TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
11. Bertemu Dengan Gavin


__ADS_3

"Melupakan cowok, obatnya ya cowok juga."


Sudah hampir setiap hari, Nara mendengar perkataan seperti itu dari Bunga. Ingin rasanya Nara menutup mulut Bunga, ketika ia mendengar kata-kata ini lagi, namun jika dipikirkan lagi, mungkin perkataan Bunga memang ada benarnya juga. Dan, sudah seharusnya juga, bagi Nara untuk mencoba membuka hatinya untuk laki-laki lain, Nara pun mulai berpikir, bahwa mulai saat ini, ia harus benar-benar mencobanya.


Namun, semangat itu tiba-tiba hancur, lebih tepatnya hati Nara terpukul rasa sakit kembali, ketika ia melihat Diana datang ke toko bersama dengan kakaknya Kevin yang selama ini tinggal di luar negeri, kakak pertama Kevin dan suaminya adalah seorang TKI.


"Selamat datang, Mbak ... ada yang bisa saya bantu, Mbaknya sedang mencari baju yang seperti apa ya?" tanya Nara ramah. Ia sebenarnya ingin menghindari Diana dan kakaknya Kevin ini. Namun, Diana seperti sengaja membuat Nara menjadi melayani mereka berdua.


"Ini Mbak, saya mau cari kebaya pengantin untuk adik saya. Mohon bantuannya ya?" sahut Nila sopan seraya merangkul bahu Diana.


Deg!


Rasanya ada yang meremas jantung Nara, saat dia mendengarkan kata-kata itu. Nara bisa menebak, kebaya pengantin itu untuk siapa? Namun, sekarang Nara harus bisa menahan perasaan tidak nyaman tersebut.


"Baik, kalau begitu mari, silakan ikuti saya."


Nila tidak tahu, jika gadis yang ada di hadapannya saat ini adalah mantan kekasih adiknya, sebab selain Nila tinggal di luar negeri, Nila juga belum sempat dikenalkan dengan Nara, ia juga tidak pernah mengurusi kisah percintaan adiknya tersebut. Namun, Nara bisa mengenali Nila, karena Kevin pernah memperlihatkan foto kakak perempuannya itu kepada Nara.


Lalu kemudian, mereka bertiga akhirnya sampai di depan etalase yang memajang berbagai macam model kebaya, ada juga beberapa kebaya yang dipasang ke manekin sebagai contoh.


"Mbak, bisa coba lihat yang warna putih itu?" Nila menunjuk ke arah belakang Nara, di sana terdapat sebuah kebaya berwarna putih yang tergantung rapi dengan plastik bening yang membungkusnya.


"Sepertinya adik saya akan cocok memakai kebaya itu," lanjut Nila dengan antusias, seraya membayangkan bahwa adik sepupunya yang lain, itu akan cocok ketika memakai kebaya tersebut.


Tanpa banyak berkata, Nara langsung mengambilkan kebaya yang ditunjuk oleh Nila, lalu kemudian ia menyerahkannya dengan sopan kepada Nila.


"Diana, ayo sekarang kamu coba dulu," ujar Nila lembut seraya menyerahkan kebaya tersebut kepada Diana.


Sedangkan Diana, ia langsung tersenyum seraya mengatakan, "Ok, Mbak."

__ADS_1


Di sisi lain, Nara hanya bisa menatap nanar pemandangan tersebut, hatinya semakin sakit ketika memikirkan bahwa Kevin ternyata malah akan menikahi Diana.


Tanpa Nara tahu, padahal ia sedang salah paham dengan adegan yang ada di hadapannya, bahwa sebenarnya yang terjadi adalah, Nila ingin memberikan kejutan untuk sepupunya yang sebentar lagi akan menikah, Nila sengaja menyuruh Diana mencobanya, karena Diana memiliki ukuran tubuh yang sama dengan sepupunya itu.


Seraya menunggu Diana mencoba kebaya tadi, Nila memilih beberapa baju yang menggoda matanya. Lalu setelah Diana memperlihatkan kebaya yang sedang dicobanya, dan juga memujinya cantik, kini giliran Nila yang mencoba baju yang ia pilih sendiri.


Setelah melihat sepupunya itu masuk ke dalam kamar pas. Diana yang berada di sebelah Nara, ia langsung melancarkan aksinya untuk memanas-manasi Nara. Diana sengaja akan membuat Nara semakin salah paham, hingga akhirnya Nara tahu bahwa ia benar-benar tidak bisa kembali dengan Kevin, sebab Diana ingin memiliki Kevin sendirian.


"Lihat kan, akhirnya siapa yang menang? Aku dan Mas Kevin akan segera menikah," ujar Diana dengan memberikan senyuman mengejek untuk Nara.


Telinga Nara tentu terasa panas, ketika ia mendengar kalimat ini. Namun, ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.


"Heem ... kalau begitu selamat, semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, warahmah," sahut Nara datar.


Melihat Nara yang terlihat tenang, Diana merasa kesal sendiri, ia ingin menyakiti perasaan Nara lagi, namun tidak bisa, karena Nila sudah keluar dan memutuskan membeli baju yang baru ia coba.


Sedangkan Nara yang sedang berdiri di bagian belakang toko, tubuhnya langsung merosot ke lantai dan mulai menangis dalam diam.


Bunga yang masih hafal dengan wajah Diana, ia merasa pasti ada yang tidak beres dengan Nara, dan benar dugaannya, setelah mencari Nara di setiap sudut toko, Bunga akhirnya melihat Nara yang sedang duduk di balik rak gantung seraya menangis.


"Ada apa?" tanya Bunga seraya menyodorkan tisu untuk Nara.


"Nggak apa-apa, cuma lagi kaget aja. Ternyata Kevin benar-benar bukan jodohku, dia akan menikah dengan Diana."


"Brengsek! Dia benar-benar gila, bisa-bisanya menikahi sepupunya sendiri, kayak nggak ada cewek lain saja," geram Bunga.


Nara hanya mengendikkan bahunya, lalu setelah mengusap air matanya, ia langsung berdiri. "Ya sudah, jangan mikirin mereka lagi. Ayo, kembali bekerja," ujar Nara yang pura-pura tegar. Dan, sekarang sudah waktunya bagi Nara untuk menutup rapat pintu hatinya untuk Kevin.


Bunga sontak tersenyum seraya memberikan dua jempol untuk Nara. "Bagus, ini baru temanku." Merangkul pundak Nara, lalu kemudian mereka berdua kembali ke depan untuk melayani pembeli lagi.

__ADS_1


Selama bekerja, Nara selalu menepis pikirannya, ketika pikirannya mulai menuju tentang Kevin. Ini sangat tidak mudah baginya, namun Nara juga tidak akan menyerah. Ia harus tahan dengan rasa sakitnya patah hati.


Hingga tidak lama kemudian, Nara yang setengah melamun, ia tiba-tiba saja mendengar suara seorang laki-laki yang menyapanya.


"Nara?"


Nara sejenak bingung melihat dua orang laki-laki yang ada di hadapannya, lebih tepatnya, ia pangling dengan laki-laki yang baru saja menyapanya.


"Mas Gavin?" Tebak Nara ragu, sebab laki-laki yang ada di hadapannya ini lebih tampan dari yang diingatnya dulu.


"Iya, aku Gavin. Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu, Nara?"


"Oh ...." Nara sontak menutup mulutnya yang menganga karena terkejut, ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan gebetannya waktu di SMP dulu.


"Alhamdulillah, aku baik, Mas. Mas sendiri bagaimana?" Mereka berdua langsung berjabat tangan seraya tersenyum.


Ada sorot mata aneh ketika Gavin berjabat tangan dengan Nara.


"Sama, aku juga baik. Kamu kerja di sini?"


Lalu mengalirlah obrolan di antara kedua orang itu, seraya Nara melayani Gavin memilih baju.


Mereka berdua mengobrol random, mulai mengobrol kan dari ketika zaman mereka masih sekolah, hingga kepergian Gavin ke luar kota setelah ia lulus SMP. Gavin memilih meneruskan sekolahnya di luar kota, sebab ayahnya yang dipindah tugaskan ke kota tersebut oleh kantornya.


Dulu Gavin adalah kakak kelasnya Nara, ia sudah kelas tiga, ketika Nara baru masuk kelas satu SMP. Nara yang polos dan juga cantik, dulu sempat menggoda hati Gavin, hingga Gavin akhirnya nekat ingin berkenalan dengan Nara.


Namun, Gavin yang dulunya termasuk playboy di sekolahan, hal itu tentu yang menjadi penghalang hubungan mereka. Gavin yang malu karena gelar playboy yang sudah disandangnya, ia tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Nara. Sedangkan Nara sendiri, ia dulu merasa tidak pantas, walau hanya sekedar berangan bisa berpacaran dengan Gavin yang tampan dan juga pintar, ketenaran Gavin membuat Nara tidak percaya diri untuk memiliki hubungan yang lebih dari teman bersama Gavin.


Namun, sekarang mereka berdua telah dipertemukan kembali, dan apakah ini memang sudah rencana Tuhan untuk menyatukan cinta mereka yang dulu belum sempat terjalin?

__ADS_1


__ADS_2