TERIMA KASIH, MANTAN!

TERIMA KASIH, MANTAN!
33. Digerebek Warga


__ADS_3

Malam ini langit tampak lebih gelap karena mendung, dan sepertinya tidak akan lama lagi, hujan akan turun.


Suasana Gang Naga di desa Wonoasri, sama sepinya seperti hari-hari biasanya. Dan, hal ini tentu menjadi keberuntungan tersendiri bagi Gavin, sebab Gavin telah membawa Indah pulang ke kontrakannya.


"Mas, emang beneran nggak apa-apa? Aku takut jika nanti ada tetanggamu yang melihat kita, Mas," ujar Indah yang terlihat ragu, sebab ini pertama kalinya ia dibawa ke rumah pasangan gelapnya.


"Sudah kamu tenang saja, nggak ada yang tahu kok. Coba saja kamu lihat sendiri, semua pintu rumahnya tetangga, sudah tertutup semua bukan?"


Sejenak Indah ikut memperhatikan sekitarnya, dan memang benar, semua pintu rumah tetangganya Gavin sudah tertutup rapat, bahkan hampir semua lampu di ruang tamu setiap rumah juga sudah padam.


"Lalu, bagaimana jika nanti istrimu tiba-tiba saja pulang?" Indah masih merasa khawatir, sebab akan sangat memalukan jika mereka nantinya sampai digrebek warga.


"Tidak akan, tadi dia sudah mengirim pesan dan akan pulang besok malam. Jadi malam ini kita bisa bebas di sini."


Sebenarnya Gavin juga sedikit was-was membawa Indah datang ke sini, namun ini sudah akhir bulan, uangnya juga mulai menipis jika dipakai untuk menginap di hotel. Dan, Gavin juga sudah bosan melakukannya di tempatnya Indah, jadi ia ingin suasana yang baru, dengan melakukan 'hubungan' di dalam kontrakannya sendiri.


"Ayo, masuk," ajak Gavin setelah ia membuka pintu rumahnya. Indah yang sebenarnya masih ragu, namun akhirnya ia mau masuk ke dalam juga. Sedangkan di sisi lain, tanpa Gavin dan Indah ketahui, seseorang diam-diam merekam semua adegan tersebut.


Arvin yang tadinya mendengar suara motor Gavin, ia mengira bahwa Nara sudah pulang, jadi ia hendak mengantarkan cucian kotor ke rumahnya Nara. Namun, yang dibonceng Gavin, ternyata bukanlah Nara.


Arvin yang masih mengintip lewat jendela rumahnya, ia sempat terkejut, ketika ia juga mengenali wanita yang dibawa pulang oleh Gavin.


"Itu kan cewek yang waktu itu? Brengsek! Mereka ingin berbuat mesum di daerah sini?" geram Arvin kesal, lalu tanpa banyak berpikir, ia langsung merekam semua kejadian yang ada di hadapannya, lewat kaca jendela rumahnya.


Sedangkan Gavin dan Indah, mereka tentu tidak mengetahui, bahwa ada orang yang diam-diam merekam mereka, hingga mereka masuk ke dalam rumah.


Setelah puas dengan video yang didapatkannya, Arvin langsung mengirimkan foto yang dulu, dan juga videonya Gavin dan Indah yang sekarang, ke nomornya Nara.


Lalu setelah itu, Arvin juga mengirimkan video tersebut ke nomornya Pak Tejo.

__ADS_1


"Tunggu saja kalian berdua, kalian bakal habis malam ini," gumam Arvin seraya tersenyum sinis. "Enak saja mau berbuat mesum di desa ini." Lanjutnya.


Sedangkan di tempat lain...


Setelah dua hari menginap di rumahnya Imel, sekarang Nara merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, sebab ia bisa menumpahkan seluruh perasaan sakit, sedih, dan kecewanya.


"Lalu, setelah terjadi semua kejadian ini, keputusan apa yang akan kamu ambil?" tanya Imel yang sedang mempertanyakan tentang kelanjutan rumah tangganya Nara dan Gavin.


"Aku nggak tahu, mungkin setelah pulang nanti, aku baru akan tanya ke Mas Gavin, siapa perempuan yang ada di foto itu?" Mungkin setelah Nara nanti bisa mendapatkan kepastian, ia baru bisa mengambil keputusan.


Nara dan Kevin yang sudah kembali berbaikan, lalu ia kemarin meminta fotonya Gavin dan Indah pada waktu itu, untuk dijadikan barang bukti. Dan, untungnya Kevin masih menyimpannya, lalu kemudian Kevin pun juga segera mengirimkannya kepada Nara, sebab Kevin mempunyai maksud tersendiri.


Imel sekali lagi memperhatikan wajahnya Indah, yang ada di dalam foto tersebut dengan teliti. "Mata suamimu sudah buram kali ya? Nyelingkuhin kamu dengan perempuan sejelek ini. Tuh lihat saja, wajah dan lehernya sudah seperti zebra cross, mana bibirnya tebal kaya habis disengat lebah lagi."


Nara yang mendengar Imel menjelek-jelekkan selingkuhannya Gavin, ia sontak tertawa. "Kamu ini bisa saja, tapi terima kasih banyak ya, karena kamu sudah menghiburku selama aku ada di sini. Dan, terima kasih juga karena memperbolehkan aku liburan di rumahmu."


"Yeee ... kayak sama siapa saja, pokoknya kapan pun kamu mau, kamu boleh kok menginap di sini, dan anggap saja di sini juga seperti rumahmu sendiri."


Imel tentu saja mau membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk Nara, karena ia juga sangat mengerti bagaimana kondisi Nara, dengan keluarganya Nara sendiri.


Nara yang tidak mungkin bisa berlibur di rumah kedua orang tuanya sendiri, sebab nantinya Nara hanya akan mendapat omelan saja dari Ibunya, tentu hal tersebut tidak akan baik untuk Nara yang ingin menenangkan diri.


Lagi pula selama ini, Imel juga tinggal sendirian, sebab kedua orang tuanya sudah meninggal. Jadi, ia merasa senang ketika Nara mau menginap di rumahnya.


Di tengah-tengah hangatnya pelukan di antara dua sahabat tersebut, tiba-tiba saja ponsel miliknya Nara bergetar. Nara sempat terkejut ketika melihat nomor tetangga depan rumahnya, mengiriminya sebuah video.


Tanpa mengulur waktu, Nara segera membuka isi pesan foto dan video tersebut.


Dada Nara sontak terasa sesak, ketika ia melihat video tersebut. Air matanya juga langsung mengalir beriringan dengan hatinya yang seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Sangat sakit, tapi tidak berdarah.

__ADS_1


Lalu sebuah pesan langsung menyusul di bawahnya.


[Cepatlah pulang! Jangan sampai suamimu itu melakukan hal kotor di sini.]


Setelah membaca tulisan tersebut, Nara buru-buru mengusap air matanya, bersamaan dengan Imel yang bertanya dengan panik, "Nara, ada apa?"


"Mel, tolong antar aku pulang, Mas Gavin selingkuh, dan membawa cewek itu ke kontrakan kami," sahut Nara terburu-buru.


"Apa? Dasar bajingan! Sudah beneran gila ya mereka!" raung Imel marah.


Lalu tanpa mengulur waktu lagi, mereka berdua langsung pergi ke kontrakannya Nara.


Sesampainya di sana, rumah kontrakannya Nara sudah ramai, sepertinya semua warga langsung menggerebek Gavin dan Indah setelah mendapat kabar tersebut.


Nara yang baru turun dari motor, ia buru-buru berlari dan masuk ke dalam rumahnya, dengan diikuti Imel di belakangnya.


"Astaghfirullah ...." Nara sontak menutup mulutnya seraya meneteskan air matanya, saat melihat dua orang yang tanpa busana, dan hanya memakai selimut untuk menutupi tubuh mereka, sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya.


Para warga memang sengaja, membiarkan mereka tidak memakai baju terlebih dahulu, agar Nara bisa melihat sendiri, sampai mana kebejatan suaminya.


"Ya Allah ... Mas, kamu benar-benar tega denganku! Kenapa kamu sampai berbuat seperti ini?" raung Nara seraya menangis. Sedangkan Imel dan Bu Lastri yang berada di samping Nara, mereka berdua langsung merengkuh tubuh Nara untuk menguatkan Nara.


"Sudah jangan banyak omong! Ini semua juga gara-gara kamu, kalau saja kamu tidak berubah, dan tetap menarik seperti dulu, aku juga tidak akan selingkuh!" sahut Gavin kesal, ia sudah sangat malu, tapi saat ini, Nara malah membuatnya semakin kehilangan muka di depan orang banyak.


"Eh, dasar lelaki gila! Kamu yang selingkuh, tapi malah nyalahin Nara. Kalau brengsek ya brengsek saja, jangan malah menyalahkan istri!" geram Imel yang ikutan marah.


Para Ibu-ibu juga langsung menyoraki Gavin dan membela Nara, sama seperti apa yang dilakukan Imel tadi.


"Sudah-sudah, harap tenang semuanya! Keluarganya saudara Gavin juga sudah datang, jadi mari kita segera selesaikan masalah ini!" teriak Pak RT yang mencoba menenangkan para warganya.

__ADS_1


Setelah orang yang ditunggu sudah lengkap, Pak Tejo langsung memberikan pakaian ke Gavin dan Indah, sebab setelah ini mereka berdua akan disidang oleh para warga di daerah tersebut.


__ADS_2