TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
35. Video Viral


__ADS_3

Meski hanya gerimis, namun cuaca malam ini sudah membuat Gavin dan Indah menggigil di sepanjang jalan. Para warga yang berada di sekitar mereka berdua, sama sekali tidak merasa kasihan, mereka semua tetap menyuruh kedua orang itu, terus berjalan hingga ke ujung jalan desa Wonoasri.


Gavin dan Indah memang dikawal para warga langsung untuk meninggalkan desa tersebut. Mereka berdua langsung diusir dari desa Wonoasri, malam itu juga.


Sedangkan di tugu perbatasan, Marni dan Dinda sudah menunggu Gavin di atas motor, beserta dengan pakaian Gavin, yang sebelumnya langsung dibawa dari kontrakannya.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Marni seraya membantu mengusap tetesan air hujan yang jatuh di wajah Gavin.


"Nggak apa-apa, Bu," sahut Gavin menggigil. "Ayo, kita pulang sekarang," ajaknya yang sudah tidak tahan dengan rasa dingin yang menyerang tubuhnya.


Dinda sudah berada di atas motor, dan siap membonceng kakak dan juga ibunya. Namun, tiba-tiba saja Indah mencegah mereka yang sudah siap meninggalkan tempat tersebut.


"Tunggu! Lalu aku bagaimana?" tanya Indah panik, raut wajahnya juga tidak kalah menyedihkan dari Gavin, bahkan maskara yang dipakainya sudah luntur, hingga membuat beberapa garis hitam di bawah matanya. Penampilan Indah saat ini jadi terlihat menyeramkan.


"Kamu ya urus saja dirimu sendiri! Hei, ingat ya, ini semua terjadi juga gara-gara kamu!" sahut Dinda kesal. Dinda yang seharusnya bisa malam mingguan dengan pacarnya, sekarang ia malah harus menjemput kakaknya yang ketahuan berbuat zina. Malam ini hidupnya Dinda benar-benar sial, jadi Dinda harus melampiaskannya kepada selingkuhan kakaknya itu.


"Tapi, Mas. Mas Gavin!" teriak Indah kencang, sebab motor Dinda juga sudah melaju kencang.


"Dasar lelaki brengsek! Maunya enaknya sendiri, giliran sudah kejadian seperti ini, dia tidak mau bertanggung jawab. Arrgghh ... sial!" teriak Indah di bawah guyuran hujan yang jatuh semakin deras. Karena tidak memungkinkan untuk tetap tinggal di desa tersebut, Indah terpaksa melanjutkan langkahnya pulang ke rumahnya sendiri.


Sedangkan di sisi lain, kediaman Nara sudah sepi kembali, saat ini Imel masih ada di sana untuk menemani Nara, malam ini Imel akan menginap di kontrakannya Nara.

__ADS_1


"Kamu yakin, besok mau pulang ke rumah orang tua kamu? Kenapa nggak tinggal di sini saja? Sekalian nunggu masa sewa rumah ini habis," ujar Imel seraya membantu Nara membereskan pakaian Nara untuk dimasukkan ke dalam tas.


"Nggak, aku malu jika tetap tinggal di sini, lagipula aku juga takut, jika sewaktu-waktu Mas Gavin akan datang ke sini." Nara takut jika Gavin akan mengganggunya, sebab tadi Gavin terlihat sangat marah padanya.


"Baiklah, tapi kalau kamu nggak betah tinggal bersama orang tuamu, kamu langsung datang ke rumahku saja ya," pinta Imel.


"Iya," sahut Nara seraya mengangguk sambil tersenyum.


Nara akan memutuskan pulang ke rumahnya terlebih dahulu, karena bagaimanapun juga ia masih memiliki orang tua, sedangkan perkara betah atau tidak betah, itu dipikirkan nanti saja, yang penting ia harus pergi dari desa ini.


Kediaman Gavin.


"Gavin, kamu mandi air hangat dulu, baru setelah itu istirahat." Lalu kemudian Marni menoleh ke arah Dinda. "Dinda, kamu siapkan air panasnya, sekalian bikin wedang jahe untuk Mas mu." Lanjutnya.


Dinda berdecak, namun ia langsung menuruti perintah ibunya.


"Kamu ini bagaimana sih, bisa-bisanya selingkuh di kontrakan, kan kalau sudah kejadian seperti ini, Ibu juga ikutan malu," gerutu Marni.


"Sudah dong, Bu. Jangan bahas masalah ini sekarang, kepala Gavin sangat pusing, jadi jangan ditambahin pusing lagi." Gavin memijat pelan, kepalanya yang terasa pening.


"Huh, ya sudah lah, Ibu juga pusing karena mikirin kelakuan kamu, kalau begitu Ibu tidur dulu." Marni langsung beranjak meninggalkan Gavin, yang masih duduk di kursi kayu yang berada di dalam ruang tamu tersebut.

__ADS_1


"Sialan! Ini semua gara-gara Nara. Huh, andaikan saja dia tetap terlihat cantik dan menarik seperti dulu, pasti aku juga tidak akan tergiur dengan body nya Indah. Apalagi semenjak Naura sudah meninggal, dia sudah seperti mayat hidup, dan aku nya kan jadi semakin malas pulang ke rumah. Jadi, bukan salahku dong, kalau aku selingkuh," gumam Gavin yang merasa kesal dengan Nara. Ia jadi menyalahkan istrinya sendiri, sebagai penyebab dirinya berselingkuh.


Sedangkan dari arah dapur, Dinda baru saja keluar. "Mas, itu air mandinya sudah siap, dan wedang jahenya, Mas ambil sendiri di dapur," ujar Dinda dengan raut wajah kesal, lalu setelah itu ia langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Gavin yang merasa risih dengan kondisi tubuhnya, ia bergegas mandi, lalu kemudian setelahnya, ia meminum wedang jahe buatannya Dinda tadi, dan setelah itu ia langsung tidur.


Gavin sama sekali tidak memikirkan, bagaimana kondisi Indah saat ini? Padahal wanita itu masih jalan kaki hingga sampai ke rumahnya sendiri, sebab tidak ada sama sekali orang yang mau membantu Indah, untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya.


Keesokan harinya ...


Pagi ini awalnya begitu tenang, hingga Gavin dan keluarganya sarapan. Namun, di saat Dinda mulai membuka ponselnya, ia langsung membelalakkan matanya ketika salah satu temannya mengirimkan pesan kepadanya.


"Mas Gavin, gawat!!! Semalam waktu kamu diarak warga, ada orang yang ngrekam. Dan, sekarang videomu sudah viral di mana-mana!" ujar Dinda panik.


"Apa!!!" teriak Gavin dan Marni kompak.


"Iya, dan sekarang semua orang di media sosial, kompak menghujat kamu, katanya kamu lelaki ... bajingan, dan juga pantas mati," jelas Dinda yang merasa tidak enak ketika membaca komentar akhir dari para netizen tersebut.


"Duh, Gusti ... lemes aku," gumam Marni yang kemudian langsung jatuh dari kursi dan ambruk ke lantai.


"Ibu ... Ibu!!!" Gavin dan Dinda yang melihat Ibu mereka pingsan, mereka berdua sontak menghampiri Marni, dan kemudian mengangkat tubuh Marni untuk dibawa masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2