
Nara buru-buru menoleh ke belakang dan mendapati raut wajah Arvin yang terlihat sangat kesal.
"Ma-maaf, aku tidak sengaja ...."
"Apa? Tidak sengaja? Bolong sebesar itu kamu bilang tidak sengaja?"
Nara mengerutkan bibirnya, ia bingung mau memberikan alasan apa?
Lalu kemudian pandangan Arvin beralih ke meja dan mendapati ponsel Nara yang menampilkan riwayat chatting.
"Ooww ... jangan-jangan tadi kamu menyetrika sambil main HP ya?"
Nara meringis. "Maaf, tapi nanti aku ganti kok kemejanya. Sekali lagi maaf ya, aku tadi benar-benar nggak sengaja."
Nara dengan mudahnya mengatakan berani mengganti kemejanya Arvin, meskipun kemeja itu bermerek sekalipun, sebab kemeja itu bukanlah kemeja baru, jadi Nara tidak mungkin akan dikenai biaya ganti rugi seharga dengan kemejanya ketika masih baru bukan?
Namun, apa yang dipikirkan Nara tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran Arvin. Arvin bahkan langsung menyeringai ketika mendengar Nara akan mengganti kemeja tersebut.
"Baiklah, tapi kamu tidak perlu menggantinya. Namun, cukup cucikan cela*na da*lam ku seperti waktu itu saja."
"Hah, apa?"
"Iya, hanya dalam waktu setahun saja."
"Nggak mau!" Tolak Nara tegas.
"Tidak ada penolakan. Lagi pula, aku orang yang pengertian bukan? Sebab katanya kamu ingin punya karyawan, jadi lebih baik kamu simpan saja uang ganti rugi itu untuk persiapan membayar gaji calon karyawanmu itu." Arvin tersenyum, namun bagi Nara, itu jenis senyuman yang sangat menyebalkan.
"Iya sudah, cepat kemas semua pakaianku! Aku masih banyak pekerjaan," lanjut Arvin seraya mendudukkan dirinya di kursi dengan angkuh.
Sedangkan Nara sudah tidak bisa membantah lagi, ia hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal.
"Dasar pelanggan nyebelin!" batin Nara kesal.
Lalu tanpa mengulur waktu lagi, Nara segera mengemas semua pakaiannya Arvin, dan dimasukkan ke dalam plastik laundry beserta nota yang sebelumnya ia total terlebih dahulu.
Setelah menyerahkan laundry an tersebut, Arvin pun langsung keluar dari ruko setelah ia membayarnya, meninggalkan Nara yang tengah menggeram kesal.
"Ya Allah ... kenapa aku harus mencuci pakaian da*lamnya lagi," gerutu Nara yang hampir menangis karena kesal.
__ADS_1
Sedangkan arvin yang sudah melajukan motornya, ia tersenyum ketika mengingat wajah kesal Nara.
"Imutnya dia kalau sedang kesal," gumam Arvin seraya tersenyum.
***
Beberapa Minggu kemudian...
Ting ...
Ting ...
Ting ...
Sudah sejak tadi notifikasi pesan membanjiri ponsel Nara. Namun, orang yang memiliki ponsel masih asyik tidur walaupun sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Nara yang sedang kelelahan, ia sengaja tidak membuka toko laundry nya. Ia memilih libur sehari dan fokus mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur seharian.
Hingga setengah jam kemudian, Nara akhirnya bangun karena merasa lapar. Nara yang hari ini ingin memanjakan dirinya sendiri, ia tidak mau memasak dan hanya membeli makanan di warung makan yang berada di samping rukonya.
Setelah selesai makan, Nara mulai mengambil ponselnya, notifikasi pesan dari grup penulis masih terus ramai, dan terkadang teman-temannya juga beberapa kali me-ngetag namanya. Namun, Nara belum berniat membuka WA.
Nara malah memilih berselancar di sosial media, ia tengah asyik melihat unggahan foto terbaru dari dua karyawan barunya itu.
Nara juga menyayangkan tubuhnya yang sudah tidak sebugar waktu masih gadis dulu. Entah mengapa semenjak dia sudah pernah melahirkan, ia jadi gampang lelah seperti ini.
Sebenarnya Nara juga sudah ditawari Ella dan Elly untuk pergi bersama dengan mereka, namun Nara langsung menolaknya karena ia ingin beristirahat setelah kemarin ada orang pabrik yang melaundrykan semua pakaian lama milik karyawannya. Dan, untungnya saja Nara sudah mendapatkan karyawan yang bisa membantu pekerjaannya itu.
Awalnya Nara hanya ingin mencari satu karyawan saja, namun tidak disangka, ia langsung mendapatkan dua orang sekaligus, dan mereka adalah gadis kembar yang rumahnya tidak jauh dari rukonya itu.
Ella dan Elly sudah bekerja dari seminggu yang lalu, namun mereka berdua langsung mendapatkan libur setelah mereka mendapatkan borongan cucian dari pabrik tersebut.
Karena Nara memang tidak menerapkan hari libur yang tetap, jadi ia akan menutup tokonya sesuka hati, ketika ia benar-benar merasa lelah. Sebab, meskipun kini Nara sudah mempunyai dua karyawan, namun ia masih tetap ikut mencuci dan menyetrika, karena sekarang laundry nya jauh lebih ramai dari sebelumnya.
Jari Nara yang sedang menggulir foto-foto di sosial media langsung berhenti ketika sorot matanya menangkap cuplikan pesan dari editor Sky Blue.
Melihat barisan tulisan caps lock dengan nada yang terlihat sangat emosional, Nara lantas buru-buru membuka pesan tersebut. Nara sontak membelalakkan matanya saat membaca semua pesan tersebut.
[HEI, ANAK BARU! KALO ADA PENGUMUMAN DI GRUP ITU DIBACA!!!]
__ADS_1
[JANGAN CUMAN PAS ADA GOSIP AJA LANGSUNG AKTIF IKUT NIMBRUNG!!!]
[DAN JUGA, SEKARANG CEPAT ISI LAPORAN STEP DI SPREADSHEET!!! SEKALIAN PENCAPAIAN KATANYA, UDAH DAPET 30RB KATA BELUM? JIKA DALAM WAKTU LIMA MENIT NGGAK KAMU ISI, JANGAN HARAP BONUS TANDATANGANMU AKAN TURUN BULAN INI!]
"Astaga! Ini orang mungkin lagi pms kali ya?" gumam Nara setelah membaca semua pesan tersebut, termasuk isi pesan yang me-ngetag namanya di grup obrolan khusus penulis, bahkan hingga berulang kali dengan konteks yang sama.
Lalu tanpa mengulur waktu lagi, Nara langsung membalas pesan editornya tersebut, sekalian meminta maaf dan memberikan alasan mengapa ia baru membuka pesannya. Setelah selesai, Nara pun juga langsung mengisi laporan sesuai dengan perintah Sky Blue.
Setelah urusannya dengan Sky Blue sudah selesai, Nara pun langsung ikut nimbrung obrolan di grup penulis. Beberapa penulis juga langsung menanyakan keberadaan Nara, yang baru saja muncul di saat editor mereka baru saja marah-marah di grup karena mencari keberadaannya.
[Hehehe... Udahlah biarin aja. Mungkin Mak kita lagi PMS, makanya ngomel pagi-pagi 🤣] Balas Nara menanggapi semua pertanyaan teman-temannya tersebut.
Nara yang menganggap Sky Blue itu adalah seorang wanita, ia mengira Sky Blue sedang mendapatkan masa periode nya. Sedangkan untuk panggilan 'Mak', itu adalah panggilan bercanda yang sangat wajar diantara penulis-penulis wanita.
[Masa Periode?]
[Mak?]
[Hei, Nara! Ini kamu nggak salah nulis?]
Beberapa pesan dari para penulis langsung menyerbu Nara, disertai dengan beberapa kiriman stiker tertawa karena menertawakan ketidaktahuan Nara.
Nara yang tengah membaca pesan tersebut sontak menjadi bingung. "Loh, memangnya ada yang salah? Kenapa semua orang ngetawain aku?" gumam Nara seraya mengetikkan pesan yang sesuai dengan apa yang dikatakannya.
[Hei, Nara! Editor kita itu cowok, ya kali bisa 'dapet'. Mana dipanggil Mak lagi, dia tuh masih perjaka, umurnya juga masih seumuran dengan kita. Kamu kira-kira dong kalau mau ngelawak. Ntar dianya baca, makin tambah ngamuk lagi nanti. Bikin perkara aja nih kamu🤦]
Nara yang sedang membaca balasan dari Rio, ia sontak terkejut.
[Hah! Yang bener?]
[Iya, memangnya Imel nggak pernah cerita sama kamu? Yasudah, cepat buruan hapus, keburu dia baca nanti.]
Lalu tanpa memikirkan apapun lagi, Nara pun segera menghapus pesannya yang tadi. Namun, sayangnya sudah terlambat.
[NGAPAIN DIHAPUS! PERCUMA, GW UDAH BACA!]
Nara yang melihat tulisan tersebut, ia sontak menjatuhkan ponselnya.
"Aduh! Mati aku, kenapa bisa jadi kayak gini?" gerutu Nara seraya mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Nara yang merasa sangat malu, ia hendak mematikan sambungan WiFi di ponselnya, bahkan kalau perlu ponselnya sekalian. Namun, layar ponselnya sudah berkedip terlebih dahulu, dan menampilkan nama Sky Blue di sana.
"Ya Tuhan ... Dia beneran ngamuk!" pekik Nara seraya membelalakkan matanya.