TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
62. Malam Pengantin


__ADS_3

Selang berapa jam setelah acara resepsi pernikahan sudah selesai, Arvin langsung mengajak pulang Nara ke ruko, sedangkan kedua orang tuanya Arvin juga langsung pulang ke Jakarta.


Arvin dan Nara tidak bisa langsung ikut pulang ke Jakarta, karena kata orang tua dulu pamali kalau belum ada seminggu menikah, pengantin keluar rumah untuk jalan-jalan ataupun bepergian jauh. Jadi untuk sementara mereka berdua akan tinggal di rukonya Nara.


"Ini pengantin ceweknya kok cemberut aja, harusnya kan seneng," goda Rio yang sedang mengemudi. Rio dan Imel mengantarkan Nara dan Arvin pulang.


Nara tidak menjawab, ia hanya memandang ke luar jendela dengan bibir manyun.


Arvin yang sebelumnya memejamkan matanya karena kelelahan, kini ia membuka kedua matanya setelah mendengar perkataan Rio.


Lalu kemudian ia berbisik di telinga Nara. "Jangan manyun seperti itu, memangnya kamu minta dicium di sini?"


Nara yang mendengar perkataan itu, ia sontak mencubit lengan Arvin, seraya melotot.


Sedangkan Imel yang melihat kejadian itu, ia jadi tidak tahan untuk menggoda mereka berdua. "Ciiiee ... pengantin baru, udah nggak sabar ya, kalau gitu jalannya cepetan dong Yank, daripada kita berdua jadi baper nantinya."


"Imel! Apaan sih kamu, eh urusanku sama kamu dan Bunga belum selesai ya, awas saja nanti kalian!"


"Aduh, Bu Bos. Jangan galak-galak gitu napa, ini semua kan rencananya Pak Bos, kita mah tinggal ikut aja," sahut Imel santai.


Mendengar jawaban Imel, Nara jadi semakin ingin mengacak-acak rambutnya Arvin. Sedangkan Arvin sendiri hanya tersenyum tanpa merasa berdosa sama sekali.


Rio saja yang dekat dengan Arvin, tidak tahu tentang rencana pernikahan dadakan ini. Apalagi, Imel dan Bunga, mereka berdua hanya mengikuti instruksi asistennya Rio.


Lalu tidak lama kemudian mobil sampai di depan rukonya Nara.


"Mobil kamu bawa dulu saja, biar nanti aku suruh orang mengambilnya di rumahmu," ujar Arvin sebelum turun dari mobil.


"Siap, Bos! Dan juga, selamat bersenang-senang," sahut Rio seraya memberi gerakan hormat.


Arvin kemudian turun, menyusul Nara yang sudah masuk ke dalam ruko. Setelah memastikan pintu terkunci dengan benar, Arvin pun langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya Nara.

__ADS_1


Di atas ranjang, Nara sudah tidur dengan berganti pakaian terlebih dahulu. Nara yang lebih lelah daripada Arvin, jadi tidak heran jika ia bisa terlelap lebih cepat.


Arvin tersenyum ketika melihat pemandangan di depannya, akhirnya wanita yang selama ini diidamkannya, sekarang sudah sah menjadi istrinya. Dan, Arvin yang tidak ingin mengulur waktu lagi untuk tidur di samping Nara, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu kemudian baru setelah itu ia tidur di samping Nara.


Waktu menunjukkan pukul empat sore, sedangkan posisi Nara yang sebelumnya membelakangi Arvin, kini ia beralih memeluk Arvin.


"Hemm, wanginya ... tumben gulingku wangi, padahal sudah beberapa hari aku tinggal. Apa Ella dan Elly yang mencucinya?" batin Nara yang masih setengah sadar.


"Eh, tapi kok, keras begini ya?" Tangan Nara tanpa sadar meraba dada hingga perut Arvin.


Sedangkan Arvin yang sudah bangun terlebih dahulu daripada Nara, namun ia pura-pura masih tidur. Arvin menahan tawa saat mendengar gumaman Nara.


Lalu tidak lama kemudian....


"Aaa ...." teriak Nara yang kemudian langsung membungkam mulutnya sendiri. Nara hendak memarahi Arvin, namun bayangan pernikahan tadi pagi terlintas di benaknya.


"Astaghfirullah, aku kan udah nikah ya. Tapi, ini orang memang pantas dihajar." Nara sudah siap melayangkan tangannya untuk memukul Arvin, namun tangan itu ditangkap terlebih dulu oleh Arvin, sebelum tangan itu berhasil mendarat di lengannya.


Nara melengos, lalu kemudian ia langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Nara harus buru-buru menyembunyikan pipinya yang memerah.


"Aduh, bisa-bisanya aku malah salting. Dasar bodoh!" Maki Nara pada dirinya sendiri. Nara yang belum terbiasa melihat senyuman Arvin yang seperti itu, beberapa waktu ini pasti akan membuat jantungnya berdetak tak terkendali.


Setelah Nara selesai mandi, kini giliran Arvin yang pergi mandi. Namun, sebelum itu ia berpesan kepada Nara agar menunggunya untuk salat berjamaah.


Nara tersenyum setelah melihat Arvin menutup kamar mandi, sebab hal yang dulu pernah diidamkannya dan tidak bisa ia dapatkan dari sosok Gavin, kini Tuhan dengan baiknya mengirimkan sosok Arvin sebagai penggantinya, dan juga Arvin telah memenuhi syarat sebagai suami idamannya.


***


Malam harinya, setelah makan malam, Arvin dan Nara masih duduk di sofa yang berada di lantai bawah. Lalu kemudian Nara mulai membahas persoalan pernikahan jebakan tadi, sebab bisa-bisanya Arvin melangsungkan acara pernikahan tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, apalagi melamarnya.


"Ih, pokoknya aku sebel sama kamu, sebab ini sih sama aja dengan pemaksaan. Terus, bagaimana kalau misalkan aku punya pacar, bukankah itu berarti--" Nara membelalakkan matanya ketika Arvin tiba-tiba saja menciumnya, bahkan ini bukan sekedar ciuman biasa, karena Arvin telah melu-mat bibirnya dengan rakus.

__ADS_1


"Em ... em ... em ...." Nara sontak memukul dada Arvin, karena ia hampir kehabisan napas. Sedangkan Arvin malah tertawa puas setelah melepaskan bibir Nara.


"Bisa-bisanya ya, kamu ngomong gitu. Huh, jika kamu sampai beneran punya pacar, akan aku habisi dia," ujar Arvin pongah. "Lagi pula, buat apa repot-repot melamarmu, kalau dengan cara begini saja aku bisa mendapatkanmu. Tapi sayangnya, aku kurang cepat." Lanjutnya.


Nara melotot, lalu kemudian ia melepaskan tangannya dari bibirnya yang masih membengkak sebab ciuman dari Arvin.


"Apa? Melamarku kamu bilang merepotkan? Wahai Pak Editor terhormat, tidak tahukah Anda, bahwa saya juga ingin merasakan momen indah seperti yang kutulis di dalam novel?!" balas Nara kesal, padahal hampir semua momen indah yang ia tulis di novel adalah impiannya.


Arvin bukannya fokus dengan jawaban Nara, tapi ia malah gagal fokus ketika melihat bibir Nara yang semakin merah dan juga seksi.


Lalu tanpa membuang-buang waktu, Arvin tiba-tiba saja langsung berdiri dan menggendong Nara.


"Aaa ... lho, Mas. Kita mau ke mana? Aku belum selesai bicara." Nara kebingungan ketika melihat Arvin membawanya ke lantai atas.


"Kita lanjutkan di kamar saja," sahut Arvin datar.


"Hah! Kenapa di kamar? Bukankah di sana tadi juga sama saja?"


"Kurang menyenangkan, lagi pula di kamar nanti kamu juga bisa bicara sepuasmu."


Nara mengerutkan dahinya, ia bingung dengan perkataan Arvin. Memangnya kenapa bisa kurang menyenangkan saat ngobrol di bawah? Bukankah biasanya mereka berdua dulu juga sering ngobrol di lantai bawah.


Namun, belum sempat Nara mengutarakan pemikirannya, Arvin sudah membaringkannya ke atas ranjang dengan lembut, lalu kemudian tiba-tiba saja Arvin mengangkat kausnya sendiri.


"Lho, Mas. Kenapa buka baju?" Nara merinding ketika melihat Arvin tersenyum misterius. Lalu kemudian bulu kuduk Nara mulai berdiri saat melihat Arvin mematikan lampu utama kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.


"Ayo, lanjutkan. Kamu ingin bicara apa lagi? Aku pasti akan mendengarnya," bisik Arvin di telinga Nara.


Namun, belum sempat Nara mengatakan apa yang ingin ia katakan, yang justru keluar dari mulut Nara adalah suara *******.


Dan, malam panas mereka akhirnya dimulai....

__ADS_1


__ADS_2