
Usaha laundry Nara terbilang cukup lancar, setiap hari makin banyak orang yang datang, karena sekarang sudah mulai banyak orang yang tahu, di sekitar desa Wonoasri ada orang yang membuka usaha laundry. Dan, apalagi Nara tidak mempunyai saingan bisnis di daerah tersebut.
Namun, Nara hanya mau menerima cucian baju, sprei, selimut, dan boneka saja. Sedangkan untuk karpet ataupun sejenisnya tidak, karena keterbatasan tempat dan juga tenaga Nara, yang tidak memungkinkan untuk menerima cucian jenis tersebut.
Sekarang usia kandungan Nara sudah delapan bulan, dan tinggal satu bulan lagi, Nara akhirnya bisa melihat wajah anaknya.
"Kira-kira, kamu mirip siapa ya, Nak? Mirip Ibu, atau Ayahmu?" gumam Nara seraya mengusap perutnya yang sudah cukup besar.
Saat ini Nara sedang duduk di sofa ruang tamu, ia sedang menunggu Gavin yang lagi-lagi sedang lembur kerja.
Namun, tiba-tiba saja Nara langsung meringis ketika ia merasa perutnya kontraksi lagi. Ini sudah hari ke dua, Nara merasakan perutnya sudah seperti orang yang akan melahirkan.
"Kenapa, Sayang? Apakah sakit lagi?" Gavin yang baru pulang, ia langsung melemparkan tasnya ke sembarang arah, ketika ia melihat Nara yang duduk dengan memegangi perutnya seraya meringis kesakitan.
"Iya, Mas. Sama seperti kemarin," sahut Nara seraya menahan rasa sakitnya.
"Kalau begitu ayo, kita pergi periksa sekarang."
Nara segera mengangguk, lalu kemudian Gavin segera memapah Nara menuju motor mereka.
Sesampainya di rumah bidan, Nara segera diperiksa. Tidak banyak yang dikatakan Bu bidan, ia hanya mengatakan jika Nara kelelahan, lalu kemudian bidan tersebut langsung meresepkan obat untuk Nara.
Sesampainya di rumah, Nara langsung meminum obat tersebut, lalu tidak lama kemudian Nara memilih tidur karena ia juga merasa lelah.
Namun, tepat pada waktu tengah malam, tiba-tiba saja Nara merasa perutnya mulas, karena sudah tidak tahan lagi, Nara kemudian langsung buru-buru pergi ke kamar mandi.
Gerakan Nara yang bangun dari tempat tidur dengan cukup cepat, tanpa sengaja membuat Gavin yang tidur di sampingnya terbangun. Gavin yang sedikit panik, ia langsung menyusul Nara pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Tepat setelah Gavin sampai, Nara sudah keluar seraya memegangi perutnya lagi.
"Kenapa?" tanya Gavin setengah panik.
"Ini, Mas. Perutku mulas, tapi tidak ada yang keluar, dan yang keluar malah lendir bercampur sedikit darah," sahut Nara seraya terus memegangi perutnya, entah mengapa kontraksi itu juga ikut datang kembali. Dan, kali ini bahkan lebih sakit dan juga lebih sering.
"Dik, jangan-jangan kamu mau melahirkan lagi?"
"Ah, masa sih, Mas? Tapi, ini baru delapan bulan, masa ... Aduh!!!" Tiba-tiba saja tubuh Nara langsung merosot dan terduduk di lantai, ia benar-benar tidak kuat menahan rasa perutnya yang semakin sakit dan mulas secara bersamaan.
"Dik, kamu kenapa?" tanya Gavin yang semakin panik, namun ia langsung bergegas menggendong Nara dan membawanya ke atas ranjang.
"Aduh, Mas. Sepertinya aku benar-benar akan melahirkan sekarang," ujar Nara dengan suara yang terbata-bata.
Mendengar ini, Gavin menjadi semakin panik lagi. "Hah! Terus gimana? Oh ya, kita ke rumah Bu bidan saja sekarang."
"Tapi, Mas. Aku nggak akan kuat kalau naik motor, ini benar-benar sakit," ujar Nara seraya meringkuk kesakitan.
Lalu tidak lama kemudian, Gavin datang bersama Bu Lastri, karena Bu Lastri yang akan membantu menyiapkan dan membawa barang-barang yang diperlukan Nara selama proses persalinan nanti. Sedangkan Pak Tejo sendiri, ia langsung pergi menyiapkan mobil.
Gavin menggendong Nara dengan pelan, masuk ke dalam mobilnya Pak Tejo, setelah mereka semua masuk, Pak Tejo langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah bidan langganan Nara dan Gavin.
Sedangkan di sisi lain, suara deru mobil di tengah malam, membuat Arvin yang sedang menulis novel jadi penasaran, siapa orang yang hendak mengemudikan mobil malam-malam begini? Karena penasaran, Arvin memutuskan untuk mengintip dari kaca jendela rumahnya.
"Apakah wanita itu akan melahirkan?" gumam Arvin yang melihat Gavin sedang menggendong Nara, sedangkan Nara juga terlihat sedang kesakitan.
"Tau ah, bukan urusanku juga." Lanjut Arvin yang kemudian langsung menutup gorden jendelanya, dan bertepatan dengan mobilnya pak Tejo yang mulai melaju di jalanan. Lebih baik Arvin melanjutkan menulis, daripada ia malah memikirkan wanita jahat itu.
__ADS_1
Lalu tidak lama kemudian, mobilnya Pak Tejo sudah sampai di rumah bidan yang biasanya memeriksa Nara. Namun, sayangnya bidan tersebut tutup, karena sekarang adalah jam dinasnya di puskesmas.
Tanpa mengulur waktu lagi, Pak Tejo langsung membawa Nara ke puskesmas terdekat.
Tidak sampai setengah jam dari kedatangan Nara di puskesmas. Suara tangisan bayi langsung terdengar dari ruang bersalin. Gavin, Pak Tejo, dan Bu Lastri yang mendengar suara itu, langsung mengucap syukur.
"Selamat ya, Mas Gavin. Anak kalian sudah lahir," ujar Pak Tejo dan Bu Lastri yang hampir bersamaan.
"Iya, Pak, Bu. Terima kasih, dan terima kasih juga sudah mau mengantar kami ke sini."
"Iya, Mas. Nggak apa-apa, ini kan sudah kewajiban kita sebagai tetangga untuk saling membantu," sahut Pak Tejo tulus.
Tepat setelah pak Tejo mengatakan itu, seorang perawat keluar dari ruang bersalin, dan kemudian memanggil Gavin untuk ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
Gavin sempat terperangah ketika ia masuk, dan melihat anaknya yang hanya memiliki berat 1900 gram itu, bayi itu terlihat rapuh di dalam gendongan seorang perawat.
Sangat kecil, itulah yang ada di pikiran Gavin saat ini, dan sangat berbeda dengan ukuran bayi-bayi yang baru lahir, yang dulu pernah ia lihat sebelumnya. Dan, apakah Gavin bisa menggendong anaknya sendiri yang memiliki tubuh sekecil itu?
Namun, dengan bantuan sang perawat, akhirnya Gavin bisa menggendongnya dan kemudian mengadzani nya.
Setelah itu, sebelum kepergian Bu bidan. Bu bidan sempat mengatakan bahwa anak mereka, besok pagi-pagi sekali akan dirujuk ke rumah sakit besar yang ada di kota, karena bayi mereka perlu ditempatkan ke dalam inkubator bayi.
Gavin dan Nara hanya mengangguk pasrah, saat ini mereka merasa senang dan juga sedih bersamaan. Mereka senang karena anak mereka lahir dengan selamat, sedangkan sedihnya, yaitu mereka berdua tidak bisa langsung leluasa menggendong anak mereka.
"Yang sabar ya, yang penting kamu dan anak kita selamat," ujar Gavin yang mencoba menghibur istrinya.
Nara yang sedang meneteskan air matanya, ia hanya mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, Mas mau hubungi keluarga kita dulu, mereka pasti senang atas kelahiran putri kita."
Lagi-lagi Nara hanya mengangguk, lalu kemudian ia melihat Gavin yang langsung memegang ponselnya dan menghubungi keluarga mereka.