
Malam harinya, semua karyawati Moretta Fashion tampak berkumpul di depan televisi yang sedang menyala, yang sedang menayangkan sebuah sinetron yang tengah digandrungi para wanita tersebut.
Namun, tidak semua orang memperhatikan jalannya cerita sinetron tersebut, karena sebagian karyawati tersebut malah asyik bermain dengan ponselnya.
Ada sekitar dua puluhan karyawati yang menempati mess tersebut, jadi tidak heran jika terkadang suara riuh mereka hingga terdengar sampai di mess karyawan pria yang berada tepat di seberang jalan.
Apalagi jika sinetron yang mereka tonton sedang menampilkan adegan romantis, ataupun adegan menyebalkan yang diperankan oleh pemain antagonis sinetron tersebut. Otomatis suara para karyawati langsung terdengar heboh meramaikan sekeliling bangunan tersebut.
"Hei, guys .... Jangan teriak-teriak, Mbak Retta WA, katanya beliau terganggu dengan suara kalian," ujar Nara yang sedang tidak bersemangat, apalagi penyebabnya jika bukan karena masih kepikiran Kevin.
Bos mereka yang rumahnya berada tepat di samping mess karyawati, ia tentu lebih jelas lagi mendengar kebisingan para karyawatinya tersebut, jadi wajar jika bos mereka merasa terganggu dengan suara berisik para karyawati nya itu.
Mendengar perkataan Nara, semua orang kompak langsung memelankan suara mereka. Nara sudah seperti sosok seorang ketua yang membuat bawahannya bisa patuh.
"Nara, mukamu kenapa kusut gitu?" tanya salah satu teman Nara, Ela beberapa hari ini disuruh Mbak Retta untuk menjaga toko cabang, jadi ia ketinggalan berita tentang putusnya hubungan Nara dengan Kevin.
"Biasalah, habis putus cinta. Jadi lagi galau-galaunya," sahut Bunga yang masih sibuk dengan ponselnya.
Ela hanya mengatakan oh, sedangkan Nara semakin memanyunkan bibirnya seraya melempar ponselnya sendiri ke atas pangkuan Bunga.
"Lihatlah," perintah Nara lemas, hatinya berdenyut nyeri setelah melihat foto-foto yang baru saja diposting Kevin lewat media sosialnya.
"Brengsek ya nih cowok, baru saja putus udah ngrentengin cewek," gerutu Bunga yang juga ikut kesal. Melihat banyaknya foto Kevin dengan beberapa wanita yang berbeda, tentu saja membuat Bunga kesal, karena ia merasa teman baiknya itu telah ditipu oleh lelaki brengsek seperti Kevin.
Ela yang berada di samping Bunga, ikut melongokkan kepalanya untuk melihat siapa cowok yang sedang dimaki Bunga.
"Halah, ini namanya cuma trik saja, biar Nara merasa cemburu. Zaman sekarang, bukan hanya cewek saja yang baru putus, lalu bisa pamer agar dirinya tampak terlihat lebih baik dari sebelumnya, namun cowok juga bisa melakukan hal itu. Sudahlah, pokoknya mau posting seribu kali foto seperti ini, kamu jangan menanggapinya, nanti dia akan tambah senang kalau kamu sampai komentar dipostingannya, apalagi kalau kamu sampai marah-marah," jelas Ela.
__ADS_1
Nara mengangguk, meski ia bisa menahan jarinya untuk tidak mengomentari postingannya Kevin, akan tetapi Nara tetap tidak bisa mengenyahkan perasaan cemburunya.
"Apa aku blokir saja dia?" gumam Nara lemah, sebenarnya sudah dari semenjak mereka putus, Nara ingin memblokir nomor dan semua media sosialnya Kevin, karena Nara tidak ingin melihat kejadian seperti ini. Namun, Bunga terus melarangnya.
"Sudah aku bilang jangan! Tetap abaikan saja dia dan pura-pura saja sudah move on," sahut Bunga galak.
"Tapi kan --"
"Eits, nggak usah tapi-tapi. Justru sekarang ini kamu juga harus mulai nunjukin bahwa bukan hanya dia saja yang bisa memperlihatkan penggantimu dengan cepat, tapi kamu juga bisa."
Nara kebingungan. "Caranya?"
Bunga menepuk keningnya sendiri. "Kamu lupa dengan cowok yang meminta nomormu tadi pagi? Dia juga tidak kalah tampan dari Kevin."
"Eh, tapi kan ... Apakah itu tidak terlihat jahat ya? Soalnya aku sama saja dengan cuma hanya memanfaatkannya saja untuk membalas Kevin."
"Apa yang dikatakan Bunga, memang ada benarnya Ra. Putus itu sudah seperti sebuah ajang pembuktian, untuk melihat siapa yang paling menyesal karena sudah mengakhiri hubungan di antara mereka. Jadi, kamu harus bisa membuktikan ke mantan kalau kamu tidak pernah menyesal sebab sudah meninggalkannya," timpal Ela.
"Dan, kenapa Bunga melarangmu memblokir nomor dan media sosialnya, yaitu alasannya selain untuk memperlihatkan kepadanya, bahwa kamu sama sekali sudah tidak mempedulikannya, kamu juga bisa memamerkan kebahagiaanmu tanpa adanya dia di sisimu, yaitu dengan cara pamer lewat postingan media sosialmu juga. Jadi, sekarang apakah kamu sudah mengerti?" Lanjut Ela.
Nara menganggukkan kepalanya, meskipun ia mengerti dengan penjelasan yang diberikan Ela. Namun, soal apa yang dirasakan hatinya saat ini, tetap saja menyiksa batin Nara.
Kapan aku bisa melupakanmu?
"Dan, satu lagi alasannya kenapa aku melarangmu blokir dia, karena jika sampai dia merasa kesal, biar dia sendiri yang memblokir nomor dan media sosialmu duluan. Sebab, jika suatu saat dia merindukanmu dan ingin balikan denganmu, kamu pasti bisa melihatnya sendiri bagaimana menyesalnya dia dan usahanya untuk mendapatkan kamu lagi. Tapi, kalau dia beneran cinta denganmu loh ya ... Pokoknya gini deh, intinya jangan sampai kamu terlihat lemah dan bucin dengan cowok, entar mereka bisa besar kepala kalau melihat kita yang bucin ke mereka," imbuh Bunga.
Nara kembali hanya mengangguk saja, ia memang hanya perlu bersabar untuk berpura-pura terlihat sudah bisa move on dari Kevin.
__ADS_1
"Ya udah, sekarang kamu balas nih WA dari cowok yang tadi, buat apa kamu kasih nomormu, tapi kamu tidak mau chatting an dengannya," ujar Bunga seraya menyodorkan kembali ponsel milik Nara.
Nara hanya melirik sekilas layar ponselnya yang menampilkan banyaknya pesan dari sebuah nomor baru dan pesan milik Kevin yang sudah beberapa hari yang lalu belum ia buka sama sekali.
"Besok aja deh aku balasnya, sekarang aku sudah ngantuk, mau tidur," sahut Nara seraya berdiri, lalu kemudian ia langsung berjalan menuju kamarnya dan juga Bunga.
Sedangkan keesokan harinya...
Di dalam sebuah kos-kosan khusus pria, seorang laki-laki yang berwajah cukup tampan sedang duduk di ruang tamu dan terlihat sibuk menatap layar ponselnya, ia terlihat sedang menunggu sesuatu.
"Tck, mandi sono, dari kemarin ngeliatin HP mulu. Kalau dia memang ngasih respon, udah dibales WA mu dari kemarin, tapi buktinya dia nggak bales. Jadi, nggak usah berharap lagi," ujar Arvin kesal seraya melemparkan handuk milik Alvin yang jatuh tepat di atas kepala Alvin.
"Sialan loe, ganggu aja. Temenmu lagi berjuang nih," balas Alvin yang tak kalah kesal.
"Halah, cuma cewek penjual baju aja harus segitunya diperjuangkan. Sudah cari yang lain saja, toh masih banyak yang lebih cantik daripada dia."
"Memang sih masih banyak yang lebih cantik daripada dia. Tapi, yang ini benar-benar beda, cantiknya dia kalau dipandang itu nggak bikin bosen. Kamu masih ingat nggak senyumannya kemarin, yang manis itu, wuih ... kapan ya aku bisa cicipi bibirnya yang mungil itu," sahut Alvin seraya membayangkan wajah cantik Nara.
Arvin yang semakin kesal karena pikiran kotor temannya itu, ia langsung menoyor kepala Alvin.
"Dasar gila! Sudah mandi sana, biar pikiran loe waras!" Perintah Arvin seraya mendorong tubuh Alvin agar beranjak dari kursi.
Alvin berdecak malas, tapi ia mau bangun dari duduknya. Namun, terdengar sebuah notifikasi pesan di ponselnya yang membuat Alvin kembali duduk lagi.
"Eh, lihat. Dia mau balas pesanku," ujar Alvin girang seraya memperlihatkan balasan Nara di ponselnya. "Eh, ada lagi. Jadi mulai sekarang kamu juga harus menyiapkan kata-kata selamat untuk temanmu ini, karena sebentar lagi aku akan menanggalkan status jombloku," lanjutnya. Setelah membalas balik pesan Nara, Alvin langsung berlalu pergi ke kamar mandi.
Sedangkan Arvin tampak malas menanggapi perkataan temannya itu, ia hanya memutar bola matanya malas, lalu kemudian ia menyambar majalah bisnis yang tergeletak di atas meja untuk ia baca.
__ADS_1
"Belum juga pdkt, tapi sudah optimis bisa pacaran, dasar aneh," gumam Arvin seraya menggelengkan kepalanya.