini, bolehkah Nara menggiling kepala Arvin ke dalam mesin cuci miliknya? Siapa tahu, mungkin saja dengan Arvin mau melaundrykan kepalanya, otaknya Arvin bisa bersih dan terbebas dari pemikiran-pemikiran buruk tersebut.


__ADS_2