TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
42. Pelanggan Nyebelin!


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, dan di luar langit masih gelap, namun kedua temannya Nara sudah membuat keributan di pagi buta ini.


"Imel!!! Bunga!!!" teriak Nara dari dalam kamar. "Apa yang sudah kalian berdua lakukan?!" Lanjutnya seraya menggulir layar ponsel miliknya, Nara sedang membaca komentar dari postingan kedua temannya itu.


Sedangkan di dapur, Imel dan Bunga sontak tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa puas dengan apa yang sudah mereka lakukan.


Semalam setelah Bunga tiba di rumahnya Imel untuk menginap, lalu tidak lama kemudian Gavin datang dengan membawa akta cerai miliknya Nara.


Gavin yang sebenarnya mengambil kesempatan untuk ingin bertemu dengan Nara, namun sayangnya Nara tidak bisa menemuinya, karena ia sudah tidur. Jadi, akta cerai tersebut hanya diterima oleh Bunga dan Imel.


"Mel, gimana menurutmu kalo kita posting akta cerainya Nara ini, ya hitung-hitung kita lagi promosiin teman kita yang sudah janda. Hahaha ...."


"Ide bagus, aku juga setuju. Jadi, biar Nara bisa menemukan cowok baru, agar para mantannya itu tidak bisa mendekatinya lagi."


"Oke, oke ... kalau begitu kita posting sekarang."


Bunga dan Imel dengan semangat mengambil gambar akta cerai tersebut, lalu kemudian mereka berdua menulis caption dan mengunggahnya ke media sosial milik mereka sendiri-sendiri.


'Hore!!! Teman kita sudah resmi jadi janda, selamat ya atas status baru dan kebebasannya'


Disertai dengan fotonya Nara yang terbaru, sebuah foto yang memperlihatkan wajahnya Nara yang tidak kalah cantik dari saat dia masih gadis dulu.


Imel dan Bunga sontak tertawa lagi ketika mengingat kejadian semalam. Sedangkan dari arah depan, Nara menghampiri mereka dengan rambut yang masih acak-acakan sebab ia baru bangun tidur.


"Hei, kalian ini niat mau ngejual aku ya?!" raung Nara yang sedang pura-pura marah.


Sedangkan kedua temannya hanya tertawa saja.


Bunga berdehem. "Nara ku sayang, seharusnya kamu itu berterima kasih kepada kami, karena kami dengan baik hati memberi jalan untuk jodohmu yang sesungguhnya, agar dia bisa bertemu denganmu."


"Iya, coba lihat komentar-komentar itu, banyak banget para pengusaha muda yang ingin berkenalan denganmu. Jadi, bukankah kamu itu sebenarnya sangat hebat? Sebab kamu bisa menarik para pengusaha muda, bahkan di antara mereka masih banyak yang lajang," sahut Imel dengan mimik iri.


"Iya, aku jadi iri," timpal Bunga seraya memeluk Imel, lalu kedua gadis itu berpelukan karena sama-sama merasa iri.


Sedangkan Nara malah berdecak. "Tapi, nggak seperti itu juga kali ... kalian itu malah bikin malu aku tau nggak?" kesal Nara seraya mencubit pipi kedua temannya itu.

__ADS_1


"Auw ... Auw ... iya, iya ampun ... aduh tolong lepas dong, sakit ini," rengek Bunga dan Imel kompak.


"Ih ... kalian berdua ini, benar-benar ya! Ya udahlah aku mau mandi dulu, setelah ini aku mau beli kebutuhannya laundry."


"Oke, mandi yang bersih dan wangi ya! Lalu dandan yang cantik. Siapa tahu nanti ketemu duda muda dan kaya raya!" teriak Imel bercanda.


Sedangkan Nara hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum, Nara memang selalu tidak pernah mengambil hati candaan teman-temannya itu. Meskipun yang semalam itu sudah cukup keterlaluan.


Sedangkan di tempat lain, Arvin juga sedang melihat-lihat sosial media pribadinya, namun kebanyakan yang muncul di berandanya adalah promosi novel dari beberapa grup kepenulisan yang ia ikuti.


Akan tetapi, tiba-tiba saja jari Arvin berhenti, saat ia melihat postingan milik Nara.


'Dasar temen-temen nggak punya akhlak!'


Tulisan di caption postingannya Nara, seraya menampilkan gambar screenshot postingan milik kedua temannya semalam. Lalu tidak lupa juga, Nara me-ngetag kedua temannya itu.


Arvin yang penasaran, ia segera melihat postingan kedua temannya Nara itu, lebih tepatnya ia penasaran dengan komentar-komentar yang berada di postingan kedua temannya Nara.


Namun, entah mengapa suhu di kamar Arvin tiba-tiba saja menjadi terasa panas, Arvin bahkan sampai meneguk habis sebotol air yang selalu ia sediakan di atas nakas, di samping tempat tidurnya.


Namun, meski kesal, Arvin tetap membaca komentar-komentar tersebut.


"Kenapa aku jadi merasa gerah ya? Sepertinya aku perlu memasang AC di sini," gumam Arvin seraya memperhatikan sekeliling kamarnya. Entah mengapa ia merasa hari ini benar-benar panas.


Padahal yang panas bukanlah ruangan kamar Arvin, namun hatinya. Sebab Arvin merasa tersaingi oleh beberapa pengusaha yang ingin berkenalan dengan Nara, bahkan ada juga yang sampai langsung menyampaikan, bahwa laki-laki tersebut berniat ingin ta'aruf dengan Nara.


"Sial, tuh cewek memang harus aku kerjain biar kapok," gerutu Arvin seraya beranjak dari tempat tidurnya.


Lalu kemudian Arvin langsung memasukkan semua baju-baju kotornya ke dalam kresek berukuran lumayan besar, berikut dengan **********.


Padahal di laundry nya Nara, Nara tidak menerima cucian pakaian dalam. Namun, dengan sengaja Arvin memang ingin membuat Nara semakin kesal dengan kelakuannya tersebut.


Setelah selesai, Arvin langsung mengemudikan motornya ke rumah Imel.


Sesampainya di sana, Nara terlihat hendak pergi, ia tampak terlihat cantik dengan balutan blouse berwarna putih, serta celana jeans berwarna hitam.


"Beberapa hari nggak ketemu, kenapa dia jadi bertambah cantik?" gumam hati Arvin yang saat ini tengah terpesona dengan penampilannya Nara.

__ADS_1


Arvin yang beberapa hari kemarin harus pulang ke rumah kedua orang tuanya, sebab ia memiliki acara keluarga. Ia jadi sedikit pangling dengan penampilannya Nara saat ini. Benar-benar sangat berbeda dengan penampilan keseharian Nara saat sedang di rumah.


Kini Arvin jadi mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Nara di waktu itu, Nara memang terlihat sangat cantik seperti ini. Eh, bahkan jauh lebih cantik dari yang dulu.


"Pantas saja banyak yang tergoda dengannya, meskipun dia janda, tapi bodynya memang terlihat seperti masih gadis, apalagi wajahnya," batin Arvin.


Sedangkan Nara yang sedari tadi menunggu Arvin masuk ke rumah, ia jadi bingung ketika melihat Arvin hanya bengong di atas motornya.


"Ini orang sebenarnya mau ngapain sih? Bukannya masuk, tapi malah tetap nangkring di atas motor, masa iya aku disuruh ngambil cuciannya ke sana? Dasar pelanggan paling aneh! Eh, bukan. Tapi, nyebelin," gerutu Nara dalam hati.


Karena melihat Arvin masih diam, Nara akhirnya berjalan keluar sampai ke teras rumah, lalu kemudian ia segera berteriak memanggil Arvin.


"Hei, Mas! Ngapain kamu malah bengong di situ? Awas nanti kesambet!" teriak Nara seraya tertawa mengejek.


Sedangkan Arvin mendengus. "Sial! Kenapa aku tadi sampai melamun?" batin Arvin yang merasa kesal sendiri.


Lalu kemudian Arvin langsung turun dari motornya, seraya membawa bungkusan kresek tadi dan kemudian berjalan menuju ke arahnya Nara.


"Cuci seperti biasanya!" Setelah mengatakan itu dan menaruh bungkusan kresek itu ke atas lantai, Arvin kemudian langsung berbalik dan hendak pergi. Namun, Nara lebih dulu mencegahnya.


"Hei, Mas. Tunggu dulu! Ini sepertinya ada yang aneh," ujar Nara seraya memperhatikan isi bungkusan kresek berwarna putih tersebut.


Lalu kemudian Nara segera membuka bungkusan tersebut, dan kemudian matanya langsung terbelalak saat melihat beberapa potongan kain berbentuk segitiga dan beraneka warna di hadapannya.


"Hei, Mas! Aku tidak menerima cucian pakaian dalam, lalu ini kenapa ada di sini?" Seraya menunjuk barang tersebut, wajah Nara langsung memerah karena merasa malu dan kesal secara bersamaan.


Sedangkan Arvin hendak tersenyum saat melihat wajah Nara terlihat lucu, namun dengan sekuat tenaga ia mencoba menahannya.


"Halah jangan lebay, itu tadi tidak sengaja ikut terbawa. Jadi, kamu juga harus mencucinya."


"Hah, apa? Tapi, maaf aku nggak bisa. Silakan kamu bawa pulang saja," sahut Nara seraya mendorong kresek tersebut hingga tepat berada di depan kakinya Arvin.


"Nggak mau! Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus cuci semua yang ada di dalam kresek ini, nanti soal biaya, aku rela bayar lebih, asalkan hasilnya sama seperti biasanya," sahut Arvin keras kepala, ia semakin ingin tertawa ketika melihat mulut Nara melongo karena mendengar perkataannya.


"Dan, awas! Kamu jangan sampai diam-diam mengambil, atau sampai menghilangkan satu saja, sebab nanti kamu harus mengganti harganya dengan puluhan kali lipat!" Setelah mengatakan itu, dan tanpa peduli dengan reaksinya Nara, Arvin langsung pergi meninggalkan Nara.


Sedangkan Nara yang masih syok, ia segera mengepalkan tangannya saat sudah tersadar. "Dasar pelanggan nyebelin! Dia kira aku wanita apaan? Huh! Awas saja nanti, aku juga akan naikin harganya berkali-kali lipat!" Kesal Nara. Namun sayangnya, Arvin sudah tidak bisa mendengar suaranya Nara.

__ADS_1


__ADS_2